⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Chef Gordon
Chef Gordon jelas merupakan selebritas papan atas di dunia kuliner. Karena peternakan adalah pemasok bahan baku utama berupa daging sapi dan domba, para koboi di sana sedikit banyak masih bersinggungan dengan industri makanan. Tak heran jika banyak dari mereka yang langsung mengenali sosok maestro kuliner ini. Bagi para koboi biasa tersebut, Chef Gordon tak ubahnya seperti bintang film Hollywood; dia adalah sosok idola besar yang selalu mereka saksikan di layar kaca.
Dan kini, sang superstar kuliner itu sudi datang langsung berkunjung ke peternakan mereka! Hebatnya lagi, ia terlihat sangat akrab dengan Banyu. Fakta ini sukses membuat Mark dan seluruh koboi lainnya ternganga tak percaya. Awalnya, mereka mengira bos baru mereka hanyalah pria Asia yang kebetulan berdompet tebal. Namun sekarang mereka sadar, Banyu ternyata memiliki koneksi yang luar biasa ngeri, bahkan di tanah Amerika sekalipun.
Tentu saja, Chef Gordon punya alasan kuat datang jauh-jauh ke sini. Sebelumnya, ia dan Banyu telah menandatangani kontrak kerja sama eksklusif: di negara mana pun Banyu membuka cabang bisnis agrikulturnya, jaringan restoran milik Chef Gordon akan selalu mendapat hak istimewa sebagai pembeli prioritas. Mengingat Amerika adalah basis awal di mana Chef Gordon membangun kerajaan kulinernya ekspansi bisnis Banyu ke negeri Paman Sam ini jelas menjadi magnet besar baginya. Ia merasa wajib turun tangan dan meninjaunya secara langsung.
Begitu turun dari mobilnya, Chef Gordon langsung merentangkan kedua lengannya lebar-lebar dan berjalan menghampiri Banyu. Dengan suara baritonnya yang menggelegar dan khas, ia tertawa, "Banyu, Kawan! Baru juga sebulan lebih kita tak bertemu, kau ternyata sudah membangun peternakan sebesar ini! Benar-benar kejutan yang luar biasa!"
Banyu tidak pernah terbiasa berpelukan dengan sesama pria. Dulu saat berhadapan dengan Chef Pierre dari Prancis pun ia selalu menghindar, dan tentu saja perlakuan yang sama berlaku untuk koki asal Inggris ini. Sebelum koki galak itu sempat memeluknya, Banyu bergerak lebih cepat menyambar tangan pria itu dan menjabatnya erat. Dengan senyum tenang ia membalas, "Karena aku sudah menandatangani kontrak denganmu, aku tidak perlu pusing lagi memikirkan jalur distribusi penjualan ke depannya. Tentu saja aku harus secepat mungkin berekspansi ke Amerika!"
Kalimat Banyu itu pada dasarnya adalah pujian halus terhadap pengaruh raksasa Chef Gordon di industri kuliner. Merasa tersanjung, senyum lebar yang sangat langka pun terukir di wajah koki pemarah tersebut. Namun, terbang jauh-jauh dari New York tentu bukan sekadar untuk reuni dan berbalas pujian. Setelah berbasa-basi sejenak, Chef Gordon mengutarakan niatnya untuk berkeliling meninjau peternakan. Banyu jelas tidak menolak. Ditemani oleh Jessica, mereka bertiga menunggang kuda dan memantau area peternakan. Benar-benar peninjauan lapangan yang harfiah!
Sebagai maestro kuliner yang sering berkeliling dunia memburu bahan baku segar, peternakan bukanlah tempat asing bagi Chef Gordon. Namun, saat melihat sendiri wujud peternakan baru Banyu, ia tetap tak kuasa menyembunyikan rasa takjubnya melihat skala yang begitu raksasa. Sebelumnya, ia hanya tahu bahwa Banyu membeli peternakan milik keluarga Jessica, tapi ia sama sekali tidak tahu seberapa masif lahan tersebut. Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, pandangan Chef Gordon terhadap kekuatan modal Banyu meroket drastis. Ia menjadi semakin menghargai dan memprioritaskan pemuda Asia ini sebagai mitra bisnis emasnya.
Kebahagiaannya semakin memuncak saat mengetahui bahwa Banyu telah mengonversi lahan subur di bantaran sungai menjadi ladang sayuran. Ia buru-buru menawarkan kesepakatan baru, "Kalau kau setuju, aku bisa bertindak sebagai agen distributor tunggal untuk seluruh hasil panen sayuranmu di sini. Aku berani jamin, soal harga tebusannya, kau tidak akan pernah rugi!"
Banyu mempertimbangkannya sejenak, lalu segera mengangguk setuju. Ia sangat paham prinsip dasar berbisnis: uang tidak mungkin dan tidak boleh diraup sendirian. Karena bisnisnya baru saja menetas di Amerika, mustahil baginya untuk membangun jaringan distribusi mandiri yang solid dalam waktu singkat. Jauh lebih masuk akal dan menguntungkan jika ia merelakan sedikit porsi keuntungannya kepada Chef Gordon demi memonopoli dominasi pasar dengan cepat.
Namun, Banyu juga bukan pengusaha bodoh yang mau didikte. Ia mengajukan syarat balasan. "Hak distribusi tunggal bisa kuatur. Tapi, hak itu hanya berlaku untuk pasar wilayah Amerika Utara. Selain itu... kau juga wajib menyerap hasil produksi daging sapi dan domba dari peternakan ini. Kuotanya begini: untuk setiap sepuluh porsi sayuran yang kau borong, kau harus menyertakan satu porsi pesanan daging. Bagaimana?"
Jujur saja, Chef Gordon hanya bernafsu pada sayuran dewa milik Banyu. Ia sama sekali tidak percaya pada kualitas daging dari peternakan yang masih seumur jagung ini. Wajahnya berkerut ragu. "Tolong jangan marah kalau aku bicara blak-blakan. Sapi dan domba di peternakanmu ini... kulihat sangat standar. Kalau aku memborong daging dari sini, nilai jualnya di restoranku tak seberapa. Bukannya untung, aku malah bisa rugi bandar!"
Banyu membalasnya dengan senyum misterius. "Chef Gordon, apa yang Anda lihat sebagai 'standar' itu hanyalah situasi sementara. Asal kau tahu, aku sudah berhasil mengamankan jalur pasokan bibit sapi Wagyu Kobe galur murni dari Australia! Dalam waktu dekat, peternakan ini akan memulai pembiakan Wagyu Kobe dalam skala raksasa!"
Chef Gordon tentu sangat paham betapa mahalnya nilai magis dari embel-embel "Wagyu Kobe" di dunia fine dining. Keraguannya mulai goyah.
Sadar bahwa umpannya berhasil menggoda sang koki, Banyu langsung menyerang di saat besi masih panas. Ia menunjuk ke arah hamparan padang rumput yang mulai menumbuhkan tunas hijau. "Lahan di sana itu sudah kutaburi dengan benih rumput pakan ajaib yang diformulasikan khusus untuk sapi Wagyu Kobe. Aku berani jamin pakai nyawa, rumput pakan spesial itu akan mendongkrak kualitas daging sapiku hingga ke level dewa yang belum pernah kau cicipi! Dengar, aku menawarkan kesepakatan daging ini murni karena kita adalah teman baik, jadi aku memberimu jalur privilege. Begitu reputasi daging sapiku meledak di pasaran nanti... kau bawa segepok uang pun belum tentu bisa mengantre untuk membelinya!"
Gertakan halus di kalimat terakhir Banyu sukses meruntuhkan pertahanan Chef Gordon. Ia mengangguk dengan tegas. "Baik! Aku setuju dengan syaratmu. Tapi, kita harus menambahkan satu klausul khusus di kontrak: dalam waktu satu tahun, peternakanmu wajib membiakkan minimal lima puluh ekor sapi Wagyu Kobe murni. Kalau kau gagal memenuhi kuota itu, syarat wajib memborong daging dari pihakku otomatis hangus!"
Banyu mengalkulasi target tersebut dengan cepat di dalam kepalanya, lalu mengacungkan tiga jarinya ke arah Chef Gordon. "Tiga puluh ekor. Dalam tahun pertama, aku cuma berani garansi pembiakan tiga puluh ekor. Tapi dalam kurun waktu dua tahun, jumlahnya pasti akan menembus minimal lima puluh!"
Sebenarnya, target angka itu hanyalah formalitas. Yang diinginkan Chef Gordon hanyalah jaminan hitam di atas putih bahwa Banyu benar-benar akan memasok Wagyu Kobe asli. Entah jumlahnya lima puluh atau tiga puluh di tahun pertama, itu bukan masalah esensial. Ia pun langsung menjabat tangan Banyu tanda sepakat.
Berhasil mengamankan kesepakatan emas dengan Chef Gordon tentu saja membuat Banyu kegirangan. Sambil tersenyum lebar ia berkata, "Karena roda operasional peternakan ini sudah mulai berjalan lancar, aku berencana untuk pulang ke Indonesia beberapa hari lagi. Setelah tiba di tanah air, aku dan pengacaraku akan menyusun draf kontrak detailnya, lalu akan kufaks kepadamu untuk ditinjau."
Karena poin-poin krusialnya sudah disepakati bersama, Chef Gordon merespons dengan mantap. "Beres!"
Sementara Banyu dan Chef Gordon sedang saling melempar senyum merayakan kemitraan bisnis mereka yang semakin kuat, senyum di wajah cantik Jessica mendadak layu saat mendengar Banyu akan segera pulang. Meski logikanya sudah tahu sejak awal bahwa pria Asia itu mustahil menetap selamanya di Amerika dan cepat atau lambat harus pulang ke negeranya, tetap saja... saat mengetahui momen perpisahan itu sudah menghitung hari, kabut kesedihan langsung mencekik dadanya.
Chef Gordon sama sekali tidak menyadari perubahan mood drastis Jessica. Sebagai koki yang kesehariannya tenggelam dalam penatnya hutan beton kota metropolis, kunjungan ke pedesaan asri seperti ini merupakan oase yang sangat menyegarkan baginya. Karena urusan bisnisnya dengan Banyu sudah clear, sisi playful koki ini pun keluar. Sambil tertawa ringan ia berkata pada Banyu, "Aku mau berkeliling naik kuda memutari peternakan sendirian. Kalian tidak usah menemaniku lagi, aku ingin mencari sedikit inspirasi dalam ketenangan."
Banyu tahu betul bahwa orang bule sangat memuja kebebasan dan privasi, jadi ia tentu saja tidak akan memaksakan diri menjadi pemandu wisata yang mengganggu. Ia mempersilakan koki itu dengan gestur yang sopan. Sang koki pemarah pun mengapit perut kudanya dan memacu tunggangannya menjauh, menyisakan Banyu dan Jessica yang kini berjalan beriringan di atas pelana.
Terlihat jelas sedang memendam sesuatu yang berat di dalam hatinya, Jessica hanya menatap kosong ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suasana hening yang canggung mengiringi langkah kuda mereka cukup lama, hingga akhirnya gadis Amerika itu membulatkan tekad dan menoleh menatap Banyu lekat-lekat.
"Kau ada waktu kosong sekarang? Ada hal... hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan denganmu!"