Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Menduduki Takhta Wall Street
Penerbangan lintas benua mendarat dengan mulus di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York. Namun, tidak seperti kunjungan turis atau pengusaha biasa, kedatangan pimpinan tertinggi Wijaya Group kali ini disambut oleh pengawalan ketat setingkat kepala negara. Jaringan mobil limosin antipeluru berwarna hitam legam sudah bersiap di luar hanggar privat, dikawal oleh puluhan agen sekuritas elit berpakaian setelan jas gelap dari Rockford Global—yang kini telah resmi berpindah status kepemilikan menjadi anjing penjaga baruku di bawah kendali Sistem.
Di dalam kabin mewah limosin yang membelah jalanan Manhattan menuju distrik finansial Wall Street, Kirana duduk di sampingku dengan memegang segelas sampanye tanpa alkohol. Mantel bulu wol hitam mahal yang dikenakannya sangat kontras dengan kulit putih bersihnya, memancarkan aura kemewahan seorang ratu bisnis global yang baru dinobatkan.
"Adrian," Kirana menatap pemandangan jajaran gedung pencakar langit New York di balik jendela kaca antipeluru. "Aku masih merasa seperti bermimpi. Kemarin kita baru saja menghadapi sisa-sisa faksi militer di pulau terpencil Indonesia, dan hari ini... kita datang ke pusat keuangan dunia untuk mengambil alih aset dinasti Rockford. Semua pergerakanmu benar-benar tidak terduga oleh siapa pun."
Aku menggenggam tangan lembutnya, memberikan kehangatan yang menenangkan di tengah dinginnya suhu musim gugur kota New York. "Ini bukan mimpi, Kirana. Wall Street ini hanyalah papan catur berikutnya. Ketika Asura Digital Bank menguasai likuiditas dunia, tempat ini tidak lebih dari sekadar kantor cabang kecil bagi imperium kita."
[Ding! Tuan Rumah Telah Memasuki Wilayah Inti 'Wall Street'...]
[Misi Utama Tahap Lima Diaktifkan: Gelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa di Markas Rockford Global dan Paksa Seluruh Jajaran Direksi Elit Barat untuk Bertekuk Lutut!]
[Hadiah Misi: Keterampilan 'Otoritas Intimidasi Absolut', Kartu Kekebalan Hukum Internasional, & Saldo Rekening senilai Rp 10 Triliun!]
Mendengar suara digital dari Sistem Penguasa Dewa yang menggema di dalam benakku, sebuah gelombang energi hangat kembali mengalir ke dalam tubuhku, memperkuat karisma dan aura penindasanku ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Gedung Rockford Global Standing Tall di pusat Manhattan menjadi saksi sejarah hari itu. Di lantai teratas, di dalam ruang rapat utama yang berdinding kaca antipeluru dengan meja rapat melingkar dari kayu mahoni langka, suasana terasa sangat mencekam. Dua puluh lima anggota direksi dan pemegang saham minoritas—yang semuanya merupakan konglomerat dan bankir elit keturunan Yahudi dan Anglo-Saxon berpakaian setelan jas bernilai ribuan dolar—duduk dengan wajah tegang, cemas, dan dipenuhi amarah yang tertahan.
Di ujung meja utama, Charles Rockford duduk dengan rambut yang tampak acak-acakan, matanya merah karena kurang tidur dan syok finansial setelah kehilangan kendali atas perusahaan keluarganya dalam waktu lima belas menit kemarin.
Brak!
Pintu ganda ruang rapat dibuka kasar dari luar oleh dua agen keamanan. Aku melangkah masuk dengan tangan terselip di saku celana, mengenakan setelan jas kasual tanpa dasi yang sangat santai, sementara Kirana berjalan di sampingku dengan langkah kaki yang anggun namun penuh penekanan wibawa.
Begitu kami duduk di kursi utama yang dulunya merupakan takhta milik Charles Rockford, keheningan di ruangan itu mendadak pecah oleh gumaman penuh kebencian dari beberapa direktur barat.
"Anak muda! Ini adalah penghinaan!" teriak salah satu direktur senior berambut putih, berdiri sambil menunjuk ke arahku dengan kasar. "Kamu hanya seorang pengusaha daerah yang beruntung dari Asia Tenggara! Menggunakan metode sabotase siber ilegal untuk merampok saham Rockford Global adalah tindakan kriminal! Otoritas Keuangan Federal (FED) dan pemerintah Amerika tidak akan pernah mengakui legalitas kepemilikanmu atas konsorsium ini!"
Aku tidak menjawab dengan kata-kata kasar. Aku hanya melirik ke arahnya, lalu mengaktifkan keterampilan baru yang baru saja matang dari Sistem: Otoritas Intimidasi Absolut.
Bum!
Sebuah tekanan mental yang tak kasat mata namun teramat sangat berat mendadak menyelimuti seluruh ruangan rapat. Udara di sekeliling meja mahoni itu seolah-olah membeku, membuat dada para miliarder barat tersebut terasa sesak seperti dihantam oleh palu godam. Direktur senior yang tadinya berdiri berteriak, mendadak membelalakkan matanya dengan tubuh yang gemetar hebat, sebelum akhirnya jatuh terduduk kembali di kursinya dengan napas yang terengah-engah dan keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya.
Di bawah pengaruh aura intimidasi tingkat dewa ini, tidak ada satu pun manusia di dalam ruangan itu yang berani membuka mulut mereka lagi. Mereka semua menundukkan kepala karena rasa takut yang murni dan primitif terhadap keberadaanku.
"Legalitas?" ujarku datar, setiap kata yang keluar dari mulutku beresonansi kuat di dalam pusat ketakutan mental mereka melalui Retorika Hipnotis Dewa. "Charles Rockford, beri tahu rekan-rekan Anda yang bodoh ini, apakah tanda tangan digital pada akta pengalihan seratus persen saham pengendali yang diterbitkan oleh Mahkamah Internasional pagi ini palsu?"
Charles Rockford perlahan mendongak dengan wajah yang sudah putus asa total. Dengan suara yang parau dan gemetar, dia berbicara ke arah mikrofon mejanya.
"S-semuanya... diamlah. Tuan Adrian Pratama... telah memegang hak paten global mutlak dan aliran dana kliring kita sudah sepenuhnya dialihkan ke dalam sistem enkripsi kuantum Asura Bank. Jika kita melawan... dia bisa membekukan seluruh aset pribadi kita di seluruh dunia dalam waktu lima detik."
Mendengar konfirmasi dari mulut pemimpin mereka sendiri, seluruh jajaran direksi elit barat itu langsung lemas di kursi mereka. Dinasti keuangan yang mereka agungkan selama satu abad kini telah runtuh total, bertekuk lutut di bawah kendali seorang menantu dari daerah Indonesia.
Aku melempar draf dokumen baru ke tengah meja. "Mulai hari ini, Rockford Global diubah namanya menjadi Asura Rockford Corp. Seluruh kebijakan investasi di benua Amerika dan Eropa harus melalui persetujuan tertulis dari istriku, Kirana Wijaya. Siapa pun yang menolak... silakan tinggalkan ruangan ini dan bersiaplah melihat nama keluarga kalian terhapus dari daftar orang kaya dunia sebelum matahari terbenam."
Tidak ada satu pun orang yang bergerak. Dua puluh lima miliarder paling berpengaruh di Wall Street itu serentak membungkukkan tubuh mereka ke arahku dan Kirana di atas meja rapat, menandakan kepatuhan mutlak tanpa syarat.
[Ding! RUPS Luar Biasa Rockford Global Sukses Mutlak!]
[Evaluasi: Penundukan Elit Finansial Barat 100% Selesai!]
[Hadiah Utama Diaktifkan: Kartu Kekebalan Hukum Internasional Berhasil Diterbitkan!]
[Saldo Rekening Tambahan Rp 10 Triliun Telah Berhasil Masuk ke Rekening Utama Anda!]
Aku berdiri dari kursi takhta baru tersebut, lalu merangkul pinggang Kirana yang menatapku dengan senyuman kemenangan yang luar biasa indah. Kami berjalan melintasi jajaran direksi yang menunduk hormat, menuju balkon luar yang menghadap langsung ke arah jantung finansial dunia.
Aku mempererat pelukanku pada tubuh Kirana, menatap langit New York yang mulai menggelap di bawah kekuasaan baru kami. "Wall Street telah bertekuk lutut, Kirana. Sekarang, saatnya kita mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru bumi untuk mendirikan peradaban bisnis baru di mana kita adalah hukumnya."