NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Pertarungan Pertama

Pagi di Kota Wanhua dimulai lebih awal dari yang Wei Mou Sha kira.

Ia bangun sebelum fajar, itu sudah kebiasaan dari tahun-tahun di laboratorium yang jadwalnya selalu dimulai saat langit masih gelap. Duduk bersila di ranjang, menyelesaikan meditasi pagi, memetakan ulang sinyal qi yang ia rasakan semalam.

Polanya masih sama. Masih tersebar. Masih menunjuk ke sesuatu yang belum bisa ia tentukan.

Ia turun dari ranjang, menata bajunya, dan keluar ke gang sempit di depan penginapan.

Gang itu sudah ramai oleh pedagang kecil yang buka lapak, beberapa kultivator muda berlari dalam formasi latihan pagi dengan seragam yang sama, seorang wanita tua menyapu halaman dengan ritme teratur.

Wei Mou Sha berdiri sebentar, membiarkan udara pagi masuk ke paru-parunya.

Hari ini ada yang harus diselesaikan.

Tujuan pertama: ke Arena Penyelesaian.

Bukan untuk daftar turnamen, karena pendaftaran belum dibuka. Tapi arena adalah tempat kultivator berlatih dan bertarung setiap pagi, dan itu artinya tempat paling efisien untuk mengukur seberapa jauh kemampuannya.

Empat belas tahun di laboratorium mengajarkan banyak tentang titik qi, cara melumpuhkan, meditasi dan aliran energi. Tapi laboratorium tidak mengajarinya bertarung melawan kultivator terlatih dengan teknik dari sebuah sekte.

Ia perlu tahu di mana posisinya.

Arena Penyelesaian ada di tengah kota, bangunan segi delapan dengan atap terbuka dan lantai batu yang permukaannya sudah menghitam, menyerap lecutan energi kultivasi bertahun-tahun. Di sekelilingnya ada tribun yang bisa memuat ratusan penonton, tapi pagi ini masih sepi, hanya beberapa kelompok kecil berlatih di sudut arena.

Wei Mou Sha masuk dan berdiri di tepi sambil mengamati.

Tiga kelompok berbeda dengan gaya bertarung berbeda.

Di kiri, enam orang berseragam biru langit, gerakannya bersih dan terstruktur, setiap serangan ikut pola yang sudah ditetapkan. Teknik formal. Kemungkinan besar dari Pedang Langit Utara.

Di tengah, empat orang tanpa seragam, seperti seorang kultivator bebas sama seperti dirinya. Gaya mereka kurang rapi lebih sulit diprediksi.

Di kanan, dua orang bertarung dengan intensitas berbeda dari dua kelompok lainnya. Keduanya pakai seragam merah-hitam, dan bahkan dari jarak ini Wei Mou Sha bisa merasakan panas dari pertukaran serangan mereka, ini mungkin dari Aula Api Sejati.

Ia mengamati sepuluh menit penuh.

Mencatat. Memilah. Menyimpan.

"Hei."

Suara dari kanannya tiba tiba terdengar.

Seorang pemuda berseragam biru langit dengan rambut dikuncir rapi, wajahnya seperti orang yang terbiasa jadi yang terbaik di mana pun ia berada. Di belakangnya ada dua orang lagi dengan seragam sama, berdiri seperti pengikut.

"Kamu berdiri di area latihan kami," kata pemuda itu.

Wei Mou Sha lihat tanah di bawah kakinya. Ia berdiri di tepi arena, tepat di garis batas antara area penonton dan area latihan. Secara teknis mungkin benar, satu langkah lebih ke dalam.

Ia mundur satu langkah.

"Sudah."

Pemuda itu tidak pergi. Matanya menelusuri Wei Mou Sha dari atas ke bawah, sedang menilai, mengkategorikan, menempatkan dalam hirarki yang sudah ada di kepalanya.

"Kultivator bebas?"

"Ya."

"Baru di Wanhua?"

"Ya."

"Mau ikut turnamen?"

Wei Mou Sha menimbang seberapa banyak informasi yang berguna diungkapkan ke orang yang tingkat ancamannya masih belum jelas.

Pemuda ini kuat dari cara ia berdiri dan kontrol qi yang terlihat bahkan saat ia sedang santai, ia sudah di tingkat Inti Emas bawah. Lebih kuat dari penjaga-penjaga laboratorium yang pernah Wei Mou Sha hadapi.

Tapi bukan ancaman langsung.

"Mungkin."

Pemuda itu tertawa kecil, tawa yang lebih meremehkan daripada tawa yang ramah. "Kultivator bebas tanpa afiliasi jarang lolos babak kualifikasi. Apalagi yang baru pertama kali ke Wanhua."

"Informasi yang berguna," kata Wei Mou Sha. "Terima kasih."

Nada Wei Mou Sha datar seperti biasa. Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan terima kasih ke orang yang jelas tidak bermaksud membantu, yang bikin pemuda itu berhenti sebentar, seperti menghadapi sesuatu yang tidak masuk dalam kategori respons yang ia harapkan.

"Kamu mau latihan?" tanya pemuda itu akhirnya, nadanya berubah sedikit, masih meremehkan tapi ada campuran sesuatu yang lain.

" sedang mengamati dulu."

"Mengamati tidak akan mengajarkan banyak." Pemuda itu melangkah ke depan, berhenti dengan jarak tiga meter dari Wei Mou Sha. "Bertarunglah denganku. Lima menit. Gratis."

Wei Mou Sha menatapnya.

Gratis artinya bukan tawaran tulus, ini semacam ejekan. Pemuda ini mau membuktikan sesuatu ke dua pengikutnya, atau ke dirinya sendiri, atau ke Wei Mou Sha, atau semuanya sekaligus.

Wei Mou Sha sedang menghitung.

Bertarung akan mengasih data yang jauh lebih akurat tentang cara bertarung di sini, dibanding cuma mengamati dari pinggir. Dan pemuda ini, meski lebih kuat dari yang pernah ia hadapi, tetapi tidak dalam kondisi saling membunuh. Hanya fokus pada kemenangan.

"Baik," katanya.

Pemuda itu akhirnya tersenyum dan langsung memasang kuda-kuda dengan gerakan terlatih, kaki kanan ke belakang, berat tubuh terdistribusi, tangan kiri terentang ke depan sebagai penangkis, tangan kanan siap di pinggul untuk serangan utama.

Teknik Pedang Langit Utara. Posturnya persis sama dengan kelompok biru langit tadi.

Wei Mou Sha berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuhnya.

Tidak pasang kuda-kuda apapun.

Pemuda itu mengerutkan alisnya sedikit terasa tersinggung, atau mungkin bingung.

"Kamu tidak bersiap untuk bertarung?"

"Sudah."

Pemuda itu akhirnya menyerang duluan.

Cepat, lebih cepat dari yang Wei Mou Sha prediksi dari posturnya. Serangan tangan kanan disertai energi qi di ujung jarinya, diarahkan langsung ke pusat energi di ulu hati, serangan pembuka untuk mengukur respons lawan

Wei Mou Sha cuman miring tiga senti ke kanan.

Serangan itu cuma lewat di sampingnya.

Pemuda itu tidak berhenti, ia langsung lanjut ke kombinasi, tangan kiri menyapu dari bawah, kaki kanan nendang ke arah lutut. Kombinasi bagus, dieksekusi dengan timing yang tidak buruk.

Wei Mou Sha mundur setengah langkah, biarkan sapuan tangan kiri lewat di depan perutnya, dan melompat tipis untuk menghindari tendangan lutut.

Tidak ada serangan balik.

Hanya menghindar.

Pemuda itu menyerang tiga kombinasi lagi, semuanya cepat, terstruktur dengan baik, tetapi semuanya berhasil dihindari Wei Mou Sha dengan gerakan yang terlihat hampir malas.

Di tribun, dua pengikut pemuda itu mulai berbisik.

Pemuda itu berhenti sebentar, napasnya belum terpengaruh tapi ada sesuatu yang berubah di matanya.

"Kamu cuma menghindar."

"Kamu menyerang. Aku menghindar." Wei Mou Sha menatapnya. "Itu yang terjadi saat bertarung."

"Coba serang balik."

"Kenapa?"

Pemuda itu terdiam.

"Aku sedang kumpulin data," lanjut Wei Mou Sha dengan nada datar yang sama. "Menyerang balik akan mengganggu proses itu."

Ekspresi pemuda itu berubah, dari meremehkan ke sesuatu yang lebih sulit diidentifikasi. Ia menjadi lebih bingung.

"Data," ulangnya.

"Tentang gaya bertarung yang berlaku di sini. Aku belum punya referensi yang cukup."

Tiba tiba keheningan terjadi diantara mereka sebentar.

Lalu pemuda itu menyerang lagi, kali ini lebih serius, mengalirkan lebih banyak qi ke setiap gerakannya. Lantai arena sedikit bergetar saat ia melangkah. Energi qi di ujung jarinya meninggalkan jejak cahaya biru tipis di udara.

Tingkatan serangan ini berbeda dari tadi.

Wei Mou Sha masih menghindar, tapi kali ini lebih rapat, jaraknya lebih tipis, beberapa serangan hampir menyentuh kain bajunya.

Lebih baik, catatnya. Tadi pemuda ini simpan sekitar empat puluh persen kapasitasnya. Ini lebih mendekati kemampuan aslinya.

Di serangan keduabelas, Wei Mou Sha berhenti menghindar.

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!