"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahu yang Selalu Ada
POV Zhira
Sejak malam hujan itu, hubungan kami semakin dekat. Arfan bukan sekadar teman kerja lagi, dia sudah menjadi bagian terpenting di hariku. Setiap pagi ada pesan selamat pagi, setiap malam ada telepon atau video call sebelum tidur.
Dia selalu tahu cara membuatku tersenyum. Dia tidak pernah bosan mendengarkan ceritaku, entah itu soal tugas kantor yang membosankan, atau sekadar cerita soal tanaman di kontrakan yang mulai layu.
Suatu sore, Arfan menjemputku pulang kerja. Seperti biasa, dia selalu datang tepat waktu dengan mobil yang bersih dan wangi.
"Mau makan di mana hari ini, Cantik?" tanyanya sambil menyalakan mesin. Aku suka sekali saat dia memanggilku dengan panggilan sayang itu, suaranya terdengar sangat lembut.
"Kamu aja yang tentuin, Fan. Aku mah ikut aja," jawabku manja. Baru kali ini aku bisa bersikap manja pada seseorang, dan rasanya sangat enak.
"Yasudah, kita makan di tempat tenang aja ya. Aku mau ngobrol banyak sama kamu," katanya sambil tersenyum.
Kami memutuskan makan di sebuah kafe dengan desain kayu yang hangat dan minim pencahayaan, sangat romantis dan privat. Kami memesan makanan dan mulai mengobrol santai.
"Ra..." panggil Arfan pelan di sela makan. "Aku perhatikan, setiap kali ada telepon dari rumah, ekspresi kamu langsung berubah jadi takut dan kaku. Ada apa sebenarnya di sana? Kalau kamu percaya sama aku, cerita aja. Aku mau jadi tempat kamu bersandar, bukan cuma buat jalan-jalan doang."
Pertanyaan itu membuat sendok di tanganku terhenti. Dadaku sesak. Bayangan Ibu Zainal, Ayah Alvin, dan semua luka masa lalu kembali berputar di kepala.
Selama ini aku selalu menyembunyikan sisi gelap itu dari orang baru yang datang. Takut mereka ilfeel, takut mereka kabur karena tahu aku punya keluarga yang rumit.
Tapi saat menatap mata Arfan yang teduh dan penuh pengertian, pertahananku runtuh. Aku ingin dia tahu siapa aku sebenarnya. Aku ingin dia tahu dari mana aku berasal.
"Fan..." suaraku bergetar. "Kamu janji jangan ilfeel sama aku ya? Jangan berpikir buruk tentang keluargaku..."
Arfan langsung mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam tanganku erat. "Aku janji, Ra. Apapun ceritanya, itu nggak akan mengubah perasaanku sama kamu. Justru aku makin pengen lindungi kamu."
Air mataku mulai jatuh. Dan di sana, di sudut kafe yang tenang itu, aku mulai membuka semua tabir. Aku cerita tentang bagaimana rasanya jadi anak pertama yang selalu disalahkan. Aku cerita tentang perlakuan Ibu Zainal yang dingin, tentang pakaian dan mainan yang selalu nomor dua setelah adik. Aku cerita tentang sepatu bocor, tentang kelaparan saat kuliah, tentang tuntutan uang yang tak habis-habis, dan tentang rasa tidak pernah dianggap berharga di rumah sendiri.
Aku menangis tersedu-sedu saat menceritakan betapa sakitnya dicaci maki oleh ibunda sendiri, betapa perihnya merasa jadi orang asing di rumah sendiri.
Arfan tidak menyela. Dia hanya mendengarkan dengan seksama, sesekali mengusap punggung tanganku atau mengelap air mataku dengan tisu yang dia siapkan. Wajahnya terlihat sedih, tapi juga penuh kekaguman.
"Ya Allah... berat banget perjalanan kamu, Ra..." bisiknya lirih saat aku selesai bicara. "Pantesan kamu sekuat ini, pantesan kamu mandiri banget. Kamu dibentuk oleh keadaan yang nggak mudah."
"Aku jahat nggak, Fan? Kalau kadang aku benci sama sikap Ibu? Kalau kadang aku pengen lari jauh dan nggak mau pulang?" tanyaku ragu.
Arfan menggeleng tegas. "Enggak sama sekali, Sayang. Kamu itu manusia biasa, bukan batu. Wajar kalau kamu sakit, wajar kalau kamu capek. Yang bikin aku kagum, meski diperlakukan begitu, kamu tetap jadi anak yang baik, tetap berbakti, tetap mau kirim uang dan bantu mereka. Hati kamu seluas itu, Ra. Mereka mungkin nggak sadar punya permata sebaik kamu, tapi aku lihat semuanya."
Dia menarik tanganku ke bibirnya, mencium punggung tanganku dengan penuh hormat dan sayang.
"Mulai sekarang, kamu nggak perlu sendirian lagi. Ada aku. Kalau mereka minta-minta terus, biar aku yang bantu omongin. Kalau kamu sedih, aku yang hibur. Kamu itu wanita hebat, Zhira. Jangan biarkan siapapun bikin kamu merasa kecil lagi, dengar?"
Kata-kata itu adalah balsem yang paling mujarab untuk luka bertahun-tahun. Rasanya seperti semua rasa lelah dan sakit itu perlahan terobati.
"Makasih ya, Fan... Makasih sudah datang di hidup aku. Makasih sudah mau terima aku apa adanya," isakku bahagia.
"Sama-sama, Sayang. Justru aku yang harusnya bersyukur, dikasih kesempatan sama Tuhan buat jagain cewek sebaik kamu."
Malam itu kami pulang dengan perasaan yang jauh lebih dekat. Rahasia terbesar dalam hidupku sudah kudengarakan, dan dia tidak pergi. Dia justru makin mencintaiku.
Di depan pintu kontrakan, sebelum aku turun, Arfan menahan tanganku.
"Zhira..."
"Iya?"
"Aku serius sama kamu. Aku nggak main-main. Suatu hari nanti, aku mau kenalan sama orang tua kamu, dan aku mau bilang ke mereka betapa berharganya anak yang mereka miliki ini," ucapnya tegas, menatap mataku dalam-dalam.
Jantungku berdegup kencang bukan main. Janji itu... janji masa depan.
"Iya, Fan. Aku nungguin hari itu," jawabku lembut.
Aku masuk ke dalam kamar dengan hati yang berbunga-bunga. Malam ini, tidak ada lagi ruang untuk kesedihan. Hanya ada rasa syukur yang tak terhingga. Tuhan memang adil, Dia mengambil kebahagiaanku di masa kecil, tapi kini Dia mengembalikannya berkali lipat lebih indah melalui sosok Arfan.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waduh, makin serius nih mereka! 🥹💍 Arfan tuh suami idaman banget ya Bestie! Gimana Bab 20-nya? Panjang dan dalem kan? Lanjut Bab 21 lagi gas! Kita mau cerita Arfan mau ketemu keluarga nih! 😏🔥📖