NovelToon NovelToon
My Fake Knight

My Fake Knight

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Roman-Angst Mafia
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.

Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.

Namun, takdir gemar bercanda.

Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.

Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .

Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.

Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Sejak menapakkan kakinya di kompleks bangunan megah Universitas Los Angeles Pusat, demi Tuhan, waktu seakan bergerak sepuluh kali lebih cepat bagi Scarlett Langford.

Sebagai mahasiswi baru jalur beasiswa penuh, ia diwajibkan menyelesaikan segudang urusan administrasi, verifikasi berkas fisik, hingga pemindahan barang-barang logistik ke kamar asramanya secara mandiri.

Tubuh semampainya dipaksa bergerak tanpa henti dari satu gedung ke gedung lain di bawah terik matahari pusat kota.

Scarlett bahkan tidak sempat memegang ponselnya dengan benar.

Kemarin malam, setelah seluruh tenaganya terkuras habis, ia hanya sempat mengirimkan sebaris pesan singkat kepada Cristine—mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai dan baik-baik saja—lalu sedetik kemudian ia langsung jatuh tertidur di atas kasur busa asrama yang keras.

Ia mengistirahatkan pikiran, fisik, dan terutama hatinya yang sempat terkejut setengah mati di aula utama.

Otaknya masih menolak sepenuhnya kenyataan bahwa sosok Millian Vale-Knight—pangeran bad boy fiktif yang selama ini ia klaim sebagai kekasihnya demi tameng harga diri di sekolah menengah—ternyata adalah pria nyata yang berwajah tampan namun bertingkah brengsek dan bermata aneh yang ia maki di pesta bel air waktu lalu.

Bahkan, karena saking padatnya jadwal, Scarlett belum sempat mengirimkan kabar atau cerita horor ini kepada Brianna, sahabat karibnya.

...ΩΩΩΩΩ...

Pagi ini, di dalam kabin bus pariwisata yang sedang melaju membelah jalur perbukitan, Scarlett duduk bersandar dengan sisa-sisa rasa lelah yang masih menggelayuti tubuhnya.

Udara dingin dari ventilasi AC bus membuat leher bagian belakangnya terasa kaku dan tidak nyaman.

“Ah... mungkin ini karena aku salah posisi tidur semalam,” gumam Scarlett pelan.

Ia merobek segel sebuah botol kecil minyak angin Fresh Care beraroma mint dari dalam tasnya, lalu mulai mengoleskannya sedikit demi sedikit pada bagian leher dan tengkuknya yang menegang.

Sensasi hangat perlahan menyebar, mengikis rasa kaku yang mengganggu.

Scarlett menoleh ke arah samping, menatap Delaney—gadis kaya eksentrik yang kini menjadi teman barunya.

“Lehermu kenapa, Lett? Perlu kubantu pijat?” tanya Delaney dengan nada suara yang ceria, membetulkan posisi jaket mewahnya yang sengaja disamakan gayanya dengan Scarlett.

“Tidak usah, Delaney. Ini hanya salah bantal biasa. Sebentar lagi juga hilang,” sahut Scarlett dengan senyuman tipis yang manis.

Bus pariwisata yang mengangkut kelompok mentorship B-4 itu terus melaju dengan sangat baik di atas aspal mulus, mengarah lurus ke lokasi perkemahan outdoor education.

Berdasarkan papan penunjuk jalan yang sempat melintas di luar jendela kaca, waktu perjalanan mereka masih tersisa sekitar satu jam lagi sebelum memasuki kawasan hutan pinus di kaki gunung.

...*****...

Sementara itu, di barisan kursi paling depan yang menjadi area kekuasaan para mentor senior, atmosfer yang sepenuhnya berbeda sedang bergolak halus.

Millian Vale-Knight baru saja menerima sebuah pesan teks dari James melalui aplikasi obrolan internal mereka.

Pesan itu berisi sebaris nomor ponsel—nomor yang berdasarkan hasil pelacakan anak-anak divisi IT angkatan baru, terdaftar sebagai milik "gadis misterius" yang di forum kampus dirumorkan sebagai kekasih rahasia Millian.

Seringai sinis yang sarat akan arogansi langsung terukir di sudut bibir tipis Millian.

Dengan gerakan jemari yang cepat dan penuh percaya diri, ia mengetikkan sebaris kalimat pendek di kolom pesan ke nomor tidak dikenal tersebut:

Sayang, aku merindukanmu!

Setelah menekan tombol kirim, Millian menjauhkan ponselnya dari wajah, lalu berbisik sangat lirih dengan nada mengejek yang tertahan di tenggorokan.

“Nah, done. Kuharap kau segera mendapat serangan jantung di kursi belakang sana karena menerima pesan seperti ini langsung dari seorang Millian Vale-Knight yang asli.”

Perlu diingat, Millian adalah tipe pria kelas atas yang memiliki reputasi friendly; ia sudah terlalu sering menghadapi dan menolak berbagai macam trik dari para gadis borjuis di Bel Air yang mencoba menarik perhatiannya.

Jadi, baginya, sekadar mengirimkan pesan pancingan bernada manis seperti itu menggunakan nomor pribadinya langsung bukanlah hal yang menakutkan.

Ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana konsekuensi ke depannya, karena baginya, mengungkap identitas si pembohong yang mencoreng namanya adalah prioritas utama saat ini.

Ting!

Di barisan kursi tengah, sebuah bunyi notifikasi pesan chat masuk terdengar dari ponsel yang berada di dalam pangkuan Scarlett.

Dengan kening berkerut, Scarlett membuka kunci layar ponselnya.

Di layar, tertera sebuah pesan dari nomor baru yang tidak ia kenal.

Foto profil nomor tersebut menampilkan sebuah logo abstrak berbentuk untaian dedaunan hijau yang memakai mahkota emas di atasnya—sebuah desain personal branding mewah yang tampak sangat eksklusif.

Namun, begitu netra indahnya membaca deretan kata "Sayang, aku merindukanmu!", otak Scarlett mendadak mendidih seketika. Seluruh rasa hangat dari minyak angin di lehernya seakan kalah telak oleh gelombang kejengkelkan yang naik ke ubun-ubunnya.

Scarlett bukanlah tipe perempuan baperan yang akan langsung tersipu malu atau gemetar hanya karena menerima pesan salah alamat dari pria asing berlogo mahkota.

Baginya, ini hanyalah ulah orang iseng atau pria hidung belang yang kurang kerjaan.

Tanpa membuang waktu, jemari lentik Scarlett langsung menari di atas papan ketik virtual, membalas pesan tersebut dengan rentetan kalimat yang sangat menusuk dan sarkas:

Perawat RSJ mana yang membebaskan pasiennya berkeliaran memegang ponsel pagi-pagi begini? Kau ingin aku bantu memanggil layanan umum atau ambulans untuk membawamu kembali ke rumah sakit jiwa?

Ting!

Detik berikutnya, pesan balasan yang super pedas itu langsung masuk dan bergetar di genggaman tangan Millian Vale-Knight di barisan depan.

Millian membaca balasan itu dengan mata yang nyaris melompat keluar dari kelopaknya.

Wajah tampannya seketika memerah padam karena keterkejutan yang luar biasa.

“Wah, sialan! Rumah sakit jiwa? Dia pikir aku ini pasien gila?!” umpat Millian setengah berteriak, membuat James, Arthur, dan Clark yang duduk di sekitarnya langsung menoleh serentak.

Melihat reaksi ekstrem dari sang pangeran Bel Air, James, Arthur, dan Clark hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka dengan tawa tertahan, menganggap interaksi itu sebagai hiburan komedi terbaik di pagi hari.

Namun, tawa James mereda ketika jemarinya sibuk mencocokkan data nomor tersebut ke dalam sistem database manifest kelompok mentorship mereka.

Mata James menyipit tajam.

“Tunggu dulu, Yang... ada yang tidak beres,” kata James dengan nada suara yang mendadak serius.

“Aku baru saja memeriksa ulang nomor ini di sistem. Nomor ini ternyata terdaftar dalam satu grup koordinasi mentorship yang sama dengan kita pagi ini. Itu artinya... gadis pemilik nomor ini berada di dalam bus yang sama dengan kita saat ini.”

Millian terdiam seketika. Ia melepaskan sandaran punggungnya, lalu memiringkan tubuhnya untuk menatap ke arah koridor tengah dan belakang kabin bus yang dipenuhi barisan kursi mahasiswa baru.

Rasa penasaran yang pekat berbaur dengan amarah yang tertahan membuat sepasang mata heterochromia-nya berkilat berbahaya.

“Itu artinya... dia ada di dalam bus ini sekarang, James?” tanya Millian, memastikan pendengarannya dengan suara yang merendah, sarat akan tekanan intimidasi.

James mengangguk pasti, memutar layar ponselnya ke arah Millian.

“Iya, brother. Nomor ini sudah otomatis masuk ke grup koordinasi bus B-4 sejak pagi tadi.”

“Mati kau!!” desis Millian Vale-Knight dengan geraman rendah.

Dengan cepat, Millian bangkit berdiri dari kursi VIP-nya.

Karena foto profil dari nomor gadis tersebut hanya menampilkan gambar abstrak—yang dalam pikiran jengkel Millian terlihat seperti gambar daun sobek yang aneh—ia langsung menyimpulkan bahwa pemilik nomor ini pastilah seorang perempuan berwajah jelek, pendiam, dan kuper yang menghabiskan seluruh waktunya hidup di dalam dunia kehaluan fiksi remaja.

Sembari menggenggam ponselnya yang terus melakukan panggilan keluar ke nomor tersebut, Millian melangkah dengan cepat dan tegas, menyusuri koridor karpet bus menuju ke arah barisan belakang, mencari tahu ponsel milik siapa yang akan berdering.

...****...

Namun, di sisi lain kabin bus, tepat beberapa detik setelah mengirimkan pesan balasan pedas tentang rumah sakit jiwa itu, Scarlett mendadak merasakan gejolak tidak nyaman yang luar biasa di bagian perut bawahnya.

Efek stres dan rasa lelah tampaknya memicu sesuatu yang tidak tepat waktu. Ia buru-buru meletakkan ponselnya di atas tas ranselnya yang terbuka, lalu bersiap bangkit berdiri.

Delaney yang melihat gerakan tiba-tiba sahabatnya langsung menengadah.

“Kau mau ke mana, Lett? Kau terlihat sedikit pucat.”

“Aku harus ke toilet bus sebentar, Delaney. Perutku mendadak sakit,” jawab Scarlett terburu-buru.

“Oh, baiklah. Pergilah,” ucap Delaney mengangguk paham. Namun, sebelum Scarlett melangkah, Delaney menunjuk ke arah tas Scarlett yang terbuka.

“Bolehkah aku mengambil dan meminjam power bank-mu yang ada di dalam tas? Ponselku sudah kritis.”

Scarlett hanya mengangguk cepat dan memberikan senyuman sekilas sebelum membalikkan badannya, melangkah tergesa-gesa menuju bilik toilet kecil yang berada di bagian paling belakang bus pariwisata tersebut.

Delaney yang sudah mendapatkan izin langsung merapatkan tubuhnya, membuka resleting utama tas ransel Scarlett untuk mencari keberadaan alat pengisi daya tersebut.

Namun, tepat saat jemarinya baru saja menyentuh ujung kabel power bank, sebuah getaran yang sangat kuat mendadak muncul dari dalam tas.

Drttttttt! Drttttttt!

Layar ponsel milik Scarlett bergetar hebat, menampilkan panggilan telepon masuk berulang kali dari nomor tidak dikenal berlogo mahkota dedaunan tadi.

Delaney tertegun sejenak, menatap ponsel yang terus berdengung di hadapannya.

Di dalam benak polosnya, Delaney merasa takut jika telepon itu berasal dari ibu tiri Scarlett yang mengkhawatirkan kondisi anaknya di hari pertama.

Mengingat Scarlett mungkin akan menghabiskan waktu cukup lama di dalam toilet bus karena sakit perut, Delaney berpikir tanpa ragu-ragu dan tanpa banyak pertimbangan panjang.

Klik.

Delaney menggeser tombol hijau, mengangkat panggilan telepon tersebut.

“Halo?” ucapnya manis.

Di saat yang bersamaan, Millian Vale-Knight sedang melangkah tegap di koridor tengah bus dengan ponsel menempel di telinganya, mendengarkan nada sambung yang tidak lagi berdering.

Pandangan matanya menyapu tajam setiap barisan kursi.

Tepat ketika panggilan teleponnya beralih status menjadi terhubung, mata ganjil Millian menangkap sosok seorang gadis berambut pirang di barisan tengah—Delaney—yang tampak sedang menempelkan sebuah ponsel ke telinganya dengan ekspresi bingung.

Untuk memastikan dugaannya tidak salah, Millian dengan sengaja mematikan sambungan telepon di tangannya secara sepihak, lalu kembali menekan tombol panggil ulang dalam hitungan detik.

Dan BINGOOOO!

Detik itu juga, ponsel di tangan Delaney kembali bergetar hebat memancarkan cahaya lampu layar.

Ketika Delaney baru saja hendak membuka mulutnya lagi untuk bersuara, sebuah bayangan tinggi besar mendadak memayungi tempat duduknya.

Ia mendongakkan kepalanya dengan lambat, dan seketika itu juga jantungnya seakan melompat keluar dari dada ketika mendapati wajah tampan nan dingin milik Millian Vale-Knight sudah berdiri tegak tepat di balik sandaran kursinya, menatapnya dengan pandangan mengunci yang luar biasa tajam.

Millian, yang sudah sepenuhnya salah paham dan mengira bahwa Delaney-lah pemilik asli nomor telepon yang selama ini mengaku sebagai kekasih rahasianya serta baru saja menghinanya sebagai pasien RSJ, tidak ingin membuang waktu untuk bernegosiasi.

Sifat bad boy-nya yang angkuh dan gemar mendominasi situasi langsung mengambil alih kendali penuh.

Dengan volume suara yang sengaja ditinggikan hingga menggema ke seluruh sudut kabin bus dan menyita perhatian total dari puluhan mahasiswa baru lainnya, Millian menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Delaney yang melebar ketakutan.

“Kau berhutang penjelasan yang sangat panjang padaku, Nona!” cetus Millian dengan nada suara yang penuh penekanan dan terdengar sangat mutlak.

Sebuah seringai kejam terukir di bibirnya saat ia melanjutkan kalimat yang sukses mengguncang seisi bus: “Karena mulai detik ini... kau secara resmi adalah kekasihku.”

Deg.

Seluruh pasokan udara di sekitar Delaney seakan menguap tanpa sisa.

Tubuh mungil gadis pirang itu mendadak kaku, wajahnya pucat pasi, dan ia merasa seolah-olah dunianya baru saja jungkir balik hingga membuatnya ingin pingsan di tempatnya berdiri saat itu juga.

“Hah...?” gumam Delaney dengan kebingungan tingkat tinggi yang teramat sangat.

Otak kayanya sama sekali tidak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.

Ponsel yang berada di dalam genggaman tangannya bahkan masih ia kira sebagai telepon masuk dari ibu Scarlett.

Ia sama sekali tidak pernah menyangka, bahkan dalam mimpi fiktifnya yang paling liar sekalipun, bahwa ia akan ditembak dan dideklarasikan sebagai kekasih secara paksa oleh seorang pangeran Bel Air legendaris seperti Millian Vale-Knight di atas bus pariwisata yang sedang berjalan.

Pikiran Delaney berkecamuk hebat dalam kekacauan; sejak kapan seorang Millian menaruh hati padanya?

Tanpa menunggu jawaban atau reaksi lebih lanjut dari Delaney, Millian langsung membalikkan badannya dengan gerakan anggun yang tegas, melangkah kembali menuju barisan kursi depan dengan raut wajah puas karena merasa telah berhasil memegang kendali atas si pembohong.

Delaney hanya bisa menatap punggung tegap mentor senior itu yang perlahan menjauh dan menghilang di balik batas pembatas kursi VIP dengan pandangan kosong penuh tanda tanya.

Sementara itu, puluhan mahasiswi dan mahasiswa lain yang menyaksikan drama kilat itu secara langsung masih terus menganga lebar dengan ekspresi tidak percaya.

Kabin bus yang tadinya sunyi dalam sekejap berubah menjadi sarang lebah yang berdengung hebat oleh bisik-bisik gosip yang meledak-ledak.

“Oh, My God! Jadi rumor itu benar?! Tapi... Delaney?” bisik salah seorang mahasiswi dengan mata melotot.

“Dia kan anak dari pengusaha tekstil terbesar di Los Angeles! Apa Kak Millian sudah resmi putus dengan kekasih rahasianya yang lama dan berakhir mengejar Delaney selama ini? Ini benar-benar gila!”

“Pantas saja gaya berpakaian Delaney pagi ini terlihat sangat berniat disamakan dengan gaya outdoor berkelas! Ternyata itu semua demi menarik perhatian Kak Millian!” timpal yang lain dengan nada iri yang berhamburan di antara kursi penumpang.

...oOo ...

Di sisi lain, pintu toilet di bagian belakang bus akhirnya terbuka dengan bunyi klik yang pelan.

Scarlett Langford melangkah keluar dari dalam bilik kecil itu dengan helai napas panjang yang sarat akan rasa lelah.

Tebakannya ternyata terbukti seratus persen akurat; jadwal menstruasi bulanannya datang di waktu dan tempat yang sama sekali tidak tepat, memaksanya harus menghabiskan waktu cukup lama di dalam toilet untuk memasang pembalut darurat yang untungnya selalu ia siapkan di dalam saku kecilnya.

Dengan langkah yang sedikit diperlambat karena rasa tidak nyaman di perutnya, Scarlett kembali ke barisan kursinya.

Namun, begitu ia sampai, ia mendapati Delaney masih terduduk kaku dengan pandangan mata yang kosong melongo menatap langit-langit bus, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari tubuhnya.

Scarlett mengernyitkan dahinya dalam-dalam melihat kondisi aneh temannya itu. Ia menduduki kursinya kembali, lalu menyenggol bahu Delaney pelan.

“Kau kenapa? Kau sakit? Wajahmu pucat sekali seperti baru melihat hantu.”

Delaney tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Scarlett dengan gerakan patah-patah, lalu tiba-tiba mengeluarkan sebuah teriakan kecil yang tertahan di tenggorokannya.

“Arrrgggg...Scarlett! Scarlett cantik, kau harus menolongku!” hebohnya sembari mencengkeram kedua lengan Scarlett dengan tangan yang gemetar hebat.

“Aku... aku berpacaran dengan Kak Millian mulai detik ini! Dia baru saja menembakku di depan semua orang!”

Mendengar penuturan histeris itu, alis Scarlett bertaut rapat, kerutan di dahinya kian mendalam karena rasa heran.

“Hah? Berpacaran dengan Millian? Bukankah dari gosip yang kudengar di pelataran tadi, pria bermata aneh itu sudah memiliki kekasih rahasia yang sangat dia jaga privasinya?”

Delaney menggelengkan kepalanya dengan cepat, pipinya mendadak bersemu merah padam akibat sisa-sisa keterkejutan emosionalnya.

“Aku tidak peduli lagi soal itu, Scarlett! Tapi... tapi mungkin saja berita di forum itu salah, atau mungkin dia sudah resmi putus dengan kekasih lamanya karena tidak betah menjomblo, lalu akhirnya memilihku sebagai penggantinya!"

"Huhuhu, tapi tubuhku masih gemetar sampai sekarang, Lett. Aku merasa sangat tidak percaya diri disandingkan dengan pria sesempurna dia.”

Scarlett hanya bisa mengangguk-angguk pasrah mendengarnya, memberikan tepukan menenangkan di punggung Delaney tanpa menaruh curiga sedikit pun.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa ponsel miliknya yang berada di atas tas ransel itulah yang baru saja menjadi sumbu utama dari ledakan kesalahpahaman gila yang melibatkan sahabat barunya dengan sang pangeran Bel Air.

Tameng kepalsuan yang ia bangun kini justru telah berpindah tangan secara tidak sengaja, merajut alur takdir baru yang kian kusut di sepanjang jalur pendakian menuju area perkemahan.

1
Mita Paramita
nih pasti sih Ana yang lagi jadi paparazi dadakan 😈😈😈
Rosdianah 🌷: hihihi author up besok lanjutan nya kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
delaney cemburu liat Scarlett jadi pacar palsu millian 🤨 itu nama Moore mungkin kah masih keluarga sama Scarlett sama sama klan moore
Mita Paramita: kirain mereka satu klan abis nama belakang delaney ada Moore ny sama kayak nama belakang nenek scarlet 🤨
total 2 replies
Mita Paramita
susahkan dapetin hati Scarlett 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Aman kata yang🤣🤣
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍lovestruck nih mereka
Rosdianah 🌷: semoga tetap stay dan gak bosan ya kak reader
total 1 replies
Mita Paramita
millian bisa jadi gentleman juga🤣🤣🤣🤣 buat dapetin hati scarlet
Rosdianah 🌷: hihihi 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lagi Thor yang banyak 😈😈😈
Rosdianah 🌷: Author sibuk dunia nyata 🙏🏾🫶🫶 besok Double Up 🥰
total 1 replies
Ainun Mahya
gk doble up nih kak🤭?
Rosdianah 🌷: huhu maapin author 🫶 author Sibuk dunia nyata 🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
halloooo kak, mana lanjutannya nih???
Rosdianah 🌷: author Up hari ini ya kak🫶
total 1 replies
Debu Nakal
thor... daku lagi mager bgt hari ini
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
Rosdianah 🌷: Huhuhu author Hari ini ada acara keluarga. ada si Di Draff nanti author up ya kak. ma'aciww banget kak Readers undah selalu tungguin up🫶🏻🫶🏻🥰
total 1 replies
Mita Paramita
pasti ibu scarlet udah diculik Nene lampir nih😈😈😈
Rosdianah 🌷: Author silent 🤭🤣
total 1 replies
Ainun Mahya
😍😍😍😍 bagusssss
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶🥰
total 1 replies
Ainun Mahya
lanjut terus, doble up🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu blm bisa double Up untuk Minggu ini kak🙏🏻🫶
total 1 replies
Mia Camelia
nah gitu dong mereka akur😂🤣
Rosdianah 🌷: sesuai maunya kak Readers 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
wah udah mulai Deket nih pasangan ini🤣🤣🤣 tinggal nunggu jadian aja
Rosdianah 🌷: wkkwkw 🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Pulang kamp scarlett ketempelan,, masak titisan setan ketempelan,, jd yg titisan setan siapa sebenernya🤭
Rosdianah 🌷: entahlah author mau menghilang 🤣
total 1 replies
Ayusha
sekalian modus si kadrun😄
Rosdianah 🌷: modus terus dia 🤣
total 1 replies
Ayusha
kadrun beraksi 🤭
Rosdianah 🌷: plish dia harus dibawa pulang 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
first kiss dua dua nya nih😍😍😍
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: uhu🥳🤣
total 1 replies
Ayusha
bukan nya "ayo pergi ke altar" /Sleep/
Rosdianah 🌷: Hihihi 😅
total 1 replies
Ayusha
yaelah, belom juga digigit udah sarimaman aja
Rosdianah 🌷: wkwk🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!