NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:130.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 | PERJODOHAN

Elara memacu mobilnya, membelah kepadatan lalu lintas kota dengan kecepatan yang berbahaya. Di spion tengah, ia melihat bayangan mobil sedan hitam yang terus menempel seperti lintah. Rasa amarah yang tadi membakar dadanya kini berganti dengan ketenangan seorang predator yang sedang menyusun jebakan.

​Ia tahu mereka mengikutinya. Mereka tidak hanya pengikut mereka adalah rantai yang Dante pasang di pergelangan kakinya.

​Tanpa pikir panjang, Elara membanting setir ke arah parkiran restoran fine dining yang sepi di pinggiran distrik bisnis. Ia keluar dari mobil dengan anggun, menyampirkan tasnya di bahu, lalu melangkah masuk ke dalam restoran melalui pintu depan.

​Di dalam mobil sedan hitam, dua pria Marco dan Silas berdebat dengan nada tertahan.

​"Dia masuk ke restoran, Marco. Haruskah kita mengejarnya sekarang?" tanya Silas, tangannya tak lepas dari kemudi.

​"Jangan bodoh," bentak Marco, pria bertubuh tinggi itu menatap tajam ke arah pintu restoran. "Dia tahu kita di sini. Jika kita langsung masuk, dia akan merasa terpojok dan mungkin melakukan hal nekat. Biarkan dia duduk, biarkan dia lengah. Kita tunggu sampai dia memesan makanannya."

​Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan di dalam mobil. Pria berambut pirang, Silas, mulai gelisah di kursinya. "Sudah satu jam, Marco. Wanita itu tidak mungkin memakan waktu selama itu hanya untuk sebuah hidangan."

​" Tahan keinginanmu!" Marco mengerang frustrasi, matanya tidak berkedip menatap pintu restoran. "Kita punya perintah untuk mengawasinya, bukan untuk menangkapnya. Jangan merusak rencana Tuan Moretti."

​Dua jam kemudian, kesabaran mereka benar-benar habis. Silas yang tidak tahan lagi segera membuka pintu mobil. "Ini sudah dua jam! Aku tidak peduli dengan perintahmu, dia bisa saja sudah melarikan diri lewat pintu belakang!"

​Marco terdiam, baru menyadari kebodohan mereka.

"Sial! Cepat keluar!"

​Keduanya berlari kencang menuju pintu masuk restoran, menerobos masuk dengan napas terengah-engah dan tatapan mata yang menyapu seluruh ruangan. Namun, meja di dekat jendela yang tadi dimasuki Elara kini kosong. Tidak ada jejak Elara di sana. Bahkan gelas air yang dipesannya pun tidak tersentuh.

​Marco mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi hingga terlihat berantakan. Ia menerjang pelayan di dekatnya dan mencengkeram kerah bajunya. "Di mana wanita yang duduk di meja itu? Ke mana dia pergi!"

​Pelayan itu gemetar ketakutan, menunjuk ke arah dapur. "Dia pergi ke toilet sepuluh menit yang lalu, Tuan!"

​Marco melepaskan pelayan itu dan berlari menuju lorong toilet, namun saat pintu itu didobrak, hanya ada keheningan. Jendela kecil di dalam toilet terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk dan mengaburkan jejak.

​Marco menendang dinding dengan keras, amarahnya meluap hingga wajahnya memerah padam. "Dia menjebak kita ! Dia tidak pernah berniat makan di sini!"

​"Di mana dia sekarang?" teriak Silas, suaranya pecah karena panik.

​"Cari dia!" perintah Marco dengan raungan yang memenuhi seluruh lorong restoran. "Jika dia lolos malam ini, Tuan Moretti tidak akan menyisakan kepala di atas pundak kita!"

Dua jam sebelumnya, Elara tidak hanya berjalan masuk ke restoran. Ia masuk dengan rencana yang jauh lebih dingin dan taktis. Begitu ia melangkah masuk, ia tidak duduk di meja. Ia langsung menuju area karyawan di balik tirai dapur, menyambar celemek bersih dan topi koki yang tergantung di dekat pintu gudang. Dengan gerakan cepat yang terlatih, ia mengikat rambutnya dan menyamar menjadi pelayan yang sedang membawa nampan berisi botol-botol minuman.

​Saat ia berpapasan dengan kepala koki yang bertubuh tegap di depan pintu dapur, pria itu mengerutkan kening.

​"Kau pelayan baru? Aku tidak melihatmu saat briefing tadi," tanya koki itu dengan nada curiga.

​Elara menunduk, menyembunyikan matanya di balik topi putih. "Saya pengganti dadakan, Chef. Bagian depan sangat sibuk."

​Koki itu maju selangkah, hendak memeriksa wajahnya, namun Elara sudah lebih dulu bergerak. Ia menjatuhkan nampannya dengan sengaja. Saat koki itu menunduk melihat kekacauan di lantai, Elara menarik seutas kawat tipis yang tersembunyi di balik lengan bajunya, melilitkannya ke leher pria itu dalam hitungan detik, lalu membisikkan sesuatu sebelum pria itu jatuh terkulai lemas ke lantai karena tekanan pada titik saraf di lehernya.

​"Maaf, Chef. Kau hanya penghalang dalam misiku," bisik Elara dingin.

​Ia menukar seragam koki itu dengan jas pelayan, lalu berjalan santai keluar melalui pintu belakang, melewati Marco dan Silas yang masih menunggu di dalam mobil, menatap mereka dengan tatapan meremehkan saat ia masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan sebelumnya.

​Di dalam dapur yang kini sunyi, koki itu perlahan membuka matanya. Ia tidak pingsan. Ia memegang lehernya yang terasa nyeri, namun sebuah senyum misterius tersungging di bibirnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

​"Ibu," suaranya tenang, kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi.

​"Bagaimana, Adrian? Apa kau sudah bertemu dengannya?" suara di seberang sana terdengar penuh harap.

​Adrian koki tampan yang ternyata bukan pria sembarangan menatap pintu belakang yang tertutup rapat tempat Elara baru saja menghilang. "Dia lebih dari sekadar menarik, Ibu. Dia seorang agen yang menyamar dengan sangat sempurna. Dia bahkan berani melumpuhkanku tanpa ragu sedikit pun."

​"Lalu? Apa kau akan membatalkan pertemuan ini?"

​Adrian tertawa kecil, memungut sapu tangan yang tertinggal dengan sisa aroma obat bius yang gagal melumpuhkannya. "Membatalkan? Justru sebaliknya. Aku belum pernah merasa sehidup ini. Dia bukan hanya wanita yang sedang dijodohkan denganku, dia adalah satu-satunya orang di kota ini yang berani menjebakku di dapur restoranku sendiri."

​Ia menatap foto Elara di layar tabletnya foto yang diambil secara diam-diam oleh kamera pengintai restorannya.

​"Beritahu keluarga Heaton," lanjut Adrian dengan tatapan tajam, "bahwa aku akan datang ke kediaman mereka malam ini. Aku tidak peduli dengan bisnis keluarga atau perjodohan konyol ini. Aku ingin tahu sejauh mana Elara akan berjuang saat dia tahu bahwa pria yang baru saja ia 'lumpuhkan' di dapur adalah pria yang seharusnya menjadi pelindungnya di masa depan."

●●●●

1
Anonim
cieeee nyaman😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
pokoknya harus😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Adalah
😍😍😍
Adalah
next😍😍😍
Adalah
lanjut😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍 pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
lama-lama jadi cinta😍😍
Biruku: terima kasih atas komentar😍😍
total 1 replies
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya harus lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
cieee😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Biruku: terimakasih👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!