NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Bermain Peran

"Sus, ini serius saya dikasih handphone jadul?"

Si suster terlihat bingung, raut wajahnya berubah.

"Maksud Mbak apa? Ini nggak sejadul itu kok, malah ini termasuk keluaran terbaru."

"H-hah? T-tapi ini Nokia, Sus. Nokia jadul," bantah Arinta, sama bingungnya.

Suster tersebut tetap berusaha terlihat biasa saja saat menjawab ocehan Arinta.

"Bisa dipakai nelepon kok, Mbak. Dicoba dulu aja."

Dengan kebingungan yang masih melekat, Arinta berusaha menggunakannya walaupun agak sedikit kesulitan. Ia memasukkan nomor Ghifari, satu-satunya nomor yang ia hafal. Namun ternyata...

"Kok nggak kedaftar?" gumamnya.

Arinta memastikan ulang nomor yang ia masukkan, tapi memang tidak ada yang salah. Apa mungkin Ghifari ganti nomor?

"Nggak bisa, Sus. Nggak bisa dihubungin."

Kepala Arinta rasanya mau pecah saat itu juga. Ia bingung setengah mati.

"Tadi saya ke sini sama siapa, Sus? Saya kecelakaan mobil, kan? Sama dua teman saya? Mereka di mana?" tanya Arinta, tiba-tiba teringat si kembar.

"Mbak tenang dulu, saya coba panggilin dokter, ya."

"Loh, Sus... Saya cari teman saya, bukan dokter..." ucapnya, namun hanya didengar angin. Sosok itu sudah pergi memanggil dokter.

Arinta berusaha turun dari ranjang yang ia tempati. Ia ingin melihat siapa yang berada di balik tirai di sebelahnya. Saat tangannya hampir menyingkap tirai tersebut, suara seorang laki-laki dewasa menginterupsi.

"Arinta?"

Awalnya Arinta pikir itu suara kakaknya, tapi ternyata bukan. Itu seorang dokter.

"Dokter, siapa?" tanya Arinta.

Dokter tersebut tersenyum menatap Arinta.

"Kamu duduk dulu, ya..." ucapnya sambil menuntun Arinta kembali ke ranjang.

Si dokter duduk di kursi samping ranjang, tepat di hadapan Arinta.

"Kamu nggak ingat saya?" tanyanya.

Arinta menggeleng. Diam-diam ia melirik name tag yang menempel di jas putih itu.

Dr. Miza Ar-Rahman, Sp.Kj.

Ini bukan bidangnya, tapi kenapa dia yang menangani? pikir Arinta.

"Oke. Kenalin, saya Miza. Biasanya kamu manggil saya Bang Iza. Saya abang kamu. Kamu masih nggak ingat?"

Arinta tetap memasang ekspresi tidak nyaman. Ia benar-benar tidak mengenalnya.

"Saya nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok," ucap Miza, seolah menyadari raut wajah Arinta yang tidak bersahabat.

"Teman saya mana, Dok? Saya ke sini sama teman saya, kan?" tanya Arinta.

"Teman?" Miza mengangkat alis.

"Iya. Yang kembar itu," jelas Arinta.

"Ah... Itu. Mereka di sini." Miza menyingkap tirai di sebelahnya.

Arinta berusaha bangkit, tapi Miza menahannya.

"Sejak kapan kamu temenan sama tunawisma?" tanyanya dengan nada menghakimi.

"Mereka bukan tunawisma! Dokter jangan sembarangan ngomong ya!" Arinta tanpa sengaja membentak laki-laki di hadapannya.

Ekspresi Miza tetap setenang sebelumnya.

"Ternyata abang seasing itu ya buat kamu? Sampai kamu sebebas ini aja abang nggak bisa mantau."

"Maksudnya apa sih?! Dokter itu siapa? Kenapa ngaku-ngaku jadi abang saya?!" Arinta mulai terbawa emosi.

"Arinta, denger abang," ucap Miza, mencoba menatap kedua mata yang ia akui sebagai adiknya.

"Mereka itu cuma tunawisma yang nggak sengaja kamu tabrak di jalan. Nggak apa-apa ya. Tolong jangan gini ya... Biaya rumah sakit mereka abang yang tanggung. Kamu nggak perlu mikir apa-apa."

Arinta tiba-tiba tertawa miris. Mungkin dirinya memang gila gara-gara ditinggal mati oleh sang ayah.

"Kamu istirahat dulu ya. Makan terus minum obat," titah Miza.

"Abang nggak mau ngasih kejelasan apa pun?" tanya Arinta saat Miza mulai beranjak pergi.

Miza kembali menoleh dengan senyum.

"Nanti ya, kamu istirahat dulu."

Arinta akhirnya pasrah. Ia bersandar sambil memperhatikan si kembar di ranjang masing-masing. Mereka terlihat lebih parah darinya, masih belum sadar.

Perhatiannya beralih ke ruangan sekitar. Seperti rumah sakit pada umumnya-ada jam dinding, ada kalender, ada... Tunggu. Kalender?

Arinta mengernyitkan kening. Ada sesuatu yang ganjil.

"T-tunggu..."

Suster yang sedang menunggui Arinta makan seketika tersentak.

"Kenapa, Mbak?" tanyanya.

Arinta menunjuk kalender di dinding.

"I-ini kalender lama kok masih dipajang, Sus?"

Suster memandang heran.

"Enggak kok, Mbak. Ini tahun ini bener. Dua ribu empat."

Seketika tubuh Arinta melemas. Sekujur tubuhnya terasa dingin.

"S-sekarang... Tanggal berapa, Sus?"

"Tanggal dua puluh enam September, Mbak."

Arinta mengacak rambutnya, frustrasi. Mungkinkah aku terpental ke tahun 2004? Lalu jadi orang lain di sini? Tapi kenapa si kembar juga ikut?

"Mbak, kenapa? Ada yang sakit? Saya panggil dokter ya?"

"Enggak!!" bentak Arinta, "enggak usah!"

Suster tersebut hanya bisa menurut.

"Sus tahu kenapa saya bisa di sini?" tanya Arinta, kembali tenang.

"Mbak kecelakaan. Dua orang di sana korban tabrak lari," jawabnya sambil menunjuk ke si kembar.

"Mbak malah banting setir terus nabrak tiang. Akhirnya Mbak juga luka."

Arinta mengangguk, meskipun pikirannya masih berkelana ke berbagai kemungkinan.

"Sus tahu tentang hubungan saya sama Dokter Miza?" tanyanya lagi.

"Siapa sih, Mbak, yang nggak tahu? Dokter Miza itu terkenal di kalangan rumah sakit, otomatis hubungan Mbak sama Dokter Miza juga dikenal."

"Emang dia siapa sampai sepenting itu di kalangan rumah sakit?" tanya Arinta.

"Dia... Bukan siapa-siapa sih, Mbak. Yang ngebuat beliau sepenting itu cuma karena pernah deket sama anak pemilik rumah sakit. Ditambah lagi, secara visual beliau juga di atas rata-rata."

Arinta mengangguk lagi. Ia mengakui, pria berusia sekitar tiga puluhan itu memiliki wajah yang lumayan untuk ukuran tampan di tahun tersebut.

"Kalo semua yang di rumahsakit tahu saya adeknya Dokter Miza, kenapa sus yang tadi cari pinjeman handphone buat ngehubungin keluarga saya?"

"Oh suster Nanda. Beliau perawat yang dipindah tugas ke rumahsakit ini, mbak. Jadi bisa dibilang baru."

Arinta mengangguk-angguk.

Sesuatu tiba-tiba terlintas di pikiran Arinta.

"Sus! Kapan saya bisa pulang?" tanyanya dengan antusias.

***

26 September 2004.

Jika memang benar ia terpental ke tahun 2004, tepatnya tiga bulan sebelum tragedi naas itu, berarti Arinta memiliki kesempatan untuk mengubah takdir agar ibu dan kakak pertamanya tidak pergi ke Balikpapan.

Tampak Miza yang sudah berganti pakaian menjadi pakaian biasa, yang memancarkan suasana khas zaman itu.

"Arinta mau pulang sekarang, Bang," ucap Arinta. Dalam hati, ia berusaha membiasakan diri dengan panggilan tersebut.

"Besok aja, ya? Besok kita pulang. Malam ini kamu rawat inap dulu," jawab Miza.

"Terus mereka?" tanya Arinta sambil memandang si kembar bergantian.

"Mereka beneran temen kamu? Kamu kenal mereka di mana? Kok bisa? Abang udah cari tahu, katanya mereka cuma berdua. Orang tua mereka nggak tahu ke mana."

"Dia temen Arinta! Emangnya salah kalau Arinta temenan sama mereka?" tanya Arinta memelas.

"Nggak... Tapi kan-"

"Arinta mau pulang sama mereka! Mereka sakit. Nggak mungkin mereka ditinggal di pinggir jalan gitu aja!"

"Mereka bakal dipulangin kalau udah sembuh, Ta. Nggak mungkin mereka diusir pas masih sakit," ucap Miza dengan tenang.

"Nggak! Arinta nggak mau pulang kalau nggak sama mereka!"

Masa iya Arinta tega meninggalkan teman-temannya di tahun asing ini dalam keadaan terlunta-lunta? Apalagi, di masanya, si kembar adalah keluarga kaya raya.

Miza menghembuskan napas pelan.

"Iya, oke."

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!