Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merah?
Keesokan paginya, Aira tetap harus berhadapan dengan kenyataan. Pukul enam pagi, ia sudah berada di lahan pertanian milik Pak Iqbal, mengenakan bot karet yang kedodoran dan topi caping untuk menghalau terik matahari yang mulai mengintip di balik gunung. Tangannya yang biasa melumuri keripik dengan bumbu kini harus akrab dengan tanah basah, mencabut sayur-sayuran hijau bersama Mbak Susi dan beberapa mantan pekerja Bu Rika lainnya yang senasib dengannya.
Baru satu jam bekerja, keringat sudah membasahi wajah Aira. Aira mengusap peluh yang bercampur dengan air hujan di dahinya, tangannya yang dingin terpaksa bergerak lebih cepat, mencabut sayur sawi dari tanah yang becek dan berlumpur, lalu memasukkannya ke dalam keranjang bambu besar.
"Heh! Kalian itu kerjanya yang cepat sedikit! Jam segini baru dapat tiga keranjang! Kalau lelet begini, sayurnya keburu layu sebelum sampai ke tengkulak!" teriak Pak Iqbal dari bawah gubuk beralas terpal. Pria paruh baya bertopi caping itu berkacak pinggang, menatap Aira dan Mbak Susi dengan pandangan meremehkan.
"Nggih, Pak. Ini sudah dipercepat," sahut Mbak Susi setengah berteriak, mencoba meredam amarah sang pemilik lahan.
Aira hanya diam, memilih menunduk dalam-dalam. Kata-kata kasar Pak Iqbal masuk ke telinga kirinya dan keluar ke telinga kanan.
Saat pekerjaan Aira hampir selesai, tiba-tiba hujan deras dan membasahi tubuh Aira dan para buruh lainnya.
"Pak, hujannya deras ini! Kilatnya juga ngeri, apa tidak sebaiknya kami berteduh sebentar di gubuk?" teriak Mbak Susi seraya mendekap keranjang bambunya di dada dan mencoba melindungi diri dari jarum-jarum air yang mulai menghunjam bumi dengan beringas.
Aira ikut berdiri di sebelah Mbak Susi, memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil hebat. Air hujan mengalir deras dari sela-sela topi capingnya, membasahi wajah dan menyusup ke balik jaket rajutnya yang tipis. Di langit, petir menyambar satu kali dengan suara menggelegar, membuat nyali beberapa ibu-ibu tani menciut.
Namun, Pak Iqbal yang berdiri aman di bawah gubuk beralas terpal tebal justru melotot, ia menunjuk hamparan lahan sawi yang belum dipanen dengan tongkat bambunya.
"Berteduh bagaimana? Tanggung itu! Tinggal tiga lajur lagi! Kalau ditinggal berteduh, besok sayurnya membusuk terendam air, saya yang rugi bandar! Ayo kembali kerja! Kerjanya pakai tangan, bukan pakai mata, jadi tidak usah takut sama hujan!" bentak Pak Iqbal tanpa belas kasihan.
"Tapi Pak, ini petirnya berbahaya...," lirih Aira mencoba menyuarakan akal sehatnya.
"Halah! Jangan banyak alasan kamu, Aira! Kena hujan sedikit saja manja! Kalau tidak mau kerja di tengah hujan, silakan pulang saja, tidak usah ambil upah hari ini!" potong Pak Iqbal ketus.
Mendengar ancaman potong upah, Mbak Susi langsung menyenggol lengan Aira dan memberi isyarat menggeleng pasrah, kehilangan upah lima puluh ribu hari ini berarti dapur mereka tidak akan mengepul esok pagi.
Dengan hati yang berdenyut ngilu dan pasrah, Aira kembali berlutut di atas tanah yang kini telah menjelma menjadi kubangan lumpur pekat. Jemarinya yang mulai kaku karena dingin kembali mencengkeram pangkal batang sawi, mencabutnya sekuat tenaga di bawah guyuran hujan lebat yang kian membabi buta.
Siang harinya, Aira pulang dalam keadaan basah kuyup, menggigil hingga ke tulang. Namun, Aira tersenyum cerah agar Ibu Astri tidak khawatir.
"Ya Allah, kamu basah gini, Ra," ucap Ibu Astri.
"Aira nggak apa-apa kok, Bu. Tadi hujan, terus karena terlanjur basah, jadi sekalian aja biar cepet pulang," ucap Aira.
"Yaudah, kamu mandi dulu biar nggak sakit," ucap Ibu Astri dan diangguki Aira.
Setelah mandi, Aira memutuskan untuk istirahat di kamarnya. Saat ia membuka ponselnya, sebuah pesan dari Arsen terpampang di layar.
Arsen: Kamu suka warna apa?
^^^Aira: Apa ya????? Biru?^^^
Arsen: Oke, warna biru ya.
^^^Aira: Kenapa emangnya?^^^
Arsen: Loh gimana sih, kan aku mau ngelamar kamu
"Apa sih Arsen nih, candaannya garing banget kayak Bram aja hahahaha," gumam Aira.
Arsen: Jadi, warna biru aja?
^^^Aira: Boleh deh, tapi aku nggak punya baju warna biru.^^^
Arsen: Kamu punya warna apa?
^^^Aira: Merah?^^^
Arsen: Kalau gitu merah ya.
^^^Aira: Oke, aku atas pakai merah, bawahnya putih! Hahahaha.^^^
Arsen: Aku yang bawa tali sama tiang kalau gitu.
"Hahaha, bisa aja. Ya Allah, kepalaku kok pusing banget sih," gumam Aira lalu ia pun menaruh ponselnya di meja sebelah kasurnya dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Aira memejamkan mata, membiarkan tubuhnya yang meriang tenggelam ke dalam kasur kapuk yang tipis. Rasa pusing yang berdenyut di pelipisnya perlahan membawa Aira ke dalam tidur yang gelisah, ditemani sisa bau tanah basah dari ladang Pak Iqbal yang seolah masih menempel di kulitnya.
Tiga hari berlalu, di teras rumah bambu yang sering digelari tetangga sebagai rumah paling reot di desa, Ibu Astri sedang duduk beralas kursi kayu panjang. Tangannya yang keriput perlahan mengupas kulit kacang tanah milik salah satu tetangganya, di mana Ibu Astri dipekerjakan untuk mengupasnya dengan ubah lima ribu satu plastik.
Sunyi pagi itu mendadak pecah oleh suara deru mesin yang halus namun bertenaga, sangat asing bagi telinga warga desa yang terbiasa dengan suara bising motor tua atau truk tengkulak.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengilat perlahan memasuki jalanan desa yang sempit, kilau bodi mobil itu memantulkan cahaya matahari pagi dan menciptakan kontras yang luar biasa mencolok di antara deretan rumah anyaman bambu, kehadiran kendaraan mentereng tersebut sontak menjadi magnet bagi radar gosip desa. Dari balik jendela dan pagar, mata-mata seperti Bu Romlah dan Bu Darmi mulai mengintip dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
Mobil itu berhenti tepat di depan halaman rumah Ibu Astri, pintu kemudi terbuka dan seorang pria melangkah keluar. Ibu Astri menghentikan aktivitasnya dan terpaku menatap sosok pria yang tampak begitu tampan dan gagah, pria itu mengenakan kemeja batik modern bernuansa merah maroon yang pas di tubuh tegapnya, tatapan matanya yang tajam berganti dengan binar ramah begitu pandangannya jatuh pada Ibu Astri.
Tak lama, pintu penumpang terbuka. Seorang wanita paruh baya berhijab anggun dengan gamis berwarna hijau sage yang elegan turun dari mobil, disusul oleh seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa mengenakan kemeja batik dengan warna senada, aura berkelas dan kemewahan yang bersahaja langsung memancar dari rombongan tersebut.
"Lho... badhe pados sinten, nggih? (Mau cari siapa, ya?)" tanya Ibu Astri terbata-bata, buru-buru bangkit dari duduknya dan mengusap tangannya yang kotor karena kulit kacang ke kain jarik yang dipakainya.
Arsen melangkah mendekat dengan senyum. Tanpa ragu, ia meraih tangan kanan Ibu Astri dan menyalaminya dengan takzim, diikuti oleh kedua orang tuanya yang tersenyum hangat.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal