NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Wajah-Wajah Gubernur Jenderal

"Karena dia yang mengubah nasib tanah Jawa." Kang Guru Harjo menarik napas panjang. "Dan pastinya akan banyak dibicarakan oleh pejabat-pejabat Belanda yang sedang membahas sejarah, kau harus hafal. Kau tahu kenapa Cultuurstelsel—tanam paksa—itu ada?"

"Tunggu, Guru. Sepertinya aku tahu, tapi lupa."

Arjo mengerutkan dahi, mata menerawang ke halaman, berlagak sedang berpikir keras, padahal perhatiannya teralihkan pada hal lain.

Di sana, di dekat cahaya obor yang bergoyang, sekelompok pemuda berpakaian serba hitam sedang berkumpul. Mungkin delapan atau sepuluh orang, sulit menghitung pasti karena pakaian gelap mereka menyatu dengan bayangan malam.

Mereka berdiri tegap membentuk barisan, mendengarkan arahan dari seorang pria bertubuh kekar yang Arjo kenali sebagai Kang Danang, kepala tim penyusup padepokan.

Pakaian serba hitam itu hanya dikenakan untuk satu tujuan: misi malam.

Arjo mengenali beberapa wajah di barisan itu. Jupri. Tikno. Wondo. Saudara-saudara seperguruannya yang tadi siang mengawalnya.

‘Mau apa mereka?’ batin Arjo.

Perhatiannya kembali pada sang guru. "Ah maaf, sepertinya aku lupa, Guru."

Dia menepuk dahi, berlagak lupa, padahal tahu jawabannya.

"Tahun 1825 sampai 1830, Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda. Perang Jawa. Kau sudah belajar ini, kan?"

"Sudah, Guru. Nyi Seger yang mengajarkan."

"Bagus. Perang itu berlangsung lima tahun. Belanda menang, tapi kemenangan itu mahal. Sangat mahal." Kang Guru Harjo mengangkat satu jari. "Kas pemerintah kolonial terkuras habis. Ribuan serdadu Belanda mati. Belum lagi biaya membangun benteng-benteng, membayar pasukan, membeli senjata ...."

Jari kedua terangkat.

"Di saat yang sama, di Eropa sana, Belgia memisahkan diri dari Belanda. Tahun 1830. Perang lagi. Biaya lagi. Belanda nyaris bangkrut."

Arjo mulai paham ke mana arah pembicaraan ini.

"Jadi untuk menutupi kerugian…," Arjo melirik foto Van den Bosch. "Mereka memeras rakyat tanah Jawa."

"Tepat." Kang Guru Harjo mengangguk. "Van den Bosch menggagas rencana brilian." Nada suaranya sarkastis. "Rakyat Jawa dipaksa menanam tanaman ekspor—kopi, tebu, nila. Seperlima tanah mereka, atau enam puluh enam hari kerja setahun. Hasilnya diserahkan ke pemerintah, diekspor ke Eropa, dijual dengan harga tinggi."

Arjo memandang foto Van den Bosch lagi. Wajah yang tadi membosankan kini terasa berbeda. Mata yang tadinya terlihat biasa kini terasa dingin. Kejam.

‘Perang yang rugi mereka. Rakyat kita yang dipaksa kerja untuk menanggung kerugian.’

"Kejam," gumam Arjo tanpa sadar. "Kejam sekali. Yang senang siapa? Belanda dan antek-anteknya. Para bangsawan pribumi yang jadi perantara. Rakyat? Rakyat cuma jadi sapi perah."

Ia mendengkus.

"Rakyat yang dijajah. Ningrat tidak dijajah. Ningrat justru ikut menjajah."

Hening.

Arjo baru sadar ia berbicara keras. Ia mengangkat wajah, dan langsung berhadapan dengan tatapan tajam Kang Guru Harjo.

‘Mati aku.’

"Ucapanmu tidak salah." Suara sang guru pelan, tapi ada ketegangan di dalamnya. "Tapi dengar baik-baik, Lee."

Kang Guru Harjo mencondongkan tubuhnya.

"Kau sedang belajar menjadi bupati. Bupati adalah bagian dari sistem itu. Bagian dari para ningrat yang kau sebut ikut menjajah." Matanya menusuk. "Kalau kau bicara seperti tadi di depan pejabat Belanda, atau bahkan di depan sesama ningrat, kepalamu tidak akan bertahan di lehermu sampai matahari terbit."

Arjo menelan ludah.

"Ndoro Gusti Bupati Soedarsono memang idealis. Dia ingin mengubah sistem dari dalam. Membantu rakyat dengan caranya sendiri. Tapi dia melakukannya dengan hati-hati. Dengan cerdas. Tidak dengan mulut bocor seperti kau."

Kang Guru Harjo menegakkan tubuhnya kembali.

"Kau boleh berpikir apa saja. Kau boleh merasa sistem ini tidak adil. Tapi jaga mulutmu. Seorang bupati tidak menunjukkan isi hatinya dengan sembarangan. Seorang bupati tersenyum pada musuhnya sambil menyiapkan pisau di balik punggung. Paham?"

Arjo mengangguk pelan.

"Bagus." Kang Guru Harjo mengetuk tumpukan foto. "Sekarang hafalkan. Semua nama. Semua tanggal. Semua pencapaian. Kalau ada pejabat Belanda yang membahas sejarah, kau harus bisa nyambung. Kalau ada yang menyebut nama Daendels, kau harus langsung tahu siapa dia. Kalau ada yang memuji Van den Bosch, kau harus bisa ikut memuji, meski dalam hati ingin meludah."

Arjo memandang tumpukan foto di tangannya.

Wajah-wajah membosankan yang ternyata menyimpan sejarah kelam.

‘Jadi ini tugasku. Tersenyum pada orang-orang yang menjajah bangsaku. Berpura-pura kagum pada sistem yang memeras rakyatku. Sambil diam-diam berusaha bertahan hidup dari orang-orang yang ingin membunuhku. Orang-orang yang ingin merebut posisi Ndoro Gusti Bupati. Ahhh … sulit sekali jadi Gusti Bupati, pantas saja dia mencari pengganti. Di satu sisi tak senang dengan sistem kolonial, di sisi lain bertarung dengan sesama ningrat yang juga haus kekuasaan. Kalau jabatan ini dilepas begitu saja dan jatuh pada ningrat yang rakus, akan sangat berbahaya.’

Ia menghela napas panjang.

‘Enak jadi bupati, kataku tadi siang. Persetan. Harusnya aku tetap jadi tukang kuda saja.’

Arjo berlagak membolak-balik foto di tangannya, tapi matanya diam-diam melirik ke arah halaman padepokan.

‘Kenapa tidak mengajakku?’

Ia membalik foto lagi, wajah gubernur jenderal entah yang keberapa, pria tua dengan janggut lebat dan mata dingin.

Wajah-wajah yang menurutnya tidak ada yang tampan. Hanya wajah-wajah penuh ambisi politik, haus kekuasaan, menganggap tanah Jawa sebagai ladang emas yang bisa diperas sesuka hati.

"Guru."

"Hm?"

Arjo mencoba bertanya dengan hati-hati. "Itu... mereka akan dikirim ke mana?"

Kang Guru Harjo menoleh ke arah barisan pemuda berbaju hitam. Matanya menyipit sejenak, lalu kembali menatap Arjo.

"Mencari garwo ampil Ndoro Gusti Bupati."

Arjo mengangkat alis. "Garwo ampil yang mana? Ndoro Gusti Bupati kan punya dua. Yang satu baru dinikahi, putrinya Kiai Hasan."

"Garwo ampil yang lama." Kang Guru Harjo menghela napas. "Baru hilang entah ke mana. Padahal baru saja melahirkan putra untuk Ndoro Gusti Bupati."

"Hilang bagaimana, Guru?"

Kang Guru Harjo tidak langsung menjawab. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja pelan, seolah sedang menimbang apakah informasi ini layak dibagikan atau tidak.

"Ndoro Gusti Bupati curiga…," Suaranya merendah. "Perempuan itu sengaja disingkirkan."

"Disingkirkan? Oleh siapa?"

"Gusti Ayu."

Ibu Soedarsono. Istri mendiang bupati. Perempuan yang, menurut kabar burung, mengendalikan separuh urusan kadipaten dari balik tirai.

Arjo menelan ludah. "Ahh … perempuan itu memang mengerikan. Kenapa Gusti Ayu menyingkirkannya?"

"Karena tidak senang dengan latar belakang perempuan itu." Kang Guru Harjo menggeleng pelan, ada nada kasihan dalam suaranya. "Dia hanya anak abdi. Bukan priyayi. Hanya anak juru masak biasa yang kebetulan cantik dan menarik perhatian Ndoro Gusti Bupati. Belum lagi … Ibunya punya masa lalu yang... tidak bersih."

"Maksud Guru?"

"Dulu, suami perempuan itu punya hutang judi. Tidak sanggup membayar. Jadi istrinya," Kang Guru Harjo berdeham. "Membayar hutang suaminya dengan cara lain. Menjadi pemuas nafsu majikannya. Sampai akhirnya hamil dan melahirkan."

1
Kustri
kiro" kelingan ro rupamu ra Jo🤔
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
Rahayu Wilujeng
sugeng dahar siang ndoro bupati🙏
Ricis
akhirnya ketemu lagi ya Jo, jangan konyol lagi ya Jo 😀
Teh Qurrotha
apakah Agnes kenal sama wajah Arjo yang sekarang, waktu penyerangan dkereta Arjo blm di make over
SENJA
nah itu makanya jangan terbawa emosi terus jo 😶
SENJA
kamu bakal di cap antek pki ada bukti atau ngga 🤭 makanya jangan kritis terang2an lah tahun 1920-30 an mah 🤭
SENJA
dan tan malaka dan pimpinan lain sebenernya ga setuju 🤭 ini aksi massa bukan massa aksi 😶
SENJA
tidak sesederhana yang terlihat 😶
SENJA
yah memang itu tugasmu kan 🤔 mau gimana? kejam tapi yah itu🤭
SENJA
sekarang udah telat jo 🤭
Muchamad Ikbal
muaaanteeep tenaan....🥳
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ
Semua berawal dari tatapan lalu remashhhh an Arjo😭😭😭
Kenzo_Isnan.
waaahhh lha iki jo jo . .
Kenzo_Isnan.: tak melu ngamini wis pokok'e 😆
total 2 replies
Kenzo_Isnan.
malah adu nasib kalian bertiga to ya 😅
Kenzo_Isnan.
tedjo+arjo sama" gendeng 🤣🤣🤣
Kenzo_Isnan.
semangat jd bayangan kakak mu sendiri arjo . .
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo
Muhammad Arifin
Iki Paleng jodohmu Jo 🤪🤪
Kenzo_Isnan.
kasian kamu arjo tp yakinlah sesudah hujan pasti ada pelangi yg menanti mu di dpn sana
Muhammad Arifin
arjo welas asih....pantes Soedarsono suka...
Wiya Tun: betul,selalu ingat teman²nya
total 1 replies
Rahayu Wilujeng
wah..... harusnya pelajarannya lebih lengkap lagi, termasuk memberi respon pada semua istrinya, kan pasti beda2 responnya😄
Wiya Tun: mboten nopo² ndoro,Kula seneng, maturnuwun 🙏👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!