NovelToon NovelToon
Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Peluru Dan Permata: Istri Rahasia Sang Kolonel Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
​Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
​Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
​"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Hukuman Bagi Istri Kecil

Hukuman bagi istri kecil akan segera dijatuhkan dan ia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melakukan perlawanan saat ini. Adrian menarik kursi kayu berukir di hadapan Lana lalu duduk dengan posisi kaki yang menyilang dengan sangat tenang.

Ia melempar sebuah buku tebal berwarna merah ke atas meja yang berisi seluruh daftar peraturan militer yang harus dipatuhi oleh anggota keluarganya. Lana gemetar saat melihat tatapan suaminya yang tidak lagi menunjukkan emosi kemarahan yang meluap-luap namun justru terasa sangat sunyi dan mematikan.

Adrian mengeluarkan sebuah kunci perak dari sakunya dan menggesernya perlahan menuju arah tangan Lana yang masih memucat. Suasana di dalam ruangan itu menjadi begitu mencekam hingga suara detak jam dinding terdengar seperti langkah sepatu tentara yang sedang berparade.

"Mulai detik ini, seluruh akses komunikasimu saya sita dan kamu dilarang keluar rumah selain untuk urusan sekolah," ucap Adrian dengan nada bicara yang sangat datar.

Lana mengangkat wajahnya dengan mata yang sudah sembab karena terus-menerus menahan tangis sejak kepulangan mereka dari kelab malam. Ia ingin memohon belas kasihan namun sorot mata Adrian yang seperti bongkahan es di kutub utara membuatnya urung membuka suara.

Adrian bangkit berdiri dan berjalan memutari tubuh Lana seolah sedang memeriksa seorang tawanan yang baru saja tertangkap di medan laga. "Apakah Anda tidak merasa bahwa ini terlalu kejam bagi seorang siswi yang hanya ingin sedikit bersenang-senang dengan teman-teman temannya?" tanya Lana dengan suara yang serak.

Adrian berhenti tepat di belakang punggung Lana hingga gadis itu bisa merasakan hawa dingin yang terpancar dari tubuh tegap sang kolonel. Ia membungkuk sedikit dan membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Lana berdiri tegak karena rasa takut yang sangat mendalam.

Kebebasan yang selama ini Lana impikan kini telah dirampas sepenuhnya oleh tangan besi pria yang sah menjadi suaminya tersebut. "Kesenanganmu hampir merenggut nyawa orang lain, jadi jangan pernah berani mempertanyakan keadilan di rumah ini," desis Adrian dengan sangat tajam.

Lana meremas ujung bajunya hingga buku buku jarinya memutih karena menahan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya yang sesak. Ia melihat Adrian memanggil seorang pengawal wanita bertubuh kekar yang akan bertugas untuk mengawasi setiap gerak-gerik Lana selama dua puluh empat jam penuh.

Air mata Lana akhirnya jatuh membasahi pipinya saat menyadari bahwa ia kini benar-benar menjadi burung di dalam sangkar emas yang sangat kokoh. Adrian kemudian memberikan isyarat kepada pengawal tersebut untuk membawa Lana menuju kamar atas dan memastikan tidak ada gawai yang tersisa di sana.

Lana melangkah gontai menaiki tangga marmer sambil terus menoleh ke arah Adrian yang kini kembali sibuk dengan gawai militernya di meja tengah. Ia merasa dunianya telah runtuh dalam semalam hanya karena kesalahan kecil yang tidak pernah ia duga akan berujung pada bencana besar.

"Istirahatlah, karena besok pagi kamu akan menghadapi kenyataan yang jauh lebih pahit daripada sekadar hukuman ini," ujar Adrian tanpa melihat ke arah Lana.

Lana mengunci diri di dalam kamar yang sunyi sementara bayangan tatapan dingin Adrian terus menghantui setiap sudut pikirannya yang sedang kacau-balau. Ia berbaring di atas tempat tidur mewah namun hatinya merasa sangat kosong dan hancur seperti kepingan porselen yang jatuh ke lantai.

Di bawah bantalnya, ia masih merasakan foto kusam ayahnya yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia harus bertahan di dalam neraka yang indah ini. Dinginnya tatapan Adrian malam itu menjadi mimpi buruk yang terus berulang dalam tidur Lana yang sangat tidak nyenyak.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!