Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sangkar emas di sayap utara
Pintu kayu ek yang berat itu tertutup dengan dentuman yang menggema, disusul suara mekanis kunci yang diputar dua kali dari luar. Elena Moretti berdiri mematung di tengah ruangan, memejamkan mata erat-ratap. Suara langkah kaki Luca yang menjauh terdengar seperti hitungan mundur menuju kesunyian yang absolut. Di ruangan ini, di sayap utara Palazzo Valenti yang terisolasi, udara terasa lebih berat, seolah oksigen harus berebut ruang dengan debu-debu sejarah yang menempel di tirai beludru.
Elena membuka matanya. Kamar itu luas, namun terasa sempit karena tekanan interior Gotik yang dominan. Tempat tidur besar dengan empat tiang kayu yang diukir menyerupai cakar naga berdiri angkuh di tengah ruangan. Sprei sutra berwarna abu-abu perak tampak berkilau di bawah cahaya lampu dinding yang temaram. Tidak ada jendela besar di sini; hanya ada ventilasi tinggi berbentuk celah sempit yang hanya cukup untuk dilewati cahaya bulan, namun mustahil bagi tubuh manusia untuk melarikan diri.
"Jadi, begini rasanya menjadi milik Valenti," bisik Elena pada keheningan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Wanita itu melangkah mendekati sebuah meja rias kuno yang cerminnya sudah mulai memburam karena usia. Ia menatap pantulan dirinya. Gaun merah yang tadi tampak berani di bawah langit Verona, kini terlihat seperti noda darah di tengah kemegahan monokrom Palazzo ini. Elena menyentuh lehernya, tepat di tempat nadi berdenyut kencang. Ia masih bisa merasakan panas dari jemari Matteo yang tadi mencengkeram dagunya. Itu bukan sekadar sentuhan; itu adalah klaim kepemilikan.
Pandangan Elena beralih pada sudut ruangan, di mana sebuah lemari kayu tua berdiri dengan pintu yang sedikit terbuka. Sesuatu yang berwarna keemasan di dalam sana menarik perhatiannya. Dengan langkah hati-hati, seolah-olah lantai marmer itu bisa meledak kapan saja, Elena mendekat.
Ia menarik pintu lemari itu. Di dalamnya, di antara tumpukan kain linen yang sudah berbau apek, terdapat sebuah kotak musik kayu yang permukaannya sudah terkelupas. Namun, bukan kotak musiknya yang membuat jantung Elena berdegup kencang, melainkan sebuah sapu tangan sutra putih yang tersampir di atasnya.
Elena mengambil sapu tangan itu dengan tangan gemetar. Di sudut kain, terdapat bordiran kecil berbentuk inisial: M.M.
Marcella Moretti. Ibunya.
Lutut Elena terasa lemas. Sapu tangan ini milik ibunya yang seharusnya terbakar habis dalam ledakan sepuluh tahun lalu. Bagaimana benda ini bisa ada di sini? Di kamar sayap utara milik keluarga Valenti? Gema masa lalu yang tadi ia rasakan di pinggir sungai kini berteriak lebih keras di dalam kepalanya. Apakah ibunya pernah berada di sini sebelum maut menjemput? Ataukah Matteo selama ini menyimpan sisa-sisa kehancuran keluarganya sebagai piala kemenangan?
Kemarahan yang dingin mulai merayapi nadi Elena. Ia mengepalkan sapu tangan itu erat-erat. Jika keluarga Valenti menyimpan rahasia tentang ibunya, maka ia tidak akan sekadar menjadi tawanan yang pasif. Ia akan menjadi rayap yang menghancurkan Palazzo ini dari dalam.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di dinding. Bukan dari pintu, melainkan dari balik lemari besar tersebut. Elena membeku. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya. Ketukan itu berulang—tiga kali pendek, satu kali panjang. Sebuah pola yang sangat ia kenal. Itu adalah kode komunikasi rahasia yang sering digunakan ayahnya saat mereka masih tinggal di perkebunan anggur Moretti.
"Tidak mungkin..." gumam Elena.
Ia mencoba mendorong lemari itu, namun beratnya luar biasa. Putus asa, ia mencari tuas atau celah di antara ukiran kayu. Tangannya meraba pinggiran lemari hingga jemarinya menyentuh sebuah tonjolan kecil di balik bingkai kayu. Saat ia menekannya, terdengar suara klik halus. Lemari itu bergeser beberapa inci, menyingkap sebuah celah sempit yang mengarah ke lorong gelap di balik dinding.
Palazzo ini penuh dengan lorong rahasia, dan sepertinya Matteo tidak tahu bahwa tawanan barunya mengetahui lebih banyak tentang arsitektur kuno Verona daripada yang ia duga.
Elena menoleh ke arah pintu yang terkunci, lalu ke arah kegelapan di balik lemari. Ia tahu, masuk ke sana berarti masuk lebih dalam ke dalam perut sang singa. Namun, bayangan inisial ibunya di sapu tangan itu memberikan keberanian yang nekat. Dengan sapu tangan terselip di balik gaunnya, Elena melangkah masuk ke dalam kegelapan, membiarkan pintu lemari menutup perlahan di belakangnya.
Di dalam lorong itu, bau tanah dan kelembapan sangat menyengat. Elena meraba dinding batu yang kasar, berjalan setapak demi setapak dalam kegelapan total. Pikirannya melayang pada Matteo. Apakah pria itu sedang tertawa merayakan kemenangannya malam ini? Ataukah pria itu juga sedang dihantui oleh bayang-bayang yang sama?
Tanpa Elena sadari, di ujung lorong itu, sebuah pasang mata sedang mengawasi melalui celah kecil di dinding. Bukan mata Matteo yang kejam, melainkan mata seseorang yang telah menunggu kepulangan keluarga Moretti selama satu dekade penuh.
Verona tidak hanya memiliki gema; ia memiliki saksi-saksi bisu yang kini mulai terbangun.
Kegelapan di balik lemari kayu itu terasa pekat, seolah-olah cahaya bulan pun enggan masuk ke dalam celah yang telah tertutup rapat selama bertahun-tahun. Udara di sini tidak bergerak, pengap oleh aroma debu yang bercampur dengan bau tajam dari rembesan air tanah. Elena menarik napas pendek, mencoba menenangkan debaran jantung yang terasa seperti hantaman palu di dalam rongga dada.
Setiap langkah yang diambil menghasilkan suara gesekan halus antara kain gaun sutra dan lantai batu yang kasar. Dinding di sisi kiri dan kanan terasa sangat dingin, ditumbuhi lumut tipis yang memberikan sensasi licin sekaligus menjijikkan saat jemari menyentuhnya. Namun, dinding inilah satu-satunya pemandu di tengah kegelapan total.
Lorong ini tidaklah luas; pundak Elena nyaris bersentuhan dengan permukaan batu di kedua sisi. Arsitektur ini jelas bukan bagian dari estetika mewah yang dipamerkan Matteo di aula utama. Ini adalah "usus" dari Palazzo Valenti, tempat di mana rahasia-rahasia kotor dialirkan agar tidak merusak pemandangan para bangsawan di atas sana.
Sekitar sepuluh meter melangkah, jemari Elena menyentuh sesuatu yang berbeda pada tekstur dinding. Bukan lagi batu kasar, melainkan permukaan logam yang berkarat. Sebuah pipa uap tua yang sudah lama mati melintang secara vertikal. Di dekat pipa tersebut, terdapat celah kecil yang memungkinkan cahaya setipis benang masuk dari ruang di baliknya.
Wanita itu mendekatkan mata ke celah tersebut.
Pemandangan di balik dinding sungguh kontras. Itu adalah ruang kerja pribadi Matteo Valenti. Ruangan tersebut diterangi oleh lampu meja berwarna hijau zamrud yang redup. Rak-rak buku raksasa menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi jilid-jilid tua yang mungkin berisi sejarah kelam kota Verona. Di tengah ruangan, sang penguasa Verona berdiri membelakangi dinding rahasia, menatap keluar jendela besar yang mengarah langsung ke Arena di Verona.
Matteo tampak melepaskan mantelnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Dari posisi ini, Elena bisa melihat ketegangan pada otot punggung pria itu. Matteo tampak seperti patung yang memikul beban dunia, diam dan berbahaya.
"Kau terlalu lama menatap kegelapan, Matteo," sebuah suara wanita yang tajam memecah keheningan ruang kerja.
Isabella Valenti masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk. Wanita tua itu berjalan dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan pertempuran. Ia meletakkan sebuah map kulit di atas meja kayu ek milik putranya.
"Anak gadis Moretti itu harus segera diselesaikan," lanjut Isabella, suaranya kini terdengar lebih mirip desisan ular. "Membiarkannya tinggal di sayap utara adalah kesalahan. Dia punya mata yang sama dengan ibunya—mata yang bisa melihat menembus kebohongan kita."
Matteo berbalik perlahan. Ekspresi wajahnya tidak terbaca, namun ada kilatan aneh di matanya saat mendengar nama Elena disebut. "Dia adalah urusanku, Ibu. Aku membutuhkannya untuk menemukan dokumen yang disembunyikan ayahnya. Tanpa dokumen itu, posisi keluarga Valenti di dewan kota akan tetap terancam."
"Dokumen itu hanyalah mitos!" Isabella memukul meja dengan telapak tangannya. "Satu-satunya hal nyata dari keluarga Moretti adalah sisa-sisa kehancuran mereka. Kau menahannya di sini karena kau masih terobsesi pada gadis yang dulu sering kau beri mawar itu, bukan?"
Elena menahan napas di balik dinding. Tangannya yang memegang sapu tangan ibunya gemetar hebat. Obsesi? Mawar? Informasi ini seperti kepingan puzzle yang dipaksakan masuk ke dalam otaknya.
Di dalam ruangan, Matteo tidak membantah. Pria itu justru melangkah mendekati ibunya, berdiri begitu dekat hingga Isabella harus mendongak. "Apa pun alasanku, Elena Moretti tetap di sini. Jika Ibu mencoba menyentuhnya tanpa izinku, maka Ibu akan tahu mengapa orang-orang di kota ini lebih takut padaku daripada pada maut itu sendiri."
Suasana di dalam ruang kerja itu menjadi sangat dingin. Isabella mendengus, lalu berbalik pergi dengan langkah kaki yang menghentak keras, meninggalkan Matteo sendirian dalam keheningan yang mencekam.
Matteo mengembuskan napas panjang. Pria itu kemudian berjalan menuju dinding tempat Elena bersembunyi. Jarak mereka kini hanya terpisah oleh beberapa inci lapisan batu. Elena membeku, tidak berani bergerak sedikit pun, bahkan suara napasnya sendiri terdengar seperti guntur di telinganya.
Pria itu menyentuh permukaan dinding batu tersebut, tepat di titik di mana mata Elena mengintip. Untuk sesaat, Elena merasa seolah Matteo bisa melihat keberadaannya menembus batu padat itu.
"Aku tahu kau di sana, Elena," bisik Matteo dengan suara yang begitu pelan, nyaris seperti embusan angin.
Jantung Elena seolah berhenti berdetak. Bagaimana mungkin?
"Verona memiliki telinga, dan Palazzo ini memiliki mata," lanjut Matteo tanpa mengubah posisinya. "Teruslah mencari. Temukan apa yang kau inginkan. Tapi ingat, setiap rahasia yang kau gali akan menarikmu lebih dalam ke dalam lubang yang tidak bisa kau tinggalkan."
Setelah mengucapkan kalimat misterius itu, Matteo mematikan lampu meja, menenggelamkan ruang kerja dan lorong rahasia itu kembali ke dalam kegelapan yang absolut.
Elena mundur selangkah dengan tubuh gemetar. Pria itu tahu. Sejak awal, Matteo tahu tentang lorong ini. Perasaan seperti tikus yang masuk ke dalam perangkap kembali menghantui. Namun, bukannya lari kembali ke kamar, Elena justru membalikkan badan dan terus berjalan menyusuri lorong yang semakin menurun.
Langkah kaki kini membawa sang wanita menuju bagian bawah Palazzo, di mana udara mulai berbau asin—aroma air sungai yang merembes melalui fondasi bangunan. Di ujung lorong, sebuah tangga batu melingkar mengarah ke bawah, menuju sebuah pintu besi tua yang sedikit terbuka.
Dari balik pintu itu, terdengar suara isakan halus. Suara seorang wanita yang terdengar sangat lemah, namun sangat familiar bagi ingatan Elena yang paling dalam.
"Ibu?" bisik Elena lirih, suaranya hilang ditelan kegelapan bawah tanah Verona.