REVISI
Ini kisahku dengannya, tentang aku dan dia. Tentang dia yang berhasil merebut hatiku dan membuatku sangat takut kehilangannya.
Tentang dia yang selalu membuatku kesal dan bahagia disaat yang bersamaan. Aku bersyukur Tuhan menghadiahkannya untukku, dan tentunya hanya untukku saja.
Saat hari-hariku penuh warna dibuatnya, entah dosa besar apa yang pernah ku perbuat di masa lalu sehingga dengan teganya Tuhan memisahkan aku dengannya.
Aku bingung mengapa Tuhan seolah mempermainkan aku dengan selalu membuatnya datang, pergi, datang lagi, lalu pergi lagi?
Aku hanya bisa menguatkan diriku sendiri dengan takdir yang diberikan Tuhan padaku.
Satu hal yang aku tahu, selamanya aku mencintainya. Seperti katanya
"Aku mencintaimu, selamanya cinta kamu. Sampai kita menua, memiliki anak, cucu bahkan cicit. Aku akan bersamamu dan mencintaimu sampai rambut kita memutih dan sampai aku menutup mata" Arkana.
Aku harap semuanya bukanlah mimpi indah namun sesaat. Aku bahkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicka Villya Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Kantor Polisi
Qania mengerjapkan kedua matanya saat sinar mentari menerpa wajahnya. Ia duduk dan merentangkan tangannya. Perlahan ia turun dan mengambil jubah mandinya lala bergegas masuk ke kamar mandi, karena hari ini ia memiliki jadwal mata kuliah satu jam lagi.
Setelah sepuluh menit, Qania akhirnya menyelesaikan mandinya. Ia bergegas memakai tanktop hitam dengan luaran Pakaian Dinas Himpunan atau yang biasa disebut PDH yang juga berwarna hitam serta celana jeans berwana senada. Qania merupakan salah satu penguruas himpunan jurusan mereka yaitu wakil ketua himpunan.
Qania duduk didepan meja riasnya, ia menyisir rambunya dan menguncir kuda menyisakan beberapa anak rambutnya beserta poninya yang menutup hingga alisnya. Saat hendak memoleskan lip ice ke bibirnya, ia teringat kejadian semalam saat ia berciuman dengan Arkana.
"Ihh mesum" gumam Qania saat teringat aksi Arkana menciuminya, pipinya merona.
"Oh iya, tumben belum ada kabar tuh anak" Qania tersadar karena ponselnya belum juga berdering.
"Biasanya udah ngirim sms atau nelepon mau ngantar ke kampus" pikir Qania.
_____
Qania turun dari taksi dan melangkah menuju ruang kelasnya yang sudah ramai itu. Perasaannya sedikit kesal karena sampai saat ini Arkana belum juga memberi kabar.
"Apa jangan-jangan semalam tanpa sepengetahuanku dia balapan ya?" terka Qania sehingga langkahnya terhenti.
"Aku telepon aja kali ya" Qania baru saja berniat menekan tombol hijau bergambar telepon di kontak Arkana, namun seseorang berdehem membuatnya menoleh sebentar.
"Kamu mau masuk kelas saya atau tidak?" tanya orang itu yang ternyata pak Gunawan.
"Eh maaf pak, ini baru mau masuk. Permisi pak" jawab Qania terbata karena gugup.
Qania menaruh kembali ponselnya kedalam tas dan bergegas masuk ke kelas, ia tidak jadi menghubungi Arkana.
Hampir dua jam Qania mengikuti mata kuliah dari pak Gunawan dengan perasaan kesal namun khawatir. Ketika pak Gunawan keluar, Yani langsung mengajaknya ke kantin. Dengan malas Qania langsung menuruti sahabatnya itu.
Qania menyeruput jus jeruk yang ia pesan sambil terus memikirkan Arkana. Yani yang merasa bahwa Qania sedang ada masalah langsung menanyai Qania.
"Datang hampir terlambat, nggak konsen saat dikasih materi, diam aja, bengong aja. Kamu kenapa sih Qan?" tanya Yani.
"Nggak kok, cuma lagi kepikiran Arkana aja" jawab Qania sambil meletakkan dagunya diatas meja.
"Lah emang dia kemana?" tanya Yani kemudian menyendokkan mie ayam ke mulutnya.
"Nggak tahu, semalam ada" jawab Qania.
"Kamu udah hubungi dia?" tanya Yani lagi sambil mengunyah.
"Oh iya tadi aku mau hubungi dia cuma pak Gunawan keburu datang" Qania bergegas mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Baru saja ia menghidupkan layar ponselnya, ia sudah mendapati sebuah pesan dari Arkana.
"Selamat pagi sayang, maaf hari ini nggak bisa nganterin ke kampus. Aku sayang kamu" begitulah isi pesan Arkana.
Qania tidak berniat membalas pesan tersebut, ia justru langsung menelepon Arkana.
"Ha..hallo" sapa Arkana terbata.
"Kamu dimana?" tanya Qania to the point.
"Aku lagi di.." Arkana sedikit gugup mengatakan kepada Qania tentang keberadaannya.
"Dimana?" tanya Qania kesal.
"Di kantor polisi, hehe" jawab Arkana.
"Apa? Kok bisa sih?" tanya Qania syok.
"Nanti aku ceritain ya" ucap Arkana.
"Tunggu aku disana" ucap Qania dengan nada tinggi menandakan agar Arkana tidak membantahnya.
Qania mematikan ponselnya lalu menyimpan kembali ke dalam tas. Ia melihat Yani baru saja selesai membayar makanan, ia pun bergegas membayar minumannya itu.
"Yan anterin ke kantor polisi ya" pinta Qania yang langsung ditatap horor oleh Yani.
"Ih ngapain?" tanya Yani heran.
"Anterin aja ya, please" bujuk Qania.
"Tidak sebelum kamu ngasih tau mau ngapain" tegas Yani.
"Arkana lagi disana" jawab Qania lesu.
"Hah kok bisa?" tanya Yani yang terkejut.
"Aku nggak tahu, makanya anterin aku kesana ya" jawab Qania sambil terus membujuk Yani.
"Ya udah, tapi nggak bisa lama. Dua jam lagi kita masuk kelas" ucap Yani.
"Oke deh, thanks ya" ucap Qania berbinar.
________
Qania bergegas menuju ke tempat yang diberitahukan polisi yang tadi ia tanyai bersama Yani. Qania dan Yani duduk di tempat pengunjung menunggu Arkana. Tidak lama kemudian Arkana datang bersama seorang polisi dengan masih mengenakan pakaiannya semalam.
"Sekarang ceritain gimana bisa kamu ada disini?" ucap Qania langsung setelah Arkana duduk.
"Sabar Qan" tutur Yani sambil mengelus punggung Qania.
"Emm ituu anuu" ucap Arkana terbata, ia bingung harus menjawab apa.
"Itu anu apa?" tanya Qania lagi yang mulai kesal.
"Aku berkelahi" jawab Arkana menunduk.
"Hah sama siapa? Kok bisa?".
"Sama Galih dan timnya" jawab Arkana singkat.
"Ya berkelahinya karena apa?" tanya Qania penasaran.
"Karena ngebelain seseorang, nurutin kemauan dia agar nggak balapan. Aku ngebelain Rizal yang kena jotos karena ngebatalin taruhan itu, hingga akhirnya terjadi perkelahian dan berakhir disini" jelas Arkana membuat Qania lemas.
"Maaf" ucap Qania yang tertunduk.
"Sudahlah nggak usah merasa bersalah, mereka aja yang rese" hibur Arkana.
"Aku minta maaf sama kamu dan Rizal" ucap Qania dengan suara menahan tangis.
"Hei sayang udah dong, sebentar lagi kita berdua juga bakalan bebas. Papa udah urusin kok" ucap Arkana sambil menggenggam tangan Qania.
"Beneran?" tanya Qania menatap Arkana lekat.
"Iya. Itu sana papa udah datang" tunjuk Arkana langsung membuat Qania dan Yani menoleh.
"Hallo calon mantu" sapa papa Arkana.
Qania tersipu malu, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Nggak usah malu, panggil aja om ini dengan sebutan papa" goda papa Arkana.
"I...iya pa" jawab Qania grogi.
"Wah lampu hijau nih" sela Arkana membuat papanya tertawa.
"Ya sudah ayo kita pulang, eh Rizal dimana?" tanya papanya heran karena sahabat anaknya itu belum kelihatan.
Tidak lama kemudian Rizal datang bersama seorang polisi, sehingga mereka langsung berjalan keluar dari kantor polisi tersebut.
Dengan susah payah Qania menolak ajakan papa Arkana untuk ikut di mobil, karena ia dan Yani membawa motor dan masih harus kembali ke kampus. Akhirnya papa Arkana mengalah dan membiarkan keduanya kembali lebih dulu. Alasan Qania yang sebenarnya adalah karena ia masih malu jika berada di dalam mobil bersama papa Arkana.
"Dasar Qania, Arkana aja berani berhadapan dengan mama papa. Masa sih kamu enggak" ronta batin Qania.
_____
semangat💪😘
akhirnya arkana wijaya telah kmbali semoga qania selalu bhagia,,,
dan buat s marsya sadar kalau dia bukn tristan anggara...
jangan terlalu lama ya thor up nya💪😘