NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMUNGUTAN SUARA BERDARAH (1)

Hari Senin yang menentukan akhirnya tiba. Langit di atas ibu kota tampak mendung, tertutup oleh lapisan awan kelabu tebal yang menahan terik matahari, menciptakan atmosfer yang dingin dan menekan di seluruh kompleks SMA Nusantara Jaya. Hari ini bukan lagi sekadar hari pemilihan Ketua OSIS biasa; hari ini adalah hari penghakiman bagi dinasti kekuasaan yang telah mengakar selama bertahun-tahun.

Sejak pukul tujuh pagi, Aula Utama telah diubah menjadi Tempat Pemungutan Suara (TPS) digital. Belasan bilik suara dengan layar sentuh berjejer rapi di tengah ruangan.

Namun, perhatian seluruh murid tidak tertuju pada bilik suara, melainkan pada kehadiran dua kandidat utama yang kini telah menempati kursi tunggu VIP di depan panggung.

Devan Narendra duduk dengan santai, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain. Setelan seragamnya sangat rapi, dan plester di sudut bibirnya kini telah dilepas, menyisakan bekas luka tipis yang justru menambah kesan misterius pada wajah tampannya. Di kantong blazernya, tersimpan salinan dokumen kontrak Narendra Foundation yang telah ia tinggalkan di ruko Kayla kemarin. Ia menatap ke depan dengan keyakinan mutlak seorang pemenang.

Beberapa meter di sebelahnya, duduk Alvaro Pramudya.

Kehadiran Alvaro pagi ini mengejutkan banyak pihak yang mengira ia akan absen atau mengundurkan diri pasca-skandal debat. Alvaro datang dengan aura yang benar-benar berbeda. Wajahnya sangat pucat, sepasang mata hitamnya cekung karena kurang tidur, namun tatapannya luar biasa dingin dan lurus ke depan. Tidak ada lagi sirkel kemewahan yang mengelilinginya; bahkan Rafael dan Galang pun duduk beberapa baris di belakangnya, memberikan ruang bagi sang pangeran yang kini memilih untuk bertarung sendirian dalam kesunyiannya.

Tepat pukul delapan pagi, Kayla Shaqueena melangkah masuk ke dalam aula.

Langkah kaki Kayla terasa sangat berat, seolah setiap senti keramik yang dipijaknya terbuat dari timah. Wajah manisnya pucat tanpa ekspresi, dan sepasang mata bulatnya menatap kosong ke arah deretan bilik suara. Di dalam tas kainnya, map dokumen hitam dari Devan tersimpan rapi. Sepanjang malam kemarin, Kayla dihadapkan pada pilihan paling kejam dalam hidupnya: menandatangani kontrak itu dan menjadi budak hukum keluarga Narendra, atau menolaknya dan membiarkan keluarganya dihancurkan oleh Sofia Pramudya.

Saat Kayla berjalan melewati barisan kursi VIP, pandangan matanya tidak sengaja berpapasan dengan Alvaro.

Cowok itu menatapnya. Tidak ada amarah atau dendam di mata Alvaro; yang ada hanyalah sebuah tatapan pasrah yang teramat dalam, seolah ia sudah siap menerima apa pun keputusan yang akan diambil oleh gadis yang telah meruntuhkan dunianya itu. Alvaro kemudian membuang muka, mengepalkan tangannya di atas lutut untuk menyembunyikan getaran di jarinya.

Kayla mengalihkan pandangan ke arah Devan. Pemuda Narendra itu memberikan seulas senyuman tipis yang sarat akan tuntutan, menatap Kayla seolah sedang menagih janji atas tanda tangan di atas kontrak emas tersebut.

"Kayla, giliranmu untuk memberikan suara dan naik ke podium untuk memberikan pidato pembuka sebagai juru kampanye utama," bisik salah satu panitia OSIS, menyenggol bahu Kayla lembut.

Sesuai aturan hari pemungutan suara, perwakilan juru kampanye masing-masing kubu diberikan waktu dua menit di atas podium utama untuk memberikan pernyataan final sebelum penghitungan suara digital dimulai.

Kayla menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan sesak yang kian menghimpit dadanya. Ia melangkah menaiki anak tangga panggung utama, berdiri di balik mikrofon yang dingin. Di bawah panggung, ribuan pasang mata murid SMA Nusantara Jaya menatapnya dengan penuh antisipasi, menanti kalimat apa yang akan dilontarkan oleh sang anak beasiswa yang telah berhasil memecah belah *The Elite Four*.

Kayla mencengkeram sisi podium, mendekatkan bibirnya ke mikrofon. Matanya melirik ke arah Devan yang menatapnya penuh kemenangan, lalu beralih ke arah Alvaro yang tertunduk diam.

Di dalam benaknya, sebuah keputusan nekat yang di luar skenario kedua keluarga kaya itu telah matang. Sang rumput liar menolak untuk diikat oleh rantai emas mana pun; ia memilih untuk membakar seluruh papan catur ini dengan keberaniannya sendiri.

---

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!