NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang

Angin malam biasanya membawa hawa gerah yang menyesakkan, namun di balkon apartemen itu, Arka merasa seolah oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Di tangannya, sebuah amplop cokelat dengan kop surat firma hukum ternama tampak seperti belati yang siap mengoyak ketenangan yang baru saja ia bangun.

Arka membaca baris demi baris surat itu dengan napas yang memburu.

"Pengampunan medis?" Arka mendesis, suaranya parau oleh amarah yang tiba-tiba meluap. "Kesehatan mental yang memburuk? Setelah apa yang dia lakukan pada Alya? Pada Arsenio?"

Pintu kaca di belakangnya bergeser pelan. Suara nyanyian kecil terdengar dari dalam kamar—sebuah ninabobo lembut yang biasa Alya nyanyikan untuk menidurkan putra mereka.

"Bintang kecil... di langit yang tinggi..."

Arka menoleh. Melalui kaca, ia melihat Alya sedang menimang Arsenio yang sudah terlelap. Wajah istrinya begitu tenang, jauh dari bayang-bayang trauma yang selama ini menghantui mereka. Sinar lampu tidur yang temaram memberikan rona hangat pada pipi Alya.

Arka menunduk, menatap kembali surat di tangannya. Jari-jarinya gemetar, ingin rasanya ia menelepon pengacaranya sekarang juga, mengerahkan seluruh koneksi bisnisnya untuk memastikan Ratna membusuk di sel tanpa celah sedikit pun untuk menghirup udara bebas.

Namun, ia kembali menatap Alya.

Srak!

Suara kertas robek memecah kesunyian malam. Arka merobek surat itu menjadi potongan-potongan kecil, membiarkannya jatuh ke lantai balkon.

"Biarkan hukum yang bekerja," gumam Arka pada dirinya sendiri, rahangnya yang semula mengeras perlahan melonggar. "Aku tidak akan turun tangan lagi untuk membalas dendam. Aku tidak akan membiarkan wanita itu mencuri satu detik pun dari kebahagiaan kami lagi."

Arka menarik napas panjang, membuangnya perlahan, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.

Alya mendongak saat Arka menutup pintu kaca. Ia meletakkan Arsenio dengan hati-hati ke dalam boks bayi, lalu menghampiri suaminya. Ia bisa melihat sisa-sisa ketegangan di pundak Arka.

"Surat itu dari siapa, Mas?" tanya Alya lembut.

Arka sempat terdiam sejenak sebelum menjawab, "Pengacara Ratna. Dia mencoba mengajukan permohonan pengampunan medis. Katanya mentalnya tidak stabil."

Alya tertegun. Matanya mencari-cari kejujuran di mata Arka. "Lalu? Apa yang akan kamu lakukan?"

"Tidak ada," jawab Arka singkat. Ia meraih tangan Alya, menggenggamnya erat seolah takut kehilangan pegangan. "Aku sudah merobeknya. Aku menyerahkan semuanya pada proses hukum yang berlaku. Aku tidak akan mengejarnya, tidak akan membalasnya secara pribadi. Aku lelah, Al. Aku ingin kita tenang."

Mata Alya berkaca-kaca. Ia menyandarkan kepalanya di dada Arka, menghirup aroma parfum suaminya yang menenangkan.

"Terima kasih," bisik Alya. "Terima kasih karena telah memilih untuk tenang. Kamu tidak tahu betapa berartinya ini bagiku."

"Kenapa?"

"Karena kalau kamu terus menyimpan api itu, kamu juga akan ikut terbakar, Mas. Aku tidak ingin suamiku menjadi orang yang penuh kebencian. Aku ingin kamu yang sekarang. Yang ada di sini, bersamaku dan Arsenio."

Arka mengecup puncak kepala Alya. "Aku berjanji. Bayang-bayang itu sudah memudar. Aku tidak akan membiarkannya kembali."

Mereka berdiri dalam keheningan selama beberapa saat, hanya ditemani suara napas teratur Arsenio dari boksnya. Tiba-tiba, Alya melepaskan pelukannya dan menatap Arka dengan senyum kecil yang misterius.

"Mas..."

"Ya?"

"Malam ini... sepertinya udaranya sangat dingin di luar, ya?"

Arka mengernyitkan dahi, bingung dengan perubahan topik yang tiba-tiba. "Lumayan. Kenapa? Kamu kedinginan?"

Alya menggeleng. Ia berjalan menuju lemari, mengeluarkan sebuah bantal ekstra dan selimut tebal. Arka sudah bersiap untuk mengambil barang-barang itu untuk dibawa ke ruang tengah—tempat biasanya ia menghabiskan malam sejak mereka kembali tinggal bersama.

"Biar aku bawa ke luar, Al," kata Arka sambil mengulurkan tangan.

Namun, Alya justru meletakkan bantal itu di atas sofa kecil yang terletak di sudut kamar mereka. Sofa itu sebenarnya hanya sofa hias, tidak terlalu panjang, tapi cukup empuk.

Arka mematung. "Al? Ini..."

"Malam ini, jangan tidur di ruang tengah," kata Alya pelan, wajahnya sedikit merona merah di bawah lampu temaram. "Tidurlah di sini. Di kamar ini."

Jantung Arka seolah berhenti berdetak sesaat. "Maksudmu... di sofa itu?"

Alya mengangguk kecil. "Iya, di sofa itu. Tapi setidaknya kita berada di ruangan yang sama. Aku... aku merasa lebih aman jika tahu kamu hanya berjarak beberapa langkah dariku."

Arka tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Baginya, ini adalah kemajuan besar. Ini adalah tanda kepercayaan yang selama ini ia perjuangkan dengan penuh kesabaran.

"Sofa itu terlihat sangat mewah malam ini," canda Arka, mencoba mencairkan suasana.

Alya tertawa kecil. "Maaf ya, Mas. Belum bisa di tempat tidur yang sama. Aku masih... butuh waktu."

Arka melangkah mendekat, membelai pipi Alya dengan punggung jarinya. "Al, dengar. Kamu memberiku izin untuk tidur di lantai kamar ini saja aku sudah bersyukur luar biasa. Sofa ini? Ini seperti upgrade hotel bintang lima bagiku."

"Gombal," desis Alya, meski ia tidak bisa menahan senyumnya.

"Aku serius. Terima kasih, Al. Terima kasih sudah memberiku kesempatan."

"Sama-sama. Sekarang ganti bajumu, lalu tidurlah. Kamu ada rapat pagi besok, kan?"

"Tahu dari mana?"

"Aku melihat jadwalmu di meja kerja tadi siang. Aku tidak sengaja," aku Alya.

Arka terkekeh. "Senang rasanya ada yang memperhatikanku lagi."

Arka segera berganti pakaian dengan kaos santai dan celana kain. Sementara itu, Alya merapikan selimut di sofa kecil itu. Meski kaki Arka nantinya pasti akan sedikit menggantung karena sofa yang pendek, ia sama sekali tidak peduli.

Saat Arka merebahkan tubuhnya, ia merasa hatinya begitu penuh. Dari posisi sofanya, ia bisa melihat boks bayi Arsenio dan juga tempat tidur Alya.

"Mas?" panggil Alya setelah ia mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang redup.

"Ya, Al?"

"Apa kamu nyaman di situ?"

"Sangat nyaman. Lebih nyaman daripada kasur mana pun di dunia ini."

"Kalau butuh apa-apa, bilang ya."

"Aku hanya butuh kamu tetap di situ, Al. Tetaplah bahagia."

Hening kembali menyelimuti kamar itu. Namun, itu bukan keheningan yang canggung atau penuh luka seperti bulan-bulan sebelumnya. Ini adalah keheningan yang penuh dengan harapan.

"Selamat malam, Mas Arka," suara Alya terdengar lirih, hampir seperti bisikan sebelum tidur.

"Selamat malam, Alya. Selamat tidur."

Arka memejamkan matanya. Ia tahu, perjuangannya belum sepenuhnya selesai. Luka masa lalu tidak akan sembuh dalam semalam. Namun, malam ini, dengan suara napas Alya dan Arsenio yang berada dalam jangkauan pendengarannya, Arka tahu bahwa bayang-bayang masa lalu benar-benar telah memudar.

Ia tidak lagi memikirkan surat dari pengacara Ratna. Ia tidak lagi memikirkan dendam namun rasa yang kalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!