Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IVF ke 6
"Tadi tante Yevi sama bude Rahmi ngomong apa aja ke kamu? Pasti bahas-bahas anak lagi, ya?" seperti sudah paham dengan karakter dua wanita itu. Arslan sengaja tidak membawa Zulfa langsung ke mejanya. Arslan butuh menginterogasi istrinya dulu dengan membawa Zulfa menepi sebentar, seraya mengambil beberapa slice fruit sebagai camilan.
"Ya, kalau nggak bahas kayak gitu mau bahas apa lagi mereka ke aku." Zulfa terlihat santai menanggapi pertanyaan Arslan. Padahal tadi ia sempat begitu sakit hati denga ucapan Yevi.
"Pasti kamu uda capek banget ya ngadepin keluarga aku?"
"Lama-lama aku udah biasa aja kok. Kayak capeknya uda ilang aja gitu."
"Maaf ya! Aku juga nggak bisa mengontrol ucapan mereka untuk selalu menjaga perasaan kamu."
Zulfa masih begitu santai mendengar ucapan Arslan sambil menikmati suap demi suap potongan buah yang tadi ia ambil bahkan Zulfa turut menyuapi suaminya yang terlihat kecewa dengan keadaan.
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf? Mending daripada bahas masalah nggak penting kayak gini kita kembali ke meja aja. Pasti mama papa udah nyariin kita karna kita pamit ke toiletnya lama banget." Tanpa meminta persetujuan suaminya Zulfa langsung menggeret tangan tangan agar mau mengikuti langkahnya kembali ke meja yang mereka duduki tadi.
"Mama kira kalian udah pulang!" ucap Farah saat melihat anak dan menantunya sudah kembali ke tempat duduknya.
"Masa kita pulang nggk pamit dulu!" sahut Arslan seraya menggeret kursinya untuk ia duduki.
"Ya habis kalian ke toiletnya lama banget." keluh Farah.
"Maaf ma, tadi Zulfa nggak sengaja ketemu bude Rahmi sama tante Yevi dan kita sempet ngobrol-ngobrol sebentar."
"Syukur deh kalau kamu mau ngobrol sama mereka nggak pake acara menghindar segala."
"Sebenarnya Zulfa itu nggak pernah punya keinginan buat menghindar tiap ketemu saudara. Zulfa cuma mau ngejaga kesehatan mentalnya aja dari ucapan orang-orang yang nggak punya perasaan kayak tante Yevi sama bude rahmi." Arslan berusaha melindungi istrinya.
"Udah nggak perlu di terusin lagi. Papa maklumi sikap zulfa. Kalau menghindar lebih baik ya nggak apa-apa daripada ketemu bikin sakit hati." Ardi berusaha memposisikan dirinya sebagai Zulfa sebab ia sangat paham betul bagaimana kakak dan adik iparnya itu memperlakukan Zulfa.
"Terus bagaimana kelanjutan program hamil kalian?" Arslan dan Zulfa saling bertukar pandang saat mendapatkan pertanyaan dari ayahnya.
"InshaAllah kami akan melakukan bayi tabung lagi." Zulfa menjawab dengan mantap membuat Arslan sedikit terkejut.
"Terus kalau nanti gagal lagi, gimana?" Farah melirik sinis kea rah Zulfa seolah yakin kalau usaha Zulfa untuk bisa punya anak akan sia-sia.
"Kalau gagal lagi ya di coba lagi, dong!! Kita nggak bakal kehabisan uang buat nyoba bayi tabung sampe 100x sekalipun." Arslan tak kalah sengit menimpali ucapan ibunya. Dan itu cukup membuat Zulfa terkejut mendengarnya. Bahkan ia sampai kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
"Terus kalian mau lanjut program dimana? Kalo boleh papa kasih saran lebih baik kalian coba ke luar negri aja, deh."
"Kebetulan Zulfa juga punya pikiran seperti itu, pa."
"Bagus kalau gitu. Terus rencana mau dimana?" Tanya Ardi penasaran.
"Singapura." Jawab Zulfa yakin, lalu kembali melanjutkan ucapannya,
"Zulfa baru dapat info dari temen kalau ada klinik fertilitas terbaik disana, katanya alat-alatnya lebih canggih."
"Loh kamu kok nggak cerita ke aku, sih!" Arslan terlihat terkejut mendengar rencana Zulfa tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Maaf, aku belum ngebahas ini ke kamu soalnya baru tadi siang aku bahas ini sama Nadia, kebetulan aku dapat info ini juga dari klien Nadia." terang Zulfa.
"Kenapa harus Singapura, sih? kenapa nggak sekalian ke Eropa atau Amerika aja yang kecanggihannya lebih meyakinkan." Celetuk Farah tanpa beban.
"Kalau Arslan bukan orang sibuk mungkin Zulfa mau aja diajak promil kesana tapi masalahnya ..." belum selesai Zulfa bebicara, Arslan melanjutkan ucapan istrinya.
"Jelas aku nggak bisa kalau sampe sejauh itu promilnya. Nanti yang nge-handle kerjaan di pabrik siapa? perjalanan wira-wiri antar benua itu nggak butuh waktu 2-3 jam aja." Arslan mulai gusar dengan sikap Ibunya .
"Mau dimana pun promilnya itu bukan masalah, yang penting kalian harus ada perasaan yakin kalau usaha kalian kali ini akan membuahkan hasil. Karena terkadang yang membuat seseorang bertahan bukan hasilnya, melainkan keyakinannya. Bukankah Tuhan juga sesuai dengan prasangka hamba-Nya?" Ardi menatap Zulfa dan Arslan secara bergantian.
"Iya Pa." Zulfa mengangguk mengerti merespon ucapan sang ayah mertua. Entah kenapa, setiap kali berbicara dengan ayah mertuanya, hatinya selalu terasa lebih tenang.
"Dan satu lagi, jangan terlalu membebani diri sendiri. Anak itu hanya bonus pernikahan. Kehadirannya memang membahagiakan, tapi bukan berarti nilai sebuah pernikahan ditentukan oleh ada atau tidaknya anak. Untuk mendapatkannya pun tidak selalu mudah. Ada yang langsung diberi, ada yang harus menunggu bertahun-tahun, bahkan ada yang diuji dengan cara yang berbeda. Jadi nggak perlu terlalu dipikirkan sampai mengorbankan kebahagiaan kalian sendiri."
Saat mengucapkan kalimat terakhir, Ardi sengaja melirik ke arah istrinya. Ia mengenal Farah lebih dari siapa pun. Dari raut wajah wanita itu saja, Ardi sudah bisa menebak bahwa sang istri tidak sepenuhnya setuju dengan ucapannya dan pasti akan segera menyela.
"Masalahnya Arslan itu anak satu-satunya kita. Kalau sampai dia tidak punya keturunan, nanti siapa yang akan meneruskan pabrik dan mengelola semua aset keluarga?" Kalimat itu membuat suasana meja mendadak terasa lebih berat.
Zulfa langsung menundukkan pandangan. Meski pertanyaan itu tidak ditujukan kepadanya secara langsung, ia tetap merasakan tekanan yang sama seperti biasanya.Sementara itu, rahang Arslan tampak mengeras. Ia meletakkan gelas yang sedari tadi dipegangnya, lalu menatap ibunya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Bisa nggak ngebahas masalah keluarganya nggak di tempat umum kayak gini."
Farah terdiam sejenak mendengar Arslan menegurnya dengan nada penuh kekesalan. Suasana di meja pun mendadak sunyi. Tak ada yang berani menyela atau melanjutkan obrolan apapun.
***
Tak terasa sudah dua jam mereka berada di restoran mewah itu. Segala macam hidangan dan hiburan sudah mereka nikmati. Hingga tiba waktunya mereka untuk pamit pulang, diikuti para tamu lain yang saling mengantri menuju pintu keluar. Arslan dan orang tuanya memasuki mobil masing-masing.
Setelah percakapan yang cukup menengangkan di meja makan tadi, Zulfa terlihat lebih banyak diam. Ia kurang menikmati semua makanan yang tersedia bukan karna rasanya tak enak tapi setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya terasa seolah ikut membawa beban yang memenuhi pikirannya. Perkataan Farah terus terngiang di kepalanya.
Tentang keturunan.
Tentang penerus keluarga.
Tentang masa depan yang hingga kini belum mampu ia berikan.
Perjalanan pulang pun terasa berbeda. Tidak ada lagi candaan ringan seperti saat mereka berangkat. Suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan yang tidak biasa. Arslan sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Zulfa menatap keluar jendela sepanjang perjalanan, membiarkan lampu-lampu kota berlalu begitu saja di hadapan matanya.
***
Lima bulan kemudian.
Rencana untuk menjalani program bayi tabung kembali, akhirnya mulai terlaksana. Tepat pada hari kedua siklus menstruasi Zulfa, mereka kembali terbang ke Singapura untuk memulai rangkaian prosedur IVF ke-6.
Berbeda dengan percobaan sebelumnya, kali ini Arslan menunjukkan keseriusan yang jauh lebih besar. Ia berusaha mengatur ulang jadwal pekerjaannya, membatalkan beberapa pertemuan bisnis, dan mengosongkan waktu sebanyak mungkin demi mendampingi sang istri.
Jika dulu ia beberapa kali terlambat menemani kontrol, bahkan sesekali terpaksa absen karena urusan pekerjaan, kini Arslan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Baginya, perjuangan ini bukan hanya perjuangan Zulfa seorang. Ini adalah perjuangan mereka berdua.
Lagipula, ia tidak mungkin membiarkan istrinya bolak-balik lintas negara seorang diri untuk menjalani proses yang menguras fisik dan mental seperti ini. Seperti biasa, setibanya di Singapura, mereka langsung dijemput oleh sopir hotel yang memang telah disiapkan sebelumnya.
Mobil itu kemudian melaju membelah jalanan kota yang tertata rapi sebelum akhirnya berhenti di salah satu pusat fertilitas ternama yang menjadi tujuan mereka. Bangunan rumah sakit tersebut berdiri megah dengan fasilitas kelas internasional yang selama ini menjadi alasan banyak pasien dari berbagai negara datang berobat ke sana.
Tak lama setelah proses registrasi selesai, seorang perawat memanggil nama Zulfa.
"Nyonya Zulfa."
Arslan segera berdiri dan berjalan mendampingi istrinya menuju ruang konsultasi.
Mereka melewati lorong panjang yang dipenuhi pasien lain yang tengah menunggu giliran. Di sisi kanan dan kiri koridor berjajar ruang praktik para dokter spesialis fertilitas dan kandungan. Nama masing-masing dokter terpampang jelas pada papan yang terpasang di depan ruangan.
Sebagai salah satu pusat fertilitas terbesar, klinik itu memiliki banyak dokter dengan jadwal praktik yang berbeda-beda. Dan dokter yang menangani program Arslan dan Zulfa adalah salah satu yang paling banyak dicari. Tak semua orang memiliki kesempatan menjalani program kehamilan di bawah pengawasannya. Beruntung Arslan dan Zulfa memiliki kesempatan itu.
Begitu memasuki ruang konsultasi, suasana yang mereka temui jauh berbeda dari rumah sakit pada umumnya. Aroma lembut terapi relaksasi memenuhi ruangan. Interior bernuansa hangat dengan pencahayaan yang nyaman membuat pasien merasa lebih tenang.
Di balik meja kerja, seorang dokter paruh baya berwajah khas Tionghoa menyambut mereka dengan senyum profesional.
"Selamat pagi tuan dan nyonya Arslan." Sapa Dokter Tan. Orang yang telah mendampingi perjalanan panjang mereka selama beberapa bulan terakhir. Setelah meninjau hasil pemeriksaan dan menjelaskan perkembangan program IVF dalam bahasa Inggris yang fasih, Dokter Tan meminta Zulfa menjalani pemeriksaan ultrasonografi.
Dengan bantuan seorang perawat wanita, Zulfa berbaring di atas ranjang pemeriksaan yang terhubung dengan monitor medis beresolusi tinggi. Arslan berdiri di samping ranjang, memperhatikan setiap gerakan dokter dengan penuh perhatian.
Dokter Tan mulai melakukan pemeriksaan. Awalnya ekspresinya tampak biasa saja. Namun beberapa saat kemudian, keningnya perlahan berkerut. Sorot matanya menjadi jauh lebih fokus. Ia beberapa kali menggerakkan alat pemeriksaan ke sudut yang berbeda sambil memperhatikan layar monitor dengan seksama.
Kerutan di dahinya semakin dalam. Dan itu cukup membuat jantung Zulfa mulai berdetak lebih cepat. Sementara Arslan yang menyadari perubahan ekspresi dokter itu tanpa sadar ikut menegang. Ada sesuatu yang sedang dilihat dokter Tan. Sesuatu yang membuatnya begitu serius.
"Jadi bagaimana, dok? kapan istri saya bisa menjalani transfer embrio?" tanya Arslan dengan nada yang sulit menyembunyikan ketegangannya.
Dokter Tan kembali memperhatikan hasil pemeriksaan di layar monitor sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Kalau melihat kondisi saat ini, kemungkinan prosedur transfer embrio bisa segera dilakukan."
Seketika perhatian Arslan dan Zulfa tertuju penuh pada dokter tersebut.
Dokter Tan kemudian memutar monitor ke arah mereka dan menunjuk bagian yang sedang ditampilkan pada layar USG.
"Ini adalah lapisan endometrium atau dinding rahim Nyonya Zulfa."
Dengan pena digital, ia melingkari area yang dimaksud.
"Saya baru saja mengukurnya. Ketebalan dinding rahim sudah mencapai sepuluh milimeter."
Arslan menatap layar itu meskipun sebenarnya tidak terlalu memahami gambar medis yang terpampang di hadapannya. Namun nada optimis dalam suara dokter Tan sudah cukup membuat dadanya sedikit lega.
"Itu artinya kondisi rahim nyonya Zulfa sudah berada dalam fase yang baik dan siap menerima embrio yang akan ditransfer."
Zulfa yang sejak tadi berbaring hanya mampu menahan napas. Meski sudah beberapa kali menjalani rangkaian program IVF, setiap kabar baik tetap mampu membuat jantungnya berdebar.
"Syukurlah..." gumamnya lirih. Senyum tipis pun akhirnya muncul di wajah Arslan.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruang pemeriksaan, ketegangan di wajahnya sedikit berkurang.
"Kalau begitu... Berapa embrio yang bisa ditransfer, Dok?" tanya Arslan lagi.
Dokter Tan menyilangkan kedua tangannya di atas meja. Ia membuka berkas pemeriksaan yang berada di hadapannya.
"Itu tergantung keputusan kalian dan rekomendasi medis yang telah kita diskusikan sebelumnya. Karena sebelumnya Anda menyampaikan keinginan untuk memiliki anak kembar, secara teknis kami bisa mentransfer dua embrio sekaligus."
Mata Arslan langsung berbinar.
"Dua sekaligus?"
Dokter Tan tersenyum kecil melihat antusias pasiennya.
"Ya. Namun perlu diingat, memasukkan dua embrio tidak selalu berarti keduanya akan berhasil menempel dan berkembang menjadi kehamilan. Tetap ada kemungkinan hanya satu embrio yang berkembang, atau bahkan keduanya tidak berkembang sesuai harapan."
Kalimat itu membuat suasana kembali hening sesaat. Mereka sudah terlalu lama berada dalam perjalanan ini untuk memahami bahwa harapan dan kenyataan tidak selalu berjalan beriringan. Namun setidaknya, untuk hari ini, mereka mendapatkan kabar baik. Dan setelah bertahun-tahun menunggu, kabar baik sekecil apa pun terasa begitu berharga.
Tanpa sadar, jemari Arslan mencari tangan Zulfa lalu menggenggamnya erat. Seolah ingin mengatakan bahwa apa pun hasilnya nanti, mereka akan tetap menjalaninya bersama.
Kedua mata Zulfa seketika berbinar. Meski ini bukan kali pertama ia menjalani program bayi tabung, kabar bahwa rahimnya telah siap menerima embrio tetap menjadi sesuatu yang mampu membuat hatinya bergetar haru.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya kalimat medis biasa. Namun bagi Zulfa, kalimat tersebut adalah secercah harapan yang telah ia tunggu selama berbulan-bulan. Perjalanan menuju titik ini tidaklah mudah. Ada begitu banyak proses yang harus dilalui.
Kontrol rutin yang terkadang dilakukan dua kali dalam sebulan. Tumpukan obat yang harus diminum sesuai jadwal. Belum lagi suntikan hormon yang jumlahnya tak sedikit.
Berkali-kali jarum menembus kulit perutnya. Bahkan ada masa ketika area perutnya dipenuhi memar kebiruan akibat suntikan yang terus berulang.
Rasa nyeri, lelah, mual, perubahan suasana hati, hingga kecemasan yang datang silih berganti telah menjadi bagian dari perjalanan panjang itu. Namun Zulfa menjalaninya tanpa banyak mengeluh. Karena ia tahu, semua proses tersebut merupakan bagian dari usaha untuk mendapatkan embrio dengan kualitas terbaik dan meningkatkan peluang keberhasilan program yang mereka jalani.
Dokter Tan kemudian menutup berkas pemeriksaan di hadapannya.
"Jika semuanya berjalan sesuai rencana, setelah siklus berikutnya selesai kita akan menentukan waktu yang paling tepat untuk melakukan transfer embrio."
Arslan dan Zulfa mengangguk bersamaan. Dokter itu lalu menatap mereka dengan senyum yang hangat.
"Sementara itu, saya ingin nyonya Zulfa tetap menjaga pola makan, istirahat yang cukup, dan mempertahankan gaya hidup sehat. Dan satu hal yang paling penting ...""
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. Zulfa sudah bisa menebak kalimat berikutnya.
"Hindari stres."
Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibirnya. Kalimat itu rasanya sudah menjadi nasihat wajib dari hampir setiap dokter fertilitas yang pernah menanganinya.
Meski terdengar sederhana, justru itulah bagian yang sering kali paling sulit dilakukan. Bagaimana mungkin seseorang tidak stres ketika setiap bulan harus menunggu hasil yang belum tentu sesuai harapan?
Bagaimana mungkin seseorang tetap tenang ketika tubuhnya menjadi tempat berbagai prosedur medis dilakukan, sementara pertanyaan tentang anak terus berdatangan dari segala arah?
Namun Zulfa memahami maksud dokter itu. Bukan berarti ia harus berpura-pura bahagia setiap saat. Melainkan belajar untuk tidak membiarkan kecemasan menguasai seluruh hidupnya. Arslan yang duduk di sampingnya tiba-tiba menggenggam tangannya.
Zulfa menoleh dan mendapati suaminya sedang tersenyum. Senyum sederhana yang seakan berkata bahwa ia tidak sedang berjuang sendirian. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup. Karena dalam perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian seperti ini, harapan sekecil apa pun terasa begitu berharga.
***