NovelToon NovelToon
Rama Dan Kemungkinan Kecil

Rama Dan Kemungkinan Kecil

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:324
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

50:50

Malam kian larut saat pintu kayu jati besar itu kembali berderit pelan. Sesuai dengan instruksi yang bergema dari dalam, no 7 pun masuk... Pria berpenampilan perlente itu melangkah dengan dagu terangkat, mencoba menampilkan impresi terbaik sebagai seorang lelaki yang penuh dengan rasa percaya diri. Ia mengambil posisi duduk tepat di hadapan Nyonya Antasena.

Pertanyaan yg sama juga muncul... Kalimat tentang dilema memilih antara menyelamatkan ibu atau istri kembali meluncur dari bibir sang nyonya dengan intonasi dingin yang sama seperti sebelumnya. Kandidat nomor tujuh menjawabnya dengan tegas, menyusun kata-kata yang terdengar heroik dan penuh tanggung jawab.

Namun pas disuguhi cek 1m... Segala teori kepahlawanan itu mendadak menguap saat selembar kertas bernilai sembilan digit digeser ke tengah meja. Angka satu miliar kembali memancarkan pesona materialistis yang sanggup meruntuhkan iman sebagian besar manusia. Nyonya Antasena kembali memberikan dua pilihan mutlak: ambil uang itu dan pulang sebagai orang kaya baru, atau tinggalkan cek itu dan terus melangkah ke dalam ketidakpastian.

Namun, pemikiran dia berbeda... dari kandidat nomor tiga yang baru saja gugur karena ketakutan. Di dalam kepala kandidat nomor tujuh, sebuah kalkulasi logika bisnis dan ambisi sedang berputar dengan cepat. Ia tahu nomor tiga sudah tersingkir dan mengambil uang tersebut. Artinya, toh bagi dia hanya tersisa dia dan no 9 saja di dalam kompetisi ini.

Peluangnya kini sudah bergeser dari satu banding ratusan menjadi lima puluh banding lima puluh. Menjadi menantu tunggal di Keluarga Antasena akan memberikannya akses kekuasaan, bisnis, kekayaan, dan pengaruh yang nilainya ratusan kali lipat jauh lebih besar daripada sekadar uang satu miliar di atas meja ini. Baginya, mundur sekarang di saat garis finis sudah di depan mata adalah sebuah kebodohan.

Dengan senyuman penuh percaya diri yang mengembang di wajahnya, ia mendorong kembali cek tersebut ke arah Nyonya Antasena.

"maaf nyonya, silahkan saja simpan cek itu. saya memilih lanjut saja," ucap nomor tujuh dengan nada suara yang mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.

Di sudut ruangan yang temaram, putri Antasena yang sejak tadi terdiam hanya memperhatikan dengan tatapan mata yang tetap sedingin es. Tidak ada binar kagum di wajah cantiknya melihat penolakan uang satu miliar tersebut.

Nyonya Antasena kembali mengulas senyum tipisnya yang penuh rahasia. Ia menarik kembali cek itu, memasukkannya ke dalam laci meja, lalu memberikan anggukan kecil yang menandakan bahwa jawaban kandidat nomor tujuh telah dicatat sepenuhnya di dalam sistem penilaian mereka.

"Baiklah. Silakan kembali ke ruang tunggu," kata Nyonya Antasena tenang.

Begitu pintu terbuka, kandidat nomor tujuh melangkah keluar dengan senyum kemenangan yang tertahan di bibirnya. Ia berjalan melewati Rama, memberikan tatapan mata yang seolah meremehkan pemuda berambut sebahu itu. Kini, hanya tersisa satu nama lagi yang belum menginjakkan kaki di ruang seleksi akhir. Giliran terakhir yang akan menentukan ke mana arah roda nasib Keluarga Antasena akan berputar malam ini.

Giliran no 9 pun tiba. Pintu kayu jati besar itu terbuka untuk terakhir kalinya malam ini, menyisakan keheningan yang kian pekat. Rama melangkah masuk dengan santai, gerakannya tidak kaku seperti para eksekutif muda atau pengawal pribadi yang telah gugur. Yah rama sudah duduk dihadapan nyonya antasena. Rambut sebahu nya yang terikat rapi membingkai wajah maskulinnya yang tampak tenang tanpa beban, sangat kontras dengan situasi kompetisi yang sedang berada di titik nadir ketegangan.

1
sakura
.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!