Ivy Zhang, seorang pengacara cerdas, akhirnya ingin mengakhiri pernikahannya dengan Leo Fung setelah kehilangan bayi mereka.
Namun Leo, suami yang masih mencintainya, menolak melepaskan Ivy.
Di saat yang sama, Calvin Duan, pria berkuasa sekaligus rival Leo, tiba-tiba menjadikan Ivy sebagai pengacara pribadinya. Dengan tujuan yang sulit ditebak, Calvin menyeret Ivy ke dalam perseteruan dengan suaminya sendiri.
Di antara suami yang berkuasa dan klien yang tak kalah berkuasa, siapa yang harus dibela Ivy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Ivy langsung menepis tangan suaminya, tetapi Leo tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju kamar.
“Leo, turunkan aku!” bentak Ivy sambil berusaha melepaskan diri.
Leo tidak menjawab. Ia terus melangkah hingga tiba di kamar.
Begitu sampai, Leo menghempaskan istrinya ke atas kasur.
Ivy segera bangkit dan ingin menjauh dari suaminya, Leo menindih istrinya sambil melepaskan dasinya.
"Leo, jangan sentuh aku!" kata Ivy.
"Kita adalah suami istri, aku sudah lama tidak menyentuhmu. Apakah kau tidak tahu kalau aku sangat merindukanmu selama ini?" jawab Leo mencium bibir istrinya dengan paksa.
Ivy memalingkan wajahnya, sambil menahan tubuh suaminya itu.
"Merindukanku? Kau berani bersumpah bahwa kau tidak ada wanita lain di luar negeri? Sedangkan saat dalam kota saja kau bisa bermain wanita. Apa lagi di luar negeri. Leo, jangan menyentuhku. Aku tidak suka berbagi seorang pria dengan wanita lain. Sangat menjijikan sekali," ucap Ivy.
Leo yang berada di atas tubuh istrinya menatap Ivy dengan sorot mata yang sulit dibaca.
“Apakah di matamu aku begitu menjijikkan?” tanya Leo.
“Benar! Tanganmu sudah menyentuh berapa banyak wanita? Aku tidak suka barang kotor!” jawab Ivy dengan kesal.
Rahang Leo mengeras. Ia menahan kedua tangan Ivy agar wanita itu tidak terus meronta.
“Tapi suka atau tidak, kita tetap pasangan sah di mata hukum,” ucap Leo dengan suara rendah.
Ivy menatapnya tajam.
“Pernikahan bukan berarti kau bisa memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan!”
Leo terdiam sesaat. Tatapannya berubah ketika mendengar ucapan itu, tetapi amarah dan emosinya masih bercampur menjadi satu.
“Leo, lepaskan aku!” bentak Ivy.
Leo mencium bibir istrinya dengan brutal, ia menahan dagu wanita itu sehingga tidak bisa menghindar.
Leo kemudian melepaskan ciumannya dan terlihat darah pada bibirnya.
"Kau menggigitku," ujar Leo.
“Di mata wanita-wanita di luar sana, kau mungkin adalah pria yang sempurna. Tapi di mataku, kau sudah bukan pria berharga lagi. Kau hanya seperti barang yang sudah dipakai oleh banyak orang,” kata Ivy tajam, setiap ucapannya terasa menusuk harga diri Leo.
Wajah Leo seketika mengeras. Emosi yang sejak tadi ditahannya akhirnya meledak.
Ia mendekat dan mencium leher Ivy dengan kasar.
“Leo!” Ivy terkejut.
Dengan sekuat tenaga, Ivy mendorong tubuh suaminya menjauh. Dalam keadaan emosi, tangannya spontan mencakar leher Leo.
Leo tersentak dan mundur beberapa langkah.
Darah perlahan muncul dari leher bagian samping kirinya. Terlihat jelas tiga garis cakaran yang memanjang di kulit pria itu.
Ivy menatapnya dengan napas memburu.
“Jangan pernah menyentuhku lagi!”
“Ivy Zhang, kau akan menyesal karena menolakku,” kata Leo dengan nada penuh keyakinan.
“Menyesal?” Ivy tertawa getir. “Iya, aku menyesal karena pernah berharap padamu. Aku menyesal karena menikah denganmu. Aku menyesal karena sudah menunggumu selama lima tahun.”
Tatapan Ivy berubah dingin.
“Dan sekarang aku sudah tidak berharap apa-apa lagi. Kalau kau ingin melampiaskan hasratmu, cari saja wanita di luar sana. Kau memiliki banyak uang. Kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau mau. Tapi di sini, aku tidak sudi disentuh olehmu.”
Leo menatap istrinya dalam diam. Ada kemarahan sekaligus luka yang tertahan di matanya.
“Aku akan membuatmu kembali ke sisiku. Kalau saat ini kau belum bisa menerimaku, tidak masalah. Tapi ingat satu hal, istriku hanya kau, dan suamimu juga hanya aku,” jawab Leo tegas.
Setelah mengatakan itu, Leo berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.
Ivy yang masih dipenuhi amarah mengambil sebuah bantal dan melemparkannya ke arah pria itu.
“Jangan berharap aku mau menjadi istrimu lagi!” teriaknya.
Leo tidak menoleh. Ia terus melangkah hingga akhirnya menghilang dari pandangan Ivy.
Beberapa saat kemudian.
Leo keluar dari apartemen tersebut.
Wendy yang sejak tadi menunggunya di dalam mobil langsung menyadari luka di leher pria itu.
“Tuan, Anda terluka.”
“Cuma luka ringan. Tidak ada masalah,” jawab Leo singkat sambil membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Wendy kemudian masuk melalui pintu depan dan duduk di kursi pengemudi.
“Tuan, kita ke rumah sakit?” tanyanya khawatir.
“Tidak. Pulang saja,” jawab Leo dingin.
Wendy terdiam, lalu menyalakan mesin mobil.
Sementara mobil perlahan meninggalkan apartemen, Leo menyandarkan kepalanya pada kursi dan menyentuh tiga garis cakaran di lehernya.
“Menyesal? Iya, aku menyesal karena pernah berharap padamu. Aku menyesal karena menikah denganmu. Aku menyesal karena sudah menunggumu selama lima tahun.”
Suara Ivy terus terngiang di benak Leo.
Ia mengerutkan kening.
“Lima tahun?”
Leo tiba-tiba terdiam.
“Bukankah kami baru menikah tiga tahun lalu?”
Sebuah pertanyaan muncul dalam pikirannya.
Jika mereka baru menikah tiga tahun, mengapa Ivy mengatakan bahwa dirinya sudah menunggunya selama lima tahun?
sebagai penyemangat untuk memulai harimu😍😍😍😍😍
tambah lagi dooooong. supaya kita gak nunggu lanjutannya dengan penasaran.🙏🙏🙏🙏🙏