NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Liora memencet tombol nomor telepon Karens. Pasti saat libur kuliah gadis itu mungkin akan berlibur akhir pekan. Tapi jika Liora yang menghubungi, ia pasti membalas cepat.
"Karens, halo?" sapa Liora saat panggilan telepon tersambung.
"Woah, Liora? Kau bersama Marco, ya? Pamanmu yang tampan itu."
Mata Liora langsung membulat. Wajahnya memerah seketika. Ucapan Karens yang begitu lantang terdengar jelas hingga ke telinga Marco yang berdiri tepat di sampingnya.
Marco melirik Liora dengan sebelah alis terangkat, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Paman tampan?" gumamnya, cukup keras hingga membuat pipi Liora semakin merah.
"Ka-Karens! Jangan asal bicara!" desis Liora panik sambil menjauh beberapa langkah.
Dari seberang telepon terdengar tawa renyah Karens.
"Hahaha... memang tampan, kan? Kalau aku jadi kau, mungkin sudah salah tingkah sejak lama."
"Karens!"
Liora menutup sebagian wajahnya dengan tangan. Ia benar-benar ingin mengakhiri panggilan itu sekarang juga.
Marco justru tampak menikmati reaksi gadis itu. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Temanmu cukup jujur," ujarnya santai.
Liora menoleh cepat dengan tatapan protes.
"Jangan didengarkan!"
Marco terkekeh pelan. "Kenapa? Bukankah itu pujian?"
Liora hanya bisa menghela napas panjang. Rasanya, belum genap satu minggu ia tinggal bersama Marco akan menjadi hari-hari yang sangat melelahkan, terutama jika pria itu terus menggodanya seperti ini.
Karens masih terkekeh di seberang telepon, sama sekali tidak menyadari wajah Liora yang sudah semerah tomat.
"Eh, Marco apa kau masih mendengarnya ya?" tanyanya santai.
Marco mengulurkan tangan. "Masih. Suaramu cukup keras."
Karens malah tertawa semakin lepas.
"Nah, sekalian saja. Paman tampan, dulu Liora itu sangat kesal padamu. Setiap kali kau memanggilnya gadis culun, wajahnya langsung cemberut."
Liora memejamkan mata rapat. "Karens... hentikan."
"Tapi lucunya, setelah marah-marah, dia pernah mengatakan padaku..." Karens sengaja menggantung kalimatnya.
Marco menoleh penuh rasa ingin tahu.
"Soal?"
Karens terkikik sebelum menjawab dengan nada jahil. "'Meskipun menyebalkan, harus kuakui Marco itu sangat tampan.' Nah, itu kata-katanya sendiri."
Liora membeku. "APA!"
Refleks ia menjauhkan ponsel dari telinganya, seolah ingin memastikan ia tidak salah dengar.
"Karens!" serunya dengan wajah yang kini benar-benar memerah.
Marco terdiam beberapa detik. Tatapannya beralih kepada Liora yang sedang panik, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Jadi..." ucapnya pelan, "ternyata kau sering memperhatikanku saat di kampus hingga kau bisa menyimpulkan aku tampan."
"Itu bukan seperti yang kau pikirkan!" Liora buru-buru membantah. "Karens hanya mengarang!"
Sial!
"Aku tidak mengarang!" protes Karens cepat. "Kau sendiri yang mengatakan waktu itu. Bahkan kau mengaku kesal karena wajahnya terlalu enak dipandang."
"Karens!" Liora hampir menjerit malu.
Marco menahan tawanya. Melihat gadis itu salah tingkah ternyata jauh lebih menghibur daripada yang ia bayangkan.
"Terimakasih atas informasi yang kau berikan," katanya tenang kepada Karens.
"Dengan senang hati, Paman Tampan."
Liora memukul pelan dahinya sendiri.
"Karens, mulai sekarang kau bukan sahabatku."
"Hahaha... bohong. Nanti kau juga akan maafkan aku."
Liora menghela napas panjang. Ia merasa ingin menghilang saat itu juga.
Di sisi lain, Marco masih menatapnya dengan senyum yang belum juga pudar.
"Tenang saja," ujarnya lembut. "Aku menganggap itu sebagai pujian yang jujur."
Liora menatapnya sebal.
"Jangan besar kepala."
Marco mengangkat kedua bahunya santai.
"Bukannya aku yang bilang. Temanmu yang membocorkannya."
Liora menggigit bibir bawahnya pelan. Dalam hati ia menggerutu, bukan rasa bosan yang ia dapatkan selama tinggal bersama Marco. Ini justru menjadi masalah baru. Mulai hari itu, ia yakin Marco tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menggodanya setiap kali mereka bertemu.