Perhatian : Banyak adegan 21 + dan kekerasan.
Harap bijak dalam memilih cerita
(Masih dalam tahap revisi, tetapi masih bisa dinikmati alur ceritanya. Abaikan tanda baca dan penggunaan huruf besar juga kosa kata yang tidak sesuai dengan KBBI)
Salwa Humaira adalah putri sulung dari empat bersaudara, ia dibesarkan dengan kondisi ekonomi yang sulit. Dengan berat hati ia meninggalkan keluarganya untuk mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai TKW di negeri orang. Sampailah ia bertemu dengan dua orang bos mafia yang saling bermusuhan. Hidupnya seketika berubah setelah dua orang tersebut menaruh perhatian kepadanya.
Bagaimana keseruan jika seseorang yang bermusuhan menyukai gadis yang sama. Dan siapakah yang akan dipilih oleh Salwa Humaira sebagai pendamping masa depannya?
Dipenuhi aksi heroik dan romantis, siapkan hati, jantung dan pikiran beserta camilan yang lezat untuk menikmati alur cerita ini.
IG . aleena_anonymous
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reesha swee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Hati
》》Bantu Vote dan like ya readers.. Bantu Autors agar novelnya banyak diminati..❤❤
●●●●●●●●●●●●
PLAAAKKK...
Suara tamparan keras mendarat di pipi Michella.
Michella memegang pipinya yang terasa panas dengan tangannya .
"Apa maumu, aku sudah minta maaf, aku tidak sengaja melihat kalian berdua sedang.......,"Michella tidak kuasa meneruskan kalimatnya.
"Aku hanya ingin mengantar makanan saja, setelah itu aku pergi, aku sama sekali tidak ada niat mengganggu acara kalian" ucap Michella.
"Apa makanan?"Danisha melihat makanan yang sudah disiapkan Michella untuk Yang Pou Han, "apa dengan cara ini kau merayunya?"bentak Danisha, ia kemudian menarik baki yang berisi makanan itu hingga terjatuh berserakan di lantai.
"Apa masalahmu?"tanya Michella tidak terima makanan yang susah payah ia buat malah terbuang sia-sia. Danisha hanya tersenyum mengejek tanpa berkata apa-apa, ia merasa dirinya sudah berada dalam kemenangan karena Michella sudah melihatnya tidur dengan bos kesayangannya dan menikmati malam indah bersama-sama.
"Kau boleh memarahiku, tapi jangan membuang makananku. Kau tahu sejak pagi aku dengan susah payah membuatnya, namun sekarang kau menyia-nyiakannya dengan membuangnya. Bahkan aku sendiri belum memakannya" Michella menangis lalu berlari meninggalkan Danisha dan Yang Pou Han berdua. Hatinya terasa sakit, bukan karena melihat Yang Pou Han tidur dengan wanita lain, tetapi karena usahanya sejak pagi membuat makanan untuk Yang Pou Han terbuang sia-sia.
Yang Pou Han yang melihat kejadian dengan mata kepalanya sendiri merasa tidak senang dengan sikap arogan Danisha, ia bangun dari tidurnya lalu menyalakan lampu kamarnya. Badan polos Yang Pou Han terlihat jelas di penerangan membuat Danisha kembali menempel kepadanya. Seperti biasa ia bergelanyut manja di leher Yang Pou Han mengingat tadi malam Yang Pou Han sempat menolaknya namun kemudian mencarinya lagi untuk bercinta dengannya.
"Sayang, lihatlah kelakuan wanita itu, dia berani menganggu waktu kita" bisik Danisha dengan suara yang dibuat-buat. Yang Pou Han hanya terdiam sambil meraih baju tidur kimononya untuk menutupi tubuhnya. Ia melihat makanan yang berserakan yang merupakan makanan kesukaannya. Yang Pou Han mengutip secarik kertas yang ikut terjatuh di lantai. Sebuah pesan singkat dari Michella yang menyatakan perminta maafannya kepada dirinya. Yang mengerti maksud Michella datang kekamarnya. Pandangannya mengarah ke arah Danisha dengan tatapan yang tajam.
"Kenapa kau menghancurkan makanannya?"tanya Yang Pou Han dengan posisi masih berjongkok didepan makanan yang telah berserakan.
"Karena wanita itu sudah menggangku waktu kita"ucap Danisha masih dengan nada manjanya.
"Kau tidak berhak memarahinya seperti itu, apalagi membuang makanan yang ia buatkan untukku di depanku"bentak Yang Pou Han dengan suara keras
"Sayang, jangan marah padaku, perempuan itu yang salah"bujuk Danisha mencoba kembali merayu Yang Pou Han.
"Keluar kau dari kamarku, bawa juga pakaianmu, aku tidak mau kau meninggalkan apapun di kamarku"ucap Yang Pou Han lalu keluar meninggalkan Danisha sendirian di kamarnya. Yang Pou Han mencari Michella di kamarnya namun ia tidak mendapatinya, ia mencari di dapur, di ruang tengah dan di semua ruangan namun tetap tidak mendapati sosok Michella. Akhirnya ia teringat tempat favorit Michella yaitu taman belakang rumah. Yang Pou Han berjalan cepat menuju taman belakang rumah dan benar saja di sana ia melihat Michella sedang duduk termenung sendirian.
"Dasar gadis aneh, saat aku datang padanya dia menolakku, tetapi saat aku bersama wanita lain dia justru mendatangiku" batin Yang Pou Gan sambil tersenyum. Ia berjalan pelan ke arah Michella duduk, lalu ikut duduk berjajar di sampingnya.
"Sedang apa?"tanya Yang Pou Han lirih. Michella hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa menjawab.
"Katanya mau minta maaf?"tanyanya lagi.
"Gak jadi"jawab Michella cepat tanpa mengalihkan pandangannya kearah bunga-bunga yang sedang bermekaran. Yang Pou Han sedikit tersenyum melihat Michella yang tampak merajuk.
"Apa kau cemburu" tanya Tang Pou Han lagi, dia yakin kali ini Michella akan menjawab dan tidak mengacuhkannya lagi.
"Apa.... cemburu, kau jangan gila, kenapa aku harus cemburu"
"Entahlah, terkadang perasaan wanita sulit untuk dimengerti"
"Aku... aku.... aku tentu saja tidak cemburu, aku hanya tidak suka masakan yang aku buat dengan susah payah sejak pagi malah dibuang-buang begitu saja. Sayang sekali padahal kata bibi Lie rasanya tadi sangat enak, tahu gitu tadi lebih baik aku makan sendiri saja"
Yang PouHan terkekeh mendengar pernyataan Michella yang sangat polos.
"Baiklah... apa kau bisa memasakkannya lagi untukku?"
"Gak mau, udah malas"
"Kalau gitu aku tidak akan mau makan"
"Bibi Lie sudah masak banyak tadi, kau makan saja masakan bibi Lie"
"Maunya masakan kamu"
"Terserah kau saja"
"Aku akan disini terus bersamamu"
"Aaaggghhh.. kau seperti anak kecil saja, oke aku buatkan lagi" akhirnya Michella menyerah berdebat dengan Yang Pou Han dan menuruti kemauannya. Michella bergegas ke dapur untuk membuat sarapan lagi.
Di dalam sebuah kamar seorang wanita tampak marah sambil berteriak sekeras-kerasnya.
"Michelllaaaaa... awas kau wanita jalang" teriaknya sambil melemparkan barang -barang ke segala penjuru ruangan.
"Aku akan membalasmu Michella, kau tunggu saja" ucap wanita itu dengan tatapan yang mengerikan.
***************
"Nah selesai" ucap Michella sambil meletakkan makanannya di atas meja taman belakang rumah.
Ia kembali masuk untuk mengambil perlengkapan makan lain seperti piring, sendok dan garpu tidak lupa minuman untuk dua orang.
"Tuan Yang, masih mau makan tidak? Aku habisin ya?" Teriak Michella sambil tertawa. Yang Pou Han yang masih menunggu di taman menoleh kepadanya.
"Tentu saja mau, aku sudah sangat lapar dari tadi. Kau masak lama sekali" protesnya sambil berjalan cepat ke arah Michella.
"Itu untukku?"tanya Yang Pou Han kepada Michella saat ia melihat Michella membawa piring yang sudah lengkap dengan nasi lauk dan sayuran.
"Ambil sendiri, tuh masih banyak"ucap Michella cuek.
"Aku mau yang itu"Yang masih menginginkan piring Michella
"Punya tangan kan, ambil sana" celetuknya
"Gak mau, mau yang itu, kalau tidak kau tidak akan mendapatkan kesempatan bagus bertemu dengan Sean Arthur" ucap Yang memberi tawaran.
Uhuk-uhuk-uhuk.. Michella menepuk-nepuk dadanya, ia terkejut tiba-tiba saat minum Yang Pou Han membicarakan laki-laki yang sangat ia benci.
"Kau selalu memberikan pilihan yang sulit,
Baiklah, tapi aku sudah memakannya sedikit" ucap Michella jujur. Ia kemudian menyerahkan piringnya kepada Yang Pou han dan mengambil lagi yang masih kosong.
"Lalu bagaimana aku bisa punya kesempatan membalaskan dendam keluargaku"tanya Salwa setelah selesai menghabiskan isi piringnya.
"Empat hari lagi adalah hari ulang tahun perusahaan , dia sudah aku undang, aku yakin dia akan datang, aku akan membuatnya datang seorang diri tanpa ada pengawalan, jadi kau bisa membunuhnya di tempat yang sudah aku siapkan" Yang Pou Han menjelaskan rencananya kepada Michella.
"Bagaimana jika orang lain yang datang, maksudku anak buahnya untuk mewakilinya jika ia tidak bisa hadir"tanya Michella mencoba mencari kemungkinan lain yang akan terjadi.
"Aku akan menyuruhnya datang, dengan memberikan penawaran terbaik kepadanya, aku yakin dia akan menyetujuinya" ucap Yang dengan rasa percaya diri.
"Ayo ikut aku" ajak Yang PouHan sambil menarik tangan Michella.
"Hey, aku harus membereskan piring kotor ini dulu" Michella mencoba menolak ajakannya.
"Kau tidak punya banyak waktu, aku akan mengajarimu mengemudi, kau hanya punya waktu empat hari saja" ucap Yang kepada Michella.
"Tapi setidaknya kau bisa mandi dulu, apa kau mau mengajariku mengemudi dengan memakai baju tidur seperti itu"
Yang Pou Han terkejut, ia lupa bahwa ia masih mengenakan baju tidur kimono dan tanpa memakai baju dalam.
"Sssitttt, cepat bersiap aku mandi dulu"ucap Yang sambil berlalu. Michella terkekeh melihat sikap Yang Pou Han seperti itu.
lanjut marathon yg kedua..