NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kerinduan yang mengikis iman

Rani melangkah perlahan menuju dapur. Dengan telaten, ia menyeduh secangkir teh manis hangat untuk meredakan nyeri haid yang sedang menyiksa adiknya. Uap mengepul dari cangkir, membawa aroma teh yang menenangkan ke seluruh penjuru ruangan yang masih sunyi.

​Setelah meletakkan cangkir itu di meja makan sejenak, Rani kembali ke kamar utama. Ia mendekati sisi tempat tidur tempat Angga masih terlelap. Istrinya itu mengusap lembut bahu Angga, berbisik dengan suara yang meneduhkan. "Mas... bangun, Mas. Sudah Subuh, yuk sholat dulu."

​Angga melenguh pelan, membuka matanya yang masih terasa berat. Tatapannya beradu dengan senyum tulus Rani yang selalu menyambutnya setiap pagi. "Jam berapa, Ran?" tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

​"Sudah lewat Subuh sedikit, Mas. Yuk, ambil wudu," jawab Rani lembut sembari membantu suaminya duduk. Angga pun mengangguk, menyibak selimut dan bergegas menuju kamar mandi untuk menunaikan kewajibannya.

​Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Angga adalah sosok laki-laki yang baik. Ia bukan pria hidung belang yang gemar bermain wanita, bukan pula suami yang ringan tangan. Selama lima tahun ini, ia selalu bertanggung jawab menafkahi Rani dan menjaga keutuhan rumah tangga mereka. Namun, ada satu badai besar yang tak kasat mata di dalam dadanya: Angga sangat, sangat ingin memiliki anak.

​Setiap kali melihat teman-teman sekantornya di bank membawa anak-anak mereka ke acara kantor, atau saat melihat batita berlarian di taman, hati Angga selalu mencelos. Kerinduan untuk menjadi seorang ayah telah lama bertumpuk menjadi beban mental yang berat. Lima tahun penantian tanpa hasil perlahan-lahan mengikis keceriaan di rumah ini, menyisakan kejenuhan yang mendalam pada diri Angga.

​Saat ia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar setelah berwudu, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada pintu kamar tamu yang sedikit terbuka. Di dalam sana, Tyas masih meringkuk menahan sakit.

​Rasa jenuh yang akut, kerinduan yang mendalam akan hadirnya tangis bayi, serta pemandangan fisik adik iparnya yang begitu matang di usia muda, mendadak berbaur menjadi satu ramuan berbahaya di kepala Angga. Keinginan terlarang itu kembali berbisik, menguji keteguhan iman seorang suami baik-baik yang kini mulai berada di ambang batasnya.

​Rani membawa cangkir berisi teh manis hangat itu dengan hati-hati menyusuri lorong rumah. Aroma melati yang menenangkan menguar dari uap airnya. Ia mendorong pelan pintu kamar Tyas yang sedikit terbuka, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang masih sejuk oleh embusan pendingin udara.

​Di atas ranjang, Tyas tampak sedikit bergerak, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman untuk meredakan nyeri di perutnya. Rani mendekat ke tempat tidur, lalu meletakkan cangkir teh hangat itu di atas nakas kayu di sebelah tempat tidur adiknya.

​"Ini teh hangatnya, Sayang. Diminum dulu mumpung masih hangat, biar perutmu agak enakan," ujar Rani lembut, duduk di tepi kasur sambil mengusap lengan Tyas dengan penuh kasih sayang.

​Mendengar suara kakaknya, Tyas perlahan membuka mata. Dengan sisa-sisa lemas yang menggelayuti tubuhnya, gadis delapan belas tahun itu berusaha mendudukkan diri, bersandar pada kepala ranjang. Piyama katun tipis yang dikenakannya sedikit bergeser saat ia bergerak, mencetak lekuk bahu dan tubuhnya yang sintal dengan begitu jelas di bawah temaram lampu kamar.

​"Terima kasih ya, Mbak Rani," bisik Tyas dengan suara parau.

​Ia meraih cangkir di atas nakas dengan kedua tangan mungilnya, lalu meniup uap panasnya perlahan sebelum menyesap teh manis itu sedikit demi sedikit. Rasa hangat yang menjalar ke kerongkongan hingga ke perutnya perlahan mulai memberikan rasa nyaman.

​Rani tersenyum melihat adiknya yang mulai terlihat sedikit lebih tenang. "Habiskan ya, setelah itu kamu tidur lagi saja. Biar Mbak yang siapkan sarapan di dapur."

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!