.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERINTAH
Meratapi nasib adalah kegiatan Ji Huang berikutnya setelah kepergian Lin Yue’er. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi bambu dengan pandangan kosong menatap langit sore, merasa bahwa kehidupan fana ini ternyata tidak sesederhana yang dia bayangkan.
"Dunia fana ini aneh," gerutu Ji Huang sambil melempar kulit kuaci terakhirnya dengan lesu. "Di Dunia Dewa, kalau aku bersikap cuek, orang-orang akan mengira aku sedang merapal kutukan mati lalu mereka kabur ketakutan. Kenapa di sini wanita cantik malah ingin sering berkunjung? Benar-benar membuat pusing."
Tepat ketika Ji Huang sedang mempertimbangkan untuk pindah posisi tidur ke dalam kamarnya yang miring, ketenangan yang dia dambakan kembali hancur berkeping-keping. Dari arah halaman depan yang terbuka lebar tanpa gerbang, terdengar suara tiupan terompet perunggu yang nyaring dan berwibawa, diikuti oleh ketukan tongkat kayu yang berirama.
TOK! TOK! TOK!
"Titah Agung Kekaisaran Nan Gong telah tiba! Kepala Keluarga Ji dan seluruh jajarannya, harap segera bersujud menerima perintah!"
Suara melengking khas seorang kasim istana menggema di seluruh kediaman. Mendengar suara itu, Ji Zhen yang sedang berada di ruang kerja logistik langsung berlari keluar dengan wajah pucat pasi. Para pelayan dan penjaga rumah dengan panik langsung berlutut di atas ubin batu halaman, dahi mereka menempel rapat ke tanah.
Seorang kasim paruh baya dengan jubah sutra ungu bersulam benang emas melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Di kedua tangannya, dia memegang sebuah gulungan kain sutra kuning cerah yang memancarkan segel energi naga kekaisaran yang tipis. Di belakang kasim itu, berdiri empat orang pengawal lapis baja berat kekaisaran dengan tombak panjang yang berkilauan.
Ji Zhen berlutut di paling depan, tubuhnya gemetaran. "Ji Zhen, Kepala Logistik Rendahan, siap menerima titah Yang Mulia Kaisar!"
Di teras, Ji Huang hanya duduk tegak, sama sekali tidak berniat turun dari kursi bambunya, apalagi bersujud. Dia menatap kasim berbaju ungu itu dengan mata sayu penuh rasa bosan. Baginya, Kaisar fana tidak lebih dari sekadar pemimpin sekelompok semut besar. Bersujud kepadanya? Jangankan kaisar fana, Kaisar Langit di Ranah Dewa Sembilan saja harus berpikir tiga kali sebelum berani meminta Ji Huang menganggukkan kepala.
Kasim itu melirik Ji Huang dengan dahi berkerut, merasa tersinggung melihat kelancangan Tuan Muda Keluarga Ji. Namun, mengingat rumor mengerikan tentang "Pendekar Ranting Pohon" yang beredar di kota sejak tadi pagi, kasim itu menahan amarahnya dan segera membuka gulungan titah tersebut.
"Berdasarkan dekret suci Yang Mulia Kaisar Nan Gong!" kasim itu membacakan dengan suara melengking. "Keluarga Ji sebagai pengelola logistik utama diperintahkan untuk mengawal pengiriman barang pusaka tahunan—berupa batu spiritual murni dan tanaman obat tingkat tinggi—menuju Ibu Kota Utama. Tugas pengawalan ini bersifat mutlak dan harus dipimpin langsung oleh Kepala Keluarga Ji beserta Tuan Muda Ji Huang. Keberangkatan dijadwalkan besok subuh tanpa penundaan!"
Setelah selesai membacakan, kasim itu menutup gulungan titah dan menyerahkannya kepada Ji Zhen yang menerimanya dengan tangan gemetar hebat.
"Hamba... menerima titah Yang Mulia," suara Ji Zhen terdengar lemas seolah seluruh energinya baru saja disedot habis.
Kasim berbaju ungu itu memberikan tatapan penuh arti kepada Ji Huang sebelum akhirnya berbalik bersama para pengawalnya, melangkah pergi meninggalkan kediaman Ji dengan keangkuhan yang sama saat mereka datang.
Setelah rombongan istana lenyap, Ji Zhen bangkit berdiri dengan langkah gontai. Dia menatap gulungan sutra kuning di tangannya dengan ekspresi wajah yang penuh keputusasaan, lalu menengok ke arah anaknya yang masih asyik selonjoran di kursi bambu.
"Huang'er... kita habis. Keluarga Ji kita benar-benar dalam bahaya besar," Ji Zhen mendesah panjang, bahunya merosot lesu.
Ji Huang meneguk sisa arak berasnya sampai tetes terakhir. "Ayah, bukankah mengantar logistik itu tugas biasa bagi keluarga kita? Kenapa wajahmu seperti orang yang baru saja dipaksa memakan pil obat pahit?"
Ji Zhen melangkah mendekati teras kamar anaknya, suaranya merendah menjadi bisikan penuh kecemasan. "Kamu tidak mengerti, Nak! Pengiriman barang pusaka tahunan ke Ibu Kota memang tugas kita, tapi biasanya kita hanya mengurus administrasinya, sedangkan pengawalan fisik dilakukan oleh pasukan militer kekaisaran! Mengapa tahun ini nama kita, bahkan namamu, ditulis secara khusus di dalam titah kaisar?"
Ji Zhen mengepalkan tangannya. "Ini adalah konspirasi! Klan-klan besar di Ibu Kota, terutama klan pembela Keluarga Wang dan faksi militer, pasti telah menghasut pejabat istana untuk memberikan tugas ini kepada kita. Mereka ingin menguji kekuatanmu! Jalur menuju Ibu Kota melewati Lembah Angin Hitam yang dirumorkan sedang dikuasai oleh sekte pemberontak dan bandit kultivator. Mereka sengaja ingin menggunakan tangan para bandit itu untuk menghabisi kita, atau memaksa kamu menunjukkan 'kekuatan tersembunyi' yang kamu miliki!"
Ji Zhen menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. "Huang'er, jika kita menolak, kita akan dihukum karena membangkang titah kaisar. Jika kita pergi, kita akan menghadapi bahaya maut di perjalanan. Bagaimana ini?"
Ji Huang mendengarkan pidato panjang lebar ayahnya dengan ekspresi wajah yang sangat datar. Otaknya yang jenius sekaligus malas langsung memproses informasi tersebut.
Perjalanan jauh? Mengawal barang berat? Berjalan kaki atau naik kereta kuda yang berguncang-guncang selama berhari-hari? Memikirkannya saja sudah membuat seluruh sendi di tubuh fana Ji Huang terasa pegal dan linu.
"Aku menolak," kata Ji Huang dengan sangat tegas sambil melambaikan tangan tidurnya. "Bilang saja pada kaisar itu kalau aku sedang menderita penyakit malas akut stadium akhir yang tidak bisa disembuhkan. Perjalanan jauh itu merusak kualitas rebahanku, Ayah. Aku tidak mau pergi."
Ji Zhen hampir saja menangis mendengar jawaban konyol anaknya. "Huang'er! Ini titah kaisar! Menolak berarti seluruh klan kita akan dieksekusi!"
Ji Huang menghela napas, bersiap untuk meraba esensi jiwanya demi menghancurkan istana kaisar dari jarak jauh agar titah itu dibatalkan secara alami—sebuah solusi ekstrem yang biasa dilakukan para dewa malas. Namun, tepat saat dia akan menutup mata, Xiao Cui yang sedang membersihkan meja kamar mendadak bergumam kecil.
"Tuan Muda... tapi saya dengar dari pelayan tetangga, di Ibu Kota Utama sedang diadakan Festival Kuliner Seratus Tahunan Kekaisaran. Di sana ada bebek panggang madu yang kulitnya sangat renyah, kue beras gulung mentega, dan... arak nektar dewa yang rasanya manis sekali."
Gerakan tangan Ji Huang yang sedang menggaruk perut langsung terhenti seketika. Telinganya menegak tajam mendengar kata 'bebek panggang madu' dan 'arak manis'.
Xiao Cui melanjutkan dengan polos, "Dan karena Ibu Kota adalah tempat paling kaya, semua penginapan di sana menggunakan kasur yang terbuat dari bulu angsa salju murni setebal tiga jengkal. Konon, kalau tidur di atasnya, tubuh rasanya seperti melayang di atas awan."
Bulu angsa salju? Setebal tiga jengkal? Seperti melayang di atas awan?!
Mata sayu Ji Huang mendadak terbuka lebar, memancarkan kilatan binar yang bahkan lebih terang daripada saat dia mengalahkan Penatua Huo kemarin sore. Air liur fananya hampir saja menetes memikirkan kombinasi antara bebek panggang renyah dan kasur bulu angsa yang empuk.
Ji Huang langsung menegakkan punggungnya, melompat turun dari kursi bambunya dengan gerakan yang sangat tangkas—sebuah keajaiban bagi kaum rebahan. Dia menepuk pundak ayahnya dengan wajah yang mendadak penuh dengan tekad kepahlawanan yang dibuat-buat.
"Ayah! Setelah kupikir-pikir kembali dengan saksama, sebagai warga negara Kekaisaran Nan Gong yang baik dan tampan, kita tidak boleh mengecewakan Yang Mulia Kaisar!" kata Ji Huang dengan nada suara yang berwibawa, meskipun matanya melirik ke arah nampan makanan kosong.
Ji Zhen melongo melihat perubahan drastis anaknya. "Eh? Huang'er, tapi perjalanan itu sangat berbahaya—"
"Bahaya apa? Cuma sekelompok bandit kecil yang mengganggu waktu makan siang," Ji Huang melambaikan tangannya dengan sangat acuh tak acuh, kembali ke mode watadosnya yang konyol. "Ayah jangan cemas. Siapkan kereta kuda yang paling besar, taruh kasur paling empuk di dalamnya, dan pastikan camilanku cukup selama perjalanan. Besok subuh, kita berangkat ke Ibu Kota! Demi bebek panggang... maksudku, demi kejayaan klan Ji kita!"
Ji Zhen hanya bisa berdiri terpaku di teras, menatap anaknya yang kini berjalan masuk ke kamar dengan langkah ceria sambil bersenandung kecil tentang makanan enak. Sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah, bener-bener bingung apakah dia harus merasa tenang karena anaknya bersedia ikut, atau harus merasa takut karena motif utama anaknya mempertaruhkan nyawa klan mereka hanyalah demi sebuah kasur empuk dan sepiring bebek panggang.