Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlahan pulih
dokter keluar dari ruangan dan langsung memanggil orang tua Raka.
"Pak, bu tolong ikut saya sebentar ya ada hal yang harus saya jelaskan, untuk pasien saat ini belum bisa di jenguk dulu ya"
"Baik dok" Danu meraih bahu Ratih dan berjalan mengikuti dokter tersebut, sedangkan yang lain nya hanya melihat Raka lewat kaca pintu.
"Silahkan Duduk pak, bu"
"terimakasih dok, bagaimana kondisi anak saya dok" Tanya Danu yang saat ini sudah lebih tegar, sedangkan di sisi nya ada Ratih yang belum bisa berhenti menangis.
"Tadi pagi suster kami yang bertugas sudah datang ke kamar pasien untuk mengecek tensi, suhu dan mengganti infus ya pak dan saat itu kondisi pasien dalam keadaan yang baik. Namun beberapa jam setelah itu kondisi pasien melemah, peradangan di kepala nya semakin parah yang membuat pasien saat ini tak sadar kan diri. kami saran kan untuk segera lakukan operasi untuk mengangkat kista di kepala nya"
diam sesaat, Danu dan Ratih tau resiko yang harus mereka terima jika Raka melakukan operasi, operasi di kepala itu tak bisa di katakan aman dengan kondisi Raka saat ini, persentase untuk keberhasilan operasi hanya sebesar 50%.
Tapi meraka sadar tak ada jalan lain, selain mencoba untuk operasi bahkan jika keberhasilan nya kemungkinan hanya 50 % setidaknya mereka masih memiliki harapan 50% itu.
Tak menunggu lama lagi, Danu segera menyelesaikan administrasi untuk operasi sambil menunggu antrian operasi. malam ini juga Raka akan segera di operasi.tak ada yang bisa mereka lakukan selain doa yang tak henti henti nya mereka panjat kan.
...☘️☘️☘️...
Suster mendorong Bed milik Raka kedalam ruang operasi dengan Raka yang masih terpejam. lagi lagi suara tangisan terdengar, Ratih dan Vanya seolah hancur lebur tak mampu lagi membendung semua yang terjadi.
operasi berjalan dengan lancar. Raka sudah kembali ke kamar nya.
"Tan, Irgi pamit pulang dulu ya nanti Irgi balik lagi sore ya Tan" Irgi berpamitan kepada Ratih.
"Iya Gi, makasih banyak ya, maaf ya tante ngerepotin kamu"
"iya tan gak papa"
"Tan Nana juga pulang dulu ya, nanti sore Nana ikut Irgi ke sini"
"Iya Na makasih ya"
"Iya tan sama sama"
Nana mengelus lengan Vanya pelan hanya untuk berpamitan.
...☘️☘️☘️...
Danu sedang pergi mencari obat yang tak tersedia di rumah sakit. sedang kan Vanya dan Ratih hanya diam tak kuasa menahan air mata nya yang terus menetes.
"Mah... " suara lirih Raka memecah keheningan itu.
"Raka udah sadar nak" Ratih dengan sigap memegang tangan Raka untuk menenangkan anak nya. Vanya sudah lebih dulu memanggil perawat untuk memeriksa keadaan Raka.
Senyum manis milik Raka mulai terlihat lagi. kali ini wajah Raka terlihat lebih segar dari sebelum nya.
beruntung operasi yang di lakukan Raka berhasil, sekarang Raka hanya perlu beristirahat total dan meminum beberapa obat dan vitamin.
Irgi dan Nana menepati janji nya untuk datang di sore hari. sebelum mereka berangkat mereka sudah lebih dulu di kabari kalau Raka sudah siuman dan sekarang kondisi sedikit demi sedikit mulai membaik.
"bang gimana udah enakan?"
Raka tersenyum ke arah Irgi, terakhir kali ia sadar hanya wajah panik Irgi lah yang ia lihat.
"udah enakan Gi dikit lagi juga gue pulang nih"
"kalo udah dirumah jangan maen mulu bang, istirahat aja nanti gue aja yang maen kerumah lo tapi inget ya kulkas jangan kosong, sama sedia in PS lah biar seru"
"Hahaha siap Gi nanti om sedia in" Danu yang baru masuk langsung tertawa mendengar candaan Irgi.
"eh om bercanda kok hehe" Irgi sangat canggung saat ini ia tak tau kalau ternyata Danu sudah berada di belakang nya. sedangkan yang lain puas menertawakan muka Irgi yang mulai memerah karna panik.
"panik kan lo Gi" goda Nana yang membuat muka Irgi semakin memerah.
"diem Na"
...☘️☘️☘️...
Setelah Raka keluar dari rumah sakit Irgi, Nana dan Vanya memiliki rutinitas yang baru. setiap hari mereka akan pulang sekolah bersama dan berkumpul di rumah Vanya hanya untuk menemani Raka yang belum pulih, terkadang mereka melihat Raka merintih kesakitan tapi Raka benar benar berusaha untuk menutupi nya. semakin sering Raka menutupi rasa sakitnya semakin sering pula meraka menemani Raka.
Mereka tak berharap imbalan apapun, mereka hanya berharap Raka sadar bahwa ia tak sendirian, ia bisa membagi nya dengan mereka. ya walaupun mereka tak bisa merasakan sakit yang Raka rasakan tapi paling tidak mereka bisa membantu Raka dengan memberikan semangat dan mendengarkan semua keluh kesah Raka.
"Bang kata mamah kalo abang udah enakan nanti kita mau jalan jalan bang" Vanya mendekati Raka dengan sangat excited.
"oke siap adek sayang, nanti abang makan yang banyak biar kita bisa jalan jalan. abang juga bosen di rumah terus"
"Nah gitu dong semangat kan enak kita nanti bisa maen keluar"
Nana dan Irgi sedang fokus dengan game nya dan lagi lagi Irgi berhasil mengalahkan Nana.
"Payah lo Na kalah mulu"
"Ye lo nya aja tuh ga ngasih kesempatan gue buat menang"
"lah namanya juga maen game, masa gue ngalah sama lo "
"udah lah gue mau jajan dulu ada yang mau nitip ga? kecuali bang Raka gaboleh" Nana memilih untuk pergi jajan karna ia kesal.
Raka yang sudah siap mengeluarkan suara nya langsung cemberut mendengar perkataan Nana barusan.
"Hahaha kasian banget bang Raka, langsung patah semangat gitu" Irgi sangat puas menertawakan banyak orang hari ini.
"gue ngeri lo kualat deh Gi ngetawain orang mulu dari tadi" Vanya memasang wajah sok khawatir didepan Irgi hanya untuk membuat Irgi berhenti tertawa.
Dan itu berhasil membalikan keadaan, Irgi terdiam dan cemberut sedangkan yang lain puas menertawakan Irgi.