Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Narendra Arkana, pria berusia tiga puluh tahun yang sudah menjalin komitmen dengan Viola sejak enam bulan terakhir. Naren menjadi alasan utama mengapa Viola harus menjauhi Rasta. Baginya, kesetiaan adalah harga mati.
Bukan tidak mungkin kedatangan Rasta bisa menggoyahkan kesetiaan Viola. Ditambah lagi Rasta selalu bilang, dia masih mencintai dan menyayangi Viola dan berharap mereka bisa berhubungan kembali.
Viola hampir luluh, nyaris saja dia menyerahkan hatinya lagi untuk Rasta di saat mereka menghabiskan waktu seharian bersama. Untung saja, sudah ada Naren yang selalu memberinya kabar. Viola memilih untuk tetap setia dengan Naren, lagi pula dia memang sudah menempatkan pria itu di hatinya.
Naren bekerja di sebuah perusahaan. Mereka harus terpaksa menjalani long distance relationship karena Naren harus bekerja ke luar kota sejak tiga bulan yang lalu.
Hari ini Naren pulang. Dia langsung menghampiri sang kekasih, Viola. Rindunya sudah tidak bisa terbendung lagi.
Seperti halnya Viola yang mengharapkan Naren segera kembali, sebelum Rasta semakin menjadi-jadi dalam mengusik ketenangannya.
Naren pria yang tulus. Dia mengenal Viola satu tahun yang lalu, saat Viola masih bekerja di minimarket. Awalnya hanya berkenalan biasa selayaknya teman, karena Viola sering lewat di depan rumahnya. Namun lambat laun, muncul perasaan yang menginginkan lebih dari sekedar teman di hati Naren.
Viola sempat ragu karena ia merasa Naren tidak pantas untuknya yang sudah berstatus sebagai janda. Tetapi dengan sungguh-sungguh, Naren meyakinkan Viola bahwa apa pun status Viola, dia akan tetap menerimanya tanpa syarat.
Naren sempat mengajak Viola menikah sebelum dia diberangkatkan ke luar kota. Viola tidak setuju, dan lebih memilih untuk menikah setelah Naren kembali dari luar kota. Tak sangka, dalam waktu tiga bulan LDR, Viola malah bertemu dengan Rasta.
"Apa kabar calon istri?" bisik Naren.
Viola menjawab tanpa bisa menahan air matanya yang tumpah, "Fine."
Dari suaranya yang bergetar, Naren tahu wanitanya ini sedang menangis. "Kenapa kamu nangis?" ia melepas pelukannya, hanya untuk melihat wajah Viola. Memastikan air mata itu terhapus oleh jari-jarinya.
"Nothing," jawab Viola. Teringat pelukannya dengan Rasta malam itu, teringat hari-hari yang ia lalui bersama Rasta, mereka pernah saling bergandengan tangan, semua itu membuat Viola merasa telah mengkhianati Naren.
Naren tidak percaya. Dia tahu, pasti ada sesuatu yang membuat Viola menjadi mellow seperti ini. "Kenapa sih? Ada apa? Kamu udah janji mau cerita apa aja sama aku."
Viola menggeleng. "Nggak apa-apa. Aku cuma ngerasa seneng aja kamu udah balik. I miss you so much."
Viola berjinjit, memeluk leher Naren lagi. Seolah ia takut Naren akan menghilang darinya. Naren mengusap-usap punggungnya.
"Iya tau, aku emang sengangenin itu. Tapi jangan nangis juga dong." Naren malah bercanda, dan dia mendapat cubitan sayang di pinggang.
Naren tertawa, terdengar renyah. "Vita mana? kok sepi? Biasanya aku udah langsung denger suara cemprengnya."
"Lagi sekolah."
"Oh ya? Dia udah sekolah?"
"He'em."
"Wow. Yakin banget sebentar lagi pasti bakalan ngalahin mamanya dia." Naren bergurau.
Viola tertawa. Dia mengajak Naren masuk ke dalam rumah. Viola pergi ke dapur, ingin membuatkan minum untuk pria itu. Naren, yang sebenarnya disuruh duduk menunggu di ruang tamu, tetapi dia malah mengikuti Viola.
Melihat rumah dalam keadaan sepi, Naren bertanya, "Vita sekolah, jadi mama ke mana? Kok nggak ada di rumah."
"Mama lagi kumpulan sama ibu-ibu di kompleks sini. Biasalah, mama mana bisa diam anteng di rumah aja," jawab Viola sambil menyeduh kopi untuk Naren.
Tahu ia memiliki kesempatan, Naren memeluk pinggang ramping Viola dari belakang. Wajahnya dia sembunyikan di ceruk leher Viola, hingga wanita itu merasa geli saat merasakan embusan napas Naren.
"Geli, Naren," lenguhnya.
Naren menyeringai. Bukannya berhenti, dia malah menghirup lehernya semakin dalam.
"Naren!" tegur Viola, berusaha menghindar.
Tingkah Viola itu membuat Naren tertawa. "Kamu udah resign?"
"Udah."
"Aku bilang juga apa, gak usah kerja lagi, toh sebentar lagi kita juga mau nikah. Aku nggak semiskin itu ya sampai gak bisa menafkahi kamu sama Vita," kata Naren. Padahal selama ini dia sudah rutin mentransfer uang ke nomor rekeningnya Viola. Tetapi calon istrinya ini belum mau memakai uangnya jika mereka belum resmi menjadi suami istri.
Viola memukul pelan dada Naren. "Huuh, sombong. Kan statusnya tetap kita belum nikah."
"Kan enggak lama lagi. Mamaku udah ngatur tanggal pernikahan kita," balas Naren, masih tetap memeluk perut Viola. Dagunya ia letakkan di bahu Viola. "Kamu nggak pernah main ke rumah?"
"Nggak ada kamu, aku malu mau ketemu sama mama kamu," jawab Viola.
"Pantesan mama nanyain kamu terus," Naren mendengkus.
Viola hanya tersenyum tipis. Naren memutar tubuhnya hingga mereka kini saling berhadapan. Kedua lengan Viola terangkat, memeluk leher Naren.
Awalnya, mereka hanya saling menatap lekat-lekat. Kemudian, entah siapa yang memulai dan bagaimana caranya, mereka sudah berciuman.
Naren mencium Viola dalam-dalam, Viola sampai kuwalahan mengimbanginya. maklum, mereka baru LDRan tiga bulan dan Naren juga lelaki dewasa yang normal.
Hanya sebatas ciuman, meskipun liar, Naren tidak berani menyentuh yang lainnya, kendati dia sangat ingin. Tangannya hanya berani mengusap punggung, meremas rambut, atau sesekali mengusap area perut Viola.
Viola terlalu mungil untuk Naren yang tinggi. Naren mengangkat Viola setelah ciuman terlepas, lalu mendudukkannya di atas meja dapur. Selanjutnya, bibir Naren menjelajahi leher Viola. Mencium, menjilat, sesekali menghisap, hingga Viola tidak bisa menahan desahannya yang lolos dari bibir.
Hanya seperti itu, namun cukup membuat kepala Naren terasa panas. Tapi untungnya, dia masih ingat jika mereka belum sah.
"Kapan sih kita nikahnya? Udah nggak tahan," gurau Naren sambil terkekeh. Viola berdecak, ia dorong dada Naren menjauh. Setelahnya, ia sibuk membenahi rambutnya yang berantakan akibat ulah Naren.
"Sabar bos," balas Viola.
Naren membantu Viola turun, lalu mulai meminum kopi yang dibuatkan Viola.
"Mau makan, Ren?" tawar Viola. "Aku udah masak."
"Makan di luar aja yuk habis ini sama Vita. Eh dia pulang sekolah jam berapa?" Naren melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Viola terkejut, mendadak panik, baru ia ingat hari ini Sabtu. Vita pulang lebih awal dari biasanya. "Ya ampun! Gara-gara kamu ini aku jadi gak inget kalau Vita udah pulang harusnya sekarang."
"Kalem aja, Vi, slooooow.... Yuk kita jemput bareng sekarang."
Mereka berlari kecil keluar rumah. Berbarengan dengan datangnya mobil Rasta.
"Siapa, Vi?" Naren memicingkan mata saat kedua pintu bagian depan mobil itu terbuka. Vita keluar dari salah satunya, masih memakai seragam sekolahnya, lalu memekik saat melihat Naren.
"Om Naren!" Vita berlari.
"Hai, My honey bunny sweety!" balas Naren. Ia menyambut Vita dengan pelukan erat.
Rasta menutup pintu pelan sambil menatap penuh tanya. Siapa pria yang bersama Viola itu? Dia nampak akrab sekali dengan Vita, bahkan mereka saling memeluk erat.
Begitu pun dengan Naren, yang meminta penjelasan dari Viola melalui tatapan matanya, tentang pria yang datang bersama Vita itu.
"Eum ... Naren itu ... kenalin. Dia papanya Vita. Papa kandungnya." Suara Viola terdengar gugup.
Papa kandungnya Vita? Mantan suaminya Viola? Naren baru pertama kali ini melihat Rasta. Dalam sekejap, dia bisa memahami mengapa Viola menangis dan memeluknya sangat erat saat dia baru datang tadi.
"Halo," Rasta mengulurkan tangannya. "Saya Rasta, papa kandungnya Vita."
"Oohh..." Naren menjabat tangan Rasta. "Saya Naren, calon suaminya Viola dan calon ayah sambungnya Vita."
...****************...
Barang siapa yang memberi like dan komen, maka author akan senang dan tambah semangat updatenya. Hehehehehehe...
Konon katanya yang tidak pelit like dan komen, maka pahalanya akan bertambah dan insha Allah masuk surga. Hehehhehe....
Follow Ig aku @jalur_langitbiru13 untuk info karyaku yang lainnya.
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu