NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 1 : Rencana sukses sang putri

Keheningan yang mencekam menyelimuti gerbang utama Kastil La’ Mortine. Hanya suara deru angin utara yang menusuk tulang dan derap kaki kuda yang sesekali meringkik gelisah.

Celestine masih berada dalam dekapan George. Jantungnya berdegup kencang bukan karena rasa takut akan terjatuh, melainkan karena intensitas pria yang kini menopang tubuhnya. George Augustine de La’ Mortine tidak seperti pria manapun di Kerajaan Valley.

Aroma tubuhnya bukan wangi lavender atau kayu cendana yang mahal tapi berbeda dengan George ia berbau hujan, logam dingin, dan sesuatu yang tajam seperti bau belerang sisa sihir.

"Lepaskan aku," bisik Celestine, mencoba mengembalikan martabatnya sebagai seorang putri meski wajahnya masih memerah.

George tidak langsung melepaskannya. Matanya yang berwarna kelabu badai melirik ke arah kaki Celestine yang hanya terbungkus kaus kaki sutra tipis. Sepatu hak tingginya sepatu dari kristal yang dipesan khusus dari pengrajin terbaik Valley tergeletak malang di tangga kereta kuda.

"Kau datang ke tempat yang salah jika ingin berdansa, Tuan Putri," kata George dingin. Ia menegakkan tubuh Celestine dengan satu sentakan kuat, lalu mundur selangkah, menjaga jarak yang kaku.

"Aku datang sebagai utusan resmi Putra Mahkota Theodore, Tuan Muda George," balas Celestine, mencoba berdiri tegak meski sebelah kakinya terasa membeku menyentuh lantai batu yang tertutup salju tipis. "Sopan santun sepertinya adalah barang langka di perbatasan ini."

George hanya menatapnya datar. Ia mengenakan jubah hitam berat dengan pelindung bahu perak yang tergores di sana-sini tanda bahwa ia baru saja kembali dari pertempuran. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang panjang dengan hulu berwarna hitam pekat yang tampak memancarkan aura dingin.

"Sopan santun tidak bisa membunuh monster yang mencoba memanjat dinding kastil ini setiap malam," jawab George. Ia berbalik badan, jubahnya berkibar dramatis. "Ikuti aku. Ayahku, sang Marquess, sudah menunggumu. Jika kau bisa berjalan dengan satu kaki, tentu saja."

Celestine menggertak gigi. Ia menolak untuk terlihat lemah. Dengan kepala terangkat tinggi, ia mengambil sepatunya yang tertinggal, memakainya kembali dengan jari yang gemetar karena dingin, dan melangkah mengikuti George masuk ke dalam kastil.

Interior kastil itu jauh dari kata mewah. Dindingnya terbuat dari batu granit kasar, dihiasi dengan kepala monster-monster hutan yang diawetkan dan bendera perang yang sudah usang. Tidak ada karpet merah, hanya obor yang menyala dengan api biru yang aneh.

"Itu sihir?" tanya Celestine, menunjuk ke arah obor yang apinya tidak bergerak meski tertiup angin.

"Sihir pelacak," sahut George tanpa menoleh. "Jika ada penyusup dengan niat membunuh masuk ke kastil ini, api itu akan berubah menjadi merah darah."

Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil terdengar dari koridor samping. Asap hitam mengepul, dan seorang prajurit berlari keluar dengan pakaian yang setengah terbakar.

"Tuan Muda! Segel di gerbang barat retak! Makhluk-makhluk itu menggunakan sihir hitam untuk menembus pertahanan!" teriak prajurit itu panik.

George berhenti melangkah. Atmosfer di sekitar pria itu berubah seketika. Celestine merasakan tekanan udara yang berat, seolah oksigen di ruangan itu baru saja tersedot habis. George memejamkan mata sejenak, lalu tangan kanannya mulai berpendar dengan cahaya biru yang menyilaukan.

"Tetap di tempatmu, Putri," perintah George. Suaranya kini bukan lagi suara seorang bangsawan, melainkan seorang komandan perang.

Dalam satu gerakan cepat yang hampir tak terlihat mata, George mencabut pedangnya. Ia merapal mantra dalam bahasa kuno yang belum pernah didengar Celestine. Seketika, ujung pedangnya diselimuti api es yang berkobar. Ia mengayunkan pedang itu ke arah udara kosong, dan sebuah portal sihir terbuka di depannya.

Celestine terpaku. Ia melihat George melompat masuk ke dalam portal itu, menuju medan pertempuran yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Melalui celah portal, Celestine melihat kegelapan luar biasa ribuan mahluk bayangan yang mencoba masuk, dan George berdiri di sana seorang diri memenggal kepala mahluk pertama yang mendekat dengan satu tebasan sihir yang menciptakan ledakan kristal es di udara.

Itu adalah pemandangan yang mengerikan, berdarah, namun... sangat indah bagi Celestine.

"Itu dia," bisik Celestine pada dirinya sendiri, mengabaikan rasa dingin yang menggigit kulitnya. "Pria yang bisa menciptakan keajaiban di tengah pembantaian."

Pria gagah itu, akan menjadi calon suaminya.

Namun, kekaguman Celestine terputus saat ia menyadari sesuatu. Salah satu mahluk bayangan berhasil menyelinap melewati George dan kini merayap di langit-langit koridor kastil, tepat di atas kepala Celestine, dengan mata merah yang haus darah.

Celestine Jour’ Vallery, yang bahkan tidak pernah memegang pisau dapur, kini harus berhadapan dengan kematian pertamanya di tanah Heavenorth.

Makhluk itu menjatuhkan diri dari langit-langit dengan suara desisan yang memekakkan telinga. Celestine membeku. Otaknya memerintahkan untuk lari, namun kakinya seolah tertanam di lantai batu yang dingin. Jubah birunya yang indah terasa sangat berat, mencekiknya dalam ketidakberdayaan.

Cakar hitam makhluk itu terangkat, siap merobek gaun sutra dan kulit di bawahnya.

*Srak!*

Bukan rasa sakit yang dirasakan Celestine, melainkan hembusan angin dingin yang amat tajam. Dalam sekejap mata, sebuah belati perak melesat tepat di depan wajah sang Putri, menancap di leher makhluk bayangan itu hingga tubuhnya terpaku ke dinding batu.

"Jangan hanya berdiri di sana seperti patung pajangan, perketat penjagaan Tuan Putri!" suara George menggelegar dari balik portal yang masih terbuka.

George melangkah keluar dari portal dengan napas yang tenang, kontras dengan kekacauan yang baru saja ia selesaikan di gerbang barat. Pedangnya masih mengeluarkan uap es. Ia berjalan mendekat, mencabut belatinya dari bangkai makhluk yang kini berubah menjadi abu hitam, lalu menyimpannya kembali ke sarung di balik jubahnya.

Celestine terengah-engah, tangannya mencengkeram erat kain gaunnya yang sedikit terkena debu abu. "Aku... aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini."

George berdiri tepat di hadapannya, menjulang tinggi. Ia meraih tangan Celestine yang gemetar. Bukan untuk menenangkan, melainkan untuk memeriksa apakah ada luka. "Di sini, monster tidak menunggu untuk menyerang. Jika kau ingin bertahan lebih dari satu malam, simpan ketakutanmu di dalam laci kereta kuda itu."

Celestine mendongak, matanya yang biru jernih bertemu dengan tatapan dingin George. Bukannya menangis, sebuah senyum tipis yang menantang justru muncul di bibir sang Putri.

"Ketakutan? Kau salah menilai, Tuan Muda George," ujar Celestine dengan suara yang mulai stabil. "Aku hanya sedang berpikir... betapa gagahnya dirimu ketika memenggal kepala mahluk itu. Sihir esmu jauh lebih menarik daripada kembang api di pesta dansa manapun."

George tertegun sejenak. Ia terbiasa melihat wanita bangsawan pingsan atau menjerit histeris saat melihat darah, namun putri di depannya ini justru menatapnya dengan binar kegilaan yang halus.

"Kau aneh," gumam George singkat. Ia melepaskan tangan Celestine dan berbalik. "Ikuti aku. Ayahku tidak suka menunggu, dan kurasa kau butuh sepatu yang lebih fungsional jika tidak ingin kehilangan kakimu karena radang dingin."

Celestine melangkah mengikuti punggung lebar George, melewati koridor yang kini kembali sunyi namun penuh dengan aroma sisa pertarungan. Ia memperhatikan bagaimana George berjalan setiap langkahnya presisi, waspada, seolah dunia adalah medan perang yang tak pernah usai.

"George," panggil Celestine tiba-tiba.

Langkah pria itu berhenti, namun ia tidak menoleh.

"Apa?"

"Terima kasih untuk belatinya. Lain kali, jangan hanya mengincar lehernya. Aku ingin melihat bagaimana kau membelah mahluk itu menjadi dua dengan sihirmu. Theodore bilang kau bisa membuat keajaiban, bukan?"

George terdiam beberapa detik sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. "Keajaiban di sini biasanya berakhir dengan kematian, Tuan Putri. Pastikan kau siap menjadi bagian dari keajaiban itu."

Mereka sampai di depan pintu kayu oak raksasa dengan ukiran naga dan pedang yang bersilang. Saat pintu itu terbuka, aroma tembakau dan buku tua menyeruak. Di ujung ruangan, duduk seorang pria tua dengan bekas luka panjang di wajahnya—

Sang Marquess de La’ Mortine.

Namun, perhatian Celestine teralihkan oleh sebuah benda di sudut ruangan. Sebuah pedang raksasa yang tertanam di dalam balok es abadi.

'Permainan ini baru saja dimulai,' pikir Celestine.

Jika George adalah badai, maka ia akan menjadi satu-satunya orang yang berani berdiri tepat di tengah pusarannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!