NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013 - Serum Bakat

Pagi datang tanpa suara burung.

Di luar Tenda Hi-Tech, mal kecil itu masih gelap dan basah. Dari sela pintu servis yang rusak, bau lumpur, minyak lama, dan tubuh busuk merayap masuk. Lampu lembut di dalam tenda membuat dunia luar terasa seperti mimpi buruk yang ditahan oleh selembar dinding tipis.

Arga sudah berdiri.

Kiara terbangun ketika ia memasang Pedang Hi-Tech di pinggang.

"Kamu mau pergi?"

Suaranya masih serak. Rusuknya belum pulih sepenuhnya, walau Serum Evolusi Biasa membuat tubuhnya jauh lebih kuat daripada kemarin.

"Sebentar."

Kiara duduk. "Kalau kamu bilang sebentar, biasanya artinya bahaya."

"Kali ini juga."

Ia mengerutkan kening.

Arga meletakkan dua botol air otomatis, satu kotak makanan otomatis, senter Hi-Tech, dan empat Kristal Tingkat 1 di dekat kasur lipatnya.

"Kamu tetap di sini. Jangan keluar dari tenda kecuali pintu benar-benar diserang. Kalau ada Zombie masuk ke aula, padamkan lampu dan tunggu."

"Aku ikut."

"Tidak."

Jawaban itu langsung, tanpa ruang tawar.

Kiara menggenggam selimut. "Aku sudah bisa bertarung."

"Kamu bisa menusuk. Belum bisa bergerak lama dengan rusuk seperti itu."

"Aku tidak mau cuma menunggu."

Arga menatapnya.

Di dalam mata Kiara, ada ketakutan yang berusaha berdiri tegak. Ia takut pada Zombie, pada ditinggalkan, pada kemungkinan Arga pergi dan tidak kembali.

Arga memahami itu.

Tapi memahami bukan berarti mengalah.

"Kalau kamu ikut, aku harus membagi perhatian."

Kiara terdiam.

"Hari ini aku butuh seluruh perhatian untuk membunuh."

Kalimat itu membuat udara di tenda menjadi berat.

Kiara menunduk, lalu menarik napas panjang.

"Berapa lama?"

"Sebelum malam."

"Kalau kamu belum kembali?"

"Tetap tunggu."

"Arga."

"Aku akan kembali."

Arga tidak memberi janji manis. Hanya satu kalimat datar.

Namun Kiara percaya karena Arga jarang membuang kata.

Ia mengambil salah satu belati Hi-Tech dan meletakkannya di pangkuan.

"Aku tunggu."

Arga mengangguk.

Lalu keluar dari tenda.

Begitu pintu tertutup, cahaya lembut di belakangnya menghilang. Dunia luar menyambut dengan dingin lembap dan bau mati.

Arga bergerak turun ke lantai dasar mal.

Ia tidak lewat jalur depan. Ia memilih lorong servis belakang, tempat lantai lebih sempit dan banyak pipa pecah. Dalam ingatan sebelumnya, ada akses menuju ruang bawah tanah yang terhubung ke area parkir lama. Di sana, sebuah Airdrop Box pernah jatuh tapi baru ditemukan tiga minggu kemudian oleh kelompok kecil Evolver.

Isinya tidak pernah sampai ke tangan Arga dalam kehidupan itu.

Yang ia tahu hanya rumor.

Ada Serum Bakat.

Ada Dimensi equipment dengan kapasitas abnormal.

Rumor itu dulu dibayar mahal dengan banyak nyawa.

Sekarang, ia akan mengambilnya sebelum dunia sempat membagi kartu pada orang lain.

Koridor servis gelap.

Arga menyalakan senter kecil. Cahaya putih memotong udara penuh debu. Di dinding, cat mengelupas. Di lantai, air menggenang sampai mata kaki. Jejak Zombie terlihat di lumpur: telapak busuk, seretan kaki, bekas cakar.

Telepati terbuka.

Dorong.

Makan.

Patahkan.

Dua sinyal kasar muncul dari bawah.

Bukan Tingkat 1.

Tingkat 2.

Arga tersenyum tipis.

"Benar ada penjaga."

Ia turun lewat tangga sempit.

Di ujung bawah, suara geraman berat menggulung dari parkiran bawah tanah. Satu mobil terbalik di dekat pilar. Air menetes dari beton retak. Cahaya emas redup terlihat jauh di antara kendaraan rusak.

Airdrop Box.

Di depannya berdiri dua Tingkat 2 Zombie.

Yang pertama tinggi dan kurus, kedua lengannya panjang sampai hampir menyentuh lutut. Kukunya seperti pisau karat. Yang kedua lebih pendek tapi lebih lebar, bahunya tebal, kepalanya miring, mulutnya penuh gigi patah.

Mereka berbalik bersamaan.

Fokus.

Ini yang membuat Tingkat 2 lebih berbahaya.

Mereka belum cerdas, tapi sudah tahu memilih arah.

Arga mematikan senter.

Gelap.

Geraman kedua Zombie berubah.

Tingkat 1 akan kehilangan arah lebih lama.

Tingkat 2 hanya kehilangan satu detik.

Satu detik cukup.

Arga meledak maju.

Pedang Hi-Tech menebas kaki Zombie tinggi. Bilahnya memotong otot busuk sampai tulang. Makhluk itu jatuh sebelah, tapi lengannya tetap menyapu ke depan.

Arga menunduk.

Cakar lewat di atas kepalanya.

Zombie pendek menerjang dari samping, bahunya seperti tembok.

BRAK.

Arga menahan dengan lengan kiri. Combat Suit meredam benturan, tapi tulang lengannya tetap bergetar. Ia terdorong satu langkah, lalu membalas dengan lutut ke dada Zombie pendek.

KRAK.

Tulang rusuk busuk patah.

Tidak cukup.

Zombie pendek menggigit.

Arga memutar pergelangan tangan, pedang masuk dari bawah rahang dan keluar di belakang kepala.

Makhluk itu masih bergerak.

Ia mencengkeram lengan Arga dengan dua tangan.

Zombie tinggi memanfaatkan celah. Ia melompat dengan satu kaki yang rusak, kuku panjang menuju leher Arga.

Telepati menangkap dorongan kasar itu lebih dulu.

Leher.

Darah.

Arga membiarkan Zombie pendek memegangnya.

Lalu ia menarik tubuh Zombie itu menjadi perisai.

CHRAK.

Cakar panjang menembus kepala Zombie pendek.

Sesaat, dua Zombie itu saling mengunci.

Arga mencabut pedang.

Satu tebasan mendatar.

Kepala Zombie pendek lepas.

Zombie tinggi menjerit, mundur dengan satu kaki. Ia tidak takut. Ia hanya menyesuaikan jarak.

Ini yang membuat Arga semakin yakin.

Perkembangan mereka terlalu cepat.

Hari kesebelas, dan Tingkat 2 sudah mulai memperbaiki posisi tempur.

Jika dibiarkan, kota ini akan menjadi neraka lebih cepat daripada kehidupan sebelumnya.

Arga maju.

Zombie tinggi menyapu lengan.

Arga melompat ke kap mobil rusak, menggunakan pantulan logam untuk naik setengah meter, lalu turun dari atas. Pedang Hi-Tech menghantam tengkuk makhluk itu.

KRAK.

Tulang leher patah sebagian.

Zombie itu tetap mengangkat cakar.

Arga menendang punggungnya, membuatnya jatuh menelungkup. Pedang turun lagi.

Kali ini kepala terbelah.

Parkiran bawah tanah kembali sunyi.

Arga berdiri di antara dua mayat Tingkat 2, napas sedikit lebih berat dari biasa.

Bukan karena takut.

Karena ia harus memakai tenaga sungguhan.

Ia membelah kepala kedua Zombie dan mengambil dua Kristal biru.

Kristal Tingkat 2.

Satu dari kemarin, dua dari sekarang.

Tiga.

Masih jauh dari peningkatan besar, tapi nilainya cukup untuk membuka banyak pilihan.

Arga memasukkan Kristal ke Cincin Dimensi, lalu berjalan menuju cahaya emas.

Airdrop Box itu tersembunyi di antara dua mobil boks yang terguling. Dari luar parkiran, hampir mustahil terlihat. Garis emas di permukaannya lebih pekat daripada kotak kemarin, seolah energi di dalamnya ditahan terlalu rapat.

Arga menyentuh panel.

Klik.

Cahaya emas meledak.

Sepuluh benda tersusun rapi.

Mata Arga berhenti pada dua benda pertama.

Sebuah botol kecil berisi cairan keperakan.

Sebuah gelang hitam polos dengan garis cahaya tipis.

Serum Bakat.

Gelang Dimensi.

Untuk sesaat, bahkan napas Arga berhenti.

Gelang Dimensi.

Ia mengambilnya lebih dulu.

Permukaannya dingin. Beratnya ringan, hampir tidak terasa. Tapi ketika Arga meneteskan darah ke atasnya, ruang di pikirannya terbuka seperti pintu gudang raksasa.

Lima ribu kilogram.

Lima ton.

Lebih besar sepuluh kali dari Cincin Dimensi miliknya.

Lebih besar dari sebagian besar Dimensi equipment yang pernah ia lihat di kehidupan sebelumnya. Saat itu, equipment dua ribu kilogram saja sudah cukup membuat tim besar saling bunuh.

Lima ribu kilogram berarti ia bisa membawa makanan satu markas.

Senjata.

Air.

Obat.

Tenda.

Bahkan seluruh gudang yang kemarin mereka tinggalkan.

Jari Arga menggenggam gelang itu sampai buku jarinya memutih.

Gelang itu memberi ruang yang cukup untuk mengubah strategi mereka.

Ini kecepatan perkembangan.

Dengan ini, jarak antara ia dan tim lain melebar lagi.

Ia memindahkan semua isi kotak ke Gelang Dimensi: Serum Bakat, dua Pedang Hi-Tech cadangan, beberapa botol air otomatis, tiga kotak makanan otomatis, Lampu Hi-Tech, satu set alat medis kecil, dan dua paket bahan bakar padat untuk kompor portable.

Barang bagus.

Tapi semua itu kalah oleh botol keperakan di tangannya.

Serum Bakat.

Di kehidupan sebelumnya, benda ini hampir seperti tiket takdir. Orang yang berhasil menyerapnya bisa membangkitkan kemampuan di luar tubuh fisik: api, air, kekuatan, penyembuhan, bahkan kemampuan langka.

Arga tahu apa yang akan ia dapat.

Teleportasi.

Salah satu kemampuan bertahan hidup terbaik di kiamat.

Pada tahap awal, hanya sebatas berpindah ke tempat yang terlihat mata, tiga kali sehari. Terdengar sederhana. Tapi dalam pertempuran, satu langkah yang melampaui jarak berarti hidup dan mati. Dalam pelarian, satu kedipan bisa melewati pintu terkunci, jurang, kepungan Zombie.

Namun ada harga.

Serum Bakat membuat tubuh dan otak merombak diri.

Rasa sakitnya lebih berbahaya daripada Serum Evolusi biasa.

Dan ia akan pingsan.

Mungkin beberapa jam.

Mungkin sampai malam.

Di parkiran bawah tanah yang baru saja menarik dua Tingkat 2 Zombie, pingsan adalah keputusan gila.

Arga melihat ke arah tangga.

Kiara sedang menunggu di tenda.

Kalau ia kembali dulu, ia bisa memakai Serum di tempat aman. Tapi perjalanan pulang membawa risiko lain. Dan jika kotak ini menarik Zombie tambahan, ia tidak ingin membawa bahaya ke tempat Kiara beristirahat.

Lebih penting lagi, setiap jam sekarang mahal.

Efek Kupu-Kupu sudah berjalan.

Dunia mempercepat pisaunya.

Arga membuka tutup botol.

"Kalau ingin menang lebih cepat," katanya pelan, "harga gilanya juga harus dibayar lebih cepat."

Ia menelan Serum Bakat.

Rasa logam dingin masuk ke tenggorokan.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu kepala Arga seperti dibelah dari dalam.

Ia berlutut.

Pedang Hi-Tech jatuh ke lantai dengan suara nyaring.

Rasa sakit tidak datang dari otot.

Datangnya dari otak.

Seolah ada tangan tak terlihat yang mencabut saraf satu per satu, memutarnya, lalu memasangnya kembali ke tempat yang berbeda. Penglihatannya pecah menjadi puluhan garis. Dinding parkiran, pilar, mobil rusak, cahaya emas sisa Airdrop Box, semuanya melipat, menjauh, mendekat.

Jarak.

Ruang.

Titik.

Ia menggigit gigi sampai darah terasa di mulut.

Tubuhnya jatuh miring.

Sebelum kesadaran padam, ia memaksa Gelang Dimensi menyimpan Pedang Hi-Tech dan kotak kosong di dekatnya. Ia menarik tubuhnya ke sela dua mobil, menutup sebagian posisi dengan pintu mobil yang patah.

Tidak aman.

Tapi lebih baik daripada terbuka.

Gelap menelannya.

Di Tenda Hi-Tech, Kiara duduk menghadap pintu.

Pagi lewat.

Siang lewat.

Arga belum kembali.

Ia makan sedikit dari kotak makanan otomatis, tapi rasa nasi hangat itu seperti pasir. Ia minum air, lalu meletakkan botolnya lagi. Setiap suara dari luar membuat tangannya bergerak ke belati.

Sekali, ada Zombie Tingkat 1 yang masuk ke aula.

Kiara memadamkan lampu tenda seperti perintah Arga. Ia berdiri di balik pintu, menahan napas. Zombie itu berjalan terseret, mencium bau, lalu bergerak menjauh karena tidak menemukan sumber suara.

Setelah suara itu hilang, Kiara baru sadar telapak tangannya basah.

Ia tidak keluar.

Ia menunggu.

Sore datang.

Luka rusuknya berdenyut, tapi ia tetap duduk di dekat pintu. Dua belati berada di pangkuan. Cincin Dimensi di jarinya terasa dingin.

"Kamu bilang sebelum malam," bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Di luar, mal semakin gelap.

Angin melewati lorong, membawa bau hujan lama dan darah kering.

Kiara menutup mata.

Ia ingin mencari.

Setiap bagian dari dirinya ingin keluar dan mencari.

Tapi ia ingat kata Arga.

Kalau ia ikut, Arga harus membagi perhatian.

Kalau ia keluar sekarang dan membuat suara, mungkin ia justru menarik Zombie ke tenda.

Menunggu ternyata lebih sulit daripada membunuh.

Membunuh hanya membutuhkan satu keputusan.

Menunggu membutuhkan keputusan yang sama setiap menit.

Malam turun.

Kiara tetap di sana.

Matanya merah.

Tapi ia tidak meninggalkan pintu.

Di parkiran bawah tanah, jari Arga bergerak.

Gelap pecah.

Ia membuka mata.

Untuk beberapa detik, ia tidak tahu di mana dirinya berada.

Lalu rasa sakit datang kembali, tapi berbeda. Rasanya seperti bekas terbakar yang sudah menjadi luka dalam. Kepalanya berat, tubuhnya lemah, tenggorokannya kering.

Namun dunia terlihat aneh.

Jarak memiliki rasa.

Pilar di depan terasa seperti titik yang bisa disentuh. Pintu keluar tiga puluh meter jauhnya seperti tanda yang memanggil.

Arga perlahan duduk.

Ia melihat tangannya.

Api dan kilat tidak muncul.

Tapi di dalam tubuhnya, sesuatu tersambung dengan ruang.

Teleportasi.

Berhasil.

Sudut bibirnya naik.

Ia berdiri dengan susah payah, mengambil air otomatis dari Gelang Dimensi, lalu minum beberapa teguk. Energi belum pulih penuh, tapi kesadarannya tajam.

Ia menatap pintu keluar parkiran.

Tiga puluh meter.

Dalam garis pandang.

Arga menarik napas.

Keinginan berpindah bukan seperti berlari.

Lebih seperti memutus satu titik dan menempelkan diri ke titik lain.

Ruang di depan matanya bergetar tipis.

Detik berikutnya, tubuhnya hilang dari sela dua mobil.

Dan muncul di depan pintu keluar.

Udara menekan dadanya.

Kepalanya berdenyut.

Tapi kakinya berdiri.

Arga menoleh ke belakang.

Jarak tiga puluh meter itu kini kosong.

"Teleportasi..." katanya pelan.

Ia mengepalkan tangan.

Tiga kali sehari.

Saat ini tersisa dua.

Belum jauh.

Belum cukup untuk membalikkan perang besar.

Tapi cukup untuk membuat kandang, kepungan, jebakan, dan pintu terkunci menjadi lelucon.

Arga tersenyum dalam gelap.

"Berhasil."

Di dunia ini, banyak hal bisa membunuh manusia.

Zombie.

Kelaparan.

Pengkhianatan.

Jarak.

Mulai malam ini, satu musuh telah hilang dari daftar Arga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!