Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Damien, apa kau tidak merasa bersalah selama ini? Evelyn adalah seorang gadis yang memiliki harapan tinggi. Dia cerdas dan selalu berusaha mengejar impiannya. Namun hidupnya hancur hanya karena dirimu yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana caramu ingin menebus semuanya? Dengan meminta maaf? Berlutut? Atau membayarnya dengan uang? Semua itu tidak akan pernah bisa mengobati luka di hatinya. Evelyn tidak mudah bangkit dari semua yang telah terjadi. Jadi, kalau kau memang masih memiliki sedikit rasa bersalah, jangan pernah memberinya harapan hanya untuk menghancurkannya lagi," ucap Amy sebelum berbalik dan pergi.
Damien tetap berdiri mematung.
Tangannya menggenggam erat laporan medis Evelyn hingga berkas itu kusut.
"Evelyn... apa yang harus kulakukan agar bisa menyembuhkan luka yang telah kuberikan padamu? Maaf... untuk saat ini aku belum bisa mengungkapkan kebenarannya. Demi melindungi latar belakangmu, aku hanya bisa membiarkanmu membenciku," gumam Damien.
Malam hari.
Evelyn yang baru kembali ke apartemennya langsung merebahkan tubuh di sofa. Raut wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja.
Di luar apartemen, seorang pria bertopi hitam dan mengenakan masker berdiri di depan pintu unit 112.
Ia meletakkan sebuah kotak di lantai, lalu menekan bel pintu sebanyak tiga kali.
Ting... tong... ting... tong...
Evelyn perlahan membuka matanya. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya.
"Jam satu malam... siapa yang datang?" gumamnya.
Naluri sebagai seorang detektif membuatnya langsung waspada.
Evelyn mengambil pistolnya dari atas meja, lalu berjalan perlahan menuju pintu.
Ia mengintip melalui lubang pengintai.
"Tidak ada orang."
Keningnya berkerut.
Tanpa membuka pintu, Evelyn segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi petugas keamanan apartemen.
"Halo."
"Saya penghuni unit 112. Tolong periksa lorong di depan apartemen saya. Baru saja ada seseorang yang menekan bel pintu, tetapi saat saya melihat ke luar, tidak ada siapa pun."
"Baik, kami akan segera menuju ke sana," jawab petugas keamanan.
"Terima kasih."
Evelyn mengakhiri panggilan, namun ia tetap berdiri di depan pintu sambil menggenggam erat pistolnya.
Evelyn baru saja mengakhiri panggilan dengan petugas keamanan.
Matanya masih tertuju ke arah pintu apartemen.
Di luar, kotak yang ditinggalkan pria bertopi hitam itu mulai mengeluarkan bunyi pelan.
Tik... tik... tik...
Belum sempat Evelyn bereaksi—
BOOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lorong apartemen.
Pintu unit 112 hancur berkeping-keping dan terlempar masuk ke dalam apartemen.
Gelombang ledakan menghantam tubuh Evelyn dengan keras hingga tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang.
Brak!
Tubuhnya menghantam meja ruang tamu hingga meja itu hancur.
Pecahan kaca dan serpihan kayu beterbangan memenuhi ruangan.
"Askh..."
Evelyn memuntahkan seteguk darah. Kepalanya berdenging hebat, sementara telinganya hanya mendengar suara dengungan.
Alarm kebakaran di seluruh gedung langsung berbunyi nyaring.
Di luar apartemen, pria bertopi hitam itu melihat kobaran api dari ujung lorong.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Misi selesai."
Tanpa menoleh lagi, ia berjalan menuju tangga darurat dan menghilang dalam kegelapan malam.
Asap tebal memenuhi seluruh apartemen.
Api mulai menjalar ke ruang tamu akibat ledakan.
Evelyn terbaring di lantai dengan kepala dipenuhi serpihan kayu dan kaca. Darah mengalir dari pelipisnya, sementara lengan kirinya terluka akibat pecahan pintu.
Dengan napas tersengal, ia memaksa membuka matanya.
"Ponsel..."
Tatapannya mencari ke segala arah.
Ponselnya tergeletak tidak jauh darinya dengan layar yang telah retak.
Evelyn merangkak perlahan, menahan rasa sakit di sekujur tubuh.
Baru saja ujung jarinya menyentuh ponsel itu—
Brak!
Sebagian plafon runtuh tepat di hadapannya.
Evelyn refleks menarik tangannya.
Di luar apartemen, petugas keamanan yang sebelumnya menerima telepon dari Evelyn berlari menuju lokasi bersama beberapa rekannya.
"Api di unit 112!"
"Cepat! Panggil pemadam kebakaran dan ambulans!"
Mereka mencoba membuka jalan masuk, tetapi kobaran api dan puing-puing pintu yang berserakan menghalangi mereka.
"Masih ada penghuni di dalam!" teriak salah seorang petugas.
Di dalam apartemen, Evelyn menggertakkan giginya.
Dengan sisa tenaganya, ia kembali meraih ponsel yang kini berhasil digenggamnya.
Tangannya gemetar saat menekan satu nomor yang paling diingatnya.
Sebelum panggilan tersambung, pandangannya mulai kabur.
Ponsel itu terlepas dari genggamannya.
Tubuh Evelyn akhirnya tak lagi mampu bertahan.
Ia kehilangan kesadaran di tengah kobaran api yang semakin membesar.