Seandainya waktu bisa diulang kembali.
Penyesalan Mark Theodor dalam hidupnya, adalah mengabaikan istrinya demi keluarga kandungnya, hingga istrinya meninggal saat hamil muda.
Di saat ia sudah menua dan sakit-sakitan, keluarga kandung yang sangat ia sanjung, tidak satupun menaruh rasa kasihan pada keadaannya.
Mark hanya bisa menangisi dirinya yang malang, sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
Tapi, tiba-tiba ia membuka matanya, dan terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 1973, di saat usianya masih dua puluh delapan tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25.
Rebecca meraih tangan Ivana, lalu memeriksa tubuh Ivana dari kepala sampai bawah kaki dengan raut wajah yang terlihat sangat cemas.
"Apakah kamu terluka? kenapa mereka begitu tega menculik kamu!!" Rebecca mengelus lengan Ivana, setelah melihat Ivana baik-baik saja.
"Aku pernah dengar dari Lina, laki-laki itu pelarian dari desa, karena suka menginginkan istri orang!!" kata Rebecca lagi.
"Mereka sudah di bawa ke kantor Polisi! mereka akan mendapatkan hukuman penjara!!" kata Berwyn.
"Baguslah! bawa masuk istrimu, Mark! dia masih terlihat shock!"
Rebecca memberikan tangan Ivana untuk di pegang Mark.
"Ayo, sayang!" Mark meraih tangan Ivana untuk masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di kediaman Theodor, Frank sangat terkejut mendengar Melina dan Alice di bawa ke kantor Polisi.
"Mark yang mengadukan mereka ke Polisi! dan Mark ingin mereka dihukum penjara!!"
Danielle bersama mantan teman Mark, Felix, membawa laporan tentang penangkapan Melina dan Alice.
Mendengar apa yang dijelaskan Danielle, Frank seketika mengepalkan tangannya merasa geram.
"Dasar anak durhaka! tega sekali dia memenjarakan Ibu kandung, dan adik kandungnya sendiri!!" geram Frank seketika emosi.
"Dia semakin arogan saja! seharusnya dia lebih melindungi keluarganya dari pada perempuan itu!!" Mario juga ikut merasa geram mendengar laporan Danielle.
"Ayo kita ke kantor Polisi! cepat, Pa!!" kata Marley bergegas melangkah ke luar rumah.
"Tidak! kita harus menemui Mark terlebih dahulu, untuk meminta dia menarik laporan penangkapan mereka!!" kata Frank.
Dengan langkah cepat, dan raut wajah marah Frank Theodor bergegas ke kediaman Berwyn.
"Mark! Mark! keluar kamu!!!"
Frank Theodor mendobrak pintu pagar kediaman Berwyn sembari berteriak kencang, dan di susul dengan Mario serta Marley ikut berteriak.
"Mark! cepat keluar kamu!!!"
Berwyn yang mendengar teriakan, dan suara berisik mereka keluar dari dalam rumah.
Ia terbelalak melihat Ayah Mark datang dengan ke dua adik Mark, yang sepertinya ingin membuat keributan lagi dengan Mark.
"Mau apa kalian datang ke sini?! pergi sana! jangan membuat keributan di rumah orang!!!"
Berwyn mengambil sapu lidi, lalu mengacungkan nya ke arah ke tiga keluarga Theodor tersebut.
"Husss.. husss pergi!!!" Berwyn mengibaskan sapu lidi tersebut.
Kaki ketiga pria itu pun sontak mundur menghindari kibasan sapu Berwyn, dan keributan itu membuat Mark pun keluar dari dalam rumah.
"Mau apa kalian datang ke mari?!!"
"Kamu! dasar putra durhaka! kamu penjarakan Ibu yang melahirkan mu! di mana hati nuranimu, Hah?!!" sembur Frank Theodor dengan begitu kencangnya, sampai urat lehernya menonjol.
"Putra? anak kandung? Heh, Tuan Theodor! dengar ya, kita sudah tidak memiliki ikatan antara putra dan orang tua! lihat ini!!!"
Mark memperlihatkan berkas pemutusan hubungan keluarga, yang telah di tandatangani Frank.
"Perhatikan dengan baik surat ini! kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi! istri anda telah menculik istriku, dan menjualnya ke hidung belang! dia sudah melakukan tindak kriminal, dengan kasus perdagangan gelap!!!"
Frank Theodor terdiam mendengar perkataan Mark, yang membuatnya seketika tidak bisa berkata-kata.
Sudut bibir Mark menyunggingkan senyuman dingin, "Istri anda yang tidak punya hati nurani! menculik istriku dengan paksa!! seharusnya anda saat ini ke kantor Polisi untuk memberi bantuan padanya, bukannya datang mencari ku!!"
"Aku ingin kamu mencabut laporan pengaduan Melina dan Alice!!"
"Apa?! apa aku tidak salah dengar?!" Mark tersenyum dingin, lalu melipat kembali surat pernyataan pisah rumah.
"Penjualan ilegal dalam bentuk apa pun, akan mendapatkan hukuman penjara! aku tidak akan menarik sampai kapan pun laporanku!!" kata Mark lagi, "Usir mereka Berwyn!!"
"Pergi!! husss... sana!!!"
Berwyn mengayunkan sapu lidi yang ia pegang, sampai ujung sapu mengenai Mario dan Marley.
"Mark! tunggu saja, ya! jangan sampai kamu menyesal, dan datang ke kediaman Theodor memohon maaf padaku! aku tidak akan pernah menerima mu sebagai putraku lagi!!!" teriak Frank melangkah mundur dengan cepat.
Karena sapu lidi yang di ayunkan Berwyn nyaris saja mengenainya, membuat ia menjadi kalang kabut melangkah dengan cepat keluar dari pekarangan kediaman Berwyn.
Brak!!
Berwyn menutup pintu pagar dengan kencang, sehingga membuat ke tiga keluarga Theodor tersebut terperanjat di tempat mereka berdiri.
"Mark!! ingat! kamu jangan menyesal sudah membuat Melina di penjara! aku tidak akan pernah memaafkan mu!!!" teriak Frank, sebelum meninggalkan depan pintu pagar kediaman Berwyn.
Di kantor Polisi.
Melina dan Alice berusaha menyakinkan petugas, kalau mereka sebenarnya bukan pedagang ilegal.
"Saya ini hanya menuruti kemauan menantu saya, dia dan Tuan ini saling menyukai! jadi saya mengantarkan menantu saya bertemu dengan Tuan ini!!"
"Iya, benar! saya saksinya! karena itu saya ikut menemani Ibu saya!!" kata Alice membenarkan apa yang dikatakan Melina.
"Nyonya! anda sungguh aneh! kalau memang menantu anda menyukai Tuan ini, bukankah seharusnya anda tidak mengantarkan menantu anda bertemu dengan Tuan ini?!!" Polisi menunjuk pria yang nyaris saja menyentuh Ivana.
Melina dan Alice terdiam mendengar apa yang dikatakan Polisi.
Melina memutar otaknya mencari alasan lainnya untuk meyakinkan Polisi, kalau ia bukanlah mertua yang kejam menjual menantunya.
"Ka.. karena menantu saya sangat garang! dia akan memukul saya dan putri saya, kalau tidak menuruti apa yang dia inginkan! tadi dia memaksa kami untuk mengantarkannya ke kediaman Tuan ini, karena dia belum tahu alamat rumah Tuan ini!!"
"Iya, benar!!" kata Alice menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang dikatakan Ibunya tersebut.
"I.. iya, iya benar!!" si pria hidung belang ikut membenarkan penjelasan Melina.
"Nyonya! anda semakin mencurigakan! bagaimana mungkin menantu anda tidak tahu kediaman lelaki yang dia sukai! anda jangan memutar balikkan fakta! tetangga menantu anda melihat jelas, kalau anda menculik menantu anda!!"
Melina seketika menjadi gemetar mendengar nada tidak percaya petugas Polisi dengan penjelasannya.
Ia tidak tahu lagi untuk memutar otak, agar ia tidak disalahkan telah menjual Ivana kepada pria hidung belang.
"Masukkan mereka ke sel!!" perintah Polisi interogasi tersebut kepada bawahannya.
"Tidak! tidak!!!" Melina mencoba berontak.
Tiga petugas Polisi dengan paksa menarik mereka ke dalam sel sementara.
Prang!!
Sel kemudian di kunci Polisi setelah mereka di dorong masuk kedalam sel.
Melina jatuh terduduk di lantai dengan tubuh lemas.
Habislah sudah!
Maksud hati ingin membuat Ivana bersedia pergi, dan bercerai dari Mark, justru membuat rencananya menjadi musibah kepada dirinya sendiri.
"Mama, bagaimana ini??" tanya Alice dengan wajah pucat.
"Bukankah ini idemu? kamu bilang rencana ini akan membuat perempuan kampung itu menyerah pada Mark!!!"
Seketika Melina pun menyalahkan Alice.
Awalnya Alice hanya iseng saja mengatakan soal menjual Ivana, dan ia pun jadi bersemangat akan menjual Ivana.
"Kenapa Mama menyalahkan aku, sih?! bukankah Mama yang langsung setuju, dan menarik ku untuk segera menculik si bodoh itu?!!"
Alice seketika marah, tidak senang mendengar Ibunya menyalahkan dirinya.
Bersambung.........
akhirnya up juga ya Thor,, sehat selalu ya
rasain Daniela