Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Pengejaran Tanpa Henti
Suara lonceng darurat mengguncang seluruh Kota Garnisun Valen.
Malam yang sebelumnya sunyi berubah menjadi kekacauan dalam hitungan detik. Dari berbagai penjuru kota, prajurit Empire Krusador keluar dari barak dengan perlengkapan perang lengkap. Cahaya obor bergerak cepat di sepanjang jalan batu, suara sepatu zirah menghantam tanah terdengar semakin dekat, dan teriakan komandan memenuhi udara malam yang dingin.
"Tahanan kabur!"
"Tutup seluruh gerbang kota!"
"Periksa setiap jalan keluar!"
Ryosuke berdiri di lorong bangunan tahanan dengan kedua pedangnya telah terhunus. Nichirin-gatana berada di tangan kanannya, sedangkan Tenkū Matō berada di tangan kirinya. Pedang legendaris itu masih tertutup oleh bayangan gelap yang tenang, tetapi Ryosuke dapat merasakan tekanan dari kekuatannya yang tersembunyi.
Di belakangnya, Hana berdiri dengan napas yang masih berat.
Setelah sekian lama menjadi tahanan, suara alarm itu membawa kembali rasa takut yang pernah ia rasakan saat desanya dihancurkan. Tetapi kali ini berbeda. Kali ini ia tidak sendirian.
"Kak Ryosuke..."
Ryosuke menoleh.
"Kita keluar sekarang."
Hana mengangguk.
Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Beberapa prajurit Krusador muncul membawa tombak dan pedang.
"Mereka di sini!"
"Serang!"
Ryosuke langsung bergerak.
Tidak ada keraguan dalam gerakannya.
Ia menggunakan Hyoho Niten Ichi-ryū, gaya bertarung dua pedang yang telah menjadi ciri khasnya sejak kecil. Tubuhnya bergerak mengikuti aliran yang tenang namun mematikan. Nichirin-gatana menahan serangan pertama, sementara Tenkū Matō bergerak dari sisi lain menghantam celah pertahanan lawan.
Satu prajurit jatuh.
Dua prajurit lain maju menggantikan.
Namun Ryosuke tidak mundur.
Setiap gerakan memiliki tujuan. Ia tidak bertarung untuk menang dengan menghancurkan semua musuh. Ia hanya mencari jalan keluar.
"Hana, tetap di belakangku."
"Aku bisa membantu!"
Ryosuke menatap adiknya.
"Kau baru saja keluar dari tempat itu."
"Aku tidak akan membiarkanmu kembali menjadi tahanan."
Hana terdiam.
Ia tahu kakaknya benar.
Mereka bergerak melewati lorong sambil Ryosuke terus membuka jalan. Para prajurit Krusador datang tanpa henti. Jumlah mereka terlalu banyak, dan setiap suara benturan pedang membuat pasukan lain semakin mengetahui posisi mereka.
Akhirnya mereka mencapai pintu belakang.
Namun ketika pintu terbuka, harapan mereka langsung hilang.
Halaman belakang kompleks militer sudah dipenuhi pasukan.
Puluhan prajurit berdiri membentuk barisan.
Di antara mereka berdiri seorang komandan dengan zirah hitam yang berbeda dari prajurit biasa. Tatapannya langsung tertuju pada Ryosuke.
"Jadi kau penyusupnya."
Komandan itu berjalan beberapa langkah ke depan.
"Seorang ronin berani memasuki wilayah Krusador dan mengambil tahanan kami."
Ryosuke berdiri diam.
"Hana bukan milik kalian."
Komandan itu tersenyum kecil.
"Berani sekali."
"Di wilayah ini, semua yang berada dalam kekuasaan Empire Krusador adalah milik kami."
Kalimat itu membuat tatapan Ryosuke menjadi dingin.
Ia kembali mengangkat pedangnya.
"Aku tidak peduli siapa yang merasa memiliki kekuasaan."
"Aku hanya datang mengambil keluargaku."
Pasukan Krusador bergerak maju.
Pertarungan pun dimulai.
Kali ini Ryosuke menghadapi lebih banyak musuh daripada sebelumnya. Berbeda dengan lorong sempit yang membatasi pergerakan lawan, halaman terbuka membuat pasukan Krusador dapat mengepung dari berbagai arah.
Tombak datang dari depan.
Pedang menyerang dari samping.
Beberapa prajurit membawa kristal rune untuk mendukung serangan.
Ryosuke terus bergerak.
Ia memutar tubuhnya, menghindari tembakan energi kecil dari kristal rune api, lalu menutup jarak sebelum lawan dapat menyerang kembali.
Namun semakin lama pertarungan berlangsung, semakin jelas bahwa jumlah musuh adalah masalah terbesar.
Ryosuke kuat.
Tetapi ia bukan pasukan.
Jika pertarungan ini berlanjut, mereka akan kalah karena kelelahan.
Ia mulai mengamati sekeliling.
Di sisi kanan halaman terdapat gudang tua yang berbatasan dengan tembok luar kota.
Jalurnya sempit.
Tidak cocok untuk pasukan besar.
Tetapi mungkin cukup untuk mereka berdua.
Ryosuke mengambil keputusan.
"Hana."
"Apa?"
"Kita menuju ke sana."
Hana mengikuti arah pandang kakaknya.
Tetapi sebelum mereka bergerak, suara terompet terdengar dari atas tembok.
Pasukan tambahan datang.
Mereka mulai menutup jalur tersebut.
Ryosuke berhenti.
Mereka semakin terdesak.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari bahwa membawa Hana keluar mungkin membutuhkan keputusan yang tidak ingin ia lakukan.
Pasukan Krusador semakin mendekat.
Suara langkah kaki mereka menggema di seluruh halaman kompleks militer. Cahaya obor memantul pada zirah besi para prajurit yang terus bergerak membentuk lingkaran pengepungan. Tidak ada celah yang terlihat. Setiap jalan keluar telah ditutup, setiap sudut telah dijaga.
Ryosuke berdiri diam sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Di depannya puluhan prajurit Krusador.
Di belakangnya Hana.
Dan di antara mereka hanya ada satu jalan kecil menuju luar tembok yang perlahan mulai ditutup oleh pasukan tambahan.
Ia menghitung kemungkinan.
Jika ia memaksa menerobos bersama Hana, mereka akan tertangkap karena jumlah musuh terlalu banyak.
Jika ia tetap bertahan di sini, Hana akan kembali menjadi tahanan.
Tidak ada pilihan yang mudah.
Hana melihat perubahan ekspresi kakaknya.
Ia mulai memahami apa yang sedang dipikirkan Ryosuke.
"Tidak..."
Suara Hana pelan.
Ryosuke menoleh.
"Hana."
"Kakak jangan bilang kau akan..."
Ryosuke diam.
Dan diam itu sudah menjadi jawaban.
Hana langsung menggeleng.
"Tidak."
"Aku tidak akan pergi."
Ryosuke menatapnya.
"Hana."
"Aku sudah kehilangan keluarga kita."
"Aku sudah kehilangan rumah."
"Aku bahkan tidak tahu apakah Kakak masih hidup atau tidak."
Suara Hana mulai bergetar.
"Tapi sekarang aku sudah menemukan Kakak."
"Aku tidak akan meninggalkan Kakak lagi."
Untuk sesaat, Ryosuke tidak mengatakan apa pun.
Ia mengerti perasaan itu.
Karena dirinya juga merasakan hal yang sama.
Sejak tragedi desa mereka, ia terus berjalan hanya karena satu alasan.
Menemukan Hana.
Tetapi sekarang ketika mereka telah bertemu kembali, ia tidak bisa membiarkan keinginannya sendiri menghancurkan kesempatan Hana untuk hidup.
Ryosuke mendekat.
Ia memegang bahu Hana.
"Hana."
"Dengarkan aku."
Tatapan Hana bertemu dengan tatapan kakaknya.
"Aku bukan meninggalkan mu."
"Aku sedang menyelamatkan mu."
Air mata mulai muncul di mata Hana.
"Tapi..."
Ryosuke tersenyum tipis.
"Sejak kecil, aku selalu mengatakan akan melindungi mu."
"Dan aku tidak akan mengingkari janji itu."
Suara pasukan semakin dekat.
Komandan Krusador memperhatikan mereka dengan tenang.
Ia tidak terburu-buru.
Karena baginya, dua orang di depannya sudah tidak memiliki jalan keluar.
"Kalian sudah selesai?"
"Tidak ada tempat untuk lari."
Ryosuke tidak memperhatikannya.
Matanya tetap pada Hana.
"Kau harus pergi melalui jalan itu."
Hana melihat celah kecil di samping gudang tua.
Jalur itu memang menuju sisi luar tembok.
Tetapi hanya satu orang yang bisa melewatinya dengan cepat.
"Kakak..."
"Aku akan menyusul."
"Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu."
Ryosuke menarik napas.
"Aku tahu."
"Karena itu aku yang harus membuat keputusan ini."
Hana terdiam.
Ryosuke mendorongnya perlahan menuju celah tersebut.
Awalnya Hana masih menahan diri.
Namun ketika melihat ekspresi kakaknya, ia akhirnya mengerti.
Ryosuke tidak sedang menyerah.
Ia sedang memberikan kesempatan.
Dengan mata berkaca-kaca, Hana akhirnya berlari menuju celah itu.
Sebelum melewati tembok, ia menoleh sekali lagi.
Ryosuke masih berdiri di tengah halaman.
Sendirian.
Dua pedang berada di tangannya.
Seperti seorang ronin yang tidak takut menghadapi seluruh dunia.
"Kak Ryosuke..."
Bisikan Hana menghilang tertiup angin malam.
Kemudian ia pergi.
Ryosuke memastikan bayangan Hana telah menghilang sebelum kembali menghadap musuh.
Komandan Krusador tersenyum.
"Menarik."
"Kau memilih bertahan hanya demi satu gadis."
Ryosuke mengangkat Tenkū Matō dan Nichirin-gatana.
"Bukan hanya seorang gadis."
"Dia keluargaku."
Angin malam berhembus melewati halaman.
Pasukan Krusador maju.
Dan Ryosuke bergerak.
Hyoho Niten Ichi-ryū kembali mengalir.
Pedang cahaya dan pedang kegelapan bergerak bersamaan.
Nichirin-gatana memotong serangan yang datang dari depan, sementara Tenkū Matō menahan tekanan dari sisi lain.
Kali ini Ryosuke tidak mencari kemenangan.
Ia hanya mencari waktu.
Setiap langkahnya dibuat untuk memperlambat musuh.
Setiap tebasan dibuat untuk membuka ruang agar pasukan tidak dapat mengejarnya menuju arah Hana.
Namun jumlah musuh terlalu besar.
Lambat laun napas Ryosuke mulai berat.
Tangannya mulai merasakan tekanan.
Tetapi ia tetap berdiri.
Karena jauh di luar tembok kota, Hana masih berlari.
Dan selama Hana memiliki kesempatan hidup, Ryosuke tidak akan berhenti.
Sementara itu, di sisi lain kota, Hana terus bergerak menuju arah perbatasan dengan langkah yang semakin lemah. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada kakaknya.
Ia tidak tahu apakah Ryosuke berhasil keluar.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia harus tetap hidup.
Karena Ryosuke mempertaruhkan segalanya agar ia bisa melakukannya.
Malam itu menjadi malam ketika dua saudara Tagawa kembali dipisahkan oleh perang.
Tetapi juga menjadi malam yang membuktikan bahwa ikatan keluarga mereka belum pernah benar-benar hancur.
Dan tanpa mereka ketahui, perjalanan mereka akan membawa keduanya menuju takdir yang jauh lebih besar daripada sekadar bertahan hidup.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉