Kekacauan dan penderitaan kembali datang, seperti penyakit yang telah mengakar hingga tumbuh semakin ganas. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari di mana haru bahagia dikumandangkan di seluruh penjuru, saat akhirnya Ratu Iblis dan Naga Es berhasil dikalahkan di tangan Xin Fai.
Ibarat api kecil yang membesar dan melahap apapun yang berada di sekitarnya, musuh lama pun mulai menampakkan jati dirinya kembali, mengguncang dunia persilatan setelah beberapa tahun dan kembali dengan membawa bencana yang jauh lebih mengerikan.
Bahkan Rubah Petir pun tak yakin Xin Fai bisa mengalahkan musuh ini dan dibanding melihat Xin Zhan yang merupakan anak tertua dengan kejeniusan tak terbandingi, dia justru menunjuk Xin Chen yang sama sekali takmemiliki bakat dalam bertarung.
Xin Chen yang sering disebut 'anak gagal' berlari melawan takdirnya, menantang langit dan mengukir namanya sendiri dalam benak orang-orang.
Meski sering kalah dari Xin Zhan namun dia tetap bersikukuh menjadi Pedang Iblis kedua. Untuk menjamin perdamaian dengan nyawanya sendiri, walaupun kebanyakan orang yang ingin dia lindungi adalah mereka yang melihatnya sebelah mata.
"Tidak ada kekalahan dalam diriku, aku hanya jatuh untuk menang. Karena pemenang sebenarnya adalah seorang pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 25 - Pil Dewa Matahari
"Aku hanya sedikit flu, membuat tenggorokanku sakit."
"Begitu, apa kita perlu berhenti untuk membeli obat?"
"Tidak usah, tetap lanjutkan perjalanan. Aku harus segera ke sana secepat mungkin."
Berjam-jam melakukan perjalanan akhirnya kereta berkuda telah berhasil kembali ke markas utama mereka, pintu gerbang yang tampak kokoh terbuka saat pria berjubah mengatakan Tuan Muda telah kembali. Suara orang-orang di dalam terdengar ramai sekali, bahkan Xin Chen sendiri tak tahu bagaimana nasibnya ke depannya.
Sedangkan itu pria berjubah tampak curiga mengapa Tuan Muda di dalam kereta kuda tak ingin keluar bahkan hanya untuk menyapa para pengawal dan pendekar di dalam seperti biasanya. Dia mengintip sedikit ke dalam, tampak dari luar memang anak kecil di dalam memang Tuan Muda yang sedang dia kawal.
Namun pikirannya tetap buruk, pria itu melayangkan satu pertanyaan sederhana. "Tuan Muda, apa kau mengingat tanggal lahir Ayahmu?"
Tidak merasa ada jawaban pria itu mulai merasa dugaannya selama ini benar, dia menyingkirkan kain yang menutup pandangan dan mendapati Tuan Mudanya sedang tertidur pulas.
"Hah? Bukankah tadi dia masih menjawab pertanyaanku?" Terdengar gumaman heran beberapa saat hingga akhirnya dia memutuskan untuk melupakannya.
Xin Chen melebarkan matanya ketika melihat ke seluruh penjuru, tak terpikirkan seberapa besarnya tempat ini telah bertumbuh bahkan untuk seukuran menengah saja sudah terbilang sangat mewah. Pemandangan indah dan segala halnya tertata rapi di sana, membuatnya tak habis-habis terkesima.
Dalam waktu bersamaan pula Xin Chen menangkap banyaknya orang-orang penting berdatangan ke tempat ini. Bahkan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berasal dari keluarga bangsawan. Mereka semua berjalan menuju sebuah bangunan yang menjulang tinggi dan berwarna putih tulang, tampaknya itu akan menjadi tempat pelelangan.
Menggunakan Topeng Hantu Darah, Xin Chen bebas menyusupi tiap-tiap tempat tanpa ketahuan. Dia tak menemukan sesuatu yang berkaitan dengan tempat penawar racun atau sejenisnya.
Dari perkiraan Xin Chen, anak kecil yang sebelumnya berada di kereta kuda seharusnya akan terbangun sebentar lagi. Dia harus segera mendapatkan penawar itu dan kembali menceritakan hal ini pada Ayahnya.
Keluar dari satu tempat Xin Chen dapat melihat di jembatan kecil terlihat dua orang pemuda tengah diseret-seret oleh segerombolan pendekar, dari wajahnya saja mereka jelas diperlakukan dengan buruk.
Xin Chen mengikuti ke arah mana mereka dibawa, hingga mereka tiba di sebuah ruangan luas berlantai dua.
Tempat ini sendiri didesain unik, lantai pertama kosong akan tetapi tiap-tiap sisinya terdapat pintu kecil.
Di lantai kedua sendiri para bangsawan yang didominasi dengan wajah asing bertepuk tangan ria, terlihat antusias menunggu pertunjukan di lantai pertama. Mereka menonton dari atas, sembari memasang taruhan masing-masing.
Merasa apa yang ditontonnya tak berguna Xin Chen berniat pergi, namun langkahnya berhenti saat pintu-pintu di lantai pertama dibuka.
Xin Chen berdiri lebih dekat agar bisa melihat apa yang terjadi di bawah. Puluhan pemuda biasa yang berasal dari golongan petani dibawa ke tempat ini seperti binatang. Di lingkaran tangan mereka terlihat gelang kayu berisi nomor masing-masing.
"Apa ini hiburan orang-orang bangsawan ini? Mereka memperlakukan manusia seperti mainan, menyebalkan sekali..." ucapnya kecil, tangannya terkepal di atas pembatas lantai.
"Hei anak kecil, kau datang ke sini sendirian?" Salah seorang pria tua dengan rambut putih dan kumis yang berwarna sama menyapa, wajahnya merah seperti sedang mabuk.
Sementara Xin Chen tak memedulikan apa yang sedang disibukkan pria itu, dia lebih memilih untuk mendengarkan obrolan di sampingnya. Kelihatannya obrolan itu terlalu rahasia didengar orang sekitar.
"Hei, apa kau sudah tahu nanti malam akan ada pelelangan Pil Dewa Matahari?"
"Ah, iya. Itu pil yang sudah dijanjikan mereka. Hanya orang-orang yang sudah berlangganan penuh bisa ikut dalam pelelangan tersebut."
"Hei anak kecil, apa kau mendengarku?" Pria di samping Xin Chen menarik pundaknya, Xin Chen menurunkan tangan tersebut dari bahunya.
"Maaf, aku ingin bertanya sebentar. Kau tahu apa itu Pil Dewa Matahari?"
Saat mendengarnya mata pria tersebut terbuka lebar, dia mendekatkan wajahnya curiga. "Apa kau juga mengincar pil itu?"
"Em, aku hanya bertanya pil itu untuk apa? Apa untuk menyembuhkan racun atau kutukan? Atau semacamnya?"
Pertanyaan beruntun tersebut membuatnya bingung, pria itu memainkan ujung kumisnya dengan lagak layaknya seorang bangsawan. "Pil itu tidak ada hubungannya dengan yang kau katakan, tapi jika kau ingin hidup abadi..." Cengiran lebar terpampang di wajahnya.
"Dengan Pil itu kau akan menjadi abadi, selamanya. Kekuatan tubuhmu akan meningkat penuh, bahkan sulit ditembus dengan pedang pusaka langit sekalipun! Aish, ini terasa sangat hebat!"
Saat sadar sikap antusiasnya mengundang banyak perhatian pria itu menutup mulutnya kaget.
"Anak kecil, kalau kau menginginkannya mahon maaf saja. Pil itu akan menjadi milikku. Kau takkan bisa membelinya demikian mudah. Sekte Rajawali Emas dapat membelinya dengan harga tinggi."
Nada bicaranya terdengar sombong, jelas berpikir anak kecil seperti Xin Chen takkan mampu membayar dengan uang sebanyak yang dia bawa.
"Rajawali Emas? Kenapa aku tak pernah mendengarnya?" Xin Chen menopang dagu, tak pernah mengetahui dari mana sekte tersebut berasal.
"Ah, kau pasti orang-orang sini. Sekte Rajawali Emas berasal dari Kekaisaran Qing, sengaja datang ke Lembah Para Dewa setelah menerima undangan."
Mendengar pernyataan tersebut jelas Xin Chen tak terima, "Mengapa kalian harus datang ke sini? Ini wilayah kekaisaran kami!"
Tangan pria itu terangkat ke atas, seperti hendak menahannya. "Sabar dulu, nah, perkenalkan namaku Yan Xi."
Xin Chen menjabat tangannya, tanpa memperkenalkan diri.
"Bisa kau jelaskan mengenai tempat ini?"
Sedikit curiga Yan Xi kembali melayangkan pertanyaan. "Kau sudah bergabung menjadi anggota khusus di tempat ini?"
"Ya, aku baru saja bergabung. Mungkin belum mengerti apa-apa, bisa kau jelaskan biar aku paham?"
Yan Xi tertawa besar, membenarkan jubah mewah yang dia kenakan. "Hah... Aku yakin orangtuamu ingin membiarkanmu bersenang-senang di tempat ini."
Yan Xi melanjutkan dengan sedikit berbisik. "Ini adalah tempat hiburan para bangsawan kelas atas, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memasuki tempat ini. Lihatlah ke bawah, pertunjukan yang lebih seru akan dimulai sebentar lagi."
Xin Chen menurunkan bola matanya ke bawah, makin geram melihat siluman pun dikeluarkan dari kandang, membuat para pemuda di bawah mau tak mau harus bertahan hidup sampai pintu aman kembali dibuka.
"Kudengar akhir-akhir ini telah terjadi hal tak mengenakkan di kedua pihak kita. Kaisar kami mengatakan bahwa desa ini memang sejak dulu adalah tanah kami."
"Maka dari itu kalian seenaknya membangun sesuatu di sini?"
"Tidak juga... Ini permasalahan yang begitu rahasia sebenarnya. Kalau kalian tak mengizinkan atas hukum yang berlaku di tempat kami, perang antara Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Shang akan dikumandangkan."
novel kho ping ho
pertahankan terus author...mudah mudahan kesini bikin novel pendekar dengan karakter nusantara
karena ceritanya jadi bertele tele...bikin pusing readers.
emang kasur ada kolongnya, harusnya di bawah kolong ranjang...Thor.