NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Naga Mengamuk di Markas Preman

Setelah kejadian ngusir orang sombong di pangkalan, Guntur nggak langsung pulang. Insting tajamnya merasa ada yang nggak beres. Benar saja, Adit menelepon dengan suara panik kalau gudang logistik mereka di perbatasan Sidoarjo baru saja disatroni sekelompok preman bayaran yang menghancurkan barang-barang proyek.

​Guntur nggak pakai baju jas, nggak pakai pengawalan. Dia cuma pakai jaket ojek hijaunya yang sudah kotor kena debu aspal, tapi tatapan matanya sudah berubah jadi malaikat maut. "Adit, gak usah lapor polisi dhisik. Iki urusanku. Aku kangen ngremuk balung wong!" (Adit, nggak usah lapor polisi dulu. Ini urusanku. Aku kangen meremukkan tulang orang!) ucap Guntur dingin lewat ponselnya.

​Guntur memacu motor matic bututnya menuju lokasi gudang. Sampai di sana, dia melihat sepuluh orang berbadan besar sedang tertawa-tawa sambil memegang balok kayu dan pipa besi. Di tengah-tengah mereka, ada seorang pria berambut pirang yang tampaknya jadi pemimpin gerombolan sampah ini.

​"Woy, asu! Sopo sing ngutus kowe kabeh ngerusak nggonku?!" (Woy, asu! Siapa yang mengutus kalian semua merusak tempatku?!) teriak Guntur sambil turun dari motor dengan santai. Dia berjalan sendirian menghadapi sepuluh preman itu seolah-olah mereka cuma sekumpulan semut yang siap diinjak.

​Si rambut pirang itu tertawa meremehkan. "Hahaha! Cuma driver ojek kurus begini yang datang? Mana Bos Guntur yang katanya sakti itu? Apa dia sembunyi di bawah ketiak istrinya?" Ejekan itu langsung disambut tawa pecah dari anak buahnya yang lain.

​Guntur cuma nyengir sinis, dia mematahkan lehernya sampai berbunyi krek. "Matamu picek ta? Aku iki Guntur Hidayat. Mergo kowe kabeh wis kakehan cangkem, saiki pilihane mung loro: Metu teko kene karo mlaku, opo metu teko kene nggawe ambulans?" (Matamu buta ta? Aku ini Guntur Hidayat. Karena kalian semua sudah kebanyakan mulut, sekarang pilihannya cuma dua: Keluar dari sini dengan berjalan, atau keluar dari sini pakai ambulans?)

​Tanpa nunggu aba-aba, tiga preman langsung merangsek maju. Guntur menghindar dengan gerakan sangat tipis. Dia menangkap tangan preman pertama, lalu membantingnya ke lantai beton sampai terdengar bunyi tulang bergeser. Preman kedua yang mencoba memukul pakai kayu langsung kena tendangan "Gundala" tepat di rahangnya sampai giginya rontok berhamburan.

​"Cuma segini kemampuan kacung-kacung Jakarta?" ejek Guntur sambil meludahi lantai. Tujuh orang sisanya mulai gemetar melihat kawan mereka tumbang dalam hitungan detik. Si rambut pirang mulai panik, dia mencabut pisau lipat dari pinggangnya dan mencoba menusuk leher Guntur.

​Guntur menangkap pergelangan tangan si pirang, lalu menekannya sekuat tenaga sampai pisau itu jatuh. Dia kemudian menghujani wajah preman itu dengan pukulan bertubi-tubi sampai rapinya hilang berganti darah. "Kandani sing ngongkon kowe... Guntur wis dudu jagoan cilik sing iso diwedeni nggawe gertakan sampah!" (Bilangi yang menyuruh kamu... Guntur sudah bukan jagoan kecil yang bisa ditakut-takuti pakai gertakan sampah!)

​Sepuluh preman itu akhirnya lari terbirit-birit, ada yang merangkak, ada yang dipapah kawannya. Guntur hanya berdiri diam di tengah gudang yang berantakan, nafasnya teratur, tak ada rasa takut sedikit pun. Dia mengambil sebatang rokok kretek dari sakunya dan menyalakannya dengan tenang.

​Adit dan rombongan satpam baru sampai sepuluh menit kemudian, mereka melongo melihat sepuluh preman besar sudah hilang dan bos mereka cuma berdiri sambil merokok santai. "Mas Guntur... sampeyan gak opo-opo?" tanya Adit cemas.

​"Aku sehat wal afiat, Dit. Tapi gudang iki dadi mambu sampah mergo wong-wong mau. Resikono, terus pasang cctv sing akeh. Nek ono sing wani mrene maneh, gak usah nunggu aku, tumpakno pick-up buwang nang laut!" (Aku sehat wal afiat, Dit. Tapi gudang ini jadi bau sampah karena orang-orang tadi. Bersihkan, terus pasang cctv yang banyak. Kalau ada yang berani ke sini lagi, nggak usah nunggu aku, naikkan ke pick-up buang ke laut!) perintah Guntur dengan nada yang nggak bisa dibantah.

​Sore itu, sang Naga kembali menunjukkan taringnya. Dia bukan cuma bos yang punya uang, tapi dia adalah Panglima yang punya nyali. Di bawah langit Sidoarjo yang mulai gelap, Guntur pulang ke rumahnya, siap kembali jadi suami yang hangat bagi Sekar, setelah sebelumnya menjadi monster yang menakutkan bagi musuh-musuhnya.

Sisa-sisa preman yang masih bisa berdiri tampak gemetar melihat pemimpin mereka sudah babak belur di tangan Guntur. Mereka nggak menyangka kalau orang yang tadinya mereka anggap cuma driver ojek kroco ternyata punya tenaga seperti monster. Guntur berjalan perlahan ke arah salah satu preman yang memegang pipa besi, wajahnya dingin tanpa emosi.

​"Opo? Isih kepingin nyoba untung ta, Mas? Ndang mreneo, tanganmu selak gatel ta?" (Apa? Masih kepengin coba untung ta, Mas? Sini cepat, tanganmu sudah gatal ta?) tanya Guntur sambil memberikan isyarat dengan tangannya agar preman itu mendekat. Nyali preman itu langsung menciut, pipa besi yang dipegangnya gemetar hebat sampai berbunyi nyaring menabrak lantai beton.

​Preman itu nekad mengayunkan pipa besinya sekuat tenaga ke arah kepala Guntur. Tapi dengan gerakan santai, Guntur hanya sedikit memiringkan kepalanya. Pipa itu lewat begitu saja di samping telinganya, dan sebelum preman itu sempat menarik kembali senjatanya, Guntur sudah mendaratkan satu pukulan keras tepat di rusuk lawannya sampai terdengar bunyi krak yang ngeri.

​Preman itu langsung tumbang, megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen. Guntur kemudian menatap sisa-sisa anak buah si rambut pirang yang mulai mundur perlahan menuju pintu keluar. "Balik nang juraganmu, kandani yen aku gak butuh waktu suwe gawe ngeratake omahe sisan!" (Balik ke juraganmu, bilangi kalau aku nggak butuh waktu lama buat meratakan rumahnya sekalian!) bentak Guntur yang suaranya menggema di seluruh ruangan gudang.

​Adit yang berdiri di depan pintu gudang hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan di depannya. Dia sudah lama tahu Guntur itu sakti, tapi melihat sendiri bagaimana kakaknya itu menghajar sepuluh orang sendirian tanpa keringat sedikit pun benar-benar bikin bulu kuduk berdiri. "Mas Guntur, beneran nggak perlu lapor polisi buat olah TKP?" tanya Adit dengan nada ragu.

​"Polisi urusane administrasi wae, Dit. Urusan balung remuk iki urusanku dewe. Nek kakehan laporan, musuh kito malah rumongso dhuwur mergo nggawe hukum dadi tameng," (Polisi urusan administrasi saja, Dit. Urusan tulang remuk ini urusanku sendiri. Kalau kebanyakan laporan, musuh kita malah merasa tinggi karena pakai hukum jadi tameng,) jawab Guntur sambil membersihkan noda darah di tangannya pakai kaos dalam preman yang sudah pingsan tadi.

​Guntur berjalan keluar dari gudang, menatap langit Sidoarjo yang mulai tertutup mendung. Dia tahu, ini baru permulaan dari serangan-serangan kecil yang dikirim oleh sisa-sisa pengikut Amanda dan Rian dari Jakarta. Mereka pikir dengan mengganggu logistik, Guntur akan menyerah dan balik ke Jakarta untuk bernegosiasi.

​"Kandani kabeh anggota ojek pangkalan, sopo wae sing weruh wong asing kakehan pola nang sekitar proyek, langsung laporno aku. Bakal tak kek'i bonus sing luwih gede teko tarif ojeke!" (Bilangi semua anggota ojek pangkalan, siapa saja yang lihat orang asing kebanyakan pola di sekitar proyek, langsung laporin ke aku. Bakal aku kasih bonus yang lebih gede dari tarif ojeknya!) perintah Guntur pada Adit sebelum menaiki motor matic-nya kembali.

​Guntur pun tancap gas meninggalkan gudang itu, knalpot motor bututnya membelah kesunyian malam. Dia merasa puas, adrenalinnya yang sempat mati selama di kantor kini mendidih kembali. Bagi Guntur, hidup itu bukan cuma soal tanda tangan kontrak triliunan, tapi soal menjaga kehormatan dengan tangan kosong di bawah aspal yang dia kuasai. Sang Naga sudah benar-benar bangkit, dan siapapun yang berani menyentuh miliknya, harus siap pulang dengan nyawa di ujung tanduk.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!