Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Taktik Saus Krim
Mereka berdua akhirnya melangkah masuk ke dalam kafe yang sudah sepi melalui pintu belakang yang terhubung langsung dengan ruangan Aeros.
Di atas meja kayu panjang, dua piring 𝘤𝘳𝘦𝘢𝘮𝘺 𝘮𝘶𝘴𝘩𝘳𝘰𝘰𝘮 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘢 yang masih mengepulkan uap tipis sudah tersaji dengan cantik, lengkap dengan aroma bawang putih dan mentega yang langsung membuat perut Sael berbunyi.
"Wah, Kak Aeros beneran masak ini sendiri?" mata Sael berbinar senang. Ia langsung mengambil posisi duduk, tidak sabar untuk mencicipi.
Aeros melepas jaket kulitnya, menyisakan kaus oblong hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya. Ia duduk di kursi tepat di sebelah Sael, "Khusus buat pacarku yang seharian capek kerja. Dicicipi dong, gimana rasanya."
Sael segera menggulung 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘢 dengan garpunya dan menyuapnya ke dalam mulut. Matanya langsung melebar. Rasa gurih dari krim, gurihnya jamur, dan kematangan 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘢 yang pas benar-benar meleleh di lidahnya. "Hmm! Enak banget, Kak! Ini lebih enak daripada pasta di restoran dekat kantor."
Aeros tersenyum puas melihat binar bahagia di mata Sael. Namun, alih-alih ikut makan, pria itu justru menopang dagunya dengan tangan kanan, menatap lekat-lekat wajah Sael yang sedang mengunyah dengan lahap. Binar jenaka kembali muncul di mata cokelatnya.
"Sael," panggil Aeros lembut, suaranya merendah,
"Ya, Kak?" Sael menoleh,
Aeros perlahan maju mendekati Sael, Sael mendadak gugup, garpunya tertahan di udara, dan jantungnya mulai berpacu gila-gilaan lagi.
Tangan kiri Aeros bergerak pelan naik ke wajah Sael. Ibu jarinya yang hangat mendarat dengan lembut di sudut bibir Sael, mengusap setitik saus krim putih yang tertinggal di sana dengan gerakan yang perlahan.
"Makannya pelan-pelan, Sayang. Nggak bakal ada yang minta kok," bisik Aeros, "Atau... kamu sengaja ya nyisain saus di bibir, biar aku bersihin kayak gini?"
Wajah Sael seketika memerah, Ia buru-buru menelan pastanya, mencoba menarik wajahnya mundur namun tangan Aeros yang bebas sudah beralih menahan tengkuknya dengan lembut, mengunci gerakannya.
"K-Kak Aeros... jangan mulai deh," cicit Sael gugup setengah mati, tangannya reflek meremas kaus hitam Aeros di bagian dada.
Aeros justru menurunkan pandangannya ke ibu jarinya sendiri yang kini bernoda krim putih. Dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, Aeros menjilat ujung ibu jarinya sendiri untuk membersihkan sisa saus krim dari bibir Sael tadi.
"Manis," gumam Aeros dengan senyuman tipis. "Pastanya manis. Tapi entah kenapa orang yang makan jauh lebih manis malam ini."
Sael langsung menyembunyikan wajahnya yang merah di dada Aeros, lalu memukul pelan bahu pria itu. "Kak Aeros curang! Tadi katanya jantungnya mau copot pas aku kerjain, sekarang malah balas dendamnya lebih parah!"
Tawa renyah dan lepas Aeros akhirnya pecah. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Sael, memeluk gadis itu erat-erat.
Begitu sisa tawa itu mereda, atmosfer di antara mereka mendadak berubah. Ruangan kafe yang temaram terasa semakin sunyi, menyisakan deru napas mereka yang saling berkejaran.
Aeros melonggarkan pelukannya perlahan, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang netra Sael.
Tatapannya turun perlahan, menyapu hidung kecil Sael, lalu tertahan lama pada bibir gadis itu yang masih sedikit basah oleh sisa saus krim.
Perlahan, Aeros memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan dengan lembut.
Sael bisa merasakan jemari Aeros yang berada di tengkuknya bergerak merapikan anak rambutnya dengan sangat hati-hati.
"Boleh, Sael?" bisik Aeros lagi, kali ini hampir menyerupai helaan napas di depan bibir Sael.
Semburat merah di pipi Sael kian pekat. Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Sael memilih untuk memajukan sedikit tubuhnya.
Kedua tangannya bergerak mencengkeram erat pundak Aeros, meremasnya kuat untuk menyembunyikan rasa gugup yang luar biasa. Saat kelopak mata Sael terpejam, ia bisa merasakan embusan napas Aeros, sedetik sebelum kehangatan menyapa bibirnya.
Sentuhan lembut itu perlahan berubah menjadi ciuman yang dalam dan hangat.
Sael meremas kaus hitam Aeros, membalas ciuman pertamanya.
Ketika Aeros akhirnya menarik dirinya perlahan memberikan ruang bernapas, dahi mereka masih saling menempel. Keduanya terengah pelan, dengan ulasan senyum yang begitu lega dan bahagia terukir di bibir masing-masing.
Aeros mengecup ujung hidung Sael sekilas, lalu membawa gadis itu kembali ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah enggan membiarkan sejengkal jarak pun memisahkan mereka lagi.
"Makasih, Sael," bisik Aeros di puncak kepala gadis itu.
Sael tertawa renyah.
"Kenapa ketawa? Aku serius" Aeros mengeratkan pelukannya.
"Makasih juga karena udah nunggu aku" Sael menatap mata Aeros.
"Sejujurnya, aku selalu membayangkan ciuman pertamaku dilakukan di tempat yang romantis dengan suasana yang romantis, bukan karena ada saus di wajahku. Ah rasanya malu banget" Sael mendekap erat Aeros dan menyembunyikan wajahnya di leher Aeros.
Aeros terkekeh pelan, getaran di dadanya terasa langsung di pipi Sael yang masih menempel di sana. Ia mengusap rambut Sael dengan sayang, menghirup aroma familier yang selalu ia rindukan.
"Oh, jadi menurutmu kafe sepi malam-malam, lampu temaram, dan pasta buatan cowokmu ini kurang romantis, hm?" goda Aeros, sengaja mengeratkan pelukannya sampai Sael hampir tidak bisa bergerak.
Sael mendongak sedikit, mengerucutkan bibirnya, "Ya romantis sih, Kak. Tapi bagian saus krim di bibir itu lho! Kesannya aku makannya belepotan kayak anak kecil. Hilang kerennya."
"Justru itu gongnya," Aeros mencubit hidung Sael gemas. "Kalau nggak ada saus itu, aku nggak punya alasan buat modusin kamu secepat ini. Anggap aja taktik."
"Dasar modus!" Sael tertawa kecil, memukul pelan dada Aeros sebelum akhirnya menyerah dan kembali bersandar nyaman di sana. Suasana hening kafe malam itu terasa begitu menenangkan. Suara detak jantung Aeros yang konstan di telinganya menjadi melodi terbaik.
Aeros melonggarkan pelukannya sedikit, menatap wajah Sael yang kini terlihat jauh lebih rileks. Sisa kemerahan di pipinya justru membuat gadis itu tampak menggemaskan di bawah pendar lampu kafe yang kuning hangat.
"Pastanya keburu dingin," ujar Aeros lembut, merapikan anak rambut yang menghalangi mata Sael. "Ayo dihabisin. Katanya tadi lapar?"
"Kak Aeros nggak makan?" tanya Sael, menyadari piring di depan Aeros belum tersentuh sama sekali.
"Makan kok. Tapi suapin ya," sahut Aeros santai, wajahnya tanpa dosa sama sekali.
Sael memutar bola matanya, tapi senyum di bibirnya tidak bisa disembunyikan. Ia mengambil garpu, menggulung pasta, lalu mengarahkannya ke depan mulut Aeros. "Nih, Aa'..."
Aeros menerima suapan itu dengan senang hati. Mereka menghabiskan malam itu dengan berbagi cerita masa kecil dan tentang betapa kacaunya Aeros saat belajar memasak pasta itu demi Sael.
apakah yang ketujuh ini mereka akan.. 🤔
kenapa aku malah jadi ngitungin😄
kael menganggu aja🤣
pengen liat visualnya
ada ngga thor😍😍
apakah bakal ada cowok baru lagi...
mungkin cowok yang di luar negeri itu, yang aeros singgung di bab 1🤔🤔
semua love language dia ambil
titip pacar saya😍
jadi ikut digelitik kupu-kupu😄