Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPECIAL SEASON EPISODE 2: KEMBALINYA SANG PEMANGSA (PART A)
Malam setelah konfrontasi di warung tenda pecel lele itu menyisakan keheningan yang panjang dan menyesakkan di dalam kabin mobil angkutan umum yang membawa Kayla pulang. Di sebelahnya, Alvaro duduk membisu dengan tatapan lurus menatap jalanan malam Jakarta yang basah oleh sisa hujan. Tangannya terkepal kuat di atas lutut, urat-uratnya masih menonjol—sisa dari amarah dan rasa tidak berdaya yang berkecamuk di dalam dadanya.
Begitu sampai di depan ruko laundry, Alvaro menahan langkah Kayla dengan memegang pergelangan tangannya lembut.
"Kayla," panggil Alvaro, suaranya terdengar berat dan serak. "Aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu sekarang. Tolong... jangan pernah berpikir untuk mendatangi Devan."
Kayla menoleh, menatap sepasang mata hitam Alvaro yang kini dipenuhi kecemasan yang teramat sangat. "Al, kondisi Papa memburuk. Dokter bilang obat-obatan di sini sudah tidak terlalu responsif. Terapi di Singapura itu... biayanya ratusan juta."
"Aku akan mencarinya!" potong Alvaro cepat, mencengkeram kedua bahu Kayla dengan tatapan memohon. "A-Logistics sedang berkembang, Kayla. Aku akan mengambil sif malam untuk pengiriman, aku akan melobi lebih banyak klien. Aku bersumpah akan mengumpulkan uang itu dengan keringatku sendiri. Hanya saja... jangan biarkan bajingan itu membeli kehormatan kita lagi."
Kayla menatap Alvaro dengan mata yang berkaca-kaca. Ia melihat ketulusan yang luar biasa di sana, namun ia juga melihat realitas yang kejam. Penyakit ayahnya adalah bom waktu yang tidak akan menunggu bisnis rintisan Alvaro sukses. Namun malam itu, Kayla memilih mengangguk dan memeluk tegap tubuh Alvaro, mencoba menyalurkan ketenangan yang semu.
---
Keesokan harinya, Senin pagi di kantor pusat *Narendra Tech*, Sudirman.
Gedung pencakar langit berlantai lima puluh itu memancarkan aura kekuasaan mutlak. Di lantai eksekutif, Devan Narendra berdiri di balik dinding kaca raksasanya, menyesap kopi hitam tanpa gula. Di atas meja kerjanya yang minimalis, layar gawai menampilkan profil lengkap *A-Logistics*, termasuk data keuangan dan daftar klien kecil yang berhasil dikumpulkan Alvaro selama setahun terakhir.
*Tok, tok.*
Valerie melangkah masuk dengan setelan blazer abu-abu yang tajam. Langkah kaki dari sepatu hak tingginya terdengar tegas di atas lantai marmer.
"Semua sudah siap, Sir," lapor Valerie, menyerahkan sebuah tablet digital kepada Devan. "Tim analis kita sudah memetakan rute distribusi utama A-Logistics. Klien terbesar mereka saat ini adalah *Artha Tekstil* di kawasan industri Tangerang. Mereka menyumbang enam puluh persen dari arus kas masuk perusahaan Alvaro."
Devan menerima tablet tersebut, menggeser layarnya dengan ibu jari, lalu tersenyum tipis—senyuman dingin seorang predator yang telah mengunci targetnya.
"Hubungi jajaran direksi Artha Tekstil," perintah Devan, suaranya halus namun sarat akan otoritas yang mematikan. "Tawarkan mereka kontrak eksklusif sistem logistik terintegrasi berbasis AI dari Narendra Tech dengan diskon empat puluh persen untuk tahun pertama. Tambahkan klausul bahwa mereka harus memutuskan semua kemitraan dengan vendor logistik lokal non-digital per minggu ini."
Valerie menaikkan sebelah alisnya, mengagumi taktik kejam bos mudanya. "Itu berarti kita akan memotong jalur napas utama A-Logistics secara instan. Mereka bisa bangkrut dalam waktu kurang dari sebulan."
"Alvaro perlu diingatkan kembali tentang posisinya di dunia ini, Valerie," sahut Devan, memutar kursi kerjanya dan menatap pemandangan kota dari ketinggian. "Di Nusantara Jaya dulu, dia bisa menang karena aku melepaskan takhtaku secara sukarela. Tapi di dunia bisnis nyata... dia bukan siapa-siapa tanpa nama Pramudya."
---
Sementara itu, di sebuah rumah sakit daerah, Kayla berdiri di balik kaca ruang perawatan intensif. Di dalam sana, ayahnya tampak terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang di hidung, dadanya naik turun dengan berat.
Dokter spesialis yang menangani ayahnya berjalan mendekat sambil membawa papan rekam medis.
"Nona Kayla, saya harus jujur mengenai kondisi finansial dan medis saat ini," ujar dokter itu dengan nada prihatin. "Obat penahan cairan di paru-paru ayah Anda harus diganti dengan dosis impor yang tidak ditanggung oleh penjamin kesehatan standar. Jika dalam waktu dua minggu tidak ada tindakan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap di luar negeri, saya khawatir kerusakannya akan menjadi permanen."
Kata-kata dokter itu bagaikan petir di siang bolong bagi Kayla. Tubuhnya mendadak lemas, bersandar pada dinding lorong rumah sakit yang dingin.
Ia merogoh saku tasnya, mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat ia kenal, nomor yang sengaja tidak ia hapus sebagai pengingat akan bahaya.
**[Devan Narendra]:** *Kontrak sebagai Associate Manager di Narendra Tech masih ada di mejaku, Kayla. Mobil jemputan medis untuk ayahmu sudah bersiap di bandara Halim jika kamu menandatanganinya sebelum jam lima sore ini. Keputusan ada di tanganmu.*
Kayla menatap layar ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Di satu sisi, ada harga diri dan cinta tulus dari Alvaro yang sedang berjuang di lumpur kemiskinan. Di sisi lain, ada nyawa ayahnya yang sedang dipertaruhkan di atas ranjang rumah sakit. Sang rumput liar kini benar-benar kembali terjebak di dalam sangkar emas yang sengaja dirancang oleh sang pemangsa yang telah kembali.
---
Bersambung