NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Pelarian Ketiga Ara

Pukul lima lewat empat puluh pagi. Ara sudah terjaga. Ia berbaring diam di ranjang, memandangi langit-langit kamar yang masih gelap. Di sebelahnya, Dante masih tidur membelakanginya. Setidaknya Ara berharap pria di sampingnya itu masih tidur.

Sejak malam tadi, ia terus memikirkan rencana pelarian hari ini. Ia sudah berhasil membeli tiket. Tanggal keberangkatan semua tiket adalah hari ini. Karena itu, apapun yang terjadi, ia tidak boleh menyia-nyiakan tiket ini.

Di sisi lain, Dante tidak boleh tahu pagi ini istrinya sedang merencanakan pelarian. Ia harus membuat pria itu tetap percaya, istrinya sedang berusaha mempertahankan status quo-nya. Ia akan tetap menjalankan peran sebagai istri yang diharapkan suaminya.

Ara menarik napas pelan. Ia mengevaluasi ketiga pelarian yang pernah ia lakukan. Pelarian pertama gagal karena ia terlalu gegabah. Pelarian kedua gagal karena Dante entah bagaimana Dante bisa membaca pikirannya. Pelarian ketiga, tidak boleh seperti keduanya. Ia harus menebar banyak jaring dan menyembunyikan diri rapat-rapat di balik satu titik yang tidak pernah suaminya duga.

Ara perlahan turun dari ranjang. Kakinya baru menyentuh lantai ketika suara berat terdengar dari belakang.

"Mau ke mana?" Suara Dante yang dingin membuat Ara tercekat.

Tubuh Ara seketika membeku. Ia menoleh dan menatap Dante yang masih berbaring tetapi sudah membuka mata.

Jantung Ara hampir meloncat keluar. Apakah Dante mencurigai sesuatu--batinnya. Ia mencoba menarik senyum tipis di bibirnya. Ia menenangkan degup jantungnya.

"Ke kamar mandi," jawab Ara sesingkat mungkin. Ia tahu jika ia makin banyak bicara maka bakal makin banyak yang terungkap. Apalagi suaminya ini cerdas dan bisa membaca orang. Kesempatan membaca dirinya jelas tak akan Ara berikan.

Tatapan Dante masih mengikutinya beberapa detik. Pria itu memang sempat heran mengapa Ara bisa bangun lebih pagi, biasanya ia terbangun lebih siang, bahkan ia tidak pernah tahu saat semua jam alarmnya sengaja ia matikan. Karena suara alarm itu sungguh berisik dan mengusik telinga dan ketenangan Dante di pagi hari. Ara punya kebiasaan yang unik, istrinya itu hobi menyetel sepuluh alarm yang berdekatan waktunya. Dan tidak pernah terbangun saat alarm pertama dan kedua sudah berbunyi. Alhasil setiap pagi, ia yang selalu mematikan semua alarm istrinya.

Dante melihat jam di atas meja laci. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Ia berguling ke kasur sisi istrinya biasa tidur. Tangannya mengambil jam beker dan ponsel istrinya. Ia mematikan semua alarmnya. Kemudian pria itu kembali memejamkan mata. Ia menunggu Ara keluar dari kamar mandi.

Ara baru berani menghembuskan napas yang ditahannya bersamaan tangannya menutup pintu kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengibas-kibaskan tangannya ke dekat wajah.

"Jangan sampai kelihatan takut," ulangnya bergumam. Ia menyalakan kran air di wastafel. Ia mencuci muka dan sikat gigi.

Pukul tujuh pagi, Ara sudah duduk di meja makan.

Dante berada di dekatnya, membaca laporan di tablet sambil sesekali menyeruput kopi.

Pelayan berdatangan menyajikan sarapan hangat lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Meskipun mereka jarang bicara saat makan, tetapi jam makan adalah jam private bagi Dante. Ia tidak ingin ada pelayan yang berlaku lalang mengganggu pemandangan matanya. Selain, ia juga ingin membangun suasana nyaman bagi istrinya.

Entah kenapa hari ini Dante kambuh lagi penyakitnya yang minta dilayani. Ia meminta Ara mengambilkan roti panggang dan mengoleskan selai di atasnya. Ia juga meminta Ara mengisi mangkuk kecilnya dengan sup krim.

Dante melirik Ara melalui ekor matanya. Ia heran. Kenapa wajah Ara tidak berubah menjadi masam, bahkan tidak ada tanda-tanda dengus kesal yang bakal muncul.

Ara tanpa banyak kata mengambilkan apa yang Dante mau. Baru setelahnya ia mengambil untuk dirinya sendiri. Ia tampak menikmati setiap suapan dan kunyahan.

"Malam ini mungkin aku bakal pulang lebih larut. Jangan tunggu aku." Dante bangkit dari kursinya. Ia memberitahu Ara tanpa ekspresi.

Ara hanya mengangguk pelan. Ia tetap melanjutkan makan. Ia menggigit rotinya dengan santai.

Dante menatap Ara tajam. Tapi Ara tidak peka. Akhirnya Dante buka suara, "Kau tidak keluar mengantar?"

"Disini saja. Kau ingin mencium keningku kan?" ujar Ara to the point. Sekalipun ia berani mengatakannya tetapi pada saat yang sama ia juga menghindari tatapan dingin suaminya.

Dante menatap Ara tak percaya. Ia mengebaskan jasnya. Sudut bibirnya berkedut karena marah. "Kau benar-benar terus terang."

"Aku belajar darimu," sahut Ara tak mau kalah. Ia menundukkan wajah agar pria itu tidak melihat sorot matanya.

Dante menatap Ara lebih tajam dan dingin. Aura gelap seolah menutup seluruh ruangan.

"Aku tidak akan mencium keningmu. Sekarang temani aku keluar!"

Ara menelan rotinya dengan susah payah. Ia menenggak segelas susu, untuk melancarkan potongan roti yang tersangkut di tenggorokan. Ia menyamai langkah kaki Dante keluar rumah.

Seperti biasa, Luca sudah berdiri dan membukakan pintu mobil untuk tuannya. Tak lama mesin mobil menyala meninggalkan halaman mansion.

Ara berdiri di tempatnya sampai suara mobil pria itu menghilang di balik gerbang. Barulah senyumnya lenyap. Ia berbalik masuk kembali ke mansion.

Mansion itu benar-benar sepi setelah kepergian Dante. Ara berjalan-jalan di dalam rumah mengamati. Ia melihat lebih teliti setiap sudut rumah.

Setiap pintu memiliki sensor. Setiap lorong memiliki kamera. Gerbang utama dijaga dua lapis. Ia menghitung berapa banyak bodyguard yang ditempatkan di lorong, di tangga, di halaman belakang dan di depan pintu gerbang. Ia menemukan sejauh ini celah yang bisa ia gunakan untuk kabur hanya pada saat pergantian shift pukul delapan tiga puluh. Hanya sekitar empat puluh detik.

Namun empat puluh detik sudah cukup. Jika ia bisa mencapai lorong servis.

Ara melihat jam tangannya. Ia kembali ke kamar. Ia menutup tirai balkon dan mengambil tiketnya. Ia pergi tidak membawa apapun. Bahkan ia tidak membawa tas. Ia hanya membawa diri dan ponsel lama yang ia sembunyikan di salah satu bilik walking closet.

Ia tidak berlari mengelilingi mansion. Ia hanya akan berjalan. Jadi kapanpun setiap sudut kamera cctv menunjukkan rekaman ke Dante. Dante akan berpikir istrinya sedang bosan dan ingin jalan-jalan di dalam mansion.

Pelayan yang mengawasinya tidak terlalu memperhatikan. Ketika melewati koridor lantai dua, Ara sengaja menjatuhkan guci. Ia meminta pelayan yang mengikuti berhenti untuk membereskan pecahannya. Pada saat yang sama, ia sendiri sudah berbelok ke lorong kecil di samping tangga.

Tiba-tiba ia mendengar suara bodyguard dari ujung lorong. Ia langsung berhenti. Seseorang sedang berjalan ke arahnya. Ara berbalik. Terlambat. Bodyguard itu sudah makin dekat.

Ara melihat pintu kecil di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, ia membukanya dan masuk. Gelap. Ia menutup pintu perlahan. Dari luar terdengar langkah kaki. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu.

Ara menutup mulut dengan kedua tangan. Jantungnya berdegup begitu keras sampai ia takut orang di luar bisa mendengarnya. Gagang pintu di depannya bergerak. Pintu tidak terbuka.

Ara memejamkan mata. Ia bersembunyi di balik pintu. Ia menahan pintu itu dengan badannya sendiri.

"Tidak ada siapa-siapa," ujar salah satu dari bodyguard itu. Langkah kaki mereka bergerak menjauh.

Ara baru berani bernapas lagi. Ia membuka mata. Ruangan itu ternyata gudang linen. Di dinding belakang terdapat pintu servis lama.

Pintu servis lama itu membawa Ara menuju area belakang mansion. Namun di luar sana masih ada kamera.

Ara menunggu dua menit. Terdengar bunyi bel dari ruang penjagaan. Pergantian shift. Semua bodyguard bergerak ganti posisi.

Sekarang!!! Ara membuka pintu dan berlari secepat mungkin. Ia kemudian mengendap-endap di antara pepohonan, menunduk, memanfaatkan bayangan.

Ketika kamera berputar, Ara berhenti dan bersembunyi. Kamera bergerak ke kiri. Ia bergerak ke kanan. Kamera kembali. Ara merunduk di balik dinding. Tangannya gemetar.

Di ujung halaman terdapat pagar kecil yang berbatasan dengan jalan belakang. Pagar itu dikunci.

Ara mengeluarkan kunci kecil dari saku bajunya. Kunci yang ia curi dari ruang administrasi semalam. Ia memasukkan kunci itu ke lubang kunci. Tangannya mulai berkeringat. Ia menggoyangkan kunci. Klik. Terbuka.

Ara langsung menyelinap keluar. Ia mengunci kembali pagar itu dan melemparkan kunci itu ke balik pagar. Kunci itu jatuh diantara semak-semak.

Ara kemudian terus berlari. Ia berlari sekuat tenaga. Ia tidak menoleh lagi. Belokan pertama. Belokan kedua. Napasnya mulai tersengal. Tetapi ia belum bisa berhenti berlari sekarang. Ia masih terus berlari. Ia tahu Dante cepat atau lambat bakal tahu ia telah kabur. Ia tidak ingin memberi kesempatan pada Dante untuk menemukannya lebih dulu. Ia kemudian memanggil taxi. Tetapi ia tidak langsung menuju tempat persembunyiannya.

Taxi pertama membawanya ke sebuah terminal. Di sana ia turun dan mengganti pakaian. Ia membeli baju dari kios kaki lima di dekat terminal. Ia kemudian naik kendaraan kedua. Ia berganti taxi lagi. Baru setelah itu ia menuju rumah tua. Rumah tua ini milik salah satu temannya. Dulu semasa kuliah temannya butuh uang dan ia membeli rumah ini hanya untuk membantu. Siapa sangka rumah ini sekarang berguna. Tetapi setelah ia membeli rumah ini, ia belum juga mengalihkan nama pemiliknya menjadi namanya. Karena itu sangat kecil kemungkinan rumah ini terdeteksi oleh Dante.

Berikutnya, ia mematahkan kartu SIM cardnya dan mematikan ponsel. Ia ingin menghilangkan jejaknya. Ia harap kali ini usaha pelariannya berhasil. Ia tidak perlu kembali ke mansion Dante. Dan yang paling penting dari pelarian ini—ia telah sengaja meninggalkan jejak palsu.

Di mansion, pintu ruang kerja Dante dibanting keras. Sore itu Dante pulang dan menemukan Ara telah kabur dari mansion. Sementara tidak ada satupun pelayan bahkan kepala pelayan yang menyadari kepergian nyonya mereka. Tikus kecilnya ini sudah menjadi sangat mahir. Ia akui. Bahkan ia berani memecahkan guci, demi mengelabuhi pelayan yang mengawasinya.

Laporan demi laporan kejadian satu hari itu datang ke meja kerjanya. Dimulai dari Ara memecahkan guci, bersembunyi di gudang linen, sampai bagaimana ia berhasil keluar dari pintu belakang. Petugas jaga menemukan kunci pagar diantara semak-semak.

Dante kemudian memerintahkan untuk memutar ulang seluruh rekaman cctv dan memeriksanya. Istrinya makin lama makin cerdas. Bahkan istrinya bisa menemukan kelemahan pada jeda pergantian shift bodyguard dan memanfaatkannya untuk kabur. Di halaman belakang, rekaman cctv tidak ada yang menunjukkan utuh bayangan istrinya, hanya siluet cepat yang bergerak dari satu tempat ke tempat berikutnya. Itu artinya Ara sanggup mengelabuhi cctv. Istrinya itu bagaimana bisa menemukan titik buta cctv.

Dante mengambil ponselnya. "Putuskan semua jalan keluar dari kota." Ia meminta Luca memeriksa bandara, terminal dan stasiun, pelabuhan juga.

Dante menatap layar keamanan cctv. Ia melihat rekaman Ara keluar dari pintu servis. Hanya beberapa detik. Kemudian menghilang. Ia memperbesar gambar. Wajah Ara terlihat tenang dan tidak panik.

Dante menyipitkan mata. "Ini bukan pelarian spontan." Ia menatap rekaman itu dengan rahang mengeras. "Dia sudah merencanakan pelarian ini." Ia teringat tadi pagi Ara bangun jauh lebih pagi dari dirinya. Jika dipikir lagi, situasinya cocok dengan hilangnya Ara sekarang. Hari ini adalah hari besarnya. Hari yang sudah ia rencanakan. Tentu ia harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan.

Dalam beberapa jam berikutnya, nama Ara muncul di berbagai tempat. Tiket kereta menuju Bologna. Penerbangan ke Paris. Tiket kapal menuju Liverno. Reservasi hotel di Milan. Penerbangan ke London.

Bahkan ada perjalanan menuju Barcelona

Satu demi satu laporan masuk. Dante meminta Luca memeriksa satu per satu tiket itu. Herannya kali ini benar-benar digunakan semua tiket itu. Bagaimana mungkin satu orang bisa berada di banyak tempat. Seolah Ara sedang membuat seluruh Italia dan sebagian Eropa mengejarnya.

Terpaksa Dante mengerahkan seluruh timnya bergerak mencari Ara di tiap-tiap kota. Dua hari dua malam pencarian, hasilnya sungguh di luar dugaan. Semua orang itu yang telah menggunakan tiket Ara, fiktif. Ara tidak ada di salah satu tempat dari tiket yang dibeli. Mereka yang menggunakan tiket itu, hanya orang-orang yang ditawari tiket murah dari tangan Ara. Sebagian besar mereka mengganti hanya separo harga dari harga tiket asli.

Dante menajamkan mata. Matanya lelah. Ia tersenyum dingin. "Dia ingin aku mengejar bayangannya," katanya pada Luca. Luca tak berani berkomentar. Ia tahu tuannya sedang murka.

Dante berjalan mendekati layar. Ratusan data memenuhi monitor. Ara telah menyebarkan jejaknya ke seluruh negeri. Tidak ada tujuan yang pasti. Tidak ada pola. Tidak ada arah. Tidak bisa dilacak.

Sembilan hari berlalu, Dante tidak tahu ke mana istrinya pergi.

***

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!