"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Malam semakin larut, namun api kemarahan di dada Susi justru semakin berkobar, membakar sisa-sisa ketenangan yang ia miliki. Di dalam kamarnya yang megah dan dipenuhi barang-barang antik berharga, ia berjalan mondar-mandir bak singa betina yang baru saja diusir dari wilayah perburuannya sendiri. Suara tawa dingin Calista di lift tadi, serta tatapan meremehkan yang dilemparkan gadis itu, masih terngiang-ngiang dengan jelas, mencabik-cabik harga diri Susi yang selama belasan tahun ia bangun dengan penuh kepalsuan dan intrik.
"Sialan! Gadis ingusan itu benar-benar berani menabuh genderang perang denganku di rumahku sendiri!" desis Susi sambil membanting tas tangan kulit buaya mahalnya ke atas tempat tidur king size. Suara debuman tas itu seolah menjadi representasi kemarahannya yang tertahan.
Ia berhenti sejenak dan menatap pantulan dirinya di cermin rias kristal yang besar. Selama bertahun-tahun, Susi telah berhasil menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya untuk menguasai harta keluarga Satrya. Ia adalah manipulator ulung yang berhasil mempertahankan posisinya bahkan setelah kematian ayah Denis. Namun sekarang, seorang gadis berusia 17 tahun yang muncul dari antah berantah seorang bocah yang seharusnya masih berkutat dengan buku pelajaran tiba-tiba memegang semua kunci otoritas rumah tangga. Susi tahu betul, jika ia membiarkan Calista terus berkuasa dan mendapatkan hati Denis, maka ia dan Puput hanya akan berakhir menjadi pajangan tak berguna yang sewaktu-waktu bisa dibuang ke jalanan tanpa sepeser pun harta.
"Aku tidak akan membiarkan satu rupiah pun jatuh ke tangan bocah licik itu," gumamnya dengan mata yang berkilat penuh kebencian. "Jika Denis tidak bisa disadarkan dengan kata-kata, maka aku harus melenyapkan penyebabnya. Calista harus pergi dari rumah ini, entah dalam keadaan hidup atau... hancur tak bersisa hingga tak ada satu pun pria yang mau menoleh padanya lagi."
Susi meraih ponselnya dengan tangan gemetar karena emosi, mencari sebuah nomor di daftar kontak tersembunyi yang sudah lama tidak ia hubungi. Baginya, moralitas adalah sampah yang hanya menghalangi jalan menuju kekuasaan. Ia harus mencari celah, mencari titik lemah Calista yang paling dalam. Ia yakin, setiap orang pasti memiliki rahasia gelap atau masa lalu yang memalukan yang disembunyikan di balik wajah polos mereka. Ia akan menggali kubur untuk Calista, dan ia akan memastikan gadis itu sendiri yang melompat ke dalamnya.
Sementara itu, di kamar utama yang kedap suara dan beraroma maskulin yang kuat, suasana jauh berbeda namun tak kalah mencekam. Calista baru saja selesai membersihkan diri, mencoba menghapus rasa lelah dan sisa ketegangan hari ini. Namun, saat pintu kamar mandi terbuka, sosok Denis sudah berdiri di sana, bersandar di bingkai pintu dengan tatapan yang langsung mengunci seluruh pergerakan tubuhnya.
Gadis itu berdiri membeku di dekat jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang seolah tak pernah tidur. Ia hanya mengenakan daster sutra tipis pemberian Denis yang jatuh pas di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang mulai matang akibat perawatan mewah yang ia terima beberapa hari terakhir. Calista bisa merasakan aura dominasi pria itu memenuhi setiap sudut ruangan, membuat oksigen di sekitarnya seolah menipis dan membuatnya sulit untuk sekadar menarik napas panjang.
Tanpa suara, Denis melangkah mendekat dengan langkah pelan namun pasti, seperti predator yang sedang mendekati mangsa yang sudah terpojok. Ia meraih pinggang Calista dengan kasar namun penuh kendali, menariknya hingga punggung gadis itu membentur dada bidangnya yang keras dan hangat.
"Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik hari ini, Calista. Jauh lebih baik dari yang kubayangkan," bisik Denis tepat di ceruk lehernya. Suara bariton yang rendah itu mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf Calista, menciptakan rasa merinding yang sulit dijelaskan.
"Aku hanya melakukan apa yang Anda perintahkan, Mas Denis," jawab Calista lirih, suaranya bergetar hebat saat ia mencoba menahan gejolak ketakutan sekaligus sensasi asing yang menyerang batinnya.
"Panggil aku seperti itu terus. Aku sangat menyukai caramu menyebut namaku dengan nada takut dan tunduk seperti itu," gumam Denis sebelum memutar tubuh Calista dengan satu sentakan kuat untuk menghadapnya secara langsung.
Malam itu, Denis kembali bertransformasi menjadi sosok yang sangat agresif. Ia mencumbu Calista dengan intensitas yang lebih tinggi, seolah ingin melampiaskan seluruh ketegangan pekerjaannya pada tubuh gadis itu. Ciumannya menuntut, kasar, dan penuh gairah yang menyesakkan. Jemarinya menjelajahi setiap inci kulit Calista dengan sangat posesif, mencengkeram bahu dan pinggangnya seolah sedang menandai wilayah kekuasaan yang tak boleh diganggu gugat. Calista hanya bisa pasrah, kepalanya mendongak dengan napas tersengal, sementara tangannya mencengkeram kuat bahu kokoh Denis saat pria itu kembali meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang baru lebih banyak dan lebih dalam di leher, tulang selangka, hingga bahunya.
Tubuh Calista bergetar hebat saat Denis membantingnya pelan ke atas ranjang sutra yang dingin. Ia sudah memejamkan mata, bersiap untuk menyerahkan segalanya malam ini. Ia sudah menyiapkan mental untuk rasa sakit yang ia bayangkan akan mengakhiri masa gadisnya sebagai tumbal kesembuhan Ibunya. Namun, sekali lagi, Denis menunjukkan kendali diri yang luar biasa mengerikan. Pria itu terus membakar gairah Calista, membuatnya merasa melayang di antara kenikmatan dan siksaan mental, namun Denis selalu tahu kapan harus berhenti tepat di garis batas tipis yang menyiksa.
Denis melepaskan kunciannya secara tiba-tiba, duduk di tepi ranjang sambil menatap Calista yang terengah-engah dengan rambut berantakan dan bibir yang membengkak kemerahan akibat ulahnya. Ada kilatan kemenangan dan kepuasan yang dingin di mata pria berusia 30 tahun itu.
"Kenapa... kenapa Mas Denis selalu berhenti di saat seperti ini?" tanya Calista dengan suara serak, nyaris terisak karena frustrasi mental dan fisik yang luar biasa hebat.
Denis menoleh, mengusap bibir bawah Calista dengan ibu jarinya yang kasar, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan dingin namun penuh api gairah yang terpendam. "Karena aku ingin kau benar-benar merasa haus akan kehadiranku sampai kau gila. Aku tidak ingin mengambil kesucianmu saat kau hanya sekadar 'pasrah' atau 'menyerah' karena kontrak sialan itu. Aku ingin kau memohon padaku untuk melakukannya karena kau memang benar-benar menginginkanku, bukan karena terpaksa."
Denis kemudian menarik Calista ke dalam pelukannya yang protektif namun terasa sangat posesif dan menyesakkan. Di bawah selimut mewah itu, Calista menyadari betapa berbahayanya pria yang kini menjadi suaminya. Denis tidak hanya ingin menguasai fisiknya; pria ini sedang menghancurkan harga diri dan kemandirian mentalnya perlahan-lahan agar Calista sepenuhnya bergantung padanya seperti pecandu.
Di luar kamar sana, Susi sedang menyusun rencana kejam untuk menghancurkannya, sementara di dalam kamar ini, Denis sedang perlahan-lahan mengonsumsi jiwa dan kepribadiannya. Calista sadar, ia sedang terjepit di antara dua kekuatan besar yang siap menghancurkannya, dan satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah dengan belajar menjadi lebih kejam, lebih licik, dan lebih dingin daripada mereka semua.
Penasaran? Please komen dan like 🥰❤🙏