NovelToon NovelToon
Accidentally Wedding

Accidentally Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Kunay

Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.

"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."

"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skandal Rumit

Pintu lift kaca di lantai teratas Blackwood Tower terbuka dengan suara pelan. Greenindia melangkah keluar, dan udara dingin yang kering dari sistem pendingin sentral langsung menyambutnya. Ia membeku di tempat, bukan karena suhu, melainkan karena pemandangan yang menghantam retinanya.

​Ini bukan apartemen. Ini adalah sebuah mahakarya arsitektur yang menantang langit.

​Blackwood Penthouse View adalah definisi absolut dari kemewahan minimalis. Dinding-dindingnya sebagian besar adalah panel kaca setinggi langit-langit, menawarkan panorama 360 derajat kota yang berkilauan. Lantai marmer putih berkilau memantulkan cahaya chandelier kristal yang tampak seperti instalasi seni modern. Ruang tamu terbuka sangat luas, dihiasi sofa-sofa beludru berwarna gelap, dan di tengahnya tergantung sebuah lampu gantung yang rumit.

​Perbedaan dengan apartemen Greenindia bagaikan jurang. Apartemennya kecil, hangat, berantakan, dan terasa hidup. Tempat ini besar, dingin, rapi, dan terasa seperti museum mahal.

​Rex, didorong oleh Antonio, memasuki penthouse itu, sedikit pun tidak terkesan dengan kemegahan yang sudah biasa ia lihat.

​"Selamat datang di tempat tinggalku, Green. Mulai sekarang, ini juga rumahmu," kata Rex, suaranya tenang.

​Greenindia menatap Rex, lalu beralih ke Antonio, yang dengan cepat menutup pintu lift dan meletakkan koper Rex di dekat dinding.

​"Rumah? Tidak," balas Greenindia, menggeleng keras. "Ini tempatmu. Aku hanya akan tinggal sementara. Sampai keriuhan media itu selesai."

​Rex menghela napas panjang. Ia sudah memprediksi perlawanan ini. "Jangan keras kepala, Green. Apa pun yang kau inginkan—kehidupan sepi, ketenangan—tidak akan kau dapatkan di apartemen lamamu. Tempat itu sudah dikepung wartawan yang mengira kau selingkuhan Chester Anderson. Media akan mengorek habis semua detail hidupmu, dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."

​"Itu urusanku! Aku bisa menghadapinya!" Greenindia melangkah maju, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Aku sudah terbiasa dengan masalah."

​"Masalah yang ini berbeda," Rex membalas dengan nada mengancam. "Ini bukan lagi hanya tentang kau. Ini tentang aku dan perusahaanmu—maksudku, keluargamu. Jika status palsu kita terungkap saat ini, Carson and Croft Development akan sama-sama menderita. Kita sudah menikah. Penuhi peranmu."

​Greenindia tahu Rex benar. Status pernikahan paksa ini memberi Rex kekuatan untuk mengontrolnya. Ia tidak bisa membantah dampak finansial yang akan ditimbulkannya.

​"Baiklah. Sementara," Greenindia mendesis, menekan amarahnya. "Tapi setelah badai ini reda, aku akan kembali ke apartemenku. Aku tidak akan menjadi pajangan di rumah me—rumahmu ini."

​Greenindia menoleh ke arah jendela, memandang ke kejauhan. Meskipun mewah, tempat ini jauh dari toko buku tua yang menjadi satu-satunya jembatan ke masa lalunya. Aku harus segera pindah kembali, tekadnya dalam hati. Aku hanya butuh sedikit waktu.

​"Antonio, antar ke kamarku," Rex memberi perintah, mengabaikan protes Greenindia.

​Greenindia tersentak. "Tunggu! Kamarmu? Rex, ini penthouse. Ada setidaknya sepuluh ruangan di sini. Kenapa kita harus satu kamar?"

​Rex tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Tentu saja, banyak kamar. Tapi kau istriku, Green. Dan ada alasan yang tidak bisa kau bantah."

​"Coba saja bantah! Jangan coba-coba mencari alasan mesum!" balas Greenindia, matanya menyala.

​Rex menunjuk kakinya yang masih dibalut perban. "Kaki ini. Ingat? Kau yang menusuknya. Dan aku masih harus berganti perban dua kali sehari, dan kadang kakiku keram saat tengah malam."

​Greenindia memutar bola mata. "Ada Antonio, kan? Suruh dia yang mengurus kakimu, dia asisten pribadimu!"

​"Antonio tidak tinggal di sini. Dia punya kehidupannya sendiri," Rex menjelaskan dengan sabar, meskipun matanya menunjukkan ia sedang menikmati permainan ini. "Dan kau? Kau bertanggung jawab atas lukaku. Jika aku butuh bantuan mendadak, aku tidak bisa menunggumu berjalan dari sayap timur penthouse ini—dan aku serius, butuh sepuluh menit untuk sampai ke sayap timur—hanya untuk memberiku segelas air. Kita berbagi kamar, atau kau kembali ke apartemenmu sekarang dan menghadapi pers dan kemungkinan tuntutan pidana karena penyerangan fisik. Pilih."

​Ancaman itu membuat Greenindia terdiam. Rex telah mengikatnya dengan benang tanggung jawab dan situasi darurat. Ia tidak bisa melarikan diri, dan ia tidak bisa menolak permintaan tolong medis.

​"Rex, ini tidak adil!"

​"Hidup memang tidak pernah adil, Green. Itu pelajaran yang seharusnya sudah kau dapatkan," Rex membalas dingin. "Satu kamar. Tapi jangan khawatir, aku masih trauma dengan pisau lipatmu. Aku tidak akan menyentuhmu."

​Greenindia akhirnya menggeram, kalah. "Baik! Satu kamar! Tapi akan ada sekat bantal lagi, Carson. Dan jangan pernah menyentuh barang-barangku!"

​"Tentu saja. Perjanjian kita masih berlaku. Kecuali," Rex mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau sendiri yang melanggarnya."

​Rex lalu mengangguk kepada Antonio. "Antonio, bawakan barang Nona Green yang masih di apartementnya ke sini, ke kamar utama. Setelah itu, pastikan semua sistem keamanan diaktifkan, dan tidak ada wartawan yang bisa melacak kita di sini. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan."

​Antonio mengangguk dan segera menuntun Rex ke koridor.

​Lima belas menit kemudian, Greenindia ditinggalkan sendirian di kamar utama—sebuah ruangan yang ukurannya setara dengan seluruh apartemen lamanya. Ranjang king size itu terasa dingin dan kosong.

​Ia berjalan ke kamar mandi, terkejut melihat bak mandi marmer berukuran kolam renang mini. "Ini gila," gumamnya, menggeleng-gelengkan kepala.

​Setelah mandi cepat, Greenindia mengenakan pakaian yang sama yang ia kenakan. Ia duduk di kursi berlengan di sudut kamar dan mengambil ponselnya.

​Ia tahu dirinya tidak boleh melakukannya, tetapi rasa penasaran dan takut mendorongnya. Ia membuka media sosial dan mencari nama Chester Anderson.

​Berita tentang "Skandal Pelayan Pesta" telah meledak.

​Foto dirinya di samping Chester—meskipun buram dan diambil dari jarak jauh—tersebar luas. Komentar-komentar di bawah berita itu seperti cairan asam yang membakar mata Greenindia.

​—"Pelayan itu pasti sengaja. Mencoba menjebak Chester!"

—"Melihat gayanya, dia pasti jalang murahan yang mencoba naik kasta."

—"Buang saja wanita itu dari industri hiburan! Dia menghina keluarga Anderson!"

​Ada juga beberapa foto Rex yang beredar, di mana Rex terlihat menarik Greenindia menjauh dari kerumunan di sebuah pesta, yang menimbulkan spekulasi baru tentang "Siapa pria misterius yang melindungi pelayan Chester?"

Seolah Green sangat suka berganti pasangan dan menempel pada pria kaya.

​Greenindia merosot, punggungnya menempel ke dinding dingin penthouse itu. Ia menutup mata, membiarkan sakitnya merambat.

​Ia telah meninggalkan keluarganya untuk mencari kedamaian, tetapi kini, ia justru kembali diseret ke tengah badai yang diciptakan oleh saudaranya sendiri, di samping suaminya yang tidak ia cintai.

​Greenindia membuka matanya, menatap langit-langit yang tinggi.

​"Sialan."

Green mengetuk-ngetuk sandaran kursi, seraya menatap nomor telepon kakaknya. Haruskah Green menghubunginya? Dia tahu, bagi Chester menyingkirkan skandal itu hanya perlu satu jentikan jari. Tetapi, masalahnya adalah kalau Green meminta bantuannya itu sama saja dengan dia harus berurusan dengan keluarganya.

Baik ibunya atau kakak tertuanya, tidak mungkin tidak mengetahui skandal itu. Terutama ibunya, dia pasti akan sangat marah setelah mengetahui dirinya masih berhubungan dengan Chester.

 

1
hasatsk
ada ya, seorang ibu kandung seperti itu kepada anaknya😭
Fera Susanti
othor..up lagi
momski
keren thor....makasih udah crazy up 🙏😍
Fera Susanti
kpn green ketemu ibunya??..
Fera Susanti
iya Thor..crazy up nya d tunggu
momski
crazy up thor jgn digantung pas lg seru 😄
Kunay: siap. ditunggu. direview satu-satu
total 1 replies
Fera Susanti
oke othor aku tunggu mereka saling jatuh cinta 🤭..
semangat up
momski
gpp thor tp syukur2 crazy up 😍
hasatsk
perjalanan Rex untuk mendapatkan greenidia tidak mudah,harus menembus benteng pertahanan Chester....
Fera Susanti
aku juga memantau mu thor🤭😬
hasatsk
tantangan Rex meluluhkan hati Chester untuk bisa menemukan greenidia...
Fera Susanti
makin seru..
Fera Susanti
serruuuu... lanjut
momski
keren.... 👏👏👏👏
Fera Susanti
Aya dong Chester,.cepat ikut mencari green..dia lagi terpuruk..jgn sampe Rex yg menemukan green lebih dulu..mau nya keluarga nya yg lebih dulu menemukan green
Fera Susanti
apa maksud dari mewujudkan permainan dengan tuan Anderson untuk terakhir kali nya??...
Kunay: tipo kk. maksudnya, permintaan. sudah diperbaiki tapi masih review. terima kasih sudah diingatkan🤭😍
total 1 replies
Fera Susanti
dih nenek2 nech cari masalah
momski
go... go.... go..... up thor
hasatsk
Lauren,bisa memanfaatkan neneknya Rex untuk menghancurkan pernikahan Rex dan greenidia..nenek Lauren menginginkan cucunya menikah dengan orang yang statusnya setara 🤣🤣
Fera Susanti
aku mh selalu menantikan up selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!