NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamat Pagi Itu

Langit sudah benar-benar berubah jingga saat kami akhirnya berdiri dari bangku itu. Sisa es di plastik tinggal dinginnya saja, dan bungkus sosis sudah terlipat rapi di samping.

"Mau pulang sekarang?" tanyaku pelan.

Cila mengangguk.

Kami berjalan berdampingan keluar dari area danau. Tidak ada lagi percakapan panjang seperti tadi—anehnya, hening ini tidak terasa canggung. Justru... nyaman. Sesekali bahu kami hampir bersentuhan, lalu sama-sama sedikit menjauh tanpa saling melihat. Konyol, tapi entah kenapa membuatku ingin tersenyum sendiri.

Sampai di dekat motor, aku berhenti sebentar.

"Nih," kataku sambil menyerahkan helm ke arahnya.

Cila menerimanya, lalu memakainya pelan. "Kamu hati-hati ya bawanya."

Aku mengangguk. "Tenang."

Mesin motor dinyalakan. Suaranya halus, seperti tadi pagi. Tapi kali ini rasanya berbeda. Aku duduk di depan. Dan beberapa detik kemudian—terasa ringan sentuhan di pundakku. Cila memegang jaketku, pelan. Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Motor mulai melaju keluar dari taman, masuk ke jalan yang mulai dipenuhi lampu-lampu kota. Angin sore yang tadi sejuk kini berubah sedikit dingin, menusuk kulit. Di tengah perjalanan, aku sempat melirik spion kecil di samping. Wajahnya tidak terlihat jelas karena helm. Tapi aku tahu dia di sana. Dekat.

Perjalanan pulang terasa... lebih singkat dari biasanya. Atau mungkin aku yang tidak ingin ini cepat berakhir.

Sesampainya di depan rumahnya, aku memperlambat laju motor, lalu berhenti tepat di depan pagar. Mesin dimatikan. Sunyi. Cila melepas helmnya, lalu mengembalikannya padaku.

"Makasih ya... hari ini," ucapnya pelan.

Aku menggaruk belakang kepala. "Santai."

Dia turun dari motor, tapi tidak langsung masuk. Berdiri sebentar. Seolah ada yang ingin dikatakan. Aku juga diam. Menunggunya.

"Besok... kamu jadi lari?" tanyanya akhirnya.

Aku langsung mengangguk. "Jadi. Jam enam."

Cila tersenyum kecil. "Oke. Jangan telat ya."

Aku ikut tersenyum. "Kamu juga."

Dia berbalik, membuka pagar, lalu melangkah masuk. Sebelum benar-benar hilang di balik pintu, dia sempat menoleh sebentar. Senyum tipis. Lalu masuk.

Aku masih duduk di atas motor beberapa detik setelah itu. Menatap pintu yang sudah tertutup. Aneh. Dada ini terasa penuh. Bukan karena capek. Tapi karena sesuatu yang lain. Aku menarik napas pelan, lalu menyalakan mesin kembali. Saat motor mulai bergerak menjauh, satu hal yang pasti—besok pagi, aku tidak akan bangun sendirian dengan tujuan. Ada seseorang yang menunggu di garis start yang sama.

***

Pagi itu aku sudah berdiri di depan rumah dengan sepatu lari. Udara masih dingin, langit belum sepenuhnya terang. Aku menarik napas panjang, siap memulai rutinitas baruku. Baru saja aku mengambil HP, mau ngajak Cila lari—HP di tanganku langsung bergetar. Pesan masuk. Dari Cila.

Aku sedikit terdiam sebelum membukanya.

“Ndra, hari ini MPLS. Jangan lupa.”

Aku mengernyit. “...Hah?”

Otakku langsung memutar ulang rencana semalam. Lari pagi. Latihan. Semangat baru. Dan… semua itu buyar seketika.

“Anjir, iya juga…” gumamku pelan sambil menepuk jidat. Aku langsung mengetik balasan. “Serius hari ini? Aku kira Senin.”

Tidak butuh waktu lama. “Iya, ini yang hari Sabtu itu. Pengarahan dulu.”

Aku menghela napas panjang, lalu tertawa kecil sendiri. Untung Cila ngingetin, aku lupa sama sekali. Tanganku kembali bergerak di layar. “Mau berangkat bareng nggak? Aku naik motor.”

Beberapa detik. Terasa lama. Lalu balasan itu muncul. “Iya, boleh.”

Aku terdiam sejenak. Entah kenapa, senyumku langsung muncul begitu saja. “Ya udah, aku jemput ya. Siap-siap.”

“Oke.”

Aku langsung berbalik masuk rumah. Sepatu lari kulepas, diganti sepatu sekolah. Kaos kuganti dengan seragam yang masih terasa kaku karena jarang kupakai pagi-pagi begini. Beberapa menit kemudian, aku sudah duduk di atas motor. Si 73 Biru. Mesinnya menyala halus. Aku melaju pelan keluar gerbang, menuju rumah Cila.

***

Cila sudah menunggu di depan rumahnya. Berdiri dengan tas di pundak, rambutnya diikat sederhana. Seragamnya rapi. Begitu melihatku, dia mengangkat tangan kecil.

“Tumben tepat waktu,” katanya sambil tersenyum tipis saat aku berhenti di depannya.

“Ini gara-gara kamu,” jawabku santai. “Kalau nggak, kita lagi lari sekarang.”

Cila tertawa kecil. “Ya bagus dong. Aku menyelamatkan masa depanmu.”

Aku ikut tersenyum. “Yuk, naik.”

Cila mengangguk, lalu naik ke belakang. Beberapa detik hening. Lalu pelan, tangannya memegang sisi jaketku.

“Udah? Jalan ya,” katanya.

“Iya.”

Aku mulai menarik gas. Motor melaju menyusuri jalan pagi yang masih sepi. Udara dingin menerpa wajah, membuat suasana terasa… tenang. Tidak banyak yang kami bicarakan. Tapi entah kenapa, diamnya tidak terasa canggung.

***

Gerbang sekolah sudah terlihat dari kejauhan. Rame. Banyak siswa berdiri berkelompok di depan. Beberapa kakak OSIS berdiri di dekat gerbang, mengarahkan siswa yang datang. Aku memperlambat motor.

“Wah… rame juga,” gumamku.

Cila mengangguk pelan di belakang. “Iya. Deg-degan nggak?” tanyanya.

Aku tertawa kecil. “Sedikit.”

Kami masuk ke area parkir. Aku mematikan mesin, lalu turun. Cila ikut turun, merapikan sedikit bajunya. Suasana di dalam terasa berbeda. Suara ramai bercampur—tawa, panggilan nama, dan instruksi dari kakak OSIS yang terdengar cukup tegas.

“Kelompok 7.”

Cila tersenyum kecil. “Satu kelompok ternyata.”

Aku mengangkat bahu santai. “Lumayan… nggak sendirian.”

Kami duduk di lapangan, mendengarkan penjelasan. Jujur saja… sebagian besar lewat begitu saja di kepalaku. Yang lebih sering kulakukan justru melirik ke samping. Cila duduk di sebelahku. Serius memperhatikan. Sesekali mencatat sesuatu di buku kecilnya.

“Rajin banget,” bisikku pelan.

Dia menoleh sebentar. “Daripada nanti lupa.”

Aku tertawa kecil. “Aku sih nanti tanya kamu aja.”

Cila menggeleng sambil tersenyum.

Saat sesi istirahat, kami duduk di pinggir lapangan.

“Capek juga ya, baru hari pertama,” kataku sambil meluruskan kaki.

“Iya. Tapi seru sih,” jawabnya.

Aku menoleh. “Seru?”

Cila mengangguk. “Iya. Soalnya… semuanya baru.”

Aku diam sebentar, lalu mengangguk pelan. “Iya juga.”

Hari itu berlalu lebih cepat dari yang kukira. Saat kegiatan selesai, kami berjalan keluar gerbang bersama.

“Besok masih bareng?” tanyaku santai.

Cila menoleh, lalu tersenyum kecil. “Harusnya iya. Kan masih kelompok.”

Aku mengangguk. “Ya udah… besok aku jemput lagi?”

Cila tidak langsung menjawab. Beberapa detik. Lalu—“Iya.”

Singkat. Tapi cukup membuat langkahku terasa lebih ringan. Kami berhenti di depan motor. Hari pertama belum benar-benar dimulai. Tapi entah kenapa—aku merasa sudah menemukan sesuatu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!