Ada yang bilang cinta itu buta, apakah salah jika jatuh cinta dengan seorang makhluk gaib. Walaupun mereka tahu tidak akan bersatu, tapi mereka berusaha untuk menyatukan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
"Tania!" Leon segera menarik Tania dari ruang Panitia
"Kita mau kemana?" tanya Tania
"Lihat siapa saja yang lolos ke babak selanjutnya?" Leon berhenti di depan papan pengumuman dan mencari nama-nama anak yang lolos lomba menuju tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat Kodya Jakarta.
"Yes, nama kita ada semua!!" seru Leon berjingkrak-jingkrak dan memeluk Tania
"Isshh, apa-apa sih, kebiasaan suka peluk-peluk orang sembarangan!" Tania mendorong Leon hingga terhempas menanbrak seseorang yang sedang mengawasi mereka.
*Bruuughhh!!!
"Maaf Ibu, saya tidak sengaja!" seru Leon
"Its Ok, tidak masalah," jawab wanita itu dingin
Ia mengibaskan rambutnya yang panjang hingga mengenai wajah Leon dan pergi meninggalkan pemuda itu.
Wangi sekali rambutnya, benar-benar wanita dewasa yang menggoda,
Leon menikmati harum parfum wanita itu, menghirupnya sambil memejamkan matanya.
Bayangan wanita cantik yang dingin itu seketika lenyap ketika Tania datang menghampirinya dan menoyor kepalanya.
"Isshh, dasar kambing, ngapain ganggu khayalan gue sih!" hardik Leon geram
"Gue gak suka kalau teman gue suka menghayal mesum, ngerti gak lo!" sahut Tania
"Gak," jawab Leon meninggalkan Tania
"Mau kemana, kita harus segera pulang. Rain sama Abi sudah menunggu didepan gerbang!" Tania berlari menyusul Leon yang terus berjalan meninggalkannya.
Pemuda itu menghentikan langkahnya ketik melihat Vito dan Giring sedang dikeroyok anak-anak dari sekolah lain.
Gue harus membantu Vito, bagaimanapun juga dia satu sekolah dengan gue. Aku gak akan membiarkan seseorang menindas anak-anak dari sekolah ku meskipun dia musuh gue.
"Telpon Abi dan Rain, untuk segera datang membantu Vito!" ucap Leon
"Siap Bos!" seru Tania
Leon segera berlari menghampiri Vito dan Giring yang sedang menjadi bulan-bulanan anak-anak SMK Pelayaran.
"Oiii, jangan beraninya keroyokan!!" seru Leon
"Oh, rupanya aku kedatangan Leon si singa kecil dari SMK Perjuangan. Btw bukannya kalian musuhan, kenapa sekarang kami malah belain musuh Lo sendiri!" cibir Gary
"Walaupun dia musuh gue, tapi kami satu sekolah. Dan aku paling tidak suka melihat teman satu sekolah gue dianiaya didepan gue, ngerti Lo!" hardik Leon
Gary tersenyum sinis menatap Leon.
"Bacot Lo, serang!!" seru Gary memberikan perintah kepada teman-temannya untuk menghajar Leon dan teman-temannya.
Beruntungnya Abi dan Rain datang tepat waktu dan membantu mereka melawan Gary dan kawan-kawannya, begitu juga Tania.
"Kemampuan bertarung Lo payah, gak cocok Lo jadi anak STM!" cibir seorang cowok yang melawan Tania
Gadis itu terus melancarkan serangannya kepada lelaki itu, namu ia selalu bisa mengelak setiap serangan Tania.
*Buuugghh!!
Sebuah tinju melesat mengenai wajah Tania membuat gadis itu beringsut mundur dan memegangi pipinya yang terasa nyeri.
Lelaki itu kembali melesatkan tendangannya kerah Tania, namun Vito dengan sigap menarik Tania kedalam pelukannya.
"Tunggulah disini, biar aku yang menghadapi lelaki jahanam itu!" seru Vito
Tania menatap lekat pemuda itu membuat Vito salah tingkah dan langsung meninggalkannya.
Pemuda itu menghajar pemuda itu dengan membabi buta apalagi setelah ia berhasil melukai Tania.
Leon terlihat beringas dan terus menghajar Gary yang sudah babak belur.
"Sudah Le, kalau Lo terus menghajarnya dia bisa mati!" cegah Rain
"Biarkan saja, anak seperti dia memang harus di beri pelajaran biar kapok!" tukas Leon
Rain segera menarik Leon dan menyuruh Gary dan teman-temannya pergi dari tempat itu.
"Yeeaay!, kalian benar-benar keren!" seru Isyana mendekati Leon
"Memangnya kenapa?" tanya Leon
"Karena Lo udah bikin anak-anak Pelayaran babak belur. Asal Lo tahu mereka itu sering sekali melecehkan anak-anak PERTIWI, jadi aku harap dengan kejadian ini mereka tidak akan mengganggu kami lagi," jawab Isyana
"Oh, begitu!" sahut Leon meningkatkan Isyana ketika melihat wanita yang tadi ditemuinya berjalan kearahnya.
Wah, dia benar-benar mempesona!.
Leon terus menatap takjub kearah wanita itu tanpa menghiraukan yang lainnya.
"Ada apa ribut-ribut disini!" seru wanita itu
"Tidak ada apa-apa Bu Kartini, biasalah kita lagi kenalan," jawab Isyana menutupi Tania yang terluka
"Kenapa wajah membiru?" tanya Kartini mendekati Tania
"Aku terbentur tembok saat dikejar-kejar Isyana Bu," jawab Tania
"Oh, aku kira kau dipukuli sama mereka," sahut Kartini menatap Leon dan kawan-kawannya
"Tidak mungkin lah Ibu, mereka temanku jadi tidak mungkin mereka akan memukulku," jawab Tania tersenyum simpul
"Baiklah karena tidak ada apa-apa, aku pergi dulu. Selamat siang semuanya," ucap Kartini meninggalkan tempat itu
Leon yang masih terus menatap lekat kepergian wanita itu dengan mulut menganga membuat teman-temannya menggelengkan kepalanya.
"Dasar Playboy cap kadal, apa Lo gak sadar kalau Bu Kartini itu kepala sekolah disini!" cibir Isyana membuat Leon tercengang
"Masa?" tanya Leon
"Cius," sahut Isyana
"Mi apa?" tanya Leon
"Mikirin gimana caranya bikin Lo insaf jadi playboy!" hardik Isyana membuat semuanya terkekeh mendengarnya
Leon segera berlari mengejar Bu Kartini ketika melihat wanita itu tampak asyik berjalan sembari memainkan gadget miliknya tanpa memperdulikan seseorang yang berjalan dari depan membawa mebel.
"Ibu awas!!" seru Leon menarik wanita itu kedalam pelukannya
*Greepp!!
Semuanya menatap takjub kearah Leon tidak terkecuali Tania.
"Dia memang benar-benar playboy kelas kakap, tidak peduli janda disikat juga!" keluh Isyana
"What!!, janda!!" seru Tania dan kawan-kawannya
"Yoi, Bu Kartini itu janda ditinggal mati suaminya tiga tahun lalu," bisik Isyana
"Pantesan Leon sekarang berpaling dari Lo Isyana, ternyata benar yang dikatakan orang-orang kalau janda lebih menggoda, eeeaaa!" seru Tania membuat semuanya tertawa mendengarnya
"Terima kasih," ucap Kartini melepaskan pelukannya dan meninggalkan Leon
"Sama-sama Ibu," jawab Leon sumringah
Wah, dia benar-benar memesona. Dia benar-benar wanita idaman gue, aku berjanji akan menjadikan dia sebagai pelabuhan terakhir gue. Wangi tubuhnya begitu menggoda dan membuat aku gila. I Love you Bu Kartini!.
************
"Gimana kabarnya si Gilang ya, kangen juga gue," ujar Rangga
"Sama bro, gue juga kangen lawakannya!" sahut Barra
"Bagaimana kalau kita main ke Singosari liburan besok?" tanya Rangga
"Kalau gue sih terserah saja," jawab Rangga
"Sekalian aku mau minta dia mengobati Ki Kuncoro, aku yakin Gilang bisa mengobati guruku,"
"Bukankah sudah ada Hesti yang mengobatinya?" tanya Barra
"Benar, tapi dia tidak bisa mengobati luka dalam itu sampai sembuh seratus persen. Tapi aku yakin Gilang bisa menyembuhkannya," jawab Rangga
"Hmmm,"
Rangga langsung membuka aplikasi ponselnya untuk memesan tiket kereta api online.
"Ngapain Lo Ran?"
"Pesen tiket kereta buat ke Singosari!" jawab Rangga
"Kenapa harus repot-repot ke Singosari kalau orangnya sudah ada di dekan Lo!" ucap Gilang merentangkan ke dua tangannya
"Gilang!" seru Rangga memeluk sahabatnya erat
"Eheemm, gue dilupain," keluh Barra
"Sini peluk," ucap Gilang membuat Barra langsung memeluknya
"Senengnya bisa ngumpul lagi!" seru Gilang terharu
Rangga membelalakkan matanya ketika melihat Hesti memasuki rumahnya dan menatapnya dengan tatapan aneh.
Ia langsung melepaskan pelukannya dan mendekati gadis itu.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat, aku dan Gilang cuma berteman, swear!" ucap Rangga mendekati Hesti
"Jangan percaya sama dia, gue ini sudah seperti istrinya, kita tidur berdua, makan sepiring berdua dan mandipun berdua," ujar Gilang membuat Hesti semakin membulatkan matanya dan beringsut mundur menjauhi Rangga
"Apa kalian Guy?" tanya Hesti sinis
"That's right baby!" jawab Gilang mencium pipi Rangga
"Lo jangan Gila deh Lang, datang-datang bukannya bikin gue seneng malah bikin spaneng!" cibir Rangga
"Memangnya kalau Rangga Guy, kenapa?. Apa Lo kecewa karena cinta Lo gak berbalas?" tanya Gilang membuat Hesti mati kutu dibuatnya.