NovelToon NovelToon
Pengantin Tawanan

Pengantin Tawanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Duniahiburan / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.

Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.

Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.

Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.

Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.

Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???

Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???

Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Paham

Pagi itu akhirnya Nia terbangun setelah semalaman melewati demam tinggi.

Dia melihat sekelilingnya, ternyata Nia masih berada di rumah lamanya.

"Kau sudah bangun Nia....?? Bagaimana kondisimu….??" ucap Veron memeriksa sambil memeriksa suhu tubuhnya.

Nampaknya Bos mafia itu terjaga sepanjang malam demi merawat kekasihnya.

Namun yang ditanya hanya diam saja. Matanya menatap Veron dengan tatapan kosong, hingga perlahan air matanya kembali menetes membasahi wajahnya.

Tanpa mengatakan apapun, gadis itu hanya menangis sambil membenamkan wajahnya dalam pelukan Veron.

Dia berharap kejadian semalam hanya mimpi, tapi faktanya semua itu adalah sebuah kenyataan yang harus ia hadapi.

"Aku harus bagaimana Veron...?? aku harus bagaimana...??" ucapnya lirih sesenggukan.

"Maafkan aku Nia, sekali lagi maafkan aku..." sahut Veron sambil membelai lembut kepala sang kekasih.

"Sejak kapan kau tahu kalau dia ibuku...??"

"Sejak beberapa hari sebelum pesta pernikahanmu..." jawab Veron jujur.

"Jadi dari awal ini semua rencana kalian...??”

"Tidak Nia, ini semua murni rencana ibumu, dan aku yakin dia pasti punya alasan..."

"Lalu apa hubungannya dia dengan Alex...??"

"Ibumu tidak punya hubungan apapun dengan Alex, tapi setahuku Alex adalah pelanggan VVIP di Fantasia selama bertahun-tahun. Jadi wajar kalau malam itu kau melihat mereka bersama..."

Mendengar penjelasan itu Nia makin dibuat pusing. Ada banyak sekali hal yang ingin dia tanyakan, namun untuk saat ini dia masih belum siap mendengar semuanya.

Hati dan pikirannya benar-benar kacau. Kejadian semalam masih terus terlintas dalam benaknya. Bagaimana bisa dia bertemu ibunya dalam keadaan seperti itu.

Selang beberapa saat terdengar suara panggilan dari ponsel Veron.

"Ibumu menelepon..." ucap lelaki itu menunjukkan nama seseorang dari layar ponselnya.

Namun Jenia menggeleng cepat memberi isyarat agar Veron tidak perlu menjawab teleponnya.

Sejak tadi malam wanita itu memang terus menghubungi Veron, namun sang mafia sengaja tidak mengangkatnya.

Karena kekacauan itu terjadi akibat ulahnya sendiri. Veron tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan mereka. Baginya yang terpenting sekarang Nia aman bersamanya.

Selama ini Veron sudah cukup membantu untuk menutupi semuanya, namun siapa sangka takdir berkata lain.

Sepandai-pandainya seseorang menutupi bangkai, pasti suatu saat akan tercium juga.

Veron sendiri tidak mengerti kronologinya kenapa Nia bisa melihat ibunya bersama Alex di malam itu.

"Dia ingin sekali bertemu dan bicara denganmu Nia..."

"Tapi aku tidak mau bertemu dengannya Veron...!! kalau memang ingin bicara kenapa tidak dari dulu...?? Kenapa baru sekarang...?? Andai aku tidak memergokinya, mungkin selamanya aku tidak akan pernah tahu bahwa dia ibuku...!!" sahut gadis itu berpaling membuang muka.

Tanpa sadar air matanya kembali menetes saat ia menatap semua toples kaca berisi bintang-bintang kecil yang memenuhi dinding kamarnya.

Selama ini Nia berusaha mencari tahu dimana keberadaan ibunya, tapi siapa sangka orang tersebut justru berada sangat dekat dengannya.

Bahkan yang menyeretnya masuk ke dunia malam itu juga merupakan rencana ibunya sendiri.

"Kumohon berhentilah menangis sayang...." bujuk sang mafia mengusap air matanya.

"Aku tidak ingin bertemu dengannya Veron, aku perlu waktu..." ucapnya lirih, dan lelaki itu pun mengangguk paham.

Veron sangat tidak tega melihat kekasihnya menderita. Andai ia tahu Nia akan sangat terluka karena ibunya, pasti sejak awal dia akan membeberkan semuanya.

Selang beberapa saat terdengar suara keributan dari luar, ternyata itu adalah mami Oca yang bersikeras ingin bertemu putrinya.

Wanita itu memaksa ingin masuk, namun Benjamin dan para anggota lainnya tidak mengizinkannya menemui sang anak.

"Bawa aku pergi dari sini Veron, kumohon bawa aku pergi..." ucap Nia memohon saat mendengar ibunya ada di luar.

Sementara mami Oca yang tengah memanggil putrinya terus memohon agar diizinkan masuk, namun para mafia itu sama sekali tidak peduli.

Mereka hanya patuh pada perintah Veron dan menjaga seluruh tempat itu dengan ketat.

Ditengah kericuhan tersebut tiba-tiba sebuah mobil melintas dari arah belakang melewati mami Oca.

Di dalamnya terlihat sang mafia sedang bersama Jenia yang pergi meninggalkan rumah itu.

"NIAAAA..!!I TUNGGU NIAAA...!! TOLONG DENGARKAN IBU..!!"

Seketika wanita itu berlari dan berteriak mengejar putrinya.

Namun dengan lirikannya yang tajam, sang mafia tetap melaju membawa Nia pergi dari sana.

Pada akhirnya ratu Fantasia itu terjatuh dan tersungkur di tengah jalan, hingga kedua tangan dan lututnya terluka akibat mengejar Veron.

Dia menangis dan berteriak sekuat tenaga menyesali seluruh perbuatannya.

Andai saja malam itu dia segera pulang, andai saja malam itu dia menolak ajakan Alex, dan andai saja saat itu dia bisa mengendalikan hasratnya, mungkin Nia tidak akan mendapati ibunya dalam keadaan sehina itu.

Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Semua yang telah terjadi juga karena kelalaiannya sendiri.

Kini ia hanya bisa berharap semoga Nia mau bertemu dan memaafkannya.

Setelah semua anggota mafia itu pergi, barulah mami Oca bisa masuk ke dalam rumah lamanya.

Disana tangisannya kembali pecah melihat semua toples kaca yang tersusun rapi di kamar putrinya.

Wanita itu makin terisak ketika ia membuka satu persatu lipatan kertas berbentuk bintang tersebut.

Setiap bintang bertuliskan satu permohonan yang mengharapkan agar ibunya kembali, dan jutaan bintang itu membuktikan betapa panjangnya penantian Nia selama ini.

Baru membaca beberapa tulisan saja, rasanya Rosalina tidak akan pernah mampu memaafkan dirinya sendiri. Lantas bagaimana dengan Nia yang menunggunya selama puluhan tahun lamanya.

Lalu tanpa sengaja malam itu takdir kembali mempertemukan mereka, dalam suatu kejadian yang benar-benar sulit untuk dicerna akal sehat manusia.

Rasa malu bercampur sesal itu terus menghantui pikirannya, dan dengan tidak tahu malunya wanita itu memohon agar Jenia mau memafkannya.

Bahkan ribuan kata maaf saja tidak akan sebanding dengan banyaknya air mata Nia yang tumpah setiap malam karena menangisi ibunya.

Dipeluknya erat pakaian basah milik Nia yang masih tertinggal disana.

Sambil berulang kali mengucap maaf dan berderai air mata, wanita itu sungguh menyesal atas keputusan yang pernah ia buat puluhan tahun lalu saat meninggalkan putrinya.

.

.

.

Setelah beberapa hari menghilang dan tidak ada kabar, kini Nia merasa sedikit lebih tenang.

Untuk sementara gadis itu berada di markas Veron untuk sekedar menata hati dan menjernihkan pikirannya.

Nia sadar bahwa lari dari masalah hanya akan menambah kegelisahan dalam hatinya.

Bagaimanapun juga Rosalina itu adalah ibunya. Mau sekuat apapun dia menghindar tidak akan

mengubah fakta bahwa mereka adalah ibu dan anak.

Tidak bisa dipungkiri, rasa rindunya selama ini jauh lebih besar daripada kekecewaannya.

Meskipun Veron senantiasa menemaninya, namun Nia tetap harus berani menghadapi badainya sendiri.

Sama halnya dengan Rosalina, wanita yang kerap disapa mami Oca itu mulai kembali menjalankan tanggung jawabuya di wilayah Fantasia dan sekitarnya.

Bagaimanapun juga dia tetap harus bekerja, sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dengan Veron, dan itu adalah salah satu resiko yang harus ia tanggung sendiri.

Dia tidak bisa kabur ataupun berhenti dari tempat itu. Karena Rosalina telah menukar jiwanya untuk mengabdi seumur hidup kepada sang mafia demi keselamatan putrinya.

Malam itu seorang klien VVIP baru saja membuat janji temu dengan Rosalina.

Bahkan klien tersebut rela membayar di awal dengan jumlah yang sangat besar agar bebas bertemu dengan sang ratu Fantasia tanpa batas waktu yang ditentukan.

Meski suasana hatinya sedang kacau, namun mami Oca tetap professional dalam bekerja. Dia tidak akan menggabungkan antara pekerjaan dengan urusan pribadinya.

Dilihat dari besarnya nominal yang dibayarkan, sepertinya tamu kali ini bukan orang sembarangan. Tapi entah kenapa perasaanya jadi tidak enak, jantungnya bahkan berdebar tanpa alasan.

Seperti biasa, sebelum bertemu mami Oca mempersiapkan dirinya semaksimal mungkin.

Wanita itu selalu tampil cantik dan sangat wangi dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Namun alangkah terkejutnya Rosalina ketika melihat sosok tamu yang ia temui.

"NIA…...??!!" Gumamnya tercengang seakan tak percaya.

"Kenapa kaget...?? Apakah hanya tamu laki-laki yang boleh dilayani oleh ratu Fantasia...??”

Ucap Nia membuat ibunya semakin terdiam.

"Bu... bukan begitu Nia..." sahutnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kuhabiskan seluruh uang tabunganku hanya untuk bertemu denganmu, jadi malam ini tolong layani aku dengan baik...!! karena sudah lebih dari dua puluh tahun lamanya aku tidak pernah dapat pelukan kasih sayang dari orang yang kurindukan...!!" ucap gadis itu menitikkan air mata menatap ibunya.

Mendengar itu seketika Rosalina menangis histeris di hadapan putrinya. Tangisnya pecah sambil terus mengucap maaf memeluk Jenia.

Sedangkan Nia hanya bisa menangis tanpa suara. Hatinya bergetar seolah tak percaya, antara takut dan bahagia, apakah pelukan hangat itu hanya mimpi atau benar-benar nyata.

Sementara itu dari kejauhan, seseorang tengah memperhatikan mereka dengan perasaan lega sambil tersenyum bangga dari balik maskernya.

…………………………………………………………………………………

Ilustrasi mami Oca sang ratu Fantasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!