kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Marsha duduk sendiri di bangku taman rumah sakit, paper bag dari Archio tergeletak di sampingnya. Cangkir kopi hangat berada di genggamannya, sementara setengah sandwich yang tadi dipaksakan masuk kini terasa hambar di lidah.
Malam di London cerah. Langit bersih, bertabur bintang samar yang jarang benar-benar ia perhatikan, kecuali saat pikirannya sedang terlalu penuh seperti malam ini.
Ia menyandarkan tubuh ke bangku, menghembuskan nafas panjang, membiarkan udara dingin menyentuh wajahnya yang masih menyimpan lelah setelah berjam-jam di ruang operasi.
Hidupnya selama ini tenang, setidaknya begitu yang selalu berusaha ia yakini. Namun belakangan semuanya seperti mulai bergeser dari tempatnya, apalagi setelah bertemu dengan keluarga kandungnya, dan luka lama yang, entah kenapa, mulai mengetuk lagi dari sudut pikirannya yang paling ia hindari.
“Huh…” gumamnya pelan, menatap langit. “Aku sangat malas.”
Ia menyesap kopinya, lalu tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip kelelahan daripada geli. “Aku tahu Valerina sebenarnya tahu Selena membuangku…”
Kata-kata itu keluar nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri.“Tapi dia memilih bungkam.”
Tatapannya naik pada bintang-bintang yang bertaburan jauh di atas sana, seolah mencoba bertanya pada langit tentang jawaban yang tak pernah ia dapat.“Dan berpura-pura seolah-olah dia juga tidak tahu apa-apa.” Suara Marsha melemah di ujung kalimat.
Ada getir yang tak ia tunjukkan pada siapa pun, selama ini ia selalu berpura-pura tak peduli, menganggap masa lalu itu sudah terkubur, menganggap ditinggalkan adalah sesuatu yang sudah selesai ia terima.
Namun kenyataannya, ada bagian dalam dirinya yang belum pernah benar-benar memaafkan, Ia memeluk cangkir kopinya dengan kedua tangan, membiarkan kehangatan kecil itu menahan dingin yang mulai menusuk malam. “Apa aku yang terlalu naif…” gumamnya lagi, “atau memang semua orang memilih diam saat aku dibuang?”
Angin malam berhembus pelan, menggerakkan helai rambut di sisi wajahnya, tak ada yang menjawab, hanya keheningan.
Hanya bintang-bintang yang tetap bersinar seolah tak peduli pada rumitnya hidup manusia.
Dan justru di saat Marsha tenggelam dalam pikirannya, ia tak menyadari, dari kejauhan, seseorang berdiri memperhatikannya dalam diam.
Marsha masih diam, tetapi tatapannya berubah. Ada sesuatu yang mengeras di matanya, seperti seseorang yang mulai bersiap mendengar hal yang mungkin akan mengubah terlalu banyak hal sekaligus.
Archio menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan, suaranya lebih pelan kini, tetapi justru terdengar lebih berat. “Bukan begitu, Acha.”
Ia menatap adiknya lurus, seolah tak ingin satu kata pun terdengar seperti kebohongan.“Kami bukan diam karena tidak peduli.”
Ia berhenti sejenak. “Kami berpura-pura diam… karena kami ingin tahu bagaimana Mama bergerak.”
Marsha membeku.
Nama itu saja sudah cukup membuat udara di antara mereka berubah, Archio melanjutkan, kali ini tanpa mundur. “Dan ternyata kecurigaan kami benar.” Suara angin malam seakan ikut meredam dunia di sekitar mereka, menyisakan hanya percakapan itu. “Menghilangnya jejakmu… ada hubungannya dengan Mama.”
Jemari Marsha perlahan menegang di sekitar cangkir kopi.
Namun Archio belum selesai. “Kecelakaan yang menimpamu saat remaja di Prancis…” Ia menelan nafas, seolah bahkan sampai sekarang kalimat itu masih sulit diucapkan. “Itu juga karena Mama.”
Marsha menoleh cepat sorot matanya penuh ketidakpercayaan. “Apa?”
Satu kata itu terdengar nyaris seperti pecah.
Archio mengangguk perlahan, meski jelas ia membenci dirinya sendiri karena harus menjadi orang yang mengatakannya. “Kasus penculikan dan ancaman yang diterima Dokter Erlan, sampai alasan kenapa beliau meninggalkan Prancis dan memilih menetap di London… demi melindungimu”
Ia menatap Marsha semakin dalam. “Semuanya berhubungan dengan Mama.”
Keheningan setelah itu terasa nyaris memekakkan telinga, Marsha seperti lupa bernafas, selama bertahun-tahun ia marah karena merasa ditinggalkan.
Karena percaya dirinya dibuang dan mengira semua orang memilih membiarkannya hilang, Namun kini Archio sedang mengatakan sesuatu yang jauh lebih gelap.
Bahwa kehilangannya, mungkin bukan kehilangan melainkan sesuatu yang dirancang. “Tidak…” suara Marsha pelan, seperti menolak percaya. “Tidak mungkin…”
Archio memejamkan mata sesaat, lalu menggeleng..“Aku berharap aku salah, tapi kami menemukan terlalu banyak pola untuk mengabaikannya.”
Tatapan Marsha mulai goyah.
“Kalau kalian tahu…” suaranya bergetar untuk pertama kalinya malam itu, “kenapa kalian tidak memberitahuku?”
“Karena kami menunggu celah.” Jawaban Archio datang cepat. “Kami menunggu Mama lengah, kami menunggu bukti dan menunggu kesempatan untuk menemukanmu dan membawamu pergi sebelum dia tahu.”
Ia berhenti, lalu suaranya merendah. “Dan ketika akhirnya ada celah…” tatapannya melembut, “kami menemukanmu.”
Kali ini Marsha benar-benar tak mampu berkata apa-apa, hanya menatap Archio seolah sedang mencoba mengenali ulang seluruh hidupnya.
Di bawah langit London yang begitu tenang, sesuatu yang selama ini terkubur rapat, mulai retak dan untuk pertama kalinya, Marsha mulai bertanya, kalau Selena memang berada di balik semua ini, lalu apa sebenarnya yang terjadi di Prancis dulu?.
_
Marsha terdiam lama setelah ucapan Archio menggantung di antara mereka. Tidak ada yang langsung ia bantah, tetapi sorot matanya berubah, seolah pikirannya sedang menelusuri lorong yang selama ini tertutup rapat.
“Aku…” suaranya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Setelah kecelakaan itu… aku hanya tahu aku terbangun di rumah sakit.”
Ia berhenti, memandangi kopi yang mulai dingin di tangannya, seakan di permukaan cairan hitam itu ada sesuatu yang ingin ia baca ulang. “Hanya itu yang kuingat.”
Archio tidak menyela.
Marsha menarik napas perlahan, lalu melanjutkan, lebih hati-hati, seperti takut salah mengingat. “Aku ingat bau antiseptik, lampu putih yang menyilaukan, suara monitor yang terus berbunyi.” Bibirnya mengeras tipis. “Dan Ayah aku Dokter Erlan.”
Nama itu keluar pelan, tetapi terasa berat.
“Beliau bilang aku selamat. Beliau bilang aku mengalami trauma. Beliau bilang ada hal-hal yang mungkin tak akan pernah kembali kuingat.”
Marsha mengangkat pandangan ke langit malam, matanya seperti mencari sesuatu di antara bintang-bintang. “Tapi sebelum itu…” ia menggeleng perlahan. “Tidak ada apa-apa, seperti hidupku dimulai dari ranjang rumah sakit itu.”
Angin malam menyentuh rambutnya, tetapi ia nyaris tak menyadarinya, semakin ia berbicara, semakin ada sesuatu yang terasa janggal, bukan sekedar kehilangan ingatan. Melainkan seperti ada bagian hidupnya yang sengaja dihapus.
Archio menatap wajah adiknya dengan saksama, lalu bertanya hati-hati, “Apa benar tidak ada yang lain?”
Marsha hendak menggeleng, namun gerakannya terhenti, nyaris tak terlihat tapi cukup membuat Archio menegang. “Acha?”
Marsha tak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sejenak, dahinya berkerut seperti sedang menangkap sesuatu yang melintas cepat. “Ada…” bisiknya akhirnya. Archio mencondongkan tubuh sedikit. “Apa?”
Marsha mengangkat tangan, menekan pelipisnya pelan. “Entahlah… mungkin hanya bayangan.” Suaranya mulai terdengar goyah. “Kadang aku seperti melihat tangga.”
Archio membeku.
“Tangga?”
Marsha mengangguk samar. “Tangga besar. Marmer putih.” ia berhenti, nafasnya berubah.
“Ada darah disana…”
Kali ini suaranya hampir pecah.
Dan ketika ia kembali bicara, kata-katanya terdengar seperti sesuatu yang ditarik paksa dari tempat paling dalam. “Ada suara seseorang menyuruhku lari, suara laki-laki mungkin masih muda, tapi aku tidak ingat.”
Keheningan jatuh di antara mereka, begitu berat sampai bunyi angin pun terasa jauh. Archio tidak bergerak, tatapannya berubah, bukan lagi sekadar terkejut, melainkan seperti seseorang yang baru melihat kepingan puzzle yang selama ini hilang mulai muncul satu per satu, karena jika Marsha mulai mengingat meski baru serpihan, maka masa lalu yang selama ini terkubur, mungkin benar-benar sedang bangkit.