Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. WATACI
Cairan yang masuk ke dalam tubuh Adnan bereaksi lebih cepat dari yang diperkirakan. Baru beberapa menit setelah gelas diletakkan, denyut nadi Adnan berpacu kencang. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan pandangannya mulai kabur.
"Viviqn ... pusing banget. Aku ... aku harus pulang," rintih Adnan. Suaranya berat dan serak.
Ia merasakan sensasi panas yang tidak wajar merambat dari dadanya ke seluruh tubuh—sebuah gairah liar yang mendadak meledak tanpa alasan.
Vivian tersenyum puas. Ia tahu persis apa yang sedang dirasakan pria itu. Sebagai wanita yang pernah mengisi hati Adnan, ia mulai merasa terancam dengan sikap lembut Adnan pada Nika belakangan ini.
"Kamu harus tetap jadi milikku, Nan. Dan malam ini, aku akan memastikan kamu merasa sangat bersalah sampai tidak bisa menatap Nika lagi," batin Vivian.
Dengan sigap, Vivian memapah tubuh kekar Adnan. Ia membawa pria itu menuju hotel yang terhubung dengan restoran tersebut. Adnan sudah tidak berdaya, kepalanya terkulai di bahu Vivian, sementara napasnya terasa panas di ceruk leher wanita itu.
Namun, tepat saat mereka sampai di depan pintu kamar suite yang sudah dipesan, Vivian menepuk dahinya. "Sial! Tas beserta kartu akses kamarnya ketinggalan di meja restoran!"
Melihat kondisi Adnan yang sudah sangat payah dan tidak mungkin diajak kembali ke bawah, Vivian menyandarkan Adnan di dinding dekat deretan pintu kamar yang tampak serupa.
"Nan, tunggu di sini sebentar. Jangan ke mana-mana. Aku ambil tas dulu," bisik Vivian sebelum berlari terburu-buru menuju lift.
Adnan mencoba membuka matanya yang berat. Dunia di sekitarnya terasa berputar. Di ujung lorong yang remang-remang, ia melihat seorang wanita sedang berdiri di depan sebuah pintu kamar. Wanita itu mengenakan gaun gelap, rambutnya tergerai indah, dan aromanya ... aroma yang sangat ia kenali.
"Ni ... Nika?" gumam Adnan setengah sadar.
Dalam benak Adnan yang sudah dikuasai obat perangsang, sosok itu adalah Nika.
Dengan langkah sempoyongan dan napas yang memburu, Adnan memaksakan kakinya melangkah.
Di depannya, wanita itu baru saja membuka pintu kamar dengan kartu akses. Tepat sebelum pintu tertutup, Adnan menahan daun pintu itu dengan tangannya yang gemetar.
"Nika ... tolong aku ... panas ..."
Tanpa menunggu jawaban, Adnan masuk ke dalam kamar tersebut dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
Pintu tertutup otomatis dengan bunyi klik yang tajam, tepat di saat Vivian baru saja keluar dari lift di ujung lorong lain dengan napas terengah-engah, hanya untuk menemukan koridor itu sudah kosong.
Adnan tidak masuk ke kamar Vivian. Ia masuk ke kamar wanita yang sedari tadi ia sangka siluet Nika—yang ternyata memang benar Nika, yang kebetulan sedang menginap di hotel yang sama karena terlalu mabuk untuk pulang.
Pintu kamar tertutup rapat, mengunci kebisingan dunia luar. Nika, yang baru saja hendak meletakkan tasnya setelah makan malam, tersentak saat sebuah tubuh besar menubruknya dari belakang dan mendekapnya erat.
Aroma maskulin yang bercampur dengan sisa wine segera menyerbu indra penciuman Nika. Ia membeku. Jantungnya berdegup kencang antara rasa takut dan terkejut.
"Adnan?" bisik Nika, suaranya bergetar.
Adnan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Nika, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya. Napas Adnan terasa sangat panas, membakar kulit Nika yang dingin.
"Nika ... panas ... tolong aku," rintih Adnan serak.
Tangan pria itu melingkar posesif di pinggang Nika, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Nika membalikkan tubuhnya dengan susah payah untuk menatap wajah suaminya. Ia terkejut melihat mata Adnan yang memerah dan sayu, serta keringat dingin yang membanjiri pelipisnya.
Nika segera menyadari ada yang tidak beres, ini bukan sekadar mabuk biasa.
"Adnan, kamu kenapa? Wajahmu merah sekali," Nika menyentuh pipi Adnan dengan kedua tangannya.
Sentuhan tangan Nika yang dingin terasa seperti penyejuk di tengah padang pasir bagi Adnan. Ia memejamkan mata, menikmati sensasi sejuk itu, lalu tanpa peringatan, ia menangkap tangan Nika dan mencium telapak tangannya dengan dalam.
"Jangan pergi ... kumohon," bisik Adnan lagi. Ia menatap Nika dengan tatapan yang begitu intens, penuh kerinduan dan gairah yang tersiksa.
Nika yang awalnya ingin marah karena melihat Adnan pergi bersama Vivian tadi sore, mendadak luluh. Sisi rapuh Adnan selalu menjadi kelemahannya.
Di bawah temaram lampu kamar hotel yang mewah, dendam Nika seolah menguap, berganti dengan keinginan untuk merengkuh pria yang entah mengapa membuatnya ingin memilikinya.
Adnan perlahan mendekatkan wajahnya. Jarak mereka terkikis habis. Saat bibir mereka akhirnya bertemu, sebuah letupan emosi meledak.
Ciuman itu awalnya terasa mendesak dan penuh tuntutan akibat pengaruh obat di tubuh Adnan, namun perlahan berubah menjadi lembut dan penuh perasaan saat Nika mulai membalasnya.
Adnan membimbing Nika menuju ranjang besar di tengah ruangan tanpa memutuskan tautan mereka.
"Aku menginginkanmu, Nika ... selalu kamu," racau Adnan di sela napasnya yang memburu.
Nika tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengeratkan pelukannya pada leher Adnan, membiarkan dirinya hanyut dalam arus gairah yang diciptakan suaminya.
Malam itu, di kamar hotel yang seharusnya menjadi pelarian dari rasa sedih, Nika justru menemukan dirinya bersatu dengan pria yang bahkan tak tak pernah ia cintai.
Sementara di luar sana, Vivian masih panik mencari Adnan di lorong hotel, sama sekali tidak menyadari bahwa rencana jahatnya justru menjauhkannya dari Adnan sepenuhnya.