Sari Wulandari dibawa dari desa ke keluarga Pratama bukan sebagai putri yang disayangi, melainkan sebagai calon istri untuk Arga Pratama, pewaris kaya raya yang sudah dua tahun terbaring koma. Semua orang mengira ia hanya akan menjadi perawat di rumah megah itu.
Namun kamar Arga menyimpan rahasia yang tidak masuk akal: tirai bergerak tanpa angin, jimat tersembunyi di bawah seprai, dan sosok tak terlihat selalu mengawasi Sari. Setiap malam, pria koma itu datang ke dalam mimpinya dengan hasrat yang terlalu nyata.
Di balik pernikahan mendadak itu, keluarga elite lain menyembunyikan ritual penahan nasib yang mengorbankan hidup Arga. Sari yang polos hanya ingin merawat calon suaminya dengan baik, tanpa tahu bahwa sejak ia masuk ke rumah itu, sang hantu telah menganggapnya sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nguyệt Cầm Ỷ Mộng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
# Bab 09: Terlalu Menggoda Hantu
Sebelumnya Bu Pratama sudah mengatur Sari tinggal di kamar Arga agar mudah merawatnya. Namun di kamar Arga hanya ada satu ranjang di tengah ruangan.
Jadi ia akan tidur bersama Arga di ranjang yang sama?
"Boleh tidak, ya..."
Sari agak ragu. Namun bukan karena ia malu, melainkan karena takut tidurnya tidak tenang dan tanpa sengaja menyentuh Arga.
Tetapi meminta orang menyiapkan ranjang lain, Sari juga tidak bisa membuka mulut.
Bagaimanapun, keluarga Pratama mencari seseorang untuk menjadi istri Arga. Cepat atau lambat mereka tetap suami istri. Mana ada suami istri tidur di ranjang berbeda?
Saat itu Sari merasa ini mungkin ujian dari Bu Pratama, ingin melihat apakah ia hanya setuju di permukaan tetapi sebenarnya menolak putranya. Jika seseorang menolak sampai tidak mau tidur seranjang dengan putranya, apakah ia benar-benar mau merawat dengan tulus? Sari sendiri pun akan curiga.
Jadi ia tidak bisa meminta ranjang lain.
Tidak ada ranjang lain...
"Kalau begitu, mohon maklum. Kalau aku tidak sengaja menyinggungmu, jangan perhitungan."
Sari berdiri di sisi ranjang Arga dan bergumam sendiri. Setelah itu ia naik ke ranjang dengan gerakan ringan.
Sari tidak tahu sejak tadi ada keberadaan tak terlihat berdiri di sampingnya dan menatapnya dari awal sampai akhir. Dari ia mondar-mandir di sisi ranjang, naik ke ranjang dan berbaring rapi di ruang kosong di sebelah Arga, sampai ia menggerakkan tangan dan kaki kecil-kecil seperti berenang di atas kasur sambil berkata kagum, "Selimut dan kasur orang kaya rasanya enak sekali! Ini bahannya apa, ya? Lembut sekali!"
"Tidur di sini pasti bisa langsung sampai pagi!"
Dalam tatapan yang dipenuhi nafsu untuk membalas dendam atas pukulan di kamar mandi, muncul sedikit kebingungan. Apa yang membuatnya begitu senang?
Lalu tatapan itu berubah menjadi kesal. Jangan main lagi, cepat tidur!
Tatapan tidak sabar itu perlahan memerah saat melihat pakaian gadis itu berantakan karena gerakannya yang tidak teratur, memperlihatkan semakin banyak kulit putih yang belum bisa ia sentuh.
Sayangnya Sari tidak mendengar suara hati pria itu. Malam pertama di rumah orang lain tetap membuatnya sulit tidur. Karena ranjang asing, juga karena terlalu bersemangat.
Sari berputar-putar cukup lama, lalu mendekat ke pria yang berbaring rapi di sampingnya. Ia menarik selimut untuk Arga dengan lembut dan berbisik, "Selamat malam, Tuan Arga."
"Cepat bangun juga, ya."
Sari tidak tahu syarat apa yang diperlukan untuk membuat pasien koma sadar. Mungkin butuh obat dewa, bukan hanya satu kalimat darinya. Namun siapa tahu jika ia sering berbicara kepada Arga, keinginan hidup pria itu terpicu? Biar Arga tahu masih banyak orang yang berharap ia bangun. Bagaimanapun, mengatakan beberapa kalimat tidak ada ruginya.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada calon suaminya, Sari baru berbaring rapi dan menutup mata.
Hari ini ia memang melalui banyak hal. Pertama perjalanan jauh dari desa, belum sempat bernapas sudah dibawa Hendra ke keluarga Pratama, lalu melakukan ini dan itu. Sarafnya tegang karena belum tahu nasibnya akan ke mana, dan ia belum sempat benar-benar beristirahat. Sebanyak apa pun tenaganya, Sari sudah lama lelah.
Tak lama, ia tertidur.
Begitu napasnya menjadi teratur, tatapan itu langsung menjadi sangat bersemangat.
Karena terlalu bersemangat, di kamar muncul embusan angin hitam berulang-ulang, membawa suara wu-wu yang terdengar sangat menyeramkan.
Sesaat kemudian, angin dingin itu seolah berkumpul dan berubah menjadi bayangan hitam yang bisa dilihat mata telanjang. Bayangan itu berbentuk manusia, cukup tinggi.
Ketika bayangan itu menekan tubuh Sari, perbedaan bentuk tubuh mereka langsung terlihat jelas. Tingginya tanpa sengaja persis dengan pria yang berbaring di sampingnya. Sayang, tidak ada yang melihat.
Sari yang baru hendak jatuh ke tidur nyenyak merasa tubuhnya tertindih berat sampai sulit bernapas. Kesadarannya berjuang ingin bangun. Setelah susah payah membuka mata, jantungnya berdebar kencang. Namun ia tertegun saat melihat yang menindihnya adalah... calon suaminya sendiri.
Sari langsung merasa tidak nyata. Bukankah calon suaminya pasien koma? Bagaimana mungkin ia tiba-tiba menindih tubuhnya?
Jangan-jangan ia sedang bermimpi?
Dan mimpi ini tidak normal.