Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 27
Desiran angin disekelilingnya yang kuat tidak membuatnya takut, rahangnya mengeras dengan tangan mengepal luar biasa. kapanpun bisa melepaskan pukulan kuat kesiapapun.
Eva menghela nafas berulang kali, desiran angin yang menyelimuti dirinya semakin memudar. Dia masih tidak terima pada perkataan Felix, dan berharap bisa segera pergi dari Odelions.
"hais kau harus tenang Eva, lebih baik dia kenal bagian itu dari pada tau kehidupan sekarang adalah kehidupan keduanya", Eva menatap pantulan air di danau.
Tatapan mata yang berkobar sebelumnya hilang, menyisakan tatapan lain. tatapan yang melihat sosok di masa lalunya di kehidupan pertamanya.
Jika dia berpikir lagi apa dirinya di kehidupan pertama mati, bagaimana tanggapan kedua orang tuanya. Sedih karena kehilangan anaknya atau kehilangan orang yang menjadi penghasil uang mereka.
hembusan nafasnya menjadi berat lagi, dia baru menyadari perasaan gundah ini sejak Felix terbaring, malam kedua ketika Felix masih dalam masa pemulihan paska demannya.
eva sadar bukan sosok Eva yang ada di dunia itu, dia evalia bukan Evanthe. entah dimana jiwa Evanthe yang asli, dia merasa terbebani karena dia mendapat cinta keluarga dan sahabatnya Evanthe yang seharusnya bukan miliknya.
"jika itu dia, apa yang akan dia lakukan pada Felix ya", Eva memetik bunga di dekatnya. Mencabut kelopaknya dengan galau.
Entah kenapa mengingat tabiak Evanthe yang asli, Eva merasa kalau dia akan langsung membunuh Felix di tempat kalau berani membawanya menjadi permaisuri.
Eva kembali menghela nafas berat, dia merasa sedikit kurang semangat. Dia jadi rindu berendam di air terjun tempat biasanya, sedikit penasaran kabar sahabat-sahabat nya juga.
Eva melempar batu ke semak-semak, suara Geraman seseorang terdengar sekali. Eva bangkit bersiap kalau ternyata yang dia pukul adalah_
"Flery", Eva menatap tidak percaya.
Flery tersenyum seperti biasa, Eva mengangkat gaun untuk mendekati Flery.
"bagaima_
Flery terdiam saat tangan mungil Eva terulur ke keningnya, ada noda darah di kening pemuda itu karena lemparan waspada Eva.
cahaya bulan yang bersinar seakan ingin menunjukan keindahan di depan Flery, rambut yang terurai manis, bola mata yang sangat berkilau biru, aroma parfum yang selalu membuat Flery candu tercium samar di sekelilingnya.
"kau kenapa kemari Flery?, jika orang-orang sini tau kau dari Ilos bukan kah jadi masalah", Eva menatap Flery.
Flery berdeham, "tidak apa, aku terkadang bekerja disini karena dekat dengan perbatasan tersembunyi ".
telinga Flery merah padam, sentuhan lembut Eva di keningnya, masih membuat debaran jantungnya menggila. berharap tingkah gugup nya tidak ketahuan Eva.
Eva menarik Flery sedikit bersembunyi di dekat semak-semak, beberapa prajurit berkeliling untuk penjagaan di area istana putri mahkota.
"tapi bagaimana kau bisa masuk kemari, jangan bilang menyelinap", Eva menatap tajam Flery.
Flery tersenyum lebar, Eva hanya bisa menepuk kening. ingin. Sekali ia memberikan pukulan karena nikah Flery, tapi dia teringat sesuatu.
"Ilos bagaimana?".eva menatap penasaran.
Flery tersenyum, jujur kalau di minta menjawab dia tidak terlalu pasti jawabannya benar.
"semua baik".
Eva menghela nafas lega, senyum Flery jadi sedikit tenang, setelah ini mungkin dia mencoba menemui tenang perempuan Eva untuk bisa lebih mudah berinteraksi pasal Ilos untuk Eva.
angin malam berhembus, tubuh Eva sedikit gemater. gaun yang sedikit tipis malam ini, tidak dapat mencegah angin malam, Flery melepas jubahnya. Memakainya ke tubuh Eva dengan lembut.
"jika kau mau memberi pesan pada orang-orang di Ilos, aku bisa kemari besok lagi", Flery Tersenyum.
Binar mata Eva sangat indah, "kau serius kan".
"tentu". Flery tersenyum manis
eva spontan memeluk Flery erat, wajahnya merah merona indah dengan Senyuman lebar yang terhias di parasnya, tidak peduli rona merah di telinga Flery yang semakin banyak.
"makasih Flery", Flery masih diam kaku, ragu untuk membalas pelukan Eva.
"tidak perlu terima kasih juga kali Eva", Eva Tersenyum lebar.
Flery mengulurkan tangan, selembar daun terselip di rambut Eva. Jarak mereka kembali dekat, Eva terdiam tidak bernafas.
eva mendorong Flery, anak panah melewati di antaran mereka, Flery menoleh mencari pelaku penembakan. Dia ingat belakangan ini ada yang mencoba membunuh Eva.
Eva melirik ke arah gelapnya lorong, dia sadar sosok yang menatap nya datar. Mata merahnya yang tersembunyi menatap tajam Eva.
"Flery sepertinya kau harus segera pergi, akan bahaya jikanada pengawal yang muncul". Eva mendorong Flery.
"kau yakin di sini aman Eva?, beruntung panah itu kau sadari jika tidak kau akan jelaskan lukamu ke orang tua mu bagaimana?". Flery menatap Eva.
Eva hanya tersenyum, tetap mendorong Flery menjauh melewati gerbang belakang istana putri mahkota, lebih bahaya jika Flery tertangkap Felix. luka selalu bisa dia sembuh kan, beda jika nyawa yang di pertaruhkan.
eva berlari menuju lorong setelah menutup gerbang belakang istana putri mahkota, Felix keluar dari lorong bersandar di salah satu pilar.
Bola mata merah Felix seakan menyala hendak memakannya, aura di sekeliling Felix juga terasa tidak enak bagi Eva.
"bukankah sudah ku peringatkan nona Evanthe ".
Nada yang berat, jelas jika Felix mulai serius dengan ancamannya.
Eva menghela nafas, "setidaknya biarkan aku bertukar kabar dengan kedua orang tuaku bisa kan".
"apa penjaga istana tidak bisa mengirimnya?". Felix mendengus.
Eva mengangkat alis, "kau ingin memberi tau semua orang kalau saya dari Ilos, tentu saya menolak hal itu".
Felix menyugar rambutnya, wajahnya sedikit mengeras. Sejenak dia bersiul pelan, dan burung hitam yang familiar bagi Eva muncul.
"pakai dia, itu lebih baik kan".
"tunggu sebentar apa dia burung anda?", Eva menatap tajam Felix.
Felix tersenyum miring, wajah Eva seketika memerah.
tanpa bicara apapun, Eva pergi masuk. Langkahnya yang terdengar cukup kuat membuat Felix tersenyum geli. sejenak dia lupa kalau tadi adiknya sudah masuk dan bertemu dengan Eva.
Felix merasa seperti terbakar saat Eva berbincang dengan Flery, terlebih ketika mereka berpelukan dengan riangnya, terutama saat melihat tatapan Eva ke Flery, rasanya dia ingin mengurung Eva di istana putra mahkota selamanya.
atau, lebih nekatnya lagi mencongkel mata adiknya sendiri agar tidak bisa menatap Eva seperti tadi. yah apapun itu Felix tidak bisa menahan rasa panas dalam dirinya kali ini.
Eva lompat ke ranjang dan menutup wajah dengan bantal, suara teriakannya tertahan dengan bantal. wajahnya merah padam percampuran kesal dan malu.
Jika burung hitam yang selama ini mengunjungi nya di Ilos adalah milih Felix, jangan bilang selama ini dia berhubungan dengan Felix, bahkan rasa di intai saat di ganti baju waktu itu_
"Aaaa, dasar Felix sialan", Eva mengeram kesal lagi.
Bisa dipastikan esok ia akan malu sekali bertemu dengan Felix.
...****************...