Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Malam belum sepenuhnya turun ketika Evans berdiri di depan layar besar.
Satu titik merah berkedip di peta sebuah gudang tua di pinggiran kota. Terlalu mencolok. Terlalu mudah ditemukan.
“Ini umpan,” kata Ben.
Evans menatap tanpa berkedip.
“Benar. Tapi tetap kita gigit.”
Gerry mengencangkan rompinya.
“Bagaimana kalau Nyonya...”
“Dia tidak di sana,” potong Evans dingin. “Bryan tidak akan menyimpan sesuatu yang berharga di tempat yang ingin ia bakar.”
Konvoi bergerak senyap. Malam menelan suara mesin. Saat pintu gudang didobrak, baku tembak singkat pecah,keras, cepat,dan brutal.
Bahkan terlalu cepat.
Evans menghentikan langkahnya di tengah gudang yang berantakan. Tidak ada kamar. Tidak ada jejak Xerra. Hanya orang-orang bersenjata yang… sengaja tertinggal.
“Bos,” ujar Gerry pelan. “Ini memang jebakan.”
Evans menurunkan senjatanya perlahan. Wajahnya tak menunjukkan emosi namun udara di sekitarnya terasa lebih dingin.
“Dia ingin aku marah,” ucap Evans. “Dan saat aku marah, dia ingin aku ceroboh.”
Evans menoleh tajam.
“Kita tidak ceroboh.”
Ia mengeluarkan ponsel. Sebuah pesan masuk tepat saat layar menyala.
Unknown Number.
Dia aman. Untuk sekarang.
Jari Evans mengeras di layar.
“Bryan,” gumamnya.
Sementara itu, di mansion monokrom yang sunyi, pagi menyusup lewat tirai tebal.
Xerra terbangun dengan perasaan aneh bukan lega, bukan tenang. Terlalu sunyi.
Ketukan pelan terdengar.
Pintu terbuka.
Bryan masuk membawa nampan sarapan. Bukan penjaga. Bukan pelayan. Dirinya sendiri.
“Kau tidur nyenyak,” katanya ringan.
Xerra duduk perlahan.
“Kau memeriksaku?”
“Tidak,” jawab Bryan jujur. “Aku menunggu.”
Ia meletakkan nampan di meja,Susu hangat, roti panggang,dan buah segar.
“Kau tidak berniat meracuniku?” tanya Xerra.
Bryan tersenyum tipis.
“Aku tidak sekejam itu pada gadis cantik sepertimu”
Xerra menatapnya lama.
“Kau ingin apa sebenarnya?”
Bryan duduk di kursi seberang, menjaga jarak.
“Aku ingin kau mengenalku… tanpa nama besar, tanpa reputasi.”
Xerra menghela napas pelan.
“Aku sudah menikah.”
“Aku tahu,” jawab Bryan cepat. “Dan aku tidak memintamu mengkhianati siapa pun.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya lembut namun berbahaya.
“Aku hanya ingin kau memilih… dengan sadar.”
Xerra mengepalkan jemarinya di atas selimut.
“Kau menculikku.”
“Ya,” Bryan mengakui. “Karena hanya itu caraku menghentikan dunia agar kau bisa bernapas tanpa bayangannya.”
“Bayangan Evans?” tanya Xerra dingin.
Bryan tersenyum samar.
“Bayangan ketakutan.”
Xerra tertawa kecil namun pahit.
“Kau tidak mengenalku.”
Bryan berdiri, berjalan ke jendela besar.
“Mungkin belum. Tapi aku belajar cepat.”
Ia menoleh.
“Aku tidak akan menyentuhmu. Tidak akan memaksamu. Kau bebas berjalan di mansion ini.”
Xerra terkejut.
“Kenapa?”
“Karena jika kau tetap di sini,” jawab Bryan tenang,
“aku ingin itu karena kau mau.”
Sunyi kembali mengisi ruangan.
Xerra menatap punggungnya, otaknya bekerja cepat. Kebebasan semu selalu lebih berbahaya dari kurungan.
Di markas, Evans menatap pesan itu lagi.
“Lacak nomor ini,” perintahnya.
Gerry menggeleng.
“Nomor sekali pakai. Bersih.”
Evans mengusap rahangnya, lalu berkata pelan nyaris berjanji pada dirinya sendiri.
“Dia ingin aku datang… tapi tidak sekarang.”
Ia menatap peta, matanya tajam.
“Bryan Adams suka mengendalikan tempo. Baik.”
Evans tersenyum tipis.
“Kali ini, aku yang menentukan akhirnya.”
Sementara itu, di sebuah rumah kecil dua lantai di pinggiran kota, Liona duduk gelisah di sofa usang dengan kain yang telah memudar warnanya. Pegas di dalamnya berdecit setiap kali ia mengubah posisi duduk. Rumah itu jauh dari kata mewah,setiap sudutnya adalah bukti dari perhiasan Melanie yang dijual satu per satu, demi mempertahankan hidup setelah mereka menggadaikan rumah peninggalan kedua orang tua xerra"
Melanie keluar dari dapur dengan langkah tenang namun lelah, membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkannya di atas meja kayu yang sudah penuh goresan usia.
“Kau bilang apa tadi?” tanyanya datar, tanpa menatap Liona.
Liona menelan ludah. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.
“Xerra…” suaranya nyaris bergetar, "dia diculik.”
Tangan Melanie berhenti di udara hanya sepersekian detik. Cukup singkat untuk nyaris tak terlihat, namun cukup jelas bagi Liona yang memperhatikannya dengan cemas. Setelah itu, Melanie kembali bergerak seperti biasa. Tidak ada kepanikan. Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata.
Hanya keheningan berat yang jatuh di ruangan sempit itu.
Melanie akhirnya duduk, meniup teh perlahan.
“Untuk apa kau peduli pada Xerra?” ucapnya dingin.
“Biarkan saja dia diculik… atau bahkan mati. Itu tidak ada hubungannya dengan kita.”
Liona tersenyum senang
“Ibu...bukan kah dia sepupuku juga.”
Melanie mendengus pelan.
“memang nya kenapa jika dia sepupumu,sejak kecil dia selalu di atas. Selalu dilindungi. Selalu dipilih.”
Pintu kamar terbuka. Maxim keluar setelah mendengar percakapan itu. Begitu menangkap inti pembicaraan, wajahnya justru berubah cerah, senyum tipis namun penuh perhitungan terukir di bibirnya.
“Diculik?” ulangnya pelan, seolah menikmati kata itu.
“Menarik." gumam nya
Maxim duduk santai, menyilangkan kaki.
“Kalau ini benar,” katanya perlahan, “ini kesempatan.”
“Kesempatan apa?” tanya Liona dengan nada keheranan
Maxim tersenyum lebih lebar.
“Kesempatan untuk hidup lebih baik.”
Melanie menoleh, mata mereka bertemu. Tak perlu banyak kata pikiran mereka berjalan searah.
“Jika Xerra benar-benar diculik,” lanjut Maxim, suaranya rendah namun penuh ambisi,
“dan jika penculik itu sampai membunuhnya… maka Evans Pattinson akan kehilangan istrinya.”
Liona mulai tertarik dengan pembicaraan kedua orang tua nya
“Ayah,bukan kah itu terlalu kejam”
“Dunia tidak peduli pada kejam atau tidak,” sahut Maxim dingin.
“Dunia hanya peduli pada siapa yang bertahan di puncak.”
Ia menatap Liona tajam.
“Dan saat itu terjadi, aku akan mendekatkanmu pada Evans.”
“Benarkah” napas Liona tercekat.
“Itu tidak mungkin.”
“Bukan sekarang,” sela Melanie tenang.
“Tapi suatu hari. Evans tetap membutuhkan ikatan. Keluarga. Seseorang dari lingkaran Xerra.”
Ruangan kembali sunyi.
Liona merasakan dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Evans bukan pria yang mudah didekati,” katanya lirih.
“Dan dia mencintai Xerra.”
Maxim terkekeh pelan.
“Cinta bisa runtuh,” ujarnya.
“Terutama jika yang dicintai itu… hancur.”
Ia berdiri, berjalan ke jendela kecil yang menghadap jalanan sempit.
“Siapa yang tidak kenal keluarga Pattinson?” lanjutnya.
“Keluarga paling kaya nomor tiga di London. Jika kau menjadi bagian dari mereka...."
“Kita akan kembali disegani,” potong Melanie pelan.
Liona terdiam,ada sebuah harapan di sana.
Di dalam rumah sederhana itu,hanya ada tiga manusia yang tengah menyusun rencana secara terbuka
Niat busuk yang tumbuh secara perlahan, dibungkus teh hangat dan kata-kata tenang.
Dan mereka tidak tahu satu hal
Jika Evans Pattinson mengetahui ada yang mengharapkan Xerra tidak kembali,
maka kehancuran bukan hanya akan menimpa penculiknya,tapi pada mereka juga
Evans tidak akan memberi ampun.