NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Hutan Kabut Awan (1) [REVISI]

Wang Yan menyelinap ke sebuah toko pakaian kecil di sudut pasar loak yang sepi. Di sana, ia membeli sebuah jubah hitam polos dengan tudung lebar. Tanpa banyak bicara, ia mengenakan jubah itu, menyembunyikan wajah serta pedang barunya di balik kain gelap agar tidak menarik perhatian.

Tujuannya adalah Hutan Kabut Awan, sebuah wilayah yang terletak sekitar 10 li di sebelah timur dari Kota Qingshi. Berdasarkan cerita yang sering ia dengar dari para penduduk kota yang suka berkumpul di kedai teh dan pedagang-pedagang, hutan ini bukanlah tempat populer bagi para kultivator.

Para penduduk sering bercerita bahwa kebanyakan kultivator tidak menyukai Hutan Kabut Awan karena tempat itu tidak efisien. Jaraknya cukup jauh, dan binatang buas di sana jarang sekali menjatuhkan batu kristal yang berharga. Kalaupun ada binatang yang berhasil diburu, kualitas kristalnya biasanya di bawah rata-rata pasar—bahkan tidak menjatuhkan batu kristal, sehingga para kultivator lebih memilih hutan lain yang lebih menjanjikan.

Bagi kebanyakan kultivator, pergi ke sana hanya membuang tenaga, namun bagi Wang Yan, reputasi buruk hutan tersebut justru menjadikannya tempat persembunyian yang ideal untuk berlatih tanpa gangguan.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh hanya dengan berjalan kaki, Wang Yan akhirnya sampai di pinggiran hutan. Sesuai namanya, kabut tipis menyelimuti permukaan tanah di antara pepohonan yang tumbuh rapat. Ia masuk sekitar 1 li ke dalam hingga menemukan sebuah area terbuka di dekat dinding tebing kecil yang tertutup lumut.

Ia meletakkan bungkusan kainnya dan mengeluarkan gulungan Teknik Pedang Penebas Udara.

Wang Yan duduk bersandar di pohon, membaca setiap baris instruksi dengan cepat. Logika sarjananya bekerja dengan presisi. Ia tidak mencoba menghafal gerakan sebagai tarian, melainkan sebagai mekanisme yang lebih mudah diolah otaknya.

“Tekanan udara, percepatan sudut, dan pelepasan energi spiritual pada titik tumpu pergelangan tangan...” batinnya.

Bagi orang lain, teknik ini mungkin butuh waktu berhari-hari untuk dipahami teorinya. Namun bagi Wang Yan, dalam waktu singkat, ia sudah menutup gulungan tersebut. Ia sudah paham struktur gerakannya secara menyeluruh.

Ia berdiri dan menarik pedang baja hitamnya. Bunyi sring pelan memecah kesunyian hutan.

Wang Yan mengambil posisi kuda-kuda rendah. Ia menarik napas panjang, membiarkan energi dari Lautan Spiritual lapisan keempat mengalir ke lengan kanannya.

Wush!

Ia mengayunkan pedangnya secara horizontal. Ayunan pertama itu menciptakan suara angin yang tajam, membelah kabut di depannya. Ia mengerutkan kening sedikit, mengevaluasi keseimbangan tubuhnya.

Ia mencoba lagi. Kali ini, ia memusatkan ledakan energinya tepat saat bilah pedang mencapai titik tengah ayunan, sesuai dengan perhitungan anatomis yang ia pelajari.

WRAK!

Tekanan angin yang dihasilkan dari kecepatan pedang itu menghantam semak-semak setinggi pinggang di depannya hingga patah rapi. Wang Yan melihat tangannya sendiri. Rasanya berbeda. Gabungan antara tubuh yang sudah ditempa fisik dan energi spiritual membuat teknik biasa ini terasa jauh lebih mematikan dari yang terlihat di buku.

Setelah merasa cukup dengan pemanasan teknis, Wang Yan menyarungkan kembali pedangnya sebentar. Ia menatap ke arah hutan yang lebih gelap dan berkabut di depannya.

“Berlatih pada benda mati tidak akan mempertajam insting,” ucapnya dingin.

Ia menarik tudung jubahnya lebih rendah, lalu melangkah masuk lebih dalam ke area hutan yang lebih pekat.

Tidak butuh waktu lama bagi panca inderanya yang telah diperkuat untuk menangkap suara deru napas kasar dari balik semak-semak.

Tiga ekor Babi Hitam Bercula muncul dengan mata merah yang menyala. Berdasarkan fluktuasi energinya, binatang-binatang ini berada di tingkatan Kebangkitan Naluri lapisan 1 dan 2. Tingkatan kultivasi binatang buas yang setara tingkatan Lautan Spiritual kultivasi manusia. Walaupun memiliki lapisan yang lebih rendah, kebanyakan binatang buas lebih kuat satu lapisan dari kebanyakan kultivator manusia karena kelebihan fisik mereka.

Begitu mereka menerjang, Wang Yan sedikit waspada tetapi tidak menghindar jauh. Ia hanya menggeser tumitnya beberapa sentimeter, membiarkan taring babi pertama lewat di samping jubahnya, lalu menarik pedangnya.

Sring! Wush!

Satu tebasan horizontal yang presisi membelah leher babi tersebut sebelum sempat mengerem lariannya. Dua babi lainnya menyusul, namun gerakan mereka terasa lambat di mata Wang Yan. Dengan kombinasi kecepatan fisik dan Teknik Pedang Penebas Udara, ia hanya butuh satu tusukan tepat di jantung dan satu tebasan di pangkal kepala untuk merobohkan mereka.

Pembantaian itu berlanjut selama belasan menit.

Wang Yan bergerak seperti bayangan hitam di tengah kabut. Ia bertemu dengan gerombolan Babi Hitam yang lebih besar, dua di antaranya sudah mencapai tingkat Kebangkitan Naluri lapisan ketiga. Namun, dengan tingkatan Lautan Spiritual lapisan keempat ditambah kecerdasan miliknya, binatang buas Kebangkitan Naluri lapisan ketiga yang seharusnya memiliki kekuatan yang sama dengannya, dihadapi Wang Yan dengan ketepatan yang presisi mengandalkan sifat binatang buas yang tak memiliki kecerdasan dalam memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya.

Tebasan pedang hitamnya selalu mengenai titik vital—mata, leher, atau celah di antara tulang rusuk. Setiap gerakan dibuat seefisien mungkin untuk menghemat energi spiritual.

Setelah sekitar empat puluh ekor Babi Hitam tumpang tindih menjadi bangkai di area tersebut, Wang Yan mulai memeriksa hasil buruannya. Ia menggunakan pedang hitamnya untuk membelah bagian kepala dan dada binatang-binatang tersebut, mencari batu kristal binatang buas yang seharusnya ada di sana, seperti penjelasan dalam buku-buku yang pernah ia baca.

Satu per satu bangkai ia periksa, namun hasilnya membuat ia mendengus pelan.

“Rumor itu benar-benar akurat,” gumam Wang Yan sambil menyeka noda darah di ujung sandalnya.

Dari empat puluh ekor binatang buas yang ia bunuh, tiga puluh delapan di antaranya tidak menghasilkan apa-apa selain daging dan kulit kasar. Hanya ada dua butir kristal kecil berwarna putih kusam yang berhasil ia temukan. Itu adalah Batu Kristal Binatang Buas Tingkat 1 kelas rendah, yang energinya bahkan terasa tidak stabil dan kotor.

Di pasar Kota Qingshi, batu kristal binatang buas tingkat 1 kualitas rendah seperti ini hampir tidak memiliki nilai jual bagi kultivator. Namun, bagi Wang Yan, fokus utamanya hari ini bukanlah kekayaan.

Ia menatap telapak tangannya yang sedikit bergetar—sebuah sensasi adrenalin dan adaptasi otot terhadap teknik barunya.

Wang Yan segera meninggalkan kawasan yang kini berlumuran darah itu. Bau amis yang tajam adalah undangan terbuka bagi pemangsa yang lebih kuat, dan dia tidak cukup bodoh untuk terus berada di sana dalam keadaan stamina yang mulai terkuras.

Dia bergerak cepat, melompati akar-akar pohon besar sebelum memanjat dahan pohon besar yang lebat. Dari ketinggian sekitar lima meter, Wang Yan duduk bersandar, menyembunyikan tubuhnya di balik kabut dan rimbunnya dedaunan.

Napasnya diatur perlahan. Sambil beristirahat, ia mengeluarkan dua butir kristal binatang buas kelas rendah yang didapatkannya tadi. Di bawah cahaya redup hutan, kristal itu tampak pudar dan hampir tidak memancarkan energi murni. Benar-benar berkualitas rendah.

“Rumor itu tidak salah. Tempat ini memang miskin sumber daya,” gumamnya datar.

Namun, Wang Yan tidak merasa kecewa. Ia menyimpan kembali kristal binatang buas itu ke dalam sakunya dan memejamkan mata sejenak. Baginya, hasil buruan terbaik hari ini bukanlah kristal tersebut, melainkan sensasi kepuasan saat otot dan aliran energi spiritualnya mulai menyatu dengan sempurna dalam setiap ayunan teknik yang ia keluarkan.

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!