NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuduhan Keji

Kembali ke rumah persembunyian di Bogor, Ario baru saja menerima sebuah panggilan telepon yang membuatnya terdiam lama. Wajahnya yang tadi penuh amarah, kini tampak letih.

"Ada apa?" tanya Helen, menyeka air matanya. Ia melihat kegelisahan yang luar biasa di mata pria itu.

Ario menatap ponselnya yang terus bergetar. "Beatrix. Dia mulai menyerang. Dua pabrikku di Tangerang baru saja ditutup paksa oleh oknum karena tuduhan limbah palsu. Saham perusahaanku terjun bebas. Dia memutus jalur kreditku."

Helen menutup mulutnya dengan tangan. "Ini karena aku. Jika kau tidak menolongku, dia tidak akan melakukan ini padamu."

Ario berjalan mendekati jendela, menatap hutan pinus di luar. "Dia melakukan ini karena dia tahu aku satu-satunya orang yang punya bukti keterlibatannya dalam sabotase rem mobil papamu. Dia ingin melenyapkanku secara finansial sebelum dia melenyapkanku secara fisik."

Helen bangkit dari duduknya, melangkah ragu menuju Ario. Ia menyentuh lengan pria itu, merasakan otot-ototnya yang tegang. "Ario, jika Papaku memang benar bersalah atas kematian ayahmu... aku bersedia menebusnya. Apapun. Tapi tolong, jangan biarkan wanita itu menang. Dia membunuh Papa, dia mengusirku, dan sekarang dia menghancurkanmu."

Ario membalikkan badannya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Helen bukan sebagai putri dari musuhnya, melainkan sebagai sesama korban dari kekejaman yang sama.

"Kau tahu apa artinya ini, Helen?" tanya Ario dengan suara serak. "Jika kita terus melawan, kita mungkin akan kehilangan segalanya. Bukan hanya harta, tapi nyawa."

Helen menatap mata Ario dengan keberanian yang baru ia temukan di tengah rasa sakitnya. "Aku sudah kehilangan segalanya saat mereka mengubur Papa. Satu-satunya yang tersisa dariku adalah kebenaran. Dan aku akan mengikutimu, Ario. Bahkan jika itu berarti aku harus melawan bayang-bayang Papaku sendiri."

Di bawah cahaya lampu kuning yang redup di rumah tua itu, Ario menarik Helen ke dalam pelukannya lagi. Namun kali ini, tidak ada keraguan. Tidak ada lagi "kepentingan" bisnis. Yang ada hanyalah dua jiwa yang hancur, mencoba menyatukan kepingan mereka untuk melawan seorang ratu yang haus darah.

"Kita akan menyerang balik," bisik Ario di rambut Helen. "Besok, kita akan mulai meruntuhkan mahkotanya, permata demi permata."

Namun di luar, di kegelapan hutan, sepasang lampu mobil menyala dari kejauhan. Orang-orang suruhan Beatrix telah menemukan tempat persembunyian mereka. Badai yang lebih besar dari hujan semalam kini sedang mengintai di balik rimbunnya pepohonan.

****

Kegelapan di pinggiran Bogor malam itu terasa lebih mencekam daripada biasanya. Angin pegunungan yang biasanya sejuk kini membawa aroma bahaya yang samar. Di dalam rumah persembunyian yang sederhana, Helen dan Ario baru saja akan merebahkan diri dalam kewaspadaan, namun ketenangan itu pecah oleh suara riuh rendah yang mendekat dari kejauhan.

Bukan suara polisi, bukan pula suara tembakan. Melainkan suara langkah kaki ratusan orang yang beradu dengan tanah, disertai seruan-seruan penuh amarah.

Di barisan paling depan, seorang wanita paruh baya dengan daster bermotif bunga matahari dan kerudung yang diselempangkan asal-asalan memimpin massa. Dialah Bu Endang. Sosok yang dikenal sebagai "radio rusak" desa itu—wanita yang mulutnya bak petasan banting, sekali meledak, suaranya melengking membahana hingga ke ujung bukit.

"Di sana! Di rumah tua itu! Ada pasangan kumpul kebo!" jerit Bu Endang, suaranya yang cempreng membelah sunyinya malam. "Saya lihat sendiri pria tinggi itu menggendong si perempuan masuk! Tak ada surat nikah, tak ada lapor RT! Zina! Ini kampung barokah, jangan dikotori oleh sampah kota!"

Sebenarnya, Bu Endang tak melihat apa-apa. Dua jam sebelumnya, seorang pria asing dengan setelan safari kelabu—orang suruhan Beatrix—menemuinya di warung remang-remang, menyelipkan amplop tebal berisi uang seratus ribuan, dan membisikkan skenario menjijikkan ke telinganya. Bagi Bu Endang, fitnah adalah mata pencaharian, dan malam ini, ia sedang bekerja lembur.

****

Braakk!

Pintu depan rumah kayu itu didobrak paksa. Ario seketika berdiri di depan Helen, mencoba melindunginya. Namun, mereka kalah jumlah. Puluhan pria dengan wajah sangar dan obor di tangan merangsek masuk.

"Keluar kalian! Dasar pezina!" bentak seorang pemuda sambil merenggut kerah baju Ario.

"Tunggu! Kalian salah paham! Kami tidak melakukan apa pun!" teriak Helen, suaranya gemetar hebat. Matanya membelalak ketakutan saat melihat wajah-wajah yang penuh kebencian itu.

"Halah! Alasan klasik!" Bu Endang merangsek maju, telunjuknya yang dihiasi kuteks murah menunjuk-nunjuk hidung Helen. "Perempuan macam apa kamu ini? Pakai baju bagus tapi kelakuan busuk! Menginap dengan laki-laki yang bukan suaminya! Kamu mau bawa kutukan buat desa kami, hah?!"

Tanpa ampun, massa menyeret mereka keluar. Ario mencoba melawan, namun sebuah balok kayu menghantam punggungnya hingga ia tersungkur. Helen menjerit, mencoba meraih tangan Ario, namun rambutnya justru dijambak oleh beberapa wanita yang sudah terprovokasi oleh ocehan Bu Endang.

"Arak mereka! Bawa ke Balai Desa!" teriak warga bersahutan.

Malam itu, martabat Helen Kusuma benar-benar diinjak sampai ke titik nadir. Ia diarak di sepanjang jalanan desa yang berbatu. Kakinya yang lecet kian berdarah, pakaiannya kusut, dan air matanya mengalir deras membasahi pipi yang kini kotor terkena debu jalanan. Di sampingnya, Ario dipaksa berjalan dengan tangan terikat, wajahnya lebam, namun matanya tetap menatap tajam ke arah kerumunan, seolah ingin menelan setiap orang yang menyentuh Helen.

****

Balai Desa yang biasanya tenang kini berubah menjadi arena sirkus yang mengerikan. Lampu neon yang berkedip-kedip menyinari ruangan yang dipenuhi warga. Di depan, duduk Pak Lurah, seorang pria tua dengan kumis tebal yang tampak kewalahan menghadapi amarah warga.

"Tenang! Tenang semuanya!" Pak Lurah memukul meja kayu. "Ario, Helen... kalian dituduh melakukan perbuatan asusila di wilayah saya. Bu Endang dan warga lainnya melihat bukti-bukti yang cukup."

"Bukti apa?!" Ario berteriak, suaranya parau namun penuh wibawa. "Kami sedang bersembunyi dari kejaran pembunuh! Kami tidak melakukan perzinaan! Kalian hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin menghancurkan kami!"

"Halah, pembunuh katanya! Drama telenovela mana lagi yang kamu tonton, Tong?" Bu Endang menyela, suaranya melengking tinggi, membuat telinga orang di dekatnya berdenging. "Pak Lurah, lihat itu perempuan! Matanya sembab, bajunya berantakan! Pasti habis 'main'! Jangan percaya mulut manis laki-laki kota ini. Mereka ini pembawa sial!"

Helen jatuh bersimpuh di lantai semen yang dingin. "Pak Lurah, tolong... Saya ini Helen Kusuma. Ayah saya baru saja meninggal. Saya tidak punya tempat tinggal karena diusir. Ario hanya menolong saya. Demi Tuhan, kami tidak berzina."

Mendengar nama "Kusuma", warga sempat terdiam. Namun, provokator kiriman Beatrix yang menyusup di antara warga segera berteriak, "Kusuma apa?! Itu pencuri perhiasan yang masuk berita tadi sore! Dia buronan!"

Seketika, Balai Desa kembali riuh. Hinaan dan makian terbang ke arah Helen seperti anak panah yang beracun.

"Ayo mengaku! Kalian zina kan?!" bentak seorang warga sambil menyiramkan air parit ke arah mereka.

"Mengaku atau kalian kami mandikan di kolam kotoran!" ancam warga lainnya.

Ario menatap Helen yang kini gemetar hebat, meringkuk seperti janin di lantai. Hatinya hancur. Ia tahu ini adalah rencana Beatrix. Wanita itu tidak hanya ingin menghancurkan hartanya, tapi juga ingin membunuh jiwanya dan jiwa Helen melalui penghinaan publik.

"Cukup!" Ario berteriak sekuat tenaga, menghentikan keributan sejenak. Ia menatap Pak Lurah dengan tatapan yang sangat dalam. "Jika kalian ingin seseorang untuk disalahkan, salahkan aku. Tapi jangan sentuh dia. Dia tidak tahu apa-apa."

"Oh, jadi kamu mengaku?" Bu Endang tersenyum licik, merasa menang. "Pak Lurah, dia mengaku! Hukum! Hukum!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!