Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Warning!!!
Di dalam kamar hotel mewah yang hanya diterangi lampu tidur temaram berwarna keemasan, suasana panas dan penuh gairah semakin memuncak. Udara terasa lembab, bercampur aroma parfum mahal dan keringat yang menempel di kulit. Suara desahan saling bersahut-sahutan memenuhi ruangan, bergema dari dinding-dinding yang tebal namun tak mampu meredam erangan penuh kenikmatan yang keluar dari mulut keduanya.
Zayyan, dengan tubuh tegap dan otot yang menegang karena gairah yang membara, terus memompa tubuh istrinya dengan semangat yang tak terbendung. Alin terbaring telentang di bawah kungkungannya, tubuh lentiknya yang basah oleh keringat terguncang-guncang mengikuti setiap hantaman kuat suaminya. Matanya terpejam rapat, bulu matanya bergetar, sementara mulutnya yang merah dan bengkak karena ciuman liar tak henti-hentinya mengeluarkan erangan panjang.
"Ahh... Zayyan... sayang... pelan-pelan dulu..." rengek Alin dengan suara parau, napasnya tersengal-sengal. Tangannya mencengkeram seprai hotel yang sudah kusut, jari-jarinya memutih karena menahan gelombang kenikmatan yang hampir membuatnya kehilangan akal.
Namun Zayyan sama sekali tak menghiraukan permohonan istrinya. Malah, semakin mendengar rengekan lemah Alin, semakin kuat hasratnya. Matanya menyala gelap penuh nafsu. Dengan gerakan cepat dan kuat, ia menarik pinggul Alin, membalik tubuh istrinya hingga kini Alin berada dalam posisi menungging, membelakanginya. Posisi yang membuat Zayyan semakin leluasa menguasai.
Tanpa memberi waktu untuk bernapas, Zayyan langsung menyatukan tubuh mereka kembali dari belakang. Tusukannya dalam, kuat, dan penuh kuasa.
"Akhh...!!" pekik Alin keras, kepalanya mendongak ke atas hingga lehernya yang jenjang terlihat tegang. Matanya terbuka lebar sejenak sebelum kembali terpejam menahan sensasi yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat, lututnya hampir tak mampu menopang berat badan.
Zayyan menggenggam pinggul istrinya dengan erat, jari-jarinya meninggalkan bekas merah di kulit putih Alin. Ia menarik dan mendorong dengan irama yang semakin cepat, setiap hantaman menghantam titik paling sensitif Alin hingga wanita itu tak mampu menahan teriakannya.
"Ya Tuhan... Zayyan... terlalu dalam..." erang Alin, suaranya pecah-pecah. Air matanya mengalir di sudut mata karena kenikmatan yang nyaris menyakitkan. Setiap kali Zayyan masuk sepenuhnya, tubuh Alin bergetar hebat, dinding-dinding dalamnya menjepit suaminya dengan kuat, seolah tak ingin melepaskan.
Zayyan membungkuk, dadanya menempel di punggung Alin yang berkeringat. Bibirnya mengecup tengkuk istrinya, lalu menggigit pelan sambil berbisik dengan suara serak penuh nafsu, "Kamu milikku, sayang. Malam ini aku mau kamu sampai tidak bisa jalan besok."
Tangan Zayyan merayap ke depan, meremas dada Alin yang bergoyang-goyang mengikuti gerakan mereka. Jempolnya memainkan puncaknya yang sudah mengeras, membuat Alin semakin gila. Desahan Alin semakin tinggi, semakin liar, tak lagi peduli kalau suaranya mungkin terdengar hingga koridor hotel.
Zayyan semakin mempercepat ritme, pinggulnya membentur bokong Alin dengan suara tepukan basah yang memalukan namun sangat menggairahkan. Keringat menetes dari dahi Zayyan ke punggung istrinya. Napasnya memburu di telinga Alin.
Alin merasa tubuhnya semakin tegang, seperti ada gelombang besar yang siap meledak. "Sayang... aku... aku mau..." katanya terbata-bata.
"Lepaskan, sayang," bisik Zayyan sambil terus menghujam tanpa ampun.
Hanya dalam beberapa detik kemudian, tubuh Alin mengejang hebat. Ia menjerit panjang saat gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhnya. Dinding-dindingnya berdenyut-denyut kuat, memijat kejantanan Zayyan dengan hebat.
Zayyan mengerang dalam, tak tahan lagi. Dengan beberapa hantaman terakhir yang sangat dalam, ia pun mencapai puncaknya, melepaskan seluruh panasnya di dalam tubuh istrinya.
Keduanya ambruk ke atas tempat tidur, tubuh saling menempel, napas masih tersengal-sengal. Zayyan memeluk Alin dari belakang, menciumi bahunya dengan lembut, sementara Alin hanya bisa tersenyum lemah, tubuhnya masih bergetar sisa-sisa kenikmatan.
Malam itu masih panjang di kamar hotel tersebut. Dan Zayyan belum berniat untuk berhenti.
*
*
Setelah orgasme pertama yang meledak-ledak, keduanya terbaring lemas di atas tempat tidur yang sudah berantakan. Napas Zayyan masih memburu di tengkuk Alin, sementara tubuh istrinya masih sesekali bergetar menahan sisa kenikmatan. Tapi Zayyan belum puas. Matanya masih menyala penuh nafsu saat ia mengecup bahu Alin dan berbisik serak,
"Kita belum selesai, sayang. Mandi bareng yuk... Aku masih mau kamu."
Alin hanya bisa mendesah lemah, tubuhnya masih sensitif, tapi ia mengangguk pelan. Zayyan tersenyum licik, lalu mengangkat tubuh istrinya dengan mudah seperti boneka. Alin memeluk leher suaminya, kakinya melingkar di pinggang Zayyan saat dibawa masuk ke kamar mandi mewah hotel tersebut.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Zayyan langsung menyalakan shower. Air hangat menyembur deras dari shower head besar, mengisi ruangan dengan uap panas yang cepat membuat kaca cermin mengabur. Tanpa menunggu, Zayyan mendorong Alin ke dinding keramik yang dingin, kontras dengan air panas yang mengguyur tubuh mereka berdua.
"Ahh..." Alin menggigil saat punggungnya menyentuh dinding, tapi Zayyan segera menempelkan tubuhnya yang keras dan panas di depan istrinya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman liar, lidah saling menari dengan rakus. Zayyan menggigit bibir bawah Alin, lalu menjilat lehernya yang basah oleh air.
Tangan Zayyan merayap ke mana-mana. Ia meremas dada Alin dengan kuat, memilin puncaknya yang sudah mengeras karena air dan rangsangan. Alin mendesah di dalam ciuman, tangannya mencengkeram bahu suaminya.
Zayyan turun lebih rendah, mulutnya menyesap salah satu p*ting Alin dengan rakus sambil tangan satunya menjelajah ke bawah. Jari tengahnya langsung menyusup ke celah basah Alin yang masih sensitif dari ronde pertama.
"Masih basah banget..." gumam Zayyan dengan suara parau, sambil memasukkan dua jarinya sekaligus dan menggerakannya dengan cepat.
"Akhh! Zayyan... ahh!" Alin menjerit, kepalanya mendongak ke belakang. Air shower terus mengguyur wajahnya, membuat rambutnya menempel di kulit. Tubuhnya menggelinjang hebat saat jari suaminya memompa tanpa ampun, ibu jarinya menekan klitorisnya dengan gerakan memutar yang gila.
Zayyan tak memberi kesempatan istrinya bernapas. Ia membalik tubuh Alin menghadap dinding, menyuruhnya menopang tangan di keramik. Posisi menungging di bawah guyuran air.
Tanpa basa-basi, Zayyan mengarahkan miliknya yang sudah keras kembali dan menghunjam masuk dalam satu kali dorongan kuat.
"AAAKKHHH!!" Alin menjerit keras. Suaranya bergema di kamar mandi yang penuh uap. Sensasinya jauh lebih intens karena tubuh mereka licin oleh air sabun dan keringat.
Zayyan langsung memompa dengan ganas. Setiap hantaman menghasilkan suara basah "plak plak plak" yang bercampur dengan suara air shower. Ia mencengkeram pinggul Alin kuat-kuat, menariknya ke belakang setiap kali ia mendorong maju, membuat tusukannya semakin dalam.
"Lebih dalam, sayang... rasain semuanya," geram Zayyan sambil mempercepat ritme. Satu tangannya meraih rambut Alin, menariknya pelan hingga kepala Alin mendongak, sementara tangan satunya meremas dada istrinya dari belakang.
Alin sudah tak bisa berpikir lagi. Hanya erangan dan jeritan kenikmatan yang keluar dari mulutnya.
"Zayyan... terlalu... keras... ahh! Aku... aku mau lagi!!"
Zayyan tersenyum puas. Ia menarik tubuh Alin sedikit ke belakang, membuat punggung Alin melengkung, lalu menghujam dengan sudut yang lebih dalam dan ganas. Setiap kali kejantanannya keluar-masuk sepenuhnya, Alin merasa seperti mau pingsan karena kenikmatan.
Air terus mengguyur tubuh mereka. Zayyan membalik Alin lagi, mengangkat satu kaki istrinya tinggi-tinggi, dan memasukinya lagi dalam posisi berdiri. Wajah mereka sangat dekat, napas saling bercampur di antara uap panas.
Mereka berciuman liar sambil tubuh bawah terus bergerak brutal. Zayyan memompa semakin cepat, semakin kuat, seolah ingin menghancurkan istrinya malam itu.
Alin mencakar punggung Zayyan, kuku-kukunya meninggalkan jejak merah. Tubuhnya mengejang hebat untuk kedua kalinya.
"Aku... keluar... Zayyan!! AKHHHH!!"
Orgasme kedua Alin jauh lebih hebat. Tubuhnya kejang-kejang hebat, dinding dalamnya memijat kejantanan Zayyan dengan kuat sekali. Zayyan mengerang dalam, beberapa hantaman terakhir yang sangat brutal, lalu meledak di dalam tubuh Alin sambil menggigit bahu istrinya.
Keduanya ambruk pelan ke lantai kamar mandi yang basah. Air shower masih mengguyur tubuh mereka yang saling berpelukan lemas. Zayyan menciumi wajah Alin yang basah, sambil berbisik mesra,
"Ronde ketiga di bathtub ya, sayang?"
Alin hanya bisa tersenyum lemah, tubuhnya masih bergetar hebat, tapi matanya sudah menunjukkan ia tak akan menolak.
Malam itu, kamar mandi hotel menjadi saksi betapa panas dan tak terpuaskan gairah mereka berdua.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥