NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satin Merun dan Benteng yang Goyah

Paket itu tiba di siang hari yang terik, dibungkus kotak kardus polos tanpa logo toko yang mencolok. Kurir paket bahkan sempat menatap heran pada Ning Humaira yang menerima kotak tersebut dengan gerak-gerik super gelisah, seolah-olah ia baru saja menyelundupkan barang ilegal ke dalam lingkungan suci Pesantren Al-Anwar.

Begitu mengunci diri di dalam kamar mandi ndalem, Humaira merobek selotip kardus itu dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang. Di dalam kotak, terbaring selembar busana tidur dari bahan satin premium berwarna merah merun—persis seperti warna tirai ranjang pengantin mereka. Potongannya sangat rendah di bagian dada, bertali tipis, dan panjangnya bahkan tidak sampai menyentuh lutut. Bahannya begitu halus, jatuh, dan sedikit transparan di beberapa bagian brokatnya.

"Zulfa gendeng... Ini mah namanya bukan baju tidur, ini saringan tahu!" umpat Humaira dengan wajah yang mendadak matang seperti kepiting rebus. Sisi bar-bar dalam dirinya bergejolak, ingin sekali menelepon sahabatnya dan memaki-makinya saat itu juga.

Namun, ketika matanya melirik ke arah cermin, mengingat kembali tatapan dingin Gus Arsalan selama seminggu ini, dan bagaimana rasanya diabaikan seperti patung bernyawa, Humaira mengeraskan rahangnya. Jemarinya meremas kain satin itu erat-erat. 'Gue gak mau selamanya jadi orang asing di sini. Kalau malam ini gagal, minimal gue udah berjuang.'

Malam merayap sunyi. Tepat pukul sebelas, suara deru mobil Gus Arsalan terdengar memasuki halaman.

Di dalam kamar, Humaira menarik napas dalam-dalam sebelum memulai transformasinya. Ia mandi dengan sabun beraroma vanila yang manis dan sensual. Sesuai instruksi detail dari Zulfa, ia mengurai rambut hitamnya yang panjang dan tebal—sesuatu yang biasanya selalu tersembunyi rapat di balik khimar berlapis. Ia memoles sedikit lipstik berwarna peach alami di bibirnya, memberikan kesan basah dan manis.

Terakhir, dengan tangan gemetar, ia mengenakan gaun tidur satin merun tersebut.

Saat kain itu melekat di tubuhnya, Humaira merasa merinding. Kulit putih bersihnya terekspos dengan sangat jelas, kontras dengan warna merah marun yang berani. Ia menyemprotkan parfum ke titik-titik nadinya: pergelangan tangan, leher, dan di balik telinganya.

Cklek.

Suara pintu depan terbuka. Jantung Humaira serasa mau copot dari tempatnya. Langkah kaki suaminya terdengar berjalan di lorong, semakin dekat, hingga akhirnya knop pintu kamar berputar.

Gus Arsalan melangkah masuk dengan gulai lelah yang kentara. Ia baru saja menyelesaikan rapat panjang dengan pengurus yayasan. Tangannya bergerak melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemeja hitamnya. Namun, langkah kakinya mendadak terkunci di ambang pintu.

Sepasang mata elang Arsalan melebar sempurna.

Di dekat meja rias, berdiri seorang wanita yang selama seminggu ini ia acuhkan. Humaira tidak lagi memakai gamis longgar abu-abu atau daster batik selutut. Wanita itu menjelma menjadi sosok yang teramat memikat. Rambut hitamnya yang bergelombang jatuh dengan indah di bahunya yang terbuka. Gaun tidur satin merun itu melekat sempurna, menonjolkan lekuk tubuh Humaira yang selama ini tersembunyi dengan sangat anggun. Aroma manis vanila langsung menyergap indra penciuman Arsalan, meruntuhkan fokus pikirannya dalam sekejap.

Atmosphere kamar mendadak berubah panas dan pekat.

Humaira menelan ludah yang terasa kesat. Mengingat wejangan Zulfa untuk tidak menunduk, ia memberanikan diri menatap langsung ke manik mata Arsalan. Ia berjalan perlahan mendekati suaminya, setiap langkahnya membuat satin merun itu bergeser, memperlihatkan paha putihnya yang mulus.

"Baru pulang, Gus? Mau kulo siapkan air hangat?" suara Humaira bergetar tipis, namun terdengar sangat lembut dan dalam di keheningan malam.

Arsalan membeku. Sebagai pria normal yang bertahun-tahun hidup di gemerlapnya kota London, ia tahu persis apa arti dari penampilan istrinya malam ini. Namun, melihat perubahan drastis dari seorang Ning yang biasa menjaga pandangan menjadi sosok semenarik ini tepat di depan matanya, meruntuhkan logika Arsalan.

Arsalan maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma tubuh mereka beradu. Tatapannya turun ke bibir manis Humaira yang sedikit terbuka, lalu naik kembali mengunci matanya. Ada kilatan hasrat yang bergejolak hebat di mata Arsalan sebuah insting purba seorang lelaki terhadap wanita halal yang ada di depannya.

Humaira memberanikan diri. Tangannya yang dingin terangkat, mendarat di dada bidang Arsalan yang terbalut kemeja hitam. Ia mencengkeram kerah kemeja suaminya pelan, sedikit berjinjit.

Arsalan menundukkan kepalanya perlahan, terhipnotis oleh tatapan manis dan keberanian Humaira. Jarak di antara wajah mereka terkikis habis. Humaira bisa merasakan embusan napas hangat Arsalan yang memburu di permukaan kulit wajahnya. Detik itu, chemistry yang selama ini mereka bendung meledak hebat. Tangan kekar Arsalan perlahan naik, melingkar di pinggang ramping Humaira, menarik tubuh polos berbalut satin itu hingga menempel erat pada dada bidangnya.

Arsalan memiringkan kepalanya, matanya terpejam saat jarak bibir mereka hanya tersisa beberapa milimeter saja. Humaira memejamkan mata, bersiap menyambut sentuhan pertama suaminya yang ia harapkan bisa menghapus luka hatinya.

Namun, tepat sebelum bibir mereka bertaut, bayangan wajah Evelyn yang menangis di sudut masjid saat akad nikah mendadak terlintas seperti kilatan petir di kepala Arsalan.

Deg.

Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dada Arsalan. Ego dan janjinya pada wanita di London itu mendadak menarik paksa kesadarannya kembali.

Arsalan membuka matanya dengan sentakan kaget. Napasnya memburu, matanya memerah. Dengan kasar, ia melepaskan cengkeraman tangannya dari pinggang Humaira, membuat tubuh istrinya sedikit terhuyung ke belakang.

"Astaghfirullahaladzim..." bisik Arsalan dengan suara serak yang penuh frustrasi.

Ia menatap Humaira dengan tatapan campur aduk antara gairah yang belum tuntas, rasa bersalah, dan amarah pada dirinya sendiri karena hampir saja runtuh. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arsalan berbalik dengan tergesa-gesa, menyambar handuk, dan kabur melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi, lalu membanting pintunya dengan keras.

Brak!

Suara pintu kamar mandi yang tertutup menggema di dalam kamar, menyisakan kesunyian yang kembali mencekam.

Humaira berdiri terpaku di tengah ruangan, tangannya masih menggantung di udara. Dadanya naik turun, napasnya memburu bukan karena gairah, melainkan karena rasa syok dan hancur yang luar biasa. Air matanya yang sejak tadi ia tahan, kini tumpah tanpa bisa dibendung lagi.

Taktiknya hampir berhasil, namun penolakan mendadak dari Arsalan justru terasa sepuluh kali lebih menyakitkan daripada kalimat kejam di malam pertama mereka. Humaira merosot duduk di lantai dingin, memeluk tubuhnya sendiri yang berbalut satin merun. Di balik pintu kamar mandi yang tertutup, ia bisa mendengar suara gemercik air mandi yang deras, seolah-olah suaminya sedang mencoba membasuh habis sisa-sisa gairah dan jejak kehadiran Humaira dari pikirannya.

1
Nita Kurniawati
kalo unt bahasake diri sendiri lebih tepat boten purun Thor, boten kersa itu unt yg lebih tua 😊
Hatnah Batulicin
preeett,ujung ujungnya cerita nya sihumaira luluh..mau maafin suaminya..semua cerita sama aja 😏
falea sezi
😒 ngapain lu ngemis maaf bukannya cerai bagus lu bisa. kejar tuh pacar lu🤣 anak kiyai g ada adab🤣🤣🤣 sprtnya cerai aja deh Thor najis amat laki munafik jahat😓
falea sezi
lanjut buat cerai thor
falea sezi
moga aja cerai😒 dan ma Reyhan aja biar gigit jari si sialan🤣 sebel liat dia tuh istri yda minta cerai kabulin dan susul belahan hatimu di london🤣 tinggal nunggu emak lu kena serangan jantung aja
falea sezi
cerai aja ning😒 percuma suami g bs move on 😒
Anonim
AGUS AGUS AGUS AGUS
Anonim
GUS GUS ?? AGUS AWOKAWOK AGUS AWOKAWOK
Ariani Sa
Lumayan
Ariani Sa
Luar biasa
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya yah thor 🙏
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya thor 🙏🙏
Keysa_Bom
maksudnya gini ya Allah 😭😭 Gus halal di hadapan mua😭 ih gemes aku😭
Keysa_Bom
Zulfa aku padamu 🤣
Keysa_Bom
rasanya sakit 😭 Humairah semangat 💪
Keysa_Bom
Gus..Guss.. awas bucin lo😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!