Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
"Halo, Bu?"
"Celsi... kamu nggak pulang?" suara seorang wanita yang bukan ibunya. Tapi tetangga. Tetangga yang membawa kabar untuk Celsi.
Celsi mengernyit.
"Memangnya kenapa, Bu?"
Tetangga itu diam sebentar. "Kamu belum tahu?" tanyanya.
Perasaan Celsi langsung nggak enak.
"Tahu apa ya, Bu Tiwik?"
Suara wanita itu mengecil. "Tadi si Weni datang ngamuk ke rumah. Cari ibumu."
Celsi langsung duduk tegak.
"Bulik Weni ngamuk? Ngamuk kenapa, Bu Tiwik?"
"Iya... Ngamuk-ngamuk gitu."
Jantung Celsi mulai berdetak lebih cepat. "Ngamuknya karena apa, Bu Tiwik?"
Tetangga itu seperti memilih kata. "Dia bilang... ibumu main dukun."
Celsi diam. Dia pikir dia salah dengar. "Apa?"
"Iya... katanya anak Vena sakit karena keluarga kalian main dukun."
"Astaghfirullah," Celsi mengelus dadanya. "Itu fitnah, Bu Tiwik." Tangannya perlahan mengepal.
Tetangga itu melanjutkan dengan nada tidak enak. "Terus... kamu juga dibawa-bawa."
Celsi menunduk.
"Aku?"
"Iya... Keterlaluan sekali mulutnya si Weni itu. Ibumu sampai nangis."
"Apa katanya, Bu Tiwik?"
"Katanya kamu mandul."
"Astaghfirullah."
Celsi menutup matanya, dia menahan perihnya. Tidak masalah. Dia sudah biasa dibilang seperti itu, tapi ibunya sampai dituduh main dukun?
Celsi tak bisa diam.
"Terima kasih infonya, Bu Tiwik. Nanti saya pulang."
Telepon ditutup.
Celsi tetap diam. Lama. Tatapannya jatuh ke lantai. Lalu dia berdiri. Mengambil tas. Tidak berpikir panjang. Satu setengah jam perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya.
Sepanjang jalan, Celsi diam.
Dia tidak memutar lagu.
Tidak membuka media sosial.
Dia cuma duduk memandang jalan.
Yang berputar di kepalanya bukan Weni.
Bukan Vena.
Yang terus teringat justru ibunya.
Dewi itu orang yang paling takut menyusahkan orang.
Bahkan waktu difitnah pun biasanya cuma diam.
Kalau sampai menangis...
Berarti kali ini benar-benar sakit.
Mobil berhenti.
Celsi turun.
Rumah itu terlihat biasa.
Tapi entah kenapa hari ini terasa berat.
Dia membuka pagar pelan.
Masuk.
Rumah sepi.
Lampu ruang tamu menyala.
Rahman duduk sendiri.
Begitu melihat Celsi, pria itu langsung berdiri.
"Celsi."
Celsi berjalan masuk. "Assalamualaikum, yah."
"Wa'alaikum salam. Kok nggak bilang kalau mau kemari?"
"Celsi kan mau pulang ke rumah."
Setelah menyalami ayahnya, matanya langsung mencari. "ibu mana?"
Rahman diam sesaat. "Di kamar."
Celsi menoleh. "Di kamar? Celsi masuk ya, ayah."
Rahman mengangguk.
Celsi menarik napas lalu berjalan ke kamar. Pintu sedikit terbuka. Dewi sedang duduk di pinggir tempat tidur. Tidak menangis lagi. Tapi matanya bengkak. Celsi berdiri di depan pintu.
"buk."
Dewi menoleh. Begitu melihat anaknya pulang, wajahnya langsung berubah.
"Celsi?"
Celsi masuk. Duduk di sebelah ibunya.
"Kok pulang nggak bilang-bilang?"
Celsi tersenyum kecil. "Kangen."
Dewi langsung tahu itu bohong. Tapi dia tidak membahas. Dia hanya mengusap tangan anaknya.
"Kamu tahu dari siapa?"
"Bu Tiwik."
Dewi diam.
Celsi menatap ibunya. "Kenapa ibuk nggak telepon aku?"
Dewi menunduk. "Telpon juga buat apa, Si? Ibuk nggak mau ganggu."
Celsi tertawa pelan."Ibuk nangis dibilang ganggu?"
Dewi diam. Celsi menggenggam tangan ibunya. "Ibuk."
Dewi menunduk makin dalam. Lalu tanpa diduga, suaranya pecah. "ibuk cuma sedih."
Celsi langsung menoleh. Dewi menggeleng pelan. "ibuk nggak sedih dibilang pake dukun."
Celsi diam. Dewi menarik napas.
"Tapi ibuk nggak terima mereka ngomong kamu mandul."
Ruangan langsung sunyi. Celsi tidak bergerak. Dewi mengusap air mata. Suaranya mulai pecah lagi. "Kamu masih muda."
Dewi menatap anaknya. "Kamu belum menikah lagi."
Dewi menangis. "Belum tentu juga begitu. Bisa jadi yang nggak sehat itu Rangga. Bukan kamu... Tapi..."
Celsi menelan ludah. Dewi tertawa pahit. "Orang-orang kok gampang banget ngomong gitu."
Air matanya turun lagi. "Ibu dengar itu rasanya..."
Dia tidak melanjutkan. Celsi mendekat. Lalu memeluk ibunya. Dewi langsung menangis lagi. Celsi mengusap punggung ibunya pelan.
"buk."
Dewi diam. Celsi tersenyum kecil. "Kalau memang nanti aku nggak punya anak juga nggak apa."
Dewi langsung mengangkat kepala. "Celsi! Jangan ngomong begitu."
Celsi tertawa kecil. "Aku tuh cuma berandai, buk."
Dewi menggeleng cepat."Jangan."
Dia memegang wajah anaknya. "Kamu jangan ikut percaya."
Celsi diam. Dewi menatapnya lama. "Kamu nggak rusak."
Celsi tersenyum kecil. "Aku tahu."
Dewi mengusap pipinya. "Kamu tetap anak yang baik. Anaknya ibuk!"
Celsi mengangguk. Mereka diam cukup lama.
Sampai akhirnya suasana mulai lebih tenang.
Dewi bahkan mulai bicara hal lain.
Menanyakan kedai geprek Celsi yang baru dibuka beberapa hari ini. Makanan. Kehidupan sehari-hari. Seolah ingin melupakan kejadian tadi.
.
.
.
.
Hari mulai sore. Celsi melihat jam. Dia berdiri.
"Aku balik ya, yah, buk."
Dewi ikut berdiri. "kamu baru datang loh, Si."
"Nanti aku balik lagi."
Dewi mengangguk. Celsi mengambil tas. Baru sampai depan rumah, ada suara tetangga memanggil.
"Celsi."
Celsi menoleh. Tetangga sebelah berdiri dengan wajah bingung.
"Iya Bu?"
Wanita itu mendekat. Nada suaranya mengecil. "Kamu sudah dengar?"
Celsi mengernyit.
"Dengar apa?"
Tetangga itu diam sesaat. Lalu berkata pelan.
"Anaknya Vena..."
Celsi langsung diam. Wanita itu menunduk.
"Tadi... meninggal."
Celsi tidak bergerak. Seolah tidak masuk.
"Apa?"