Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERCUSUAR PENYAKSI BISU
Cahaya lampu mercusuar tua itu berkedip-kedip liar, membelah kabut rawa dengan ritme yang tidak beraturan. Di bawah dermaga kayu yang lapuk, Keyra memeluk tubuh Ghazali yang mulai menggigil hebat. Efek adrenalin itu mulai memudar, meninggalkan rasa sakit yang menghujam dan kelelahan yang mematikan pada tubuh sang Kapten.
"Ghaz, bertahanlah... sebentar lagi," bisik Keyra. Ia meraba denyut nadi di leher Ghazali terlalu cepat, tidak stabil. Infeksi itu mulai menyebar ke aliran darahnya.
---
"Yudha, sekarang!" perintah Ghazali dengan suara yang nyaris hilang, matanya terpaku pada menara beton di kejauhan.
Yudha melesat seperti bayangan di antara tumpukan peti kayu tua. Dengan senapan runduk yang ia rampas dari penyelam tadi, ia merayap menuju posisi blind spot sang penembak musuh. Di telinganya, suara Bastian terdengar statis melalui radio.
"Sepuluh detik, Yudha. Dalam hitungan ketiga, lampu akan mati total selama sepuluh detik sebelum generator cadangan mereka menyala. Satu... dua... TIGA!"
JLEP!
Mercusuar itu mendadak gelap gulita. Kesunyian rawa menjadi mencekam. Di atas menara, sang sniper musuh panik, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan perangkat night vision. Namun, sepuluh detik adalah waktu yang abadi bagi prajurit sekelas Yudha.
Pshhtt!
Satu tembakan peredam dilepaskan. Tubuh di puncak mercusuar itu terkulai tanpa sempat menarik pelatuk.
"Aman! Kapten, Dokter, ke perahu sekarang!" teriak Yudha melalui radio.
Bastian muncul dari balik semak-semak, menarik sebuah perahu nelayan kecil yang mesinnya sudah ia modifikasi agar suaranya lebih senyap. "Cepat naik! Helikopter itu akan kembali dalam dua menit setelah mereka sadar mercusuar mati!"
Keyra memapah Ghazali dengan seluruh tenaganya. Namun, saat kaki mereka menyentuh dek perahu, Ghazali jatuh berlutut. Darah segar merembes deras dari balik perbannya, membasahi lantai kayu perahu.
"Ghazali!" Keyra berteriak tertahan. Ia segera membuka tas medisnya, namun tangannya membeku. Cairan infus dan obat penghenti pendarahan terakhirnya sudah hanyut saat mereka menyelam di bawah akar bakau tadi.
Keyra menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar. Sebagai dokter, ia tahu ini adalah titik kritis. Jika pendarahan tidak dihentikan dalam lima menit, Ghazali tidak akan sampai ke perbatasan laut.
"Bastian, jalankan mesinnya! Yudha, awasi buritan!" perintah Keyra, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan fokus. Ia menanggalkan jas medisnya yang basah, menyisakan kaos tipis.
Ia mengambil sepotong besi kecil dari mesin perahu yang patah dan korek api gas milik Bastian. "Ghaz... aku harus melakukan kauterisasi. Menutup pembuluh darahmu dengan panas. Aku tidak punya pilihan lain."
Ghazali menatap Keyra, matanya sayu namun ia mencoba tersenyum tipis. Ia meraih tangan Keyra yang memegang besi panas itu, mencium cincin kabel tembaga di jari manis gadis itu. "Lakukan, Dokter... aku... milikmu."
Keyra menempelkan besi panas itu ke luka terbuka di bahu Ghazali.
Sssshhh...
Aroma daging terbakar memenuhi udara kecil di atas perahu. Ghazali mengerang sangat keras, mencengkeram pinggiran perahu hingga kayu itu retak, sebelum akhirnya tubuhnya lemas dan jatuh pingsan di pangkuan Keyra.
"Jalan, Bastian! Jalankan perahunya!" tangis Keyra pecah saat ia memeluk kepala tunangannya erat-erat.
Perahu kecil itu melesat membelah air, meninggalkan rawa berdarah menuju laut lepas yang berkabut. Di belakang mereka, helikopter musuh mulai menembakkan lampu suar ke arah mercusuar, menyadari bahwa buruan mereka telah lolos dari jeratan pertama.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....