Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Pemeriksaan pra-operasi berjalan sesuai prosedure hingga operasi dilakukan, seperti yang diharapkan Aezar sama sekali tidak beranjak sedikitpun meninggalkan Zevanya, ia kadang hanya mengerjakan urusan didalam ruangan.
Segala keperluan makan dan laundry baju rumah sakit telah menyediakan, meski kadang Aezar akan memesan makanan dari luar jika tidak tega membiarkan Zevanya makan makanan hambar dari rumah sakit.
Hari kamis sore lampu di ruang operasi telah dinyalakan, menandakan operasi sedang berlangsung, Aezar hanya bisa menunggu di kursi panjang depan ruang operasi.
Matanya sibuk menatap layar ipad dan ia terus-menerus memberikan serangkaian instruksi dalam bahasa inggris yang fasih.
Hingga empat jam berlalu dan lampu di ruang operasi mati, pintu yang terbuka mengagetkan Aezar, ia reflek berdiri dan menghampiri seseorang yang berpakaian serba biru,
"Bagaimana?" tanyanya langsung.
"Seperti yang diharapkan, operasinya berjalan lancar. Dia hanya perlu waktu pemulihan selama satu minggu, adapun daftar larangan pasca operasi akan segera kami berikan" ucap pria berkacamata itu dengan tenang, jelas sudah terbiasa mengatakan hal-hal seperti itu berulang kali.
"Terimakasih" Aezar tersenyum lebar, beberapa menit kemudian Zevanya keluar dari ruang operasi dengan perban tebal yang mengelilingi matanya, ia tampak seperti sedang tertidur dengan damai.
"Harap hindari terkena air lebih dulu" dokter itu mengingatkan sebelum menepuk bahu Aezar dan pergi.
Pria itu masih mematung, ia tidak menyangka hari dimana ia dapat melihat mata cantik itu akan datang kembali hari ini, setiap melihat pandangan kosong Zevanya, jujur saja ia merasa sakit.
Zevanya sudah dipindahkan ke kamarnya yang semula, kini lengkap dengan infus yang terpasang, ia masih belum sadar dari pengaruh anestesi.
Dokter bilang kalau ia harus dipantau selama seminggu kedepan, itu artinya mereka setidaknya disini sampai minggu depan.
Memikirkan itu Aezar teringat pada klien yang harus ia temui sendiri pada hari sabtu, ia kemudian menelfon Antoni menyuruhnya untuk mengatur pertemuan disini, itu lebih menghemat waktu.
Zevanya tersadar entah pukul berapa, tenggorokannya kering, ia terbatuk-batuk beberapa kali, Aezar yang baru keluar dari kamar mandi langsung berlari menghampirinya.
"Aku ingin minum" gadis itu bergumam lirih, hampir tidak terdengar.
Aezar mengambil segelas air putih dari nakas, memberi gadis itu minum dengan sabar, "Bagaimana perasaanmu? ada yang tidak nyaman?" pria itu bertanya dengan raut wajah khawatir.
Zevanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Berapa lama aku tidak sadar?" ia bertanya kemudian.
"7 jam"
"Dokter bilang perbanmu boleh dibuka hari minggu"
Gadis itu mengangguk patuh, "Aku lapar"
Aezar tersenyum sambil menata beberapa makanan bergizi yang ia pesan dari restoran, itu sesuai dengan rekomendasi dokter namun rasanya masih jauh lebih enak daripada makanan rumah sakit
"Makanlah, dasar kuda rakus" katanya sambil mengacak-acak rambut gadis itu.
"Aku akan menelfon dulu, panggil aku jika kau butuh bantuan"
Aezar berjalan menuju ke arah balkon kecil, seperti biasa ia mulai berbicara dengan istilah bisnis yang rumit dan membingungkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Antoni datang hari jumat pukul tujuh malam dengan setumpuk berkas yang tersusun rapih di dalam tas kerja, Aezar mendadak ingin mengadakan meeting di sini dengan klien, membuatnya harus mengejar penerbangan pertama.
Ia menelfon bosnya berkali-kali, sampai akhirnya memutuskan untuk pergi ke hotel lebih dulu, untung ia berhasil reservasi online meski mendadak,
Setidaknya butuh tiga puluh menit untuk sampai ke hotel dengan taksi, pria itu akhirnya memutuskan tidur dalam mobil karena kelelahan.
Hotel yang ia pesan adalah sebuah hotel bintang lima, jaraknya tidak terlalu jauh dari sanatorium tempat Zevanya dirawat.
Andai saja ia pergi kesini untuk liburan, sayangnya ia harus begadang semalaman untuk membaca ketentuan kontrak besok
Tak berselang lama, Aezar mengirim pesan akan segera datang, ia ingin menunggu Zevanya tidur lebih dulu.
Antoni mendesah, setelah membaca pesannya. Kenapa ia merasa Aezar benar-benar seorang perawat pribadi?
Taksi akhirnya tiba didepan hotel mewah dengan tinggi 30 lantai.
Pria itu turun dengan bersemangat, ia sudah memimpikan kasur nyaman itu seharian. Setidaknya ia ingin tidur beberapa menit sebelum Aezar datang.
Dan benar saja bos nya baru datang pukul setengah sebelas, mengenakan setelan santai, dengan wajah yang cukup berantakan.
"Bos, apakah sangat melelahkan menjaga nyonya?" Antoni bertanya dengan khawatir dengan sedikit ejekan.
Aezar menatapnya tajam namun tidak berdebat, melainkan langsung merebahkan diri di kasur berukuran besar.
"Aku tidur di sofa berhari-hari. Aku merindukan tidur nyaman di tempat seperti ini" jawabnya dengan mata setengah tertutup.
"Apakah kau ingin tidur sebentar?"
"Hmm tidur sebentar, bangunkan aku jam 3"
Antoni mengangguk, ia berjalan menuju sofa dan membiarkan Aezar tidur di ranjang sementara ia di sofa, dua pria itu tidur lelap dengan cepat sampai alarm di ponsel Antoni menyala tepat pukul 3 dini hari.
Mereka akhirnya mendiskusikan kontrak sampai pagi, dan langsung menuju ke restoran dimana klien sudah menunggu.
Dua pria yang tampak kelelahan semalam berubah menjadi sosok mengesankan keesokan harinya, mengenakan dua setelan jas mahal yang Antoni bawa di kopernya.
Sementara itu dirumah sakit, Zevanya terbangun dari tidurnya karena suara yang samar terdengar seperti membereskan ruangan.
"Aezar"
Ia reflek memanggil suaminya, biasanya Aezar akan menghampirinya dan bertanya apa yang dia butuhkan, namun kali ini bukan suara Aezar yang ia dengar melainkan suara orang lain.
"Nyonya sudah bangun, Tuan Aezar pergi tadi malam dan menyuruhku menjaga Nyonya hari ini" itu adalah suara suster yang tiap hari datang memeriksa keadaan Zevanya.
"Kemana dia pergi?" tanya Zevanya sedikit panik, suster bahkan kaget karena reaksi itu.
Apakah Nyonya ini memiliki sifat posesif? komentarnya dalam hati.
"Aku tidak tahu, dia hanya bilang kalau hari ini dia akan keluar"
Sebenarnya Zevanya bukan posesif namun ia teringat kalau ini adalah hari sabtu,
"Ini hari apa?" tanyanya lagi seperti sedang meyakinkan diri sendiri.
"Hari sabtu, Nyonya"
Benar, ini memang hari sabtu.
Tangannya mencengkeram selimut dengan erat, apakah Aezar benar-benar menonton petunjukan balet gadis itu? gadis bernama Dara yang ia temui di salon?
Kalau tidak, kemana lagi dia akan pergi tanpa memberi kabar? sudah seminggu ini pria itu hanya akan duduk dan sesekali melakukan panggilan video untuk meeting.
Kalut oleh fikirannya sendiri, Zevanya tidak punya semangat hari itu. Seharian ia hanya menunggu Aezar muncul namun sayang sekali Aezar bahkan tidak muncul sampai malam tiba.
Jika dokter tidak selalu mengingatkannya untuk tidak menangis, ia mungkin sudah menangis berkali-kali.
Kemana Aezar? pertanyaan itu mencekiknya, ia berusaha untuk tetap berfikir positif namun otaknya bebal.
Apakah dia benar-benar akan dicampakan setelah sembuh?
.
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww