NovelToon NovelToon
YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Bunga_Persik98

Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.

Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.

Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : KEPINGAN TAKDIR

Setelah rangkaian tes mengenai tata krama dan etiket selesai. Para peserta diperbolehkan untuk beritirahat dan membersihkan diri. Mereka diminta untuk kembali berkumpul di Balai pertemuan setelah jam makan malam.

Ye Ning terbangun dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya dan bersiap untuk makan malam. Karena hari ini cukup melelahkan sehingga membuat dirinya kelaparan. Usai mandi dan berganti berpakaian, ia merapikan rambutnya dan berdandan sedikit. Suara langkah kaki terdenga dari luar, ia menoleh dan melihat Jiu Lin yang berwajah cemberut.

Ye Ning tidak begitu peduli, lanjut merapikan rambutnya. Qing He selesai berpakaian dan berdandan langsung keluar sendirian tanpa mengajak Ye Ning. Jiu Lin juga meninggalkan Ye Ning sendirian, tak lama dari situ Lu Wan menghampiri Ye Ning dan mengajaknya untuk ke ruang makan bersama. Ye Ning tersenyum dan mengangguk menerima ajakannya.

Rupanya Ming Zi sudah menunggu mereka di luar dan akhirnya mereka bertiga berjalan bersama sambil berbincang ria. Sesampainya di ruang makan, hanya ada Qing He yang duduk dan mulai makan di meja khusus mereka tetapi tidak ada Jiu Lin. Mungkin Jiu Lin sudah selesai makan pikir Lu Wan.

Seusai makan malam dan membereskan peralatan makan, Ye Ning dan tiga lainnya berjalan bersama menuju Balai pertemuan. Disana sudah dipadati oleh para peserta yang menunggu hasil tes tadi pagi. Karena tidak semua peserta diumumkan hasil penilaian ketika selesai mengerjakan tes.

Oleh sebab itu, atmosfer di dalamnya sangat kental dengan harapan dan kecemasan. Lima menit kemudian Tang Momo datang memegang gulungan surat dan diikuti dayang lainnya. Ia berdiri di depan barisan dan mulai membuka gulungan tersebut. Membacakan satu-persatu nama peserta yang lolos tahap ini dan akan melanjut ke tahap berikutnya.

Dari tujuh puluh peserta, hanya lima puluh nama yang dinyatakan lolos. Dua puluh sisanya hanya mampu menundukkan kepala dengan wajah sedih dan harus angkat kaki dari istana esok pagi. Tidak ada satupun yang gugur dari kelompok Ye Ning yang sudah menjadi tebakan semua anggota.

Dan mereka yang lolos malam ini, mulai besok akan bertemu para dewan istana dan menuju Aula Pendidikan Istana untuk melangsungkan tes berikutnya yaitu mengenai Tes Pengetahuan Istana.

Mendengar itu membuat Ye Ning merasa pening, dulu dengan polosnya ia ingin menjadi putri mahkota. Ternyata untuk menjadi anggota keluarga kekaisaran sangat melelahkan. Ye Ning mendesah dalam hati.

Selesai Tang Momo memberikan pengarahan di Aula pertemuan, para peserta diminta untuk kembali ke halaman mereka masing-masing karena hari sudah malam. Di perjalanan pulang, Lu Wan dan Ming Zi terus saling menatap secara bergantian dan juga saling mendorong siapa yang dulu berbicara kepada Ye Ning. Menyadari tingkah mereka yang sangat aneh, Ye Ning berhenti di koridor dan menatap mereka berdua. Dia berdiri bersedekap dan bertanya ada apa. Awalnya Ming Zi dan Lu Wan malu-malu untuk bicara sampai suara Qinghe memecah keheningan

"mereka ingin berbaikan denganmu"

Ming Zi memelototi Qinghe yang langsung melangkah menjauh dari mereka bertiga. Sedangkan Lu Wan menunduk malu dan Ming Zi yang menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Saat ingin mengucapkan sesuatu, Ye Ning berkata bahwa dirinya mengerti dan tidak mempermasalahkan kesalahpahaman itu sebelumnya.

"bukankah kesalahpahaman adalah hal yang lumrah terjadi? Asalkan kalian datang untuk menjelaskan, bagiku itu sudah cukup"

Mendengar jawaban Ye Ning, membuat Ming Zi dan Lu Wan terharu. Akhirnya mereka berpelukan sambil menangis bersama. Kebesaran hati Ye Ning lah yang membuat mereka merasa bersalah sekaligus berterima kasih. Kejadian ini mengajarkan mereka untuk tidak menilai seseorang hanya dari perkataan satu orang yang belum tentu kebenarannya.

*** Kediaman Ibu Suri, Istana Cining ***

Istana Cining sangat sunyi seperti biasanya, hanya bunyi api yang berderak di dalam tungku yang sesekali menjadi penanda bahwa ada kehidupan di dalamnya. Ibu Suri selalu menyukai ketenangan saat di malam hari agar ia dapat beristirahat dengan baik.

Namun malam ini, Sun Ling bertamu ke istananya dan kini tengah memijat kaki Ibu Suri dengan hati-hati. Ibu Suri setengah berbaring sambil memejamkan mata dan menikmati pijatan Sun Ling. Setelah merasa cukup, Ibu Suri memerintahkan Sun Ling untuk duduk disampingnya.

Mereka menyesap teh bersama sambil memandangi lukisan indah karya pelukis terkenal di seluruh daratan. Lukisan ini diberikan oleh putranya Junwang sebagai hadiah. Ibu Suri yang tersenyum mulai berbicara

"Kau selalu menemui Aijia jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Katakan ada apa cucuku?"

"Nenek, uhm bisakah aku meminta bantuanmu?" Tanya Sun Ling penuh harapan.

Ibu Suri mengangguk dan bertanya bantuan apa yang ia inginkan.

"Putra Mahkota kini tampak aneh. Sepertinya ia tahu pergerakanku. Aku ingin menemukan mata-mata yang mengawasiku."

Ibu Suri mengangkat alisnya dan menyuruh pelayan lainnya untuk keluar ruangan. Setelah hanya ada mereka berdua, tatapan Ibu Suri berubah menjadi sedikit tegas dan tajam.

"Aijia sudah mengatakan padamu untuk selalu berhati-hati. Jangan lengah hanya karena kau berpikir sudah memiliki hati seorang pria"

Sun Ling menunduk takut mendapatkan tatapan dari Ibu Suri, ia kemudian memohon maaf dan meminta bantuan kepada Ibu Suri.

Ia kemudian mengungkapkan kekhawatirannya

"Sejak Putra Mahkota sadar dari komanya, ia mulai memperhatikan Putri dari Menteri Xiao. Awalnya aku tidak begitu terganggu, Tetapi tindakannya baru-baru ini yang mengambil pelayanku sebagai selir mulai membuatku khawatir. Aku mendapatkan informasi bahwa kemungkinan besar Putra Mahkota akan memanfaatkan pemilihan ini untuk mendapatkan Ye Ning sebagai selir"

Mendengar pernyataan Sun Ling, Ibu Suri mengetukkan jemarinya di atas meja dan mulai berpikir. Membuka kembali memorinya tentang Putri Menteri Xiao, ahh kini Ibu Suri mengingat tentang gadis itu yang dulu pernah memiliki perjodohan dengan Li Yan. Untuk menggagalkannya, Ibu Suri bahkan harus berpura-pura tidak mengetahui upaya gadis itu untuk mendatangkan rombongan opera untuknya tiga tahun lalu.

Ibu Suri memandang Sun Ling dan membelai kepalanya kemudian berkata " Sebisa mungkin kau harus menggagalkan rencana Putra Mahkota. Kau tahu akibatnya jika merusak rencana bukan?" meskipun Ibu Suri mengatakannya sambil tersenyum tetapi di dalam diri Sun Ling sudah gemetar ketakutan.

Setelah Sun Ling pergi, Ibu Suri menulis sebuah surat dan memerintahkan kasim di Istananya untuk mengantarkannya ke kediaman Junwang. Sepertinya mereka harus bertindak sedikit lebih cepat dan mengubah beberapa rencana.

1
Marini Dewi
menarik
BUNGA PERSIK: Terima kasih atas supportnya ya 😍.. Aku senang sekali
total 1 replies
BUNGA PERSIK
Ini karya baru, mohon dukungannya. Maaf kalau masih agak berantakan, beneran masih newbie. 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!